
Seisi istana megah Michael Xavier di buat geger pada suatu malam. Dua penjaga kamar Michael berlari menuruni tangga dengan setengah melompat - lompat.
Membawa koper dan tas dengan ukuran cukup besar, tak menghalangi keduanya untuk melewati 2 atau tiga anak tangga sekaligus dalam sekali lompat.
Sania pun tak luput dari kegiatan menuruni tangga itu. Ia menuruni satu persatu tangga dengan sangat gerakan cepat. Kakinya terasa begitu ringan, hingga ia pun sampai di ujung tangga lebih cepat dari lift yang belum terbuka.
Ada apa kah gerangan?
Ya, Nyonya muda Xavier mulai merasakan mulas di perutnya. Sejak beberapa saat lalu, Chania merintih menahan sakit. Michael sendiri sempat kebingungan dan khawatir akan kondisi istri juga kedua anak kembarnya.
Madalena yang selama beberapa hari ini tinggal di rumah putranya, bisa menduga jika menantunya akan melahirkan cucu pertamanya.
Koper dan tas yang di bawa pengawal adalah berbagai keperluan bayi dan ibu melahirkan.
Michael menggendong Chania yang sesekali menahan jeritan sakit. Mereka turun menggunakan lift bersama sang Mama.
"Cepat, Michael!" seru Madalena ikut berlari ke arah mobil.
Tak butuh waktu lama untuk Michael bisa membawa Chania sampai di mobil limousine miliknya.
Michael, Chania, Madalena dan Sania berada dalam satu mobil yang di kemudikan Dimitri, dan Jack di sebelahnya.
"Cepat, Dimitri!" seru Michael.
"Aaah!" rintih Chania tertahan. Ia bersandar di dada suaminya. Kedua kaki terangkat di kursi panjang limousine. Tangan kanan mengusap lembut perutnya. Satu tangan lainnya memegang erat lengan Michael.
Mencengkeram lengan itu dengan penuh harap bisa mendapat kekuatan dari sang suami.
"Kamu pasti kuat, Chania..." ucap Madalena yang duduk tepat di hadapan Michael.
Sedangkan Sania, gadis itu bahkan berjongkok di samping perut saudara kembarnya. Mengusap lembut perut Chania. Wajahnya pucat pasi, ia seolah ikut merasakan apa yang di rasakan Chania.
Beberapa hari terakhir, hati Sania dirundung gelisah. Karena Reno, pria itu bak hilang di telan bumi. Tak ada chat satupun dari pria itu. Bahkan chat terakhir yang ia kirim pada Reno sepulang dari mengantar Chania periksa, hanya di baca oleh Reno.
Karena gengsi, ia pun ragu untuk mengirim pesan lagi. Namun di sisi lain, ia ingin sekali mengobrol dengan pria yang berhasil mencuri hatinya itu. Berchatting ria, video call dan bertemu setiap pria itu libur kerja.
Semua angan itu sudah memudar sedikit demi sedikit sejak sebulan yang lalu. Dimulai sejak saat mereka di kamar siang itu.
Hati Sania semakin kalut, kenapa ia dulu merasa tidak siap, hingga membuat Reno menunggu. Dan saat kehilangan seperti ini rasanya ia sangat menyesal dan sedih.
Sesekali ia hanya menatap ponsel, berharap ada pesan dari sang pria. Sesekali ia pun menatap foto maupun melihat video kebersamaan mereka selama ini.
Namun semua perasaan itu saat ini hilang entah kemana. Ia hanya fokus pada saudara kembarnya yang sedang merasakan sakit bak tulang yang di patahkan. Begitulah gambaran rasa sakit orang yang melahirkan.
Bagikan 20 tulang yang di patahkan bersamaan.
__ADS_1
Jika satu tulang patah saja rasanya sudah tidak karuan, apalagi 20 tulang?
"Kamu kuat, Baby..." lirih Michael mencium kening istrinya. Ia paham kalimat gambaran rasa sakit yang pernah di ucapkan sang Mama. Sehingga membuatnya kini sangat khawatir.
Ia sering mematahkan tulang musuhnya dengan sangat mudah, tanpa peduli sesakit apa yang di rasakan oleh mereka. Bahkan sang Mafia itu akan tersenyum culas jika pada akhirnya musuh tewas dengan cara paling sadis dan menyakitkan.
Dan saat ini istri tercinta merasakan semua itu. Tentu saja ia di landa khawatir. Mengusap keringat dingin yang keluar dari dahi istrinya sembari memberi kecupan - kecupan lembut di dahi istrinya. Ia peluk erat istri tercinta yang merintih kesakitan.
"Kamu pasti kuat, Baby... demi twins." bisik Michael tepat di atas puncak kepala istrinya.
Chania sendiri tak bisa menjawab. Mengangguk pun rasanya tak mampu. Hanya rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Hati Madalena bergetar. Menatap sendu pada putra dan menantunya. Betapa ia dulu pun seperti itu saat akan melahirkan Michael.
Hati Madalena semakin gundah, saat mengingat yang di kandung menantunya adalah bayi kembar. Ia teringat akan suatu masa.
' Bagaimana dulu kau melalui kehamilan kembar mu, Kimberly? '
Tanya Madalena dalam hati. Ia tatap dua putri Kimberly yang kini saling menguatkan demi dua bayi kembar seperti mereka.
' Maafkan aku yang dulu pernah menyiksamu... hanya karena salah paham... '
Madalena terus menatap Chania dan Sania.
Ban mobil berdecit tepat di depan rumah sakit terbaik di Roma. Dokter Verra beserta beberapa perawat sudah bersiap dengan sebuah brankar pasien.
Michael mengangkat sendiri tubuh istrinya, dan membawanya keluar untuk di letakkan di atas brankar dengan pelan. Semua berlarian menuju ruang bersalin yang sudah di siapkan oleh pengurus rumah sakit.
"Hanya Tuan Xavier yang boleh masuk!" ucap seorang perawat sembari menutup pintu ruangan.
"Haaah!" semua yang hanya bisa menunggu di luar tampak menghela nafas.
Jack dan Dimitri saling lirik satu sama lain. Kemudian tersenyum simpul.
' Akhirnya Tuan Michael akan menjadi seorang Papa! '
Sedikit banyak itulah yang ada di dalam benak mereka. Dua bodyguard paling setia dan tangguh yang di miliki Michael.
***
Di dalam ruangan, Chania sudah dalam proses mengedan yang tidak karuan. Ia genggam erat tangan kokoh suaminya. Sesekali tangan lainnya menarik rambut sang Mafia yang terus berbisik di telinganya.
mengungkapkan kata - kata cinta, menyemangati dengan penuh ketulusan. Tanpa peduli dengan rambut yang di jambak sang istri.
Ia tau sakitnya rambut yang di jambak istrinya, tak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan istrinya sekarang.
__ADS_1
"Honey.... sakit!" lirih Chania tertahan. Ingin berteriak namun rasanya sangat malu.
"Apa kalian tidan punya obat yang menghilangkan rasa sakitnya?" hentak Michael pada Verra.
"Maaf, Tuan. Tidak ada obat yang menghilangkan rasa sakit saat melahirkan normal." jawab Verra.
"Fvck!' umpat Michael. Ia tak mampu melihat istrinya merasakan semua sendirian.
Mereka bercinta bersama, mendapatkan nikmat bercinta pun bersama. Menggapai cakrawala bersama. Tapi kenapa saat seperti ini seolah semua rasa sakit hanya di derita pihak wanita?
"Sekarang, Nyonya!" perintah dokter Verra agar Chania mengedan.
"Kamu bisa, sayang!" bisik Michael.
Ia pejamkan matanya, karena sesungguhnya ia tak mampu melihat apa yang sedang terjadi. Hanya saja ia tak mau menjadi lemah. Ia harus lebih kuat dari istrinya.
Apapun yang terjadi! Ia harus jauh menjadi penguat istrinya yang lemah.
"AAAAA..." ingin rasanya Chania berteriak. "Honey..."
Keringat dingin tak hanya mengucur dari tubuh Chania, namun juga Michael. Hingga...
Oee.. Ee..Oe...
Tangisan bayi laki - laki terdengar begitu mendominasi ruang bersalin. Seorang suster segera menerima bayi laki - laki itu untuk di bersihkan.
Menghela nafas lega, satu sudah keluar. Tinggal satu lagi yang terasa ikut merengsak untuk segera di keluarkan.
"Sekali lagi, Baby... Kedua anak kita pasti sangat lucu.." bisik Michael.
"Aaa!" Chania mengedan tanpa peduli dengan kalimat yang di ucapkan suaminya. Yang terpenting ia terus mendengar suara Michael. Apapun yang di ucapkan pria itu seolah tak terbaca oleh Chania.
Oee..oe..ee.oe..
Tangisan kedua adalah bayi perempuan yang gembul nan cantik.
Menetes lah air mata seorang Michael Xavier. Ia kecup berkali - kali seluruh wajah istrinya.
"Terima kasih, Baby..." lirih Michael.
"Daddy Michael..." ucap Chania lirih untuk sang suami.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1