
Hati gadis mana yang tak sedih, saat melihat pria yang ia cintai sejak belasan tahun lalu, ternyata telah bersanding dengan gadis yang lain? Berbahagia dengan hati yang lain? Hingga mereka memiliki sepasang anak kembar. Yang pasti sangat mirip keduanya bukan?
Di saat semua itu terjadi, ia hanya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Bersama nafas datar, tanpa mampu bergerak walau hanya untuk membuka kelopak mata.
"Hai, Selena..."
Michael Xavier, Sang Mafia itu akhirnya bersuara, menyapa gadis yang masih terbaring di atas ranjang pasien. Meski terdengar datar, namun suara itu cukup di rindukan oleh gadis yang disapanya.
Bukan tidak sadar dengan arti tatapan Selena sejak ia masuk, namun Michael berusaha untuk tetap tenang dan realistis.
Jika dirinya merupakan seorang suami, yang wajib menjaga perasaan istrinya dengan mengabaikan tatapan dalam dari perempuan manapun. Tidak terkecuali Selena, gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Sengaja merengkuh pinggang Chania lebih erat dan intim, seolah ingin menjelaskan bahwa Chania adalah wanitanya, istri yang ia cintai. Menegaskan bahwa dia sudah memiliki pasangan yang sah.
Bukan sengaja untuk menyakiti hati Selena, tapi... bukankah berterus terang sejak awal jauh lebih baik, dari pada memberi harapan palsu? yang pada akhirnya menimbulkan rasa sakit lebih dalam.
"Hai... Kak Michael.." balas Selena berusaha sebisa mungkin mengangkat kedua sudut bibirnya. Namun sayang, bersamaan dengan itu, buliran air mata kembali meluncur bebas. Dengan cepat ia segera menghapusnya dengan satu tangan.
Reflek Chania bergerak untuk meraih tisu, hendak membantu mengusap pipi Selena.
"Aku bisa sendiri!" celetuk Selena menepis tangan Chania yang 2 cm lagi akan sampai di pipi mulus Selena.
"Oh.." Chania tertegun. Ia tak menyangka tangannya akan di tepis dengan sedikit hentakan.
Semua itu tentu tak luput dari pantauan Sang Mafia. Michael kembali menarik pinggang istrinya untuk mundur dan kembali sejajar dengan dirinya.
Chania mundur pelan dengan perasaan yang mulai campur aduk. Ia tertegun, memikirkan kenapa Selena bersikap seperti itu di hari pertama mereka berkenalan? Bahkan untuk pertama kali mereka bertemu.
"Semua baik - baik saja, Baby..." bisik Michael lirih, dan kemudian sengaja mendaratkan kecupan singkat di pipi.
Chania menoleh suaminya sekilas. Tersenyum tipis. Dan mencoba percaya akan apa yang di ucapkan suaminya.
"Selena, dia adalah Chania Arlington, istri Michael. Saudara tiri kita." Jelas Oliver selembut mungkin. "Dan dia, Sania Arlington." Menunjuk Sania yang tadi sempat tertegun melihat tangan Chania di tepis. "Kemudian itu Reno, calon suami Sania." menunjuk Reno yang berdiri di belakang Sania.
"Hai, Selen!" sapa Reno ramah.
Mata Selena mengikuti arahan kakaknya. Melihat dua pasang yang terlihat saling bucin. Namun hatinya justru kembali bergemuruh.
"Selamat, kalian semua sudah menemukan cinta sejati..." ucap Selena lirih. "Sedangkan aku..." lanjutnya menatap sendu pada sepasang mata Michael yang terlihat datar bahkan nyaris dingin. "Aku justru... kehilangan..."
"Selena..." sahut Deborah berdiri dari duduknya dan mendekati putri keduanya. "Apa yang kamu katakan! kamu baru saja sadar, mana mungkin kamu kehilangan cinta!" lanjut Deborah menatap lekat Selena yang justru menatap dingin pada sang Mama.
__ADS_1
Deborah melirik dingin pada Michael. Ia sadar sudah tak akan bisa melawan pria itu. Namun ia juga enggan untuk terlihat sepenuhnya kalah. Meskipun di hadapan sang putri, ia sudah berjanji akan mengakhiri peperangan dengan Michael sampai pada keturunannya kelak.
Tapi hati kecil manusia tak ada yang tau. Rasa ego, gengsi, dan keras hati kadang lebih mendominasi dari pada sadar diri.
Deborah menghela nafas, "Kamu tidak akan pernah kehilangan cinta Mommy, Selena.."
"Begitu juga aku, Selena.." sahut Oliver di samping sang Mama.
Selena menggeleng pelan, pertanda bukan cinta itu yang ia maksud.
Michael yang paham, mencoba untuk sedikit mendekat setelah mencium puncak kepala istrinya.
Langkah pelan Michael mengalihkan perhatian Selena. Menatap pria gagah yang begitu ia idolakan sejak kecil. Ingin rasanya ia melompat dari ranjang pasien dan memeluk tubuh yang terlihat begitu proposional itu.
"Selena..." panggil Michael berdiri tepat di samping ranjang, di hadapan istrinya. "Kau tau? Saat dokter pertama kali mendiagnosa penyakitmu aku merasakan sakit yang belum pernah aku rasakan untuk seseorang yang aku anggap sebagai adik ku sendiri."
Kalimat Michael membuat semua orang terdiam. Michael menyentuh tangan kanan Selena dan meremasnya lembut.
"Terlepas dari berbagai perjanjian - perjanjian yang menyulitkan, aku tetap teguh untuk tulus membantumu. Mencari pendonor yang tepat untukmu." Melirik sekilas pada Deborah, yang tak lain adalah ibu mertua tirinya.
"Meskipun Tuhan memiliki jalan yang lain. Takdir menunjukkan segalanya. Siapa kamu, siapa Chania. Gadis yang kala itu di anggap sebagai pendonor yang tepat untukmu."
"Namun ternyata semua itu adalah yang di beri Tuhan untuk aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang lebih memiliki hati dan cinta."
Selena menggeleng, "Aku lebih baik tidak pernah lagi membuka mata, jika kenyataan hidup ku harus seperti ini, Kak!" lirih Selena meneteskan air mata. Ia remas jemari kekar yang masih memegang tangannya.
"Jangan pernah berfikir seperti itu, Selena.. Kita akan kembali seperti dulu, saat kita masih kanak - kanak. Aku akan melindungi mu juga Oliver, sama seperti aku akan melindungi Sania. Apalagi saat ini kalian semua adalah ipar ku."
"NO!" tegas Selena menatap dingin pada Michael. Seolah tak terima dengan penjelasan itu.
Dari sini, Chania mulai paham. Apa arti dari kehilangan cinta yang di maksud Selena, ipar yang berusia 3 tahun di atasnya itu.
Chania menatap resah pada suaminya. Ia takut jika sang suami akan goyah dengan keadaan ini.
Sania yang juga mulai paham arti dari percakapan itu, merangkul pundak saudara kembarnya. Ia tau apa yang di rasakan Chania.
"Selena... Kau tau.. aku tak pernah bisa mencintai mereka yang ku anggap sebagai saudara. Aku menyayangimu sebagai adik, sejak kita kecil. Kamu sudah tau dengan jelas tentang hal itu."
Menggeleng dengan isakan, "Tidak! aku tidak mau menjadi saudaramu!" seru Selena. Sepasang mata lentik sudah basah oleh air mata. Pipi mulus sudah banjir akan tetesannya.
"Selena! stop!" seru Oliver. "Jangan egois, Selena! kita memang bersaudara sejak kecil, bukan!"
__ADS_1
"Diam kamu, Kak!"
"Selena!" kali ini Deborah akhirnya ikut melerai. Ia mulai risih melihat putrinya yang seolah tengah mengemis cinta di hadapan para saudara tirinya. Ada harga diri yang harus ia jaga.
"Mom! bukankah Mommy dulu selalu mendukungku?" tanya Selena masih dengan isakan. "Kenapa Mommy sekarang terlihat lemah? Mommy mulai berbaik hati pada mereka yang merebut cinta kita!"
"Selena!" hentak Deborah sedikit tertahan. Ia tak mungkin bisa memarahi putri yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Pergi kalian semua! aku mau sendiri!" ucap Selena menatap kosong ke arah depan. Ia bahkan menarik paksa tangannya yang di genggam Michael. Ia tak mau jika hanya tangan yang di genggam oleh pria itu.
"Selena..." lirih Chania mencoba untuk mengambil hati.
"Terutama kamu!" celetuk Selena bahkan sebelum Chania berkata - kata.
Menghela nafas, "Aku harap kamu dapat memahami semua ini, Selena. Aku menyayangimu, Adikku..."
"HAAAAAHHHH!!" Teriak Selena menutup telinga sembari memejamkan matanya. Menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Ia merasa risih saat sebutan adik meluncur dari bibir tipis sang Mafia.
Tak mau Selena semakin frustasi, Michael mengusap lembut puncak kepala Selena. Kemudian mengajak istrinya, Sania dan Reno untuk keluar.
Chania menatap penuh tanda tanya pada sang suami. Namun gerakan mata Michael, membuat Chania mau tak mau mengikuti arahan suaminya.
***
Duduk di dalam limousine, rombongan Michael memutuskan untuk kembali pulang. Mereka duduk berdampingan dengan pasangan mereka. Dan saling berhadapan.
"Apa Selena itu mencintaimu, Mich!" tanya Reno tanpa basa basi.
Michael menggenggam jemari istrinya lebih erat. Ia tak ingin percakapan yang akan mereka lakukan saat ini, menggores hati istrinya.
"Ceritakan, Honey.." lirih Chania, yang juga tak kalah penasaran. "Karena yang aku tau hanya Oliver yang dulu mengejar mu."
Michael menoleh istrinya. Menatap sendu sepasang mata lentik yang selalu berhasil membuatnya membuka semua rahasia hidupnya.
"Dulu... pada suatu malam.. Yang entah bagaimana bisa ia melakukan hal yang menurutku belum saatnya di lakukan oleh anak seusianya..."
Michael terdiam. Menatap langit - langit limousine. Kembali mengenang kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
"Maksudnya?" sahut Sania yang akhirnya ikut penasaran.
...🪴 BERSAMBUNG 🪴...
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹