SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 68


__ADS_3

Melangkahkan kaki menaiki tangga dengan cepat setelah kepergian Deborah, Michael di buat heran dengan dua penjaga yang tertunduk lesu. Curiga, itu adalah kata pertama yang mencuat di benaknya.


"Kenapa kalian?" tanya Michael begitu sampai di depan pintu.


"Tidak ada, Tuan." jawab mereka kompak, namun Michael masih menyipitkan mata menatap mereka, yang artinya tidak seratus persen percaya dengan jawaban dua penjaga itu.


Tak mau terlalu lama membuang waktu dengan hal itu, Michael masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk melihat sang istri. Sepasang matanya langsung mencari keberadaan Chania. Dan terasa kaku saat mendapati ternyata Chania sudah tidak ada di atas ranjang.


Jantung seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Takut jika Chania berada di luar kamar dan mendengar semua teriakan Deborah, Michael kembali membuka pintu.


"Apa Chania keluar?" tanya nya panik pada dua penjaga.


"Di dalam, Tuan!" jawab mereka kompak dengan menunduk.


Segera Michael kembali menutup pintu, masuk ke dalam ruang walk in closed, sebagai tujuan utama saat Chania bangun dari tidurnya.


Clek!


Pintu kamar mandi di buka Michael tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sepasang manik hitam milik Michael di sambut sepasang manik mata Chania yang teduh.


Istri kecilnya yang baru menjelang 23 tahun itu tengah berendam di dalam bathub. Membuat seluruh tubuhnya di tutupi busa putih yang harum dan lembut. Menyisakan kepala dengan setengah leher bagian atas saja.


Sempat takut jika Chania mendengar semuanya, namun ketika melihat senyuman di bibir Chania, kekhawatiran di hati Michael berangsur memudar. Apalagi Kamar mereka kedap suara dari luar. Terutama kamar mandi, tidak akan mungkin mendengar suara apapun dari luar.


"Kenapa, Honey?" tanya Chania dengan santainya. Air mata yang semula menghujani pipinya beberapa saat lalu entah hilang kemana. Wajah itu kini terlihat lebih cerah dan menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.


Menelan ludah dengan cukup susah, berusaha menutupi rasa khawatir di dalam hatinya, ia masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu dengan cukup pelan.


Ah! seperti bukan seorang Michael Xavier saja.


"Kamu sudah mandi?" tanya Chania.


Berjalan mendekat, menjawab pertanyaan Chania hanya dengan sebuah anggukan kecil.


"Mau tidak mandi lagi? aku mau mandi denganmu." ucap Chania dengan manja, layaknya hari - hari biasanya.


' Dan mungkin u**ntuk yang terakhir kali... '


Lanjut Chania dalam hati.


Duduk di bibir bathub, Michael menebar senyuman yang di bumbui rasa bersalah untuk Chania.


"Baiklah.." jawab Michael kemudian.


Tanpa malu karena sudah biasa, Chania yang hanya berbikini itu duduk tegak, meminta Michael untuk melepas kaos dan juga celana pendeknya.


Hanya dengan menggunakan CD, Michael masuk ke dalam bathub dan duduk menghadap Chania.

__ADS_1


"Berbaliklah, Honey!" perintah Chania mencoba membuat Michael membelakanginya.


"Hah, kenapa?"


"Aku ingin menggosok tato naga di punggungmu."


Menuruti sang istri sebagai penebus rasa bersalah, itulah yang bisa di lakukan Michael. Membelakangi Chania yang kini dengan lembut mengusap punggungnya.


Jari - jari lentik bergerak mengikuti alur tato naga yang meliuk - meliuk di punggung Michael. Mengusap dengan penuh kelembutan, tangannya yang basah oleh air dan busa membuat gerakannya semakin terasa ringan di kulit punggung Michael.


' Mungkin hidupku akan seperti Mama, mempertahankan janin kembar tanpa di dampingi siapapun.. '


Hati Chania mulai bergetar, tak sanggup menahan rasa sedih. Di dalam dadanya sudah menangis sejadi - jadinya. Namun tak sedikitpun air mata keluar. Bibir diam membisu, raut wajah datar sengaja di tunjukkan untuk memanipulasi siapapun yang melihatnya, terutama Michael.


"Hanya ingin mengusap punggungku?" tanya Michael membuyarkan lamunan Chania.


Tersenyum manis dan manja, "Mungkin saja kelak aku akan merindukan menyentuh tato naga ini. Dan mungkin saja aku juga akan rindu melukai punggung ini dengan kuku - kuku ku. Hihihi." Cekikikan menutupi sakit hati dan segala kegundahannya.


Terdiam, jantung Michael serasa tergores pisau tajam mendengar kalimat Chania. Kalimat yang seolah menampar rasa bersalahnya. Membuat rasa itu semakin sakit.


Sampai di sini ia mulai sadar, bahwa hatinya telah jatuh cinta pada gadis di belakangnya. Namun gengsi selalu lebih tinggi dari akal sehatnya.


"Kamu tidak akan kemana - mana." ucap Michael lirih tanpa menoleh Chania di belakangnya.


"Hahaha... siapalah diriku ini. Hanya debu yang menumpang hidup pada Tuan muda Xavier. Bos besar di Italia, Tuan Mafia yang tampan dan kejam. Jika sudah saatnya tiba, debu seperti ku harus dibersihkan dari istana sebesar ini, Tuan."


"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini, jika bukan aku yang menyuruh."


Semakin sakit dengan kata - kata yang menusuk hatinya. Kalimat sederhana, bahkan di ucapkan dengan bibir yang menyungging senyuman manis. Namun mampu mencabik - cabik hati sang Mafia. Membuat hati itu merasakan perih yang tak berdarah.


"Berhentilah bicara yang tidak penting, Baby.."


"Aku hanya bilang kenyataan, Honey.. kamu bahkan memanggilku dengan sebutan Baby juga karena terpaksa, bukan?" tanya Chania masih asyik menggosok punggung Sang Mafia. "Karena aku yang kala itu memaksa mu berpura mencintai pungguk seperti ku." lanjutnya.


"Stop! please.." lirih Michael tak sanggup lagi membayangkan kehilangan sosok Chania, gadis yang berbulan - bulan menemani tidurnya. Apalagi jika sampai Chania jatuh di tangan Deborah.


Namun lidah masih saja terasa kelu untuk mengucapkan serangkai kata I LOVE YOU.


"Honey?" panggil Chania dengan nada yang begitu menyejukkan. "Aku ingin berterima kasih padamu." ucapnya serius, "Setidaknya di usia ku yang menjelang 23 tahun ini, aku sudah pernah merasakan menikah dan punya suami, pernah mencintai dengan tulus. Dan pernah di perlakukan lembut oleh seorang Mafia kelas kakap sepertimu." ucap Chania pelan, dan mengakhiri dengan sebuah kecupan di punggung Michael. "Meskipun aku tidak akan pernah mendapatkan cinta darimu."


Terdiam, Michael hanya bisa diam dan menikmati sentuhan tangan Chania yang merambat ke perutnya. Memeluknya erat dari belakang. Merasakan pipi Chania yang mulai menempel di pundaknya.


"Aku tidak pernah tau, sampai kapan aku akan hidup. Aku tidak tau, sampai kapan aku bisa berada di rumah ini, di kamar ini, tinggal bersama pangeran seperti mu." Chania memejamkan matanya.


"Apa yang kamu bicarakan?" lirih Michael merasa tidak paham dengan arah bicara istrinya.


"Jika hadirku mengancam dunia mu, akhiri saja kontrak kita." ucap Chania. "Kamu punya hak penuh memutuskan kontrak kita."

__ADS_1


Menghela nafas berat, "Berhentilah bicara yang tidak - tidak."


"Terima kasih untuk apa yang sudah kamu berikan padaku, Honey..."


' Termasuk dua janin untukku.. '


Lanjut Chania dalam hati.


"Aku tidak suka kamu terlalu banyak bilang terima kasih." ketus Michael merasa semakin bersalah.


"Ughk!'


Menarik tangan dari perut sixpack Michael dan memindahnya untuk menutup mulut. Tiba - tiba Chania merasa mual dan ingin muntah.


"Kamu kenapa?"


"Hanya sedikit mual." jawab Chania. "Ugh!"


"Pasti karena terlalu lama berendam. Ayo bangun. Aku bantu bersihkan tubuh kamu."


Tanpa menunggu persetujuan Chania, Michael bangkit dan mengangkat tubuh ramping itu. Membawanya untuk di bilas di bawah guyuran shower.


Setelah itu, Chania yang hendak keluar dari kamar mandi justru semakin mual. Dan mau tak mau ia memuntahkan isi perutnya di closed. Namun hasilnya hanya cairan putih yang keluar. Tentu itu semakin menyiksa.


"Baby, aku akan panggil dokter pribadi!" ucap Michael yang panik dengan kondisi Chania.


"Jangan!" ucap Chania tegas. "Aku hanya masuk angin biasa."


"Tapi..."


"Aku akan membencimu seumur hidup jika kamu memanggil dokter untukku!"


Mengerutkan kening, tak paham dengan sikap Chania. Padahal ia sudah merasa cukup khawatir dan bingung melihat Chania yang tampak tersiksa dengan muntahnya pagi ini.


"Apa yang kamu katakan!"


"Aku tidak suka ada dokter!" jawab Chania membaringkan tubuhnya di ranjang setelah mengganti handuk kimono dengan baju rumahan miliknya.


Menghela nafas, memutar kepala ke kanan dan ke kiri, merasa tidak berkutik dengan ancaman Chania.


Sejak kapan Michael takut dengan ancaman?


Dan lagi - lagi ia hanya bisa menuruti keinginan sang istri.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


Drama di istana Michael ada di episode selanjutnya ya kakak 🙏


Jangan lupa tinggalkan dukungan dan vote nya ya kakak 🤩


__ADS_2