
Pagi itu, kamar mewah dan megah sepi tak berpenghuni. Karena sepasang suami istri yang menghuninya tengah berendam di dalam bathub, dengan air hangat dan busa putih yang mengelilingi tubuh polos mereka.
Tangan Michael yang terluka, di angkat ke tepi bathub, agar tidak terkena air.
Sedangkan Chania kini berada di belakang Michael untuk menggosok punggung suaminya. Begitu lembut Chania menggosok punggung dengan tato naga itu.
Di beberapa sisi punggung, tampak banyak bekas luka lama. Entahlah, kapan Michael Xavier mendapatkan luka - luka itu.
Kali ini wajah cantik Chania di penuhi kabut, setiap melihat bekas luka itu, lalu melihat perban Michael maka hatinya akan teriris saat itu juga. Namun ia harus yakin semua baik - baik saja, seperti ucapan Michael.
Michael memutar tubuhnya tanpa perintah Chania. Karena ia merasa gosokan tangan istrinya itu melemah. Michael menghela nafas pelan, melihat wajah Chania yang tak seceria biasanya.
Michael menyentuh dagu Chania dengan lembut, "Kenapa?" tanya Michael lirih.
Tak mampu menjawab, Chania justru menunduk. Seketika itu air mata yang sudah ia tahan sejak tadi kembali mengucur deras.
Michael mengerutkan keningnya heran. "Kenapa menangis?" tanya Michael dengan nada yang begitu lembut, sembari mengusap air mata yang berjatuhan di pipi.
Chania menggelengkan kepalanya pelan. Michael menarik tubuh Chania, hingga ia bisa bersandar di bathub kemudian mengangkat pinggang Chania hanya dengan tangan kiri saja. Hingga gadis itu duduk di pangkuan Michael.
"Aku ti..dak mau meli..lihat kamu terluka lagi.." ucap Chania di tengah sesenggukan.
Michael menyipitkan mata, menatap heran pada sang istri.
"Ini bukan luka pertamaku, tapi biasanya kamu tidak pernah sampai menangis." Michael mengusap air mata Chania dengan tangan kanan, yang mana di lengannya terdapat perban.
Segera Chania menangkap tangan Michael. Ia tak mau tangan itu susah payah menghapus air matanya. Ia menyadari air mata yang turun, menandakan hatinya yang lemah.
Chania kembali menggeleng, kemudian justru menciumi perban Michael. Hingga ada beberapa tetes air mata yang berjatuhan di sana.
"Berhentilah menangis, Baby. I'm fine." bisik Michael, menarik kepala sang istri agar berhenti melakukan hal yang menurutnya konyol.
Namun ternyata panggilan Baby kembali mengusik telinga Chania. Ia begitu senang dengan panggilan itu. Hingga air matanya berhenti menetes di detik berikutnya.
Chania menyandarkan kepalanya di dada dan pundak Michael. Melingkarkan tangan di leher sang suami. Tak peduli dengan busa yang bercecer.
"Honey?" panggil Chania lirih.
"Hm?"
"Jika suatu hari nanti ternyata kamu mencintaiku, Apa kamu akan mengatakannya?" tanya Chania masih dengan posisi yang sama.
Michael menarik nafas panjang, lalu membuangnya, sebelum menjawab pertanyaan Chania yang menurutnya sangat berat.
__ADS_1
"Tentu!" jawabnya kemudian. "Aku akan mengatakannya dengan caraku sendiri, karena aku tidak tau bersikap romantis yang di inginkan seorang wanita itu seperti apa. Dan aku tidak pernah menyatakan cinta sebelumnya."
Chania tersenyum. Entah itu akan benar terjadi atau tidak, yang jelas ia akan terus menunggu. Sampai waktunya habis, kurang dari sembilan bulan lagi.
Ia akan menerima apapun cara Michael untuk menyatakan cintanya. Ia paham Michael sebelumnya adalah pria kaku. Jangankan menyatakan cinta, meminta maaf dan berterima kasih saja mungkin belum pernah terucap dari bibirnya.
***
Meskipun tidak terlalu banyak tidur semalam, tak membuat pria itu gagal pergi ke kantor. Ia tetap berangkat ke kantor, meskipun sedikit terlambat.
Chania yang entah kenapa begitu manja pada Michael, terus saja menempel di sepanjang perjalanan. Ia enggan berjauhan dari tubuh sang suami.
"Sebenarnya semalam kamu berperang dengan siapa?" tanya Chania.
"Musuh waktu itu!" jawabnya datar.
"Yang menyerang saat kita pulang lembur waktu itu?"
"Iya"
"Hah! dia masih mengincar mu?"
"Sebenarnya mereka tidak mengincar ku, tapi mengincar..." Michael ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia tatap dalam sepasang manik mata sang istri.
"Siapa?"
Dan dasar Chania yang polos, dia begitu saja percaya dengan jawaban Michael.
***
"Jack, aku mau Chania terus di awasi, jangan biarkan dia sendirian apalagi di tempat sepi!" titah Michael pada Jack di ruang kerjanya.
"Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan seseorang untuk mengawasi Nyonya, Tuan."
"Hm, pergilah!"
"Baik, Tuan!"
Jack keluar dari ruang kerja Michael, menyisakan Michael yang kini termenung. Banyak sekali hal yang harus di pikirkan oleh putra tunggal Frederick Sebastian itu.
Chania, sang Mama, sang Papa, perusahaan, dunia hitamnya, dan mungkin masih banyak lagi.
"Semua harus selamat!" gumamnya kemudian.
__ADS_1
Michael menatap tajam ke arah jendela kaca yang menunjukkan keindahan kota Roma, Italia.
"Dan Deborah.. perempuan picik dan licik mungkin hari ini kau bisa berbuat apapun yang kau inginkan. Tapi ku akan mendapatkan balasan yang setimpal untuk semua ini dariku. Tunggu hari itu tiba!"
Michael melirik rak buku, dimana di balik rak itu terdapat sebuah pintu. Pintu kamar yang selalu ia masuki bersama Chania. Yang tak lain adalah istrinya.
' Kenapa aku jadi ingin melindungi mu? apa itu artinya aku ingin memilikimu? dan apakah itu cinta? '
Batin Michael.
' Setiap pulang berperang, wajah lelapmu lah yang selalu membuatku ingin pulang sebelum kau bangun. Jika itu termasuk cinta, kenapa lidahku selalu sulit mengatakan aku.... '
Bahkan di dalam hati pun Michael kesulitan menyatakan cinta.
"Bodoh!" Michael memukul meja kerjanya.
# # # # # #
🍄 Dua hari kemudian . . .
Michael dan team termasuk Chania, melakukan perjalanan bisnis ke Paris, Perancis. Secara mendadak, menggantikan sang Papa, Frederick Sebastian.
Menginap di salah satu hotel, dimana Sebastian Company memiliki saham di hotel tersebut.
Menempati presidential suite room, Michael dan Chania tampak asyik bermesraan di ranjang berukuran king size, dengan sprei dan bad cover putih bersih, juga menghadap menara Eiffel.
Mereka baru saja melakukan opening ceremony khusus untuk menyambut hari pertama mereka di Paris, yaitu bercinta.
"Satu jam lagi, meeting di mulai, Honey!" ucap Chania yang masih berada di dekapan Michael.
"Hm..." Michael mengangguk. "Kamu di sini saja, tidak perlu ikut. Aku akan menempatkan Dimitri dan dua pengawal lainnya di depan pintu untuk menjagamu."
"Banyak sekali"
"Itu sedikit sekali, Baby." Michael mencubit hidung Chania gemas.
Membuat Chania merasa di sayangi oleh Michael. Chania yakin Michael mulai jatuh hati padanya. Hanya saja pria kaku itu kesulitan untuk menyatakan cinta.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kita mandi!" pungkas Chania, tak ingin suaminya terlambat meeting bersama seseorang, yang konon katanya klien penting dari dunia hitamnya.
"Yaah" jawab Michael beranjak dari ranjang di ikuti Chania.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹
Maaf, up nya lama.. Othor lagi sakit.. 🤕