
Axton, pemuda yang identitasnya masih sangat misterius itu bertemu dengan mobil mewah yang membawa Virginia ketika ia bersantai dengan motornya di tengah kemacetan.
"Virginia..." gumamnya ketika melihat sosok yang tak asing tengah menutup gorden jendela kaca. Meski buram, Axton memiliki pandangan mata yang cukup tajam untuk bisa mengetahui siluet seseorang.
Senyum penuh seringai terbit di bibir tipis. Membuat wajah tampan itu terlihat culas dan menawan.
Biarlah Virginia tak ingin melihatnya, masih ada esok hari untuk bertemu, pikirnya.
' Tapi mengikuti mobil mu sepertinya juga bukan ide yang buruk! '
Gumamnya kembali tersenyum miring.
' Siapa tau aku jadi tau di mana rumah kamu! '
Lanjutnya berangan dan ikut bergerak ketika mobil Virginia bergerak maju dengan pelan.
Axton terus mengikuti pergerakan mobil Virginia. Lama kelamaan Virginia pun mulai tau jika Axton sengaja mengikutinya.
' Apa sebenarnya yang dia inginkan! '
Gerutu Virginia dalam hati.
' Bagaimana cara mengecoh laki-laki ini! Sungguh menyebalkan! '
"Paman! Kita ke rumah Flo dulu, ya! Ada yang mau aku ambil!" ucap Virginia meminta sopir untuk berbelok memasuki perumahan elit dimana Flo sahabatnya tinggal.
"Baik, Nona!"
Maka melajulah mobil yang membawa Virginia ke rumah yang di ketahui sebagi rumah Flo. Rumah dengan ukuran cukup besar, tak jauh dari besar rumah Virginia sendiri.
Di depan gerbang yang besar, security yang menjaga sudah sangat hafal akan gadis yang masih dalam kondisi lupa ingatan itu. Sehingga bisa dengan mudah, Virginia memasuki pagar rumah itu, tanpa melalui pemeriksaan berlebih.
Begitu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah mewah Flo, Virginia menyempatkan matanya untuk melihat ke arah jalan depan rumah Flo. Dan benar saja, motor yang di tunggangi Axton benar ada di sana. Berhenti sembari mengamati rumah mewah Flo yang di kira rumah Virginia pastinya.
Untuk sesaat gerak-gerik Axton tidak ada yang mencurigakan selain hanya ingin tau di mana rumah Virginia.
"Aku yakin dia gila!" gumam Virginia sembari mengetuk pintu yang terkunci.
Beruntung, begitu pintu di buka, masih ada Flo di ruang tamu yang juga baru datang sama seperti dirinya.
"Nia!" pekik Flo bangkit dari duduk santai nya di sofa ruang tamu. Gadis itu cukup terkejut dengan kehadiran Virginia di rumahnya.
"Flo! ayo ke kamar kamu!" seru Virginia langsung menarik tangan Flo untuk naik ke lantai dua, dimana kamar Flo berada.
"Ada apa, Nia?" tanya Flo tiba-tiba ikut panik seperti Virginia yang menarik tangannya dan berjalan buru-buru ke kamarnya.
Tak menjawab, sang gadis hanya terus menarik tangan Flo sambil menaiki tangga dengan gerakan kaki yang cukup cepat.
"Ada apa sih, Nia?" tanya Flo semakin penasaran ketika keduanya sudah memasuki sebuah kamar yang berukuran cukup luas dan bernuansa gadis modern.
"Kamu harus lihat!" jawab Virginia bersembunyi di balik dinding kamar Flo, tepat di tepi vitrase putih yang menutupi kaca jendela.
__ADS_1
"Apa?" tanya Flo mengikuti Virginia yang bergerak bagai pengintai.
"Dia sejak tadi mengikuti ku!" ucap Virginia menunjuk Axton dengan tatapan matanya.
"Siapa dia?" tanya Flo.
"Dia bilang namanya Axton!"
"Siapa Axton?"
"Aku bertemu dengan nya pertama kali di pantai. Dan entah bagaimana bisa dia muncul di kampus, dia bilang ingin menemukan kampus terbaik untuk ia bisa melanjutkan kuliah. Padahal dia bilang hanya di Italia untuk dua bulan!"
"Memangnya dari mana dia?"
"Texas! Entah di mana Texas itu."
"Texas itu Amerika Serikat, Nia!"
"Oooh..."
"Lalu?" tanya Flo lebih detail.
"Aku merasa dia selalu mengikuti ku!" lanjut Virginia bercerita.
"Kamu yakin?" tanya Flo ikut merasa aneh.
"Hmm!" mengangguk. "Apa sesungguhnya... sebelum amnesia aku pernah mengenalnya?" tanya Virginia menatap lekat pada Flo.
"Aku rasa tidak!" pungkas Flo tidak yakin. Namun ia punya anggapan jika lelaki itu mengenal Virginia sejak lama, pastilah tidak mungkin mengikuti Virginia sampai di rumah seperti sekarang.
"Aku harus bagaimana, Flo?" tanya Virginia bingung. "Dia sudah punya nomor ponsel ku pula!" gerutunya.
Bersamaan dengan Virginia berucap demikian, ponsel di dalam tasnya berdering. Cepat sang gadis mengambil ponsel karena khawatir itu panggilan dari sang Ibu.
"Siapa?" tanya Flo saat Virginia terdiam menatap layar ponsel.
"Aku tidak tau!" jawab Virginia. "Tidak ada nama dan fotonya!" lanjutnya menunjukkan layar ponsel pada Flo.
Reflek Flo menoleh pada jendela kamarnya, dan barulah ia bisa menduga siapa yang sudah menelepon Virginia. Sontak ia membuka mulut dan matanya sembari menunjuk jendela yang mengarah pada Axton berada.
"Oh my God!" pekik Virginia tidak menyangka Axton menghubungi dirinya.
Itu terlihat karena sang pemuda sedang menatap layar ponsel dan rumahnya secara bergantian. Selain itu jemari juga terlihat bergerak-gerak di atas layar.
Hingga beberapa detik kemudian bahkan sebelum panggilan berakhir sebuah pesan masuk ke ponselnya.
[ Aku di depan rumah kamu... ]
"Gila! Dia benar-benar gila!" dengkus Virginia.
Flo menggelengkan kepalanya sembari berucap dalam hati.
__ADS_1
' Jio harus tau semua ini! Dia pasti bisa dengan mudah mencari tau siapa laki-laki itu! '
"Jangan di angkat, Nia!" ucap Flo. "Aku merasa dia terobsesi padamu." khawatir Flo.
"Hemm..." Virginia mengangguk setuju untuk tidak mengangkat panggilan dari nomor tidak asing itu.
"Biarkan saja dia di sana, nanti juga akan pergi sendiri! Kamu pulang setelah dia pergi."
Virginia kembali mengangguk cemas. Sementara Flo sigap mengeluarkan ponselnya untuk memberi info pada Jio.
***
Sementara itu, di istana Xavier sedang terjadi obrolan serius antara beberapa orang yang ada.
Jio dan Jellow masuk ke kamar Jio untuk membahas hubungan yang terjalin antara Jia dan XIaoli.
Seorang remaja mengikuti langkah mereka dan mengikuti dua pemuda yang berusia lebih tua darinya untuk memasuki kamar sang putra mahkota.
"Mau apa kamu ikut kami masuk ke sini?" tanya Jellow.
"Aku juga ingin tau apa yang baru saja terjadi, Kak!" jawab remaja yang tak lain adalah Gerald itu.
"Memang terjadi apa?" tanya Jio bersandiwara.
Menghela nafas kasar, "Jangan di kira aku tidak tau apa yang baru saja terjadi wahai para kakak tua!" dengkus sang buaya darat.
"Kamu belum genap 17 tahun. Sebaiknya kamu jangan ikut campur! Belajar saja yang rajin." sahut Jellow.
"Wait! Tidak lihat?" tanya Gerald. "Tinggi kita hampir sama, you know!"
"Yes, I know!" jawab Jellow. "Tapi kamu harus tau, sampai kapan pun usia kamu tidak akan bisa setara dengan kami, okay!" lanjut Jellow menatap mengejek pada Gerald.
Gerald menatap jengkel pada sepupunya itu. Sampai akhirnya ia menatap sang kakak sulung yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup.
"Kak! Apa kamu juga seperti dia?" tanya Gerald memelas.
"Ya! Dia sama dengan ku!" sahut Jellow membuka pintu dan mendorong Jio untuk masuk ke kamarnya.
"Bye, bocah!" ujar Jellow sembari menutup pintu kamar Jio dengan sedikit menghentak.
"Kalian terlalu kejam!" gerutu Gerald yang tidak lagi bisa masuk ke kamar sepupunya.
***
Sementara itu, Mommy Chania masuk ke kamarnya, mendatangi Daddy Michael yang masih terdiam di kamarnya. Duduk di sofa empuk nan mewah, sembari menatap jendela kaca yang mana lampu-lampu istananya sudah berpendar sejak beberapa waktu yang lalu.
"Honey..." panggil Chania dengan sangat lembut sembari duduk di sisi kanan sang mafia. Namun yang di panggil belum berniat untuk merespon panggilan istri tercintanya.
Dan itu membuat Chania memilih untuk merangkul lengan sang mafia, sebelum menanyakan sesuatu yang lebih jauh.
...🪴Bersambung ... 🪴...
__ADS_1