
"Kamu siap untuk pindah ke sini?" tanya Reno pada Gia yang duduk di depan kekasihnya.
"Tentu saja saya siap, Chef!" jawab Gia yakin. "Saya bersedia di tempatkan dimana saja!" lanjutnya tersenyum cerah.
"Hemm... aku tau kamu sangat totalitas dalam bekerja."
"Tentu saja, Chef!"
Obrolan panjang dan sarapan bersama sudah mereka lalui hingga waktu menunjukkan pukul sembilan pagi waktu Italia.
"Chania!" celetuk Sania melihat sang saudara kembar memasuki area Cafe bersama suaminya dan Jack yang selalu setia berjalan di belakang Tuannya.
Chania, mencari sumber suara Sania, dan mendapati Sania bersama Reno dan seorang gadis yang duduk membelakanginya. Detik dimana ia berfikir siapa gadis itu, Gia menoleh kebelakang.
"Gia!" seru Chania berlari menghambur sahabat yang sudah lama tak jumpa.
"Carina..." seru Gia berdiri dan menerima pelukan Chania.
"Apa kabar kamu?" tanya Chania girang.
"Baik!" jawab Gia antusias. "Maaf, kemarin aku tidak bisa datang!"
"Tidak apa - apa! aku sudah senang melihatmu disini hari ini!"
Tersenyum, "Ah, ini untukmu!" ucap Gia mengambil paper bag dan menyerahkan pada Chania.
"Hadiah untukku?"
"Iya! hadiah pernikahanmu!" ucap Gia tersenyum.
"Untuk apa kamu repot - repot seperti ini?" ucap Chania. "Kamu datang saja aku sudah bahagia!"
"Hanya hadiah kecil dan sederhana!"
"Boleh aku buka?"
"Of course!"
Chania membuka paper back saat suaminya sudah sampai tepat di sampingnya.
"Dear lord! ini..."
"Itu aku buat sendiri! dari tanganku sendiri!"
"Yaa Tuhan... Gia... kamu baik sekali!" ucap Chania menarik sebuah syal rajut dar bahan yang cukup lembut.
"Biasa saja..."
"Aku akan pakai!" Chania langsung memakai syal berwarna birel dengan sebuah kalimat ucapan, happy wedding my best friend, Chania.
"Cantik!" sahut Sania dari kursi tempat ia duduk.
"Ayo duduk!" ajak Chania sumringah.
Tak lupa Chania menarik lengan suaminya untuk ikut duduk di sampingnya. Dan obrolan kembali berlanjut. Berbagai cerita meluncur dari bibir para wanita. Dan beberapa pelayan pun silih berganti meletakkan pesanan dan makanan - makanan kecil untuk mereka.
__ADS_1
Sedangkan Michael dan Reno tampak saling lirik dengan menahan bosan. Mendengarkan obrolan para wanita tentu saja membosankan.
Sesekali Michael melirik Jack duduk di bangku sebelah, kemudian mengajak sang bodyguard untuk bergabung bersama nya.
Bodyguard dingin yang tak kalah tegas dengan Michael itu duduk di sisi kanan Reno. Membuat sepasang mata dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah tampan dan dinginnya seorang Jack.
"Memangnya kapan restauran kamu mulai buka?" tanya Chania setelah beberapa saat obrolan mereka berlangsung.
"Minggu ini!" jawab Reno. "Kalian harus datang!"
"Aku sibuk!" sahut Michael tanpa pikir panjang.
"Mich... please!" desis Reno melirik sahabatnya dengan jengah.
"What?"
"Kalian akan menjadi magnet tersendiri saat grand opening nanti!"
"Kau memanfaatkan kami?" tanya Michael.
"Em... bukan memanfaatkan! kita kan bersahabat, jadi tidak ada yang salah untuk saling membantu, bukan?" Reno terkikik sendiri. Jelas akan ada keuntungan besar yang ia dapat dari kehadiran sang Tuan Mafia.
"Maaf, Chef! saya ke toilet sebentar!" ucap Gia memotong kalimat Reno.
"Hem.. ya!" jawab Reno.
Gia melangkahkan kakinya meninggalkan meja setelah berpamitan pada Chania dan Sania.
"Jack!" panggil Reno sembari menyenggol lengan kekar sang bodyguard.
"Aku lihat Gia terus saja mencuri pandang padamu!" ucap Reno terang terangan.
"Hah!" pekik Sania dan Chania bersamaan. Mereka bersilang tatap beberapa detik lalu fokus pada Reno sang pencetus kalimat.
"Kamu yakin?" tanya Chania pada Reno.
"Yakinlah, kakak ipar!" jawab Reno meyakinkan.
"Apa maksud anda, Tuan?"
"Tch!" Reno berdecih malas. "Apa kau punya pacar?"
"Apa hubungannya dengan ucapan Tuan Reno di awal?"
"Hiih!" kesal Reno meninju udara di depannya. "Sepertinya Gia tertarik padamu! Kau punya pacar tidak?"
"Saya tidak tertarik untuk menjalin hubungan macam itu, Tuan!" celetuk Reno dengan entengnya.
"What!" pekik Reno. "Apa kau tidak normal?"
Jack melirik Reno dengan jengah. Mimpi apa ia semalam, sampai harus mendapat pertanyaan macam itu.
"Tentu saja saya normal, Tuan!" jawab Jack.
"Lalu apa kau tidak pernah jatuh cinta?"
__ADS_1
Menghela nafas, "Bukan tidak pernah, Tuan!" jawab Jack. "Tapi terkadang cinta tidak harus memiliki, bukan? apalagi saya bergelut di dunia seperti ini. Gadis mana yang mau dengan saya?" tanyanya pada Reno. "Tidak semua gadis seperti Nyonya muda Xavier, yang dengan tulus menerima seorang Mafia berdarah dingin. Yang rela melepas suaminya ke medan perang untuk bertaruh nyawa."
"Aku yakin ada..." jawab Reno.
"1 banding 1000, Tuan!" sahut Jack. "Jika Nyonya muda ada jaminan untuk bisa tetap tenang karena beliau juga istri seorang konglomerat, yang hartanya tidak akan pernah habis tujuh turunan jika Tuan muda gugur, lalu bagaimana dengan saya?" tanyanya. "Apa yang saya tinggalkan untuk mereka? Saya hanya bodyguard! saya tidak punya kekuasaan layaknya Tuan Michael!"
"Apa yang kau katakan, Jack?" sahut Michael ketus.
Sesungguhnya Michael tak tertarik dengan apa yang di bicarakan Jack dan Reno. Namun mendengar kalimat Jack ia merasa sedikit tersindir.
"Saya hanya memikirkan nasib seseorang jika saya jatuh cinta padanya, Tuan!" Jack menghadap Michael sendu. "Saya tidak ingin membuat mereka terjebak pada rasa cinta saya!" lanjut Jack membuat semua mata memperhatikan Jack dengan tatapan tak percaya. "Saya pernah bersumpah untuk terus berada di sisi Tuan Michael! menjadi garda terdepan untuk melindungi Tuan dari bahaya apapun! Itu yang akan saya lakukan seumur hidup saya!" ucap Jack jauh lebih serius.
"Tapi aku tidak pernah melarang mu untuk jatuh cinta, Jack!" ucap Michael tegas. Ia tatap lekat dan menusuk wajah bodyguard paling setia yang ia miliki. "Kau harus menikah!" tegas Michael tak terbantahkan.
Menarik nafas dalam, "Saya tidak pernah memiliki pikiran itu, Tuan!"
"Mulai detik ini, kau harus memikirkan itu!"
"Nah! Michael saja tidak melarang mu!" sahut Reno. "Dan sepertinya Gia cocok tertarik denganmu.. jadi bagaimana jika kau coba membuka hati untuknya? Aku yakin dia menyukaimu, Jack!"
Jack melirik tajam pada Reno. Antara tidak suka dengan apa yang di sarankan Reno, ia juga bimbang dengan perintah bosnya, untuk menikah di kemudian hari. Ia tak pernah memikirkan hal - hal seperti berpacaran apalagi menikah.
Jika hasrat kelakiannya tak bisa di bendung, maka ia hanya akan pergi ke panti pijat, atau ke tempat - tempat dimana ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, sesuai dengan seleranya.
Jika Jack bilang tak punya apapun untuk di tinggalkan, itu tidaklah benar. Karena gajinya sebagai pemimpin bodyguard tidaklah main - main.
"Atau kamu sudah punya pilihan sendiri?" sahut Chania penasaran.
"Tidak ada, Nyonya!" jawab Jack tegas.
"Yakin?" celetuk Sania.
"Tentu saja, Nona."
"Eh, kenapa Gia lama sekali!" ucap Reno tiba - tiba.
Sontak semua menoleh ke arah lorong menuju toilet.
"Coba aku cek!"
Sania meninggalkan mejanya dan memasuki lorong menuju toilet. Beberapa menit kemudian terdengar suara meminta tolong dari dalam toilet. Membuat semua yang ada di dalam Cafe berdiri dan berhambur ke arah toilet.
"TOLOONG!"
# # # # # #
"Semua yang dekat denganmu harus menjadi korban..." desis gadis cantik yang berdiri menghadap sebuah cermin besar. "Satu persatu akan aku lumpuhkan, untuk kemudian kamu yang terakhir! kamu akan mati dengan membawa rasa bersalah!"
"Kamu tidak takut melakukan semua ini?"
Tersenyum culas, "Ini hanya peringatan kecil .. aku akan menyiapkan pesta besar untuk puncak acara nanti!"
"Jangan gila!"
...🪴 Happy reading 🪴...
__ADS_1