SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 84


__ADS_3

Merasa geram mendengar keluhan Chania akan pandangan orang - orang, rasanya Michael ingin mencongkel setiap mata yang berani memberi tatapan itu untuk istrinya.


"Akan apa?" Chania mendongak suami yang lebih tinggi darinya itu.


"Jika kamu bilang tadi saat di lobby, aku akan mencongkel mata mereka!"


Reflek Chania memukul lengan Michael sekeras yang ia bisa.


"Jangan sembarangan! itukan tempat umum!" seru Chania.


"Siapa suruh dia mengusik mu!"


"Mereka tidak mengusik ku! hanya saja aku yang merasa tatapan mereka seperti itu!"


Chania berusaha membuat Michael untuk tetap calm down. Tidak mudah terbawa emosi hanya karena feeling nya yang belum tentu benar.


"Feeling mu pasti benar, Baby!"


"Belum tentu!" keukeh Chania.


"I trust you!" keukeh Michael menarik pinggang Chania hingga menempel pada tubuhnya bagian samping tanpa jarak.


"Kamu ya!" gerutu Chania reflek memegangi perutnya, merasa gerakan Michael begitu cepat.


"Sorry!" reflek Michael merasa bersalah dan ikut mengusap perut Chania dengan lembut. Kemudian berjongkok, menghadap perut istrinya dan menciumnya kembali.


"Kamu pasti baik - baik saja kan, Baby... Maafkan Daddy yaa...."


Kecupan - kecupan lembut mendarat di setiap inchi dari perut Chania. Disertai kedua tangan yang mengunci perut bagian kanan dan kiri.


"I love you..."


Jemari kokoh, yang sudah sejak remaja di gunakan untuk menghabisi nyawa musuh itu nyatanya begitu hangat saat tau ada kehidupan lain yang berasal dari benihnya.


Aaaahh... calon Papa tampan yang menggemaskan Othor dan para reader... 🥰


Pikiran Chania yang juga mengarah kesana pun, pada akhirnya tak sanggup menahan senyuman manis di bibirnya. Hingga reflek tangannya mengusap rambut kepala sang suami yang dulu ia kenal berhati iblis.


Tanpa terasa perdebatan kecil dan adegan romantis itu berakhir saat pintu lift terbuka tepat di kamar Michael. Pintu kamar dengan kelas terbaik terbuka. Sepasang mata Chania melirik kanan kiri, sudah lama ia tak menempati kamar mewah seperti itu.


"Jack sudah menyuruh orang untuk mengantarkan baju untukmu kesini. Aku harus mandi, gerah!" ucap Michael menarik pinggang istrinya untuk duduk di tepi ranjang. Sedang ia sendiri masih berdiri. "Kamu juga mau mandi? sebentar lagi kita akan makan malam."


"Iya!" jawab Chania melihat jendela dimana langit sudah terlihat gelap. "Kalau baju untukku sudah datang!"


"Kalau begitu... bagaimana kalau kita mandi bersama?" tawar Michael dengan tatapan dan senyum menggoda.


"No!" tolak Chania cepat dengan sepasang mata yang melotot tajam. Namun dalam hati, sebenarnya tak keberatan. Hanya masih malu saja karena sudah lebih dari empat bulan tak bertemu. Di tambah ia yang masih harus yakin benarkah Michael tulus padanya.


"Ayolah, Baby..." rengek Michael memohon.


"No!" Chania mengulum senyum, Michael terlihat begitu lucu ketika memohon.


"Hah!"Menghela nafas. "Kita harus melanjutkan adegan yang terpotong oleh Jack tadi!"


"No, Michael!"


"Michael?" pekik Michael. "Berani sekali kamu memanggilku hanya dengan nama?" desis Michael memicingkan mata.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Michael." goda Chania.


Memutar bola mata malas. Michael berfikir hukuman apa yang pantas untuk istrinya itu. Tanpa bertanya, Michael menyergap tubuh istrinya. Mendorong pelan ke belakang dan ia pun ikut menjatuhkan tubuh di samping kiri istrinya.


Menggunakan siku tangan kiri sebagai penahan tubuhnya, ia membuat Chania serasa mati kutu dengan tatapannya yang dalam.


"Apa yang kamu lakukan, cepat mandi sana!" Chania memukul lemah lengan Michael yang mengunci tubuhnya.


"Aku harus memberi hukuman pada mulut yang berani memanggilku hanya dengan namaku saja." Desis Michael dengan senyuman sinis.


"Oh, my God! saya minta maaf, Tuan Muda Michael Xavier!" ucap Chania bergurau. Ia sudah dapat memprediksi apa yang akan di lakukan Michael padanya.


"Tidak ada kata maaf Chania Renata..." balas Michael tersenyum penuh kemenangan.


"Haha!" Chania tak dapat lagi menahan rasa ingin tertawanya.


Namun detik berikutnya bibirnya terkunci rapat. Tak dapat lagi tersenyum, tertawa atau protes sekalipun. Karena Michael sudah membekap mulutnya dengan menggunakan bibir tipis miliknya.


"Emmhh!"


Hanya protes macam itu yang bisa keluar dari bibir Chania. Karena kedua tangannya pun, sudah berada dalam kuncian Michael.


Untuk kesekian kalinya Michael kembali menyesap bibir manis, tipis dan ranum milik Chania. Menyisirnya dengan gerakan lidahnya. Menarik bibir atas dan bawah bergantian menggunakan bibirnya.


"Panggil aku Honey!" ucapnya di sela - sela ciuman.


"No.." belum selesai bicara, Michael kembali membungkamnya dengan ciuman lagi.


"Panggil Honey!" tekan Michael sekali lagi.


"No!" tolak Chania tersenyum menggoda.


"Honey!"


"Honey!"


"Iya! iya!"


"Iya apa?"


"Honey!" ucap Chania tersenyum.


"Lagi?"


"Honey!"


"Lebih keras"


"Honey!" seru Chania.


Ciuman kembali berlanjut, dan semakin lama semakin menuntut. Hingga Michael berhasil membuka mulut Chania untuk kemudian mengajaknya beradu lidah. Dan membuat Chania memejamkan matanya. Menikmati kembali dentuman - dentuman cinta yang tersalur melalui sebuah ciuman hangat.


Dirasa Chania yang sudah takluk oleh ciumannya, Michael melepas tangan Chania dari dekapan. Reflek Chania melingkarkan tangan di leher Michael. Michael tersenyum puas dalam hati.


' Chania-ku akan segera kembali.. '


Desisnya dalam hati.

__ADS_1


Tangan kiri Michael menyusup de bawah leher. Sedang tangan kanannya merengkuh tubuh Chania untuk sesaat. Namun kemudian yang ia lakukan adalah menyusup pada punggung dan menurunkan resleting yang tadi siang sempat ia turunkan.


"Emh! emh!" protes Chania mencoba menggagalkan aksi Michael dengan mencubiti punggung Sang Mafia. Namun apalah daya, tenaganya sama sekali tak sebanding dengan seorang Michael. Hingga Michael berhasil menurunkan resleting seluruhnya.


Saat Chania kembali pasrah, Michael melepas bibirnya sesaat. "Kamu tau tersiksa adik kecil ku selama kamu menghilang?" tanya Michael lirih, membuat Chania menggigit bibir bawahnya. Menyembunyikan senyuman malu - malu.


"Mulai saat ini kamu harus mencicil hutangmu, Baby.." lirihnya lagi.


Mereka masih dalam posisi yang sama. Kedua bibir hanya berjarak tak lebih dari dua senti meter. Keduanya bahkan dapat merasakan hembusan nafas.


"Hah! hutang?" pekik Chania.


"Hemm.. " Michael mengangguk pelan. "Empat bulan kamu tidak melayani suamimu di ranjang. Jadi kamu membayarnya mulai hari ini, Baby!"


"Ishh! aku pergi kan salahmu!" Chania memukul pundak Michael.


"Ya.. aku minta maaf. Tapi kenapa kamu tidak bisa merasakan aku tulus atau tidak?"


"Yaa.. karena dari awal..."


Michael kembali membungkam bibir Chania dengan bibirnya. Membuat gadis itu menghentikan kalimatnya.


"Kau tau betapa tidak enaknya bermain sendiri?" ucapnya saat memberi jarak kembali. "Aku hampir gila empat bulan tidak bercinta!"


"Hahahahaha!" Chania tertawa terbahak - bahak. "Hai Tuan Mafia, kau ini kan banyak uang! kenapa tidak bayar wanita liar saja. Seperti yang sering kamu lakukan dulu!" cecar Chania.


"Sejak bermain dengan mu pertama kali, rasanya aku tidak bernafsu lagi dengan mereka semua!"


"Kenapa?"


"Karena mendapatkan perawan memang sangat nikmat! rasanya berbeda. Yaa.. meskipun harus mengajari goyang lebih dulu! Hahahaha!" pecah sudah tawa Michael mengingat pertama kali bercinta dengan Chania.


Sedangkan wajah Chania memerah bagai kepiting rebus. Merasa malu, karena dulu ia sampai sering mencuri - curi waktu untuk mempelajari bergoyang di atas tubuh suaminya.


"Jangan tertawa!" sergah Chania memukul pundak dan dada Michael.


"Hahaha! kamu sangat lucu, Baby.." ucap Michael mencubit hidung Chania. "Dan aku salut, dalam waktu singkat goyangan mu bisa membuatku ketagihan. Dan sampai saat ini aku merasa jika adik kecilku hanya menyukai goyangan mu seorang, Baby!"


Wajah Chania semakin memerah karena malu.


"Jadi kita lanjut?" tanya Michael.


Chania menyebikkan bibirnya seolah mengejek, namun dengan senyum malu yang di tahan.


"Tidak menjawab berarti iya!"


Seru Michael menurunkan lengan baju Chania. Membuat dress sederhana Chania meninggalkan tubuh dengan perut buncit itu. Hingga terlempar di atas lantai marmer.


Michael tersenyum manis menatap perut buncit Chania secara langsung. Tanpa ada kain yang menghalangi.


Rasa kagum dan ajaib bercampur menjadi satu. Menumbuhkan rasa bangga pada diri sendiri, yang mungkin saja cepat atau lambat akan ada yang memanggilnya Daddy.


"Dia akan memanggilku Daddy?" tanyanya pada Chania yang tersenyum manis menatap Michael di atas perut buncitnya.


🪴🪴🪴


Ok! panas - panasnya di next episode ya kakak... 🥰

__ADS_1


Karena kampung Othor hari ini sudah sangat panas! 😌


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2