
Kembali masuk ke dalam kamar dengan nafas terengah, membuat Jia tidak sabar ingin bertanya pada Xiaoli, tentang apa yang sekiranya di bicarakan oleh sang Ayah yang tiba - tiba keluar dari kamarnya.
Segera ia meraih ponsel yang tersimpan di dalam dompet kecil yang ia bawa ke pesta tadi.
"Apa yang di bicarakan Daddy sama kamu?"
Tanya Jia dengan nada menginterogasi melalui pesan chat. Dalam hati jia berharap, semoga Xiaoli menutupi hubungan mereka. Setidaknya untuk saat ini. Ia belum siap, jika sampai Xiaoli mengatakan pada sang Ayah, jika mereka berpacaran.
Takut jika senjata api kecil namun menyeramkan yang selalu di bawa Daddy nya kemana - mana, alias Glock sang Daddy mengarah pada kepala Xiaoli Chen. Tidak akan sanggup jika ia harus melihat dahi Xiaoli Chen yang berlubang oleh Glock sang Ayah yang mungkin akan murka ketika mengetahui bodyguard baru yang berprestasi seperti Xiaoli mengencani putrinya.
Ia sangat takut jika harus kehilangan sang Bodyguard tampan dalam waktu dekat, apalagi dengan cara yang semengerikan itu. Yakni tewas di tangan sang Ayah, cinta pertama bagi setiap anak perempuan.
Setidaknya untuk saat ini ia masih memiliki kesempatan untuk memikirkan ide brilian, bagaimana caranya mendapatkan restu dari sang Ayah, jika ia mencintai seorang bodyguard.
Dan malam itu adalah kencan pertama mereka di Friday Night. Dan bukit indah Fields of Pealand menjadi saksi bersatunya cinta antara Xiaoli dan Jia. Remaja yang hanya terpaut usia tidak sampai tiga tahun itu.
Dua anak manusia dengan berbeda kedudukan, namun sama - sama di mabuk cinta. Dua anak muda yang sedang nekat menjalin cinta, di tengah dunia yang mungkin akan menentang cinta mereka.
Belum mendapatkan jawaban dari sang bodyguard, Jia menunggu dengan resah akan pesan yang ia kirim.
Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, Jia menatap langit - langit kamarnya. Beberapa detik kemudian senyum manis terukir di bibir manis sang Nona Muda Xavier. Ia kenang kembali momen di mana Xiaoli mengucapkan cinta padanya. Hingga tubuhnya terasa membeku tanpa sanggup untuk bergerak.
Dan ia rasakan kembali, ketika pemuda itu memeluk tubuhnya yang kedinginan, lalu sebuah ciuman terjadi begitu saja. Ciuman pertama yang membuat Jia tidak akan pernah melupakan momen yang tercipta di atas bukit Fields of Pealand yang indah itu.
Dimana hawa dingin yang ada di atas sana, seketika lenyap ketika tubuh mereka saling bertemu dan memeluk. Kehangatan menguar dari tubuh masing - masing, kemudian menghangatkan satu sama lain. Dan jaket kulit Xiaoli seolah semakin menghangatkan tubuh kecil Jia.
Momen demi momen melintas di dalam pikiran Jia yang sedang melamun. Malam itu, ia sudah memiliki seorang kekasih. Malam itu ia mendapatkan cinta pertama yang ia inginkan. Malam itu... ia merasakan hangat dekap dari seseorang yang bukan anggota keluarganya untuk pertama kali. Juga menjadi momen pertama ada yang mencium bibirnya dengan lembut dan hangat. Sangat memabukkan, dan ingin ia ulangi lagi dan lagi.
Tangan reflek terangkat ke atas, merabai pelan bibir yang untu pertama kali di cium oleh seorang pemuda. Senyum kembali merekah di bibir Jia yang tipis.
Sampai satu dentingan ponsel membuat lamunan Jia seketika ambyar, dan langsung menyabet ponsel di sisi kanan tubuhnya. Ia sudah dapat menduga siapa yang mengirim pesan padanya.
"Besok Tuan Besar meminta aku untuk menjemput Tuan Muda Harcourt di Bandara."
"Jellow mau datang?"
"Ya, Sayang! sepupu kamu akan datang..."
"Tumben dia datang?"
"Entahlah..."
"Kamu sudah di mess?"
__ADS_1
"Masih jalan..."
Xiaoli mengirim sebuah foto yang menunjukkan lorong jalan menuju mess bodyguard. Dan Jia tersenyum melihat foto yang menurutnya sangat simple tapi sangat berkesan. Karena jelas, Xiaoli tengah berusaha untuk jujur apa adanya.
"Kamu mau langsung tidur?"
"Iya... kamu juga tidurlah..."
"Yes, Darliiiing.... I will!"
Emoticon senyum dengan pipi merah di sematkan oleh Jia untuk sang kekasih.
Jia pun bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi. Menghapus make up dan juga mengganti bajunya dengan baju tidur.
"Good night, My Girl..."
"Night too, My Boy!"
Chatting singkat pun berakhir, kemudian dengan segera ia melesat ke kamar mandi untuk menunaikan rencananya. Yakni membersihkan make up lalu tidur, kemudian mimpi indah, seindah kisah yang ia rajut di malam ini bersama Xiaoli.
***
Sampai di kamarnya, Xiaoli tak lantas langsung tidur. Ia menjatuhkan bokongnya di kursi yang menghadap sebuah meja. Di tangannya masih ada jaket hitam yang tadi sempat di pakai sang Nona Muda Xavier yang kini menjadi kekasihnya.
Betapa menenangkannya bau parfum Jia yang menempel. Dan itu membuatnya kembali mengingat betapa malam itu adalah malam yang indah baginya. Karena takdir membuatnya bisa memeluk gadis yang selalu membayangi malam - malam sunyi Xiaoli di kamarnya selama beberapa waktu terakhir.
"I love you, Jia..." lirih Xiaoli masih dengan mencium wangi sang gadis di jaket hitamnya.
Malam semakin larut, Xiaoli masih dalam angan - angan apa yang membuatnya merasa sangat bahagia. Namun saat ia melihat sebuah bingkai di atas meja. Mata cerahnya seketika berubah menjadi sendu dan sedih.
"Maafkan diri yang tak bisa bercermin ini..."
"Maafkan diri yang terlalu mendongak ke atas. Tapi hati tidak bisa berbohong... Semua muncul dan tumbuh begitu saja..."
"Xiaoli berjanji akan menjaga Jia dengan nyawa ku!"
"Setidaknya hanya penjagaan yang bisa Xiaoli berikan pada Jia. Karena jika harta, aku bukan tandingan keluarga Xavier yang merupakan orang terkaya di Italia..."
Xiaoli pun menggeser bingkai itu, agar seolah tidak tengah mengawasi dirinya.
Bangkit dari kursi, Xiaoli berdiri di samping jendela. Menatap lurus ke arah luar. Dimana ia bisa dengan bebas melihat istana yang menjulang di sana. Ia tidak bermimpi untuk kelak bisa tinggal di sana bersama Jia.
Tapi ia tengah berfikir, apakah mungkin ia bisa bersatu dengan seorang Georgia Xavier?
__ADS_1
Apakah tidak terlalu tinggi mimpi sang bodyguard?
Xiaoli menatap resah, tapi juga lega karena berhasil mendapatkan cinta sang Nona Muda yang ia pikir memiliki selera setinggi langit.
Namun nyatanya Xiaoli mendapatkan cinta pertama sang Nona Muda. Jika saja ia setara dengan Diego Maldini, mungkin ia dengan bangga akan memamerkan pada dunia jika Jia adalah kekasih hatinya.
***
Sedangkan di tempat lain, seiring dengan sepinya Ballroom hotel yang di gunakan oleh Gladys merayakan ulang tahun, ada Diego yang keluar dari lokasi pesta bersama Reena. Mereka pulang paling akhir, karena sebagai sahabat terdekat bagi Gladys.
Keduanya menunggu supir mereka yang mengambil mobil. Jika supir Reena sudah tiba dengan mobilnya, maka supir Diego justru datang dengan menunggangi kakinya sendiri. Berlari kencang menghampiri sang majikan.
"Ada apa?" tanya Diego pada supirnya.
"Tuan Muda, ban mobil pecah dua!" lapor sang supir.
"HAH! kok bisa!" seru Diego dengan cukup kencang saking kagetnya.
"Saya tidak tau, Tuan Muda..." jawab sang supir dengan menunduk saking takutnya. "Saya tadi menunggu di sini..."
"Ada apa, Diego?" tanya Reena.
"Ban mobil ku pecah dua!" jawab Diego dengan raut wajah yang masam. Ini sudah tengah malam, harus memikirkan cara pulang saat diri sudah lelah.
"Mau aku antar pulang?" tawar Reena.
"Tapi rumah kita berbeda arah sangat jauh, Reen. Aku tidak suka merepotkan orang."
"Lalu?"
"Kamu pulang saja... untuk malam ini aku akan memesan hotel dulu di sini. Biar besok mobil di perbaiki supirku.."
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu, ya?" pamit Reena.
"Ya, Reen.."
Reena pun pergi meninggalkan Diego dan supirnya. Sementara Diego menghela nafas berat.
"Tuan Muda, sepertinya ban mobil Tuan Muda ada yang sengaja menyayatnya..." bisik supir Diego.
"Maksud kamu?" pekik Diego dengan mata yang terbelalak. Terbuka lebar dengan kening yang mengerut.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1