
Hari terus berganti, sejak gagal berulang kali untuk menyatakan cinta, Reno kembali ke Venice karena urusan pekerjaannya sebagai Chef utama. Sudah hampir tiga minggu ia tak lagi menemui Sania di Roma.
"Apa mungkin sebenarnya Michael atau Chania tidak menyetujui jika aku dan Sania menjalin hubungan?" gumam Reno menatap hamparan lautan dari atap restauran milik orang tuanya itu.
"Jika tidak setuju, kenapa Michael tidak pernah sekalipun melarang aku untuk datang? Bahkan mereka menyediakan aku kamar di rumahnya. Padahal Michael tau aku punya rumah di Roma!"
Dengkus Reno bersungut kesal. Ini kali pertama ia tak mendatangi Roma lebih dari dua minggu. Biasanya seminggu sekali setiap hari liburnya tiap, ia akan menemui sang pujaan hati di Roma.
"Awalnya... aku memang hanya mejadikanmu sebagai ganti karena aku tak mungkin mendapatkan Chania, istri sahabatku." gumamnya terus menerus. "Tapi siapa sangka, aku benar - benar jatuh cinta padamu, Sania." Reno tersenyum lirih. Mendongak, menatap birunya langit, melukiskan wajah cantik Sania di atas sana, di antara putihnya awan yang diterpa cahaya matahari.
"Sania... sejak beberapa hari kebersamaan kita, aku sudah mantap untuk menjadikan mu milikku seutuhnya!"
"Tapi takdir seolah bermain - main dengan kita. Apa yang awalnya aku kira mudah, ternyata cukup sulit aku dapatkan."
"Apa mungkin Michael berfikir, jika aku tidak pantas untukmu?" gumamnya miris. "Hingga ia menganggap kita berteman saja sudah cukup untuk membayar informasi keberadaan mu dari ku?"
Reno kembali meluruskan pandang ke bawah, menjadikan ombak pantai yang berdebur kala matahari mulai tergelincir ke arah barat, sebagai ujung pandangannya.
Banyak pasangan yang asyik bersenda gurau di atas pasir. Ada juga yang bermain ombak. Hingga semua terlihat begitu romantis di mata Reno.
"Ya Tuhan... sesulit itu mendapatkan cinta yang ku inginkan!"
Ia menyisir kasar rambutnya. Merasa frustasi dengan nasib percintaannya yang tak pernah mulus.
Matahari semakin turun ke peraduannya. Namun Reno masih dalam posisi yang sama. Memandangi keramaian, di antara orang - orang yang berbahagia untuk menghabiskan waktu liburan mereka.
Namun Reno, pria itu masih menyendiri di atas atap restauran.
***
Di istana Michael, Chania Xavier sang Nyonya muda baru saja pulang dari dokter Verra. Ia sudah sampai di minggu - minggu terakhir kehamilannya. HPL semakin dekat.
Michael pun sudah membatasi aktivitasnya. Hanya sesekali saja ia ke kantor atau pun ke markas Black Hold.
Seperti siang ini, karena sangat mendesak ia pun meminta Sania untuk menemani Chania periksa dengan di kawal oleh Antonio dan seorang supir lainnya.
"Bagaimana kandungan kamu, Chania?" tanya Madalena, yang entah sejak kapan sudah berada di rumah Michael.
Chania dan Sania yang melangkah masuk bersamaan pun di buat kaget oleh suara yang tak asing, namun sangat jarang terdengar di rumah itu.
"Mama!" pekik Chania berjalan lebih cepat mendekati sang mertua yang keluar dari ruang keluarga.
"Pelan - pelan, Chania!" desis Sania yang khawatir sendiri. Apalagi perut Chania yang semakin besar.
"Selamat sore, Ma!" sapa Chania.
"Sore!" jawab Madalena mengangguk dengan seulas senyum manis.
"Kapan Mama datang?"
"Baru saja!" jawabnya. "Mama bawakan masakan spesial untuk kamu!" ucap Madalena.
"Jangan buat Mama lelah hanya untuk memasakkan Chania, Ma!"
"Tidak apa, Chania... Mama senang melakukannya!" ucap Madalena. "Ayo makan! kamu juga, Sania. Ayo!"
"Em... saya mau ke kamar saja, Aunty!"
"Ada yang ingin Mama bicarakan padamu juga, Ayolah!"
__ADS_1
"Tentang apa, Aunty?"
"Keluarga kalian!" jawab Madalena.
***
Tak butuh waktu lama, semua keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga. Chania baru saja menyelesaikan makan yang ke tiga kalinya untuk hari itu. Maklum, ibu hamil.
"Papa bangga dengan kalian berdua. Sudah membiarkan wanita ular seperti Deborah menempati rumah yang seharusnya kalian tempati."
"Oliver juga berhak atas rumah itu, Pa!" jawab Chania.
"Tetap saja bagian kalian lebih besar!"
"Biarlah, kami bisa tinggal di sini!" jawab Chania. "Rumah ini tak kalah besar dengan rumah Papa Smith, bukan?"
"Ya, Papa tau!" jawab Frederick.
"Sebenarnya, Mama dan Papa datang karena ada pesan penting yang di titipkan Oliver untuk kalian!"
"Apa, Mom?" sahut Michael.
"Oliver akan bertunangan!"
"What!" pekik Michael.
"Dengan siapa?" sahut Chania penasaran.
Sontak semua saling pandang. Selama ini tidak terlihat sama sekali jika Oliver tengah dekat laki - laki. Bagaimana bisa ia akan bertunangan.
"Kalian tidak akan menyangka siapa pria yang sudah melamar Oliver!" ucap Madalena.
Hampir tiga minggu menjalin hubungan, dengan hanya sesekali bertemu sudah berhasil merangkai kembali serpihan hati yang sempat hancur karena kehilangan kesempatan untuk memiliki seorang Michael Xavier.
"Darrel Harcourt!"
"APAA!"
Michael, Chania dan Sania membulatkan mata mereka lebar. Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Bagaimana proses pendekatan mereka? Kenapa prosesnya begitu cepat?
"Bagaimana bisa? Sejak kapan mereka berkenalan?" kejar Michael datar namun menatap tak percaya pada sang Mama.
"Hihihi!" Madalena tersenyum tipis melihat ekspresi tiga anak di depannya. "Darrel dan Oliver sebenarnya saling mengenal, namun tidka terlalu dekat. Beberapa minggu yang lalu, Darrel ke Italia untuk menjenguk sepupunya yang di rawat di rumah sakit yang sama dengan Oliver. Dan di sanalah mereka tak sengaja bertemu kembali. Dan begitulah..." jelas Madalena tersenyum bahagia. "Kamu tau Michael, Oliver sekarang sudah jauh berbeda. Ia terlihat begitu baik!"
"Mama yakin?" tanya Michael memicingkan matanya.
Chania dan Sania pun ikut menatap Madalena Queen dengan rasa penasaran yang sama dengan Michael.
"Yakin!" jawab Madalena enteng.
"Baguslah kalau memang Oliver bisa lebih baik. Semoga Oliver dan Darrel benar - benar berjodoh!" ucap Chania tersenyum senang.
"Ya!" sahut Madalena, Frederick dan sania.
"Satu lagi!" sahut Frederick.
"Apa?" tanya Michael menoleh sang Papa.
"Sumsum tulang belakang yang di cari oleh anak buah mu, Andreas! ternyata...." sengaja menggantung kalimatnya. Menatap anak, menantu, dan saudara kembar menantunya satu persatu.
__ADS_1
"Ternyata?"
"Cocok untuk Selena!" jawabnya kemudian tersenyum.
"Aku sudah menduga! Andreas pasti bisa bekerja dengan baik!" Michael tersenyum lirih. Bangga dengan anak buah yang baru ia naikkan jabatannya beberapa bulan lalu itu.
"Yaa.. pilihan mu memang tidak pernah salah!" sahut Frederick menatap bangga sang putra tunggal yang dapat di andalkan.
"Di mana dia menemukannya?" sahut Chania.
"Di Australia!"
"Australia?" pekik Sania dan Chania.
"Jauh sekali!"
"Karena Papa kandung Selena berasal dari sana!"
"What!" pekik Chania.
"Bagaimana kamu tau?"
"Bukan aku yang tau. Itu semua karena penyelidikan Papa di masa lalu!"
"Oooh!"
"Deborah tau?"
"Tau! dan dia mulai mengingat kembali masa lalu mereka!"
"Papa kandung Selena masih hidup?" tanya Chania penasaran.
"Meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan meninggalkan dua orang anak di Australia. Dan salah satunya bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya."
"Wow! kenapa kamu tidak pernah cerita?" protes Chania.
"Memangnya penting?"
"Kan aku juga penasaran!" rengek Chania mencubit perut suaminya."
"Sorry..." lirih Michael mencium pipi chubby Chania dengan gemas.
Frederick dan Madalena tersenyum melihat keharmonisan putranya dengan sang istri. Jika kembali mengingat masa lalu, ia sama sekali tak menyangka jika Michael Xavier, putra tunggalnya bisa merajut biduk rumah tangga.
Sedangkan Sania menatap sendu kebahagiaan sang saudara kembar. Ia pun sebenarnya sudah jatuh cinta. Namun sudah hampir tiga minggu pria yang ia sukai tak berkunjung. Terlebih lagi, sudah dua minggu mereka tak berkomunikasi intens.
Dua minggu menjalin komunikasi melalui chat seperti orang asing. Tak ada canda gurau. Tak ada rayuan gombal dari Reno, membuat hidup Sania terasa garing dan hampa.
Menundukkan kepala, menghela nafas berat. Berharap hubungannya dengan Reno kembali seperti sebelum tiga minggu ini.
' Apa mungkin dia sudah menemukan gadis yang lebih sempurna di sana? '
Tanya Sania dalam hati.
Michael, pria itu tersenyum kecil saat melihat sekilas ekspresi Sania. Entahlah rencana apa yang di buat pria itu.
**🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹**
__ADS_1