SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 195


__ADS_3

Berjalan cepat meninggalkan toilet dan juga Alex yang menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit di artikan, Virginia kembali mencari keberadaan Jio dan Jia. Sebelum Virginia ke toilet, Suster mengabarkan jika pasien akan segera di pindahkan. Dan kini ruang rawat VIP akan menjadi tujuan pencarian Virginia.


***


Saat Virginia pergi ke toilet, Xiaoli, Jia, dan Jio berpindah ke ruang rawat VIP. Dengan tubuh Xiaoli yang sudah terbaring di brankar pasien dalam kondisi belum sadarkan diri pasca tindakan operasi.


Di kepala pemuda itu sudah tergulung perban yang menutupi bekas jahitan. Dimana sebelumnya banyak pecahan kaca yang menancap di sana. Tak terkecuali di lengan sang bodyguard.


Brakk!


Pintu utama kamar terbuka dengan sedikit hentakan. Hingga Jia dan Jio reflek menoleh ke arah pintu. Dua pasang mata seketika membulat lebar, saat melihat yang datang adalah Daddy Michael Xavier. Orang yang paling di takuti sekaligus paling di hormati di Istananya. Begitu juga di Klan Mafia terbesar di Italia.


Nafas yang baru saja teratur, kini kembali menggebu. Mempersiapkan diri jika sang Daddy akan memarahinya habis - habisan, atau mungkin Xiaoli yang akan mendapatkan amarah sang Tuan besar.


Ekspresi sang Daddy masih sulit untuk di artikan Jia. Tapi dari sorot mata tajam yang tertuju pada Xiaoli, ia yakin jika sang Daddy siap untuk melontarkan kalimat pedasnya.


Entah, siapa yang memberi tahu Michael tentang kejadian pagi tadi. Yang jelas kini di dalam ruang rawat VIP, semua tubuh yang dalam keadaan sadar berubah menegang. Membeku bagai patung es, bahkan kelopak mata pun seolah takut untuk berkedip. Hanya udara yang bebas keluar masuk paru - paru. Meski itu bukan hal yang mudah.


Semua semakin terasa seram, manakala tak melihat kedatangan sang Mommy. Menurut mereka, Mommy Chania adalah Pawang terbaik untuk Daddy Michael.


Melangkah dingin, Michael menghampiri sang putri yang berdiri dengan tubuh tegangnya. Jemari tangan kanannya meremas erat lengan Jio. Berharap sang Kakak akan melindungi, jika sewaktu - waktu dirinya dalam bahaya.


"Ceritakan dengan jelas!" ucap Michael datar, namun menatap tajam Jia yang nafasnya naik turun.


Lidah Jia tercekat, namun ia tetap harus kembali menjelaskan.


"Maafkan Jia, Daddy..." lirih Jia penuh penyesalan.


"Ceritakan dengan detail, jangan ada satupun yang kamu tutupi!" ucap Michael duduk di sofa, tanpa menjawab permintaan maaf putrinya. Tatapannya lurus ke atas brankar pasien. Dimana bodyguard baru Klan Black Hold tengah terbaring tak berdaya.


Nafas Sang Mafia naik turun, mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Nona Muda Xavier, putrinya sendiri.


"Tidak ada lagi kesempatan bagimu untuk belajar mengemudi!" ucap Michael mengambil keputusan.


Jia menatap tak percaya pada sang Ayah. Ingin protes tapi ia pun tak berani. Karena dia berada di pihak yang salah.


"Dan tidak ada acara bersenang - senang dengan teman - teman mu selama tiga bulan!" lanjut Michael lebih tegas.


Semakin mendeliklah sepasang mata Jia. Lalu apa yang akan ia lakukan selama tiga bulan selain kuliah dan tidur di rumah?


Oh No!


Jio merangkul pundak adiknya, menepuk pelan beberapa kali. Seolah berkata, semua akan baik - baik saja.


Jia menunduk, kembali menyesali kecerobohannya. Namun di tengah kegundahannya akan hukuman sang daddy, dalam benak gadis itu, masih ada satu pertanyaan.


Bagaimana dengan Xiaoli? Apakah bodyguard baru itu akan mendapat hukuman seperti yang di ucapkan Xiaoli di mobil?


' Tidak! Tidak! Tidak! Xiaoli tidak boleh mati karena kesalahanku! '

__ADS_1


Gumam Jia dalam hati.


***


Virginia berjalan cepat di lorong Rumah Sakit, mencari keberadaan ruang VIP yang sebelumnya di informasikan perawat.


Di tengah pencariannya, Virginia masih terngiang akan percakapannya dengan Alex. Meski ia memilih untuk tidak peduli, tetap saja sebuah ancaman adalah sesuatu yang harus di waspadai.


🍄 Flashback On . . .


"Aku pasti bisa mendapatkan dirimu, apapun caranya!" ucap Alex dengan gigi yang mengerat. "Kau pun tau siapa latar belakang keluarga ku! Papa ku cukup di segani. Dia akan dengan mudah menjatuhkan keluarga Brown."


"Papa ku juga di segani! Dia pun tak kalah hebat dari orang tua mu! Lantas apa yang harus aku takutkan dari ancaman mu?" balas Virginia tak ingin terlihat kalah begitu saja. "Keluarga kita setara! Keluarga mu bukan orang terkaya nomor satu di Roma! Sama seperti keluarga ku! untuk apa aku takut dengan ancamanmu?" ketus Virginia. Karena tentulah ia tau siapa yang paling kaya di Roma.


Menarik nafas berat, Alex seolah kehabisan kata untuk berdebat dengan Virginia. Sejak tadi ia sudah melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Virginia. Mulai dari cara yang paling lembut, hingga berakhir dengan sebuah ancaman.


"Please, Virginia... Mengertilah... Kita coba menjalin hubungan lebih dekat."


Ucap Alex jauh lebih lembut dari sebelumnya.


"Aku tidak bisa dekat dengan sembarang laki - laki!" jawab Virginia yakin. "Aku tidak suka!"


"Maksudmu tidak bisa dekat dengan laki - laki selain pemuda tadi?" tanya Alex dengan dada bergemuruh.


Virginia ternganga menoleh Alex yang ekspresi wajahnya menunjukkan sangat malas memasukkan nama laki - laki lain di tengah - tengah obrolan mereka.


"Apa hebatnya dia, hm?" tanya Alex. "Berhubungan dengan laki - laki yang seumuran tidak akan membuat kalian bisa bersikap dewasa!"


"Jangan menemui aku lagi!" pungkas Virginia tanpa melihat Alex, melangkahkan kaki untuk meninggalkan Alex.


Namun gerakan tangan Alex cukup cepat untuk meraih lengan Virginia. Membuat gadis itu berhenti dengan terpaksa karena Alex menariknya cukup kuat. Hingga tubuhnya menghantam dada bidang Alex. Kedua wajah pun menjadi sangat dekat.


Merasa mendapat kesempatan untuk bersentuhan, maka Alex tak segera melepas tubuh kecil nan semampai Nona muda Brown. Ia justru mendekap erat tubuh Virginia seolah menjaga gadis itu agar tidak jatuh.


Dan jika ada kesempatan, maka tak segan ia akan mendaratkan ciuman paksa.


Namun Virginia bukanlah gadis yang mudah terbawa suasana. Cepat ia memberontak meski dari segi tenaga tengu ia kalah.


"Lepas!" seru Virginia.


"Maafkan aku, Virginia!" ucap Alex melepas perlahan tubuh Virginia. "Kalau pun kita tidak bisa bersama, tapi biarlah kita menjadi teman." rayu Alex mencoba mencari celah.


"Maaf, tidak bisa, Alex.... Aku tidak ingin berteman denganmu." jawab Virginia memperbaiki posisi berdirinya. Virginia kembali melangkah, meninggalkan Alex tanpa persetujuan lelaki itu.


Alex terdiam, melihat punggung Virginia yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.


' Aku tidak akan menyerah begitu saja... '


Lirihnya dalam hati.

__ADS_1


🍄 Flashback Off . . .


Virginia menghela nafas di tengah langkahnya. Tak ingin terpengaruh pula oleh kalimat - kalimat Alex.


"Maaf, Sus! Pasien atas nama Xiaoli Chen di rawat di ruang VIP nomor berapa, ya?" tanya ya pada perawat yang bertugas di lantai empat gedung rumah sakit itu.


"Paviliun Indra Prasta nomor 3!" jawab perawat yang bertugas setelah melakukan pengecekan.


"Terima kasih, Sus!"


"Sama - sama!"


Virginia berlari mencari lorong yang di sebutkan Suster. Saat sampai di lorong yang ia cari, ia segera berbelok untuk mencari kamar nomor 3. Namun ternyata di luar pintu ada seseorang yang ia ketahui sebagai bodyguard di istana Michael.


"Selamat sore, Nona Virginia.."


"Iya..." balas Virginia. "Apa Xiaoli di rawat di dalam?"


"Betul, Nona! Silahkan masuk!" bodyguard yang pernah mengawal Virginia itu membuka pintu.


"Jia?" panggil Virginia saat hanya menemukan Jia duduk di sofa, Xiaoli di brankar dan seorang bodyguard di kursi dekat brankar. Ia tak menemukan Jio di dalam sana.


Jia menoleh ke arah pintu tanpa menjawab sapaan Virginia. Namun dari raut wajah, Virginia sudah dapat melihat jika gadis itu dalam keadaan pilu.


Virginia mendekat, dan duduk di samping gadis petarung itu.


"Ada apa?"


Jia hanya menggelengkan kepalanya pelan, "mana Kak Jio? Kenapa tidak kembali bersama mu?"


"Jio?" pekik Virginia.


"Iya!" jawab Jia. "Tadi dia pergi mencari mu."


"Sudah lama?"


"Sekitar 15 menit yang lalu!"


Virginia mengerutkan keningnya, menatap tak percaya pada Jia. Namun kenyataannya memang Jio tak ada di ruangan.


"Tapi aku sama sekali tidak bertemu dengannya. Dia mencari ku di toilet yang tadi?"


"Iya!" jawab Jia.


Virginia diam untuk berfikir, "aku cari dia dulu!" pungkas Nona muda Brown.


Ia kembali keluar dengan berjalan setengah berlari. Tujuannya satu, kembali ke toilet untuk mencari Jio.


***

__ADS_1


Sementara Jio ia ada di .....


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2