
Gerald tengah duduk resah di kursi balkon kamarnya. Ia baru saja memutuskan untuk membagi dua box kalung BTS dengan beda tipe dan versi itu. Ia sudah menentukan, mana yang untuk Jenia dan mana yang untuk Chloe.
Berbeda harga, tentu mempengaruhi kwalitas. Dan kwalitas terbaik, ia berikan pada dia yang menurutnya tebaik dan yang paling menghargai dirinya.
Sedari tadi ia resah menghubungi nomor Jenia yang ia dapat dari Leo, karena tidak satupun pesan nya di balas oleh sang gadis dingin. Apalagi teleponnya. Sama sekali tidak di gubris olehΒ sang gadis yang bagi Gerald sangat misterius dan sangat membuatnya penasaran.
"Jenia benar - benar tidak mudah untuk di dekati. Ia begitu jual mahal!" gerutunya kesal.
Ponsel dengan tiga mata di bagian belakang berulang kali ia putar dan berulang kali ia remas. Saking gemasnya dengan Jenia yang sangat sulit untuk di dekati.
"Baiklah, coba Chloe dulu sajalah!" gumamnya beralih mencari nama Chloe di barisan chat.
Nama Chloe sangat mudah untuk di temukan, karena hampir setiap hari gadis itu mengirim pesan padanya. Entah pesan penting, maupun pesan yang menurut Gerald sangat tidak penting.
Tapi karena yang mengirim adalah gadis cantik yang juga merupakan gadis incaran para siswa laki - laki di sekolah, tentu Gerald tak segan untuk membalas pesan sang gadis.
Bertemu dengan nama yang ia cari,sudah ada satu pesan yang belum di buka oleh Gerald, sejak beberapa menit yang lalu.
π© "Selamat pagi, Gerald..."
"Gadis ini memang selalu aktif!" gumamnya. "Sepertinya dia memang benar - benar tergila - gila padaku."
Gerald tersenyum melihat pesan singkat yang hanya berupa sapaan itu.
βοΈ "Pagi juga, Manis..." balas Gerald dengan sedikit menggoda.
Tak butuh waktu lama bagi Gerald untuk mendapatkan balasan dari Chloe. Sangat jauh berbeda dengan Jenia yang bahkan sama sekali tidak pernah membalas pesannya. Jangankan membalas, membacanya saja tidak.
π© "Happy weekend!"
Balasan dari Chloe sangat simple. Namun pesan berikutnya membuat Gerald tersenyum tipis.
π© "Tidak ada acara kah di hari libur begini?"
βοΈ "Emm... aku tidak punya tujuan untuk keluar rumah."
Balas Gerald tersenyum penuh arti. Tanpa di ajari, ia cukup terlatih untuk mengambil hati seorang gadis.
π© "Oh, ya? padahal banyak tempat yang bisa di kunjungi di hari libur begini.."
βοΈ "Tapi aku tidak punya teman untuk di ajak keluar."
dI sebrang sana, Chloe tersenyum senang membaca pesan Gerald yang seolah memberinya kode, jika pemuda itu sedang merasa kesepian dan membutuhkan teman.
__ADS_1
π© "Memangnya kemana teman kamu yang bernama Leo itu?'
Tanya Chloe berbasa - basi. Ia tak sabar untuk menawarkan diri agar di datangi sang pemuda.
βοΈ "Hemm.. aku rasa dia sibuk dengan latihan basketnya."
Gerald mengirim pesan itu dengan seulas senyum miring. Dalam hati ia berucap, sepertinya sungguh mudah mendapatkan Chloe.
Lagi - lagi Chloe tersenyum dan berseru senang karena merasa Gerald memang sepertinya kesepian.
π© "Kalau memang sedang bosan di rumah, main saja ke rumah ku. Aku di rumah, dan juga kesepian."
βοΈ "Memangnya di mana Papa dan Mama kamu?"
π© "Papa dan Mama sedang menghadiri pesta pernikahan anak rekan kerjanya."
Lagi - lagi Gerald tersenyum miring, sepertinya ia akan bebas menggoda ataupun merayu Chloe di rumahnya. tanpa ada yang mengganggu, juga tanpa mengeluarkan uang sepersen pun.
Senyum culas semakin terbit sempurna di wajah tampan sang Tuan Muda kecil yang sedang di mabuk asmara.
Asmara? yakin itu cinta?
Atau hanya ilusi anak muda? alias kesenangan yang muncul tiba - tiba dan tidak ada kejelasan di masa depan.
βοΈ "Boleh aku datang?"
π© "Tentu saja boleh!"
Balas Chloe tanpa ragu, dan bahkan ia ketik dengan sangat cepat untuk bisa segera terkirim.
βοΈ "Aku akan bersiap!"
Balasan Gerald membuat Chloe semakin melompat tinggi.
π© "Aku akan menunggumu!"
Balas Chloe dan langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Setelah itu ia langsung melesat menuju ruang walk in closed yang ada di dalam kamarnya. Di mana barisan pintu almari berjajar rapi di sana.
Entah berapa jumlah baju yang ada di dalam ruangan itu. Dan entah berapa jumlah tas dan sepatu yang ada di dalam sana. Belum lagi aksesoris dengan berbagai model dan bentuk yang tentu ia beli dengan harga yang tidak main - main.
Bahkan di antara barang - barang itu banyak yang di dapat dengan sistem pesan, karena hanya di buat sekian pcs saja di seluruh dunia.
Ia harus mempersiapkan penampilan terbaiknya, sebelum Tuan Muda Xavier sampai di rumahnya. Jangan sampai sang Tuan Muda merasa bosan dengan penampilannya siang itu.
__ADS_1
***
Berbincang dengan Xiaoli Chen yang katanya memiliki seorang kekasih anak orang kaya, tanpa di sadari Antonio jika sosok orang kaya yang sedang ia bayangkan itu adalah yang di bahas Xiaoli sendiri.
Di mana kekasihnya merupakan anak seorang Michael Xavier. Orang terkaya nomor satu di negaranya. Lelaki dengan kekuasaan berlebih. Salah satunya pemimpin Klan Black Hold yang namanya sudah mendarah daging di Italia dan Amerika Serikat.
Hingga membuat beberapa orang memilih untuk tidak berurusan dengan apapun yang di lakukan Sang Mafia.
Lantas seperti apa kisah Xiaoli selanjutnya? Dengan memacari anak seorang Michael Xavier, dimana posisi dirinya hanya sebagai bodyguard sang Tuan Besar.
Entahlah, kita serahkan pada takdir.
Kembali pada ruang tunggu di Bandara, dari pintu kedatangan penumpang, tampaklah sosok lelaki dengan tinggi ideal, yang tampan nan rupawan. Rambut hitam dan mata coklat yang mempesona.
Di belakangnya ada dua orang bodyguard, salah satunya tengah menarik koper milik pemuda itu. Dan satu lagi mungkin membawa barang mereka sendiri.
"Itu Tuan Muda Harcourt!" seru Antonio melihat ke arah kedatangan Tuan Muda Harcourt.
Ini kali pertama bagi Xiaoli melihat Jellow, dan kesan yang di lihat Xiaoli di detik pertama ia melihat seorang Tuan Muda Harcourt adalah sempurna. Tak jauh berbeda dengan ketika ia melihat Jio pertama kali.
Antonio dan Xiaoli segera mendekati Tuan Muda Harcourt yang seketika tersenyum tipis pada Antonio. Ini bukan kali pertama ia bertemu Antonio. Sehingga Jellow sudah cukup mengenal Antonio yang merupakan bodyguard senior di Klan Black Hold.
"Selamat siang, Tuan Muda Harcourt!" sapa Antonio yang sudah berhadapan dengan Jellow.
"Siang..." balas Jello datar dengan seulas senyum tipis.
"Selamat Siang, Tuan Muda Harcourt! perkenalkan, saya Xiaoli Chen. Bodyguard baru di Klan Black Hold." Xiaoli memperkenalkan diri dengan mengangguk hormat.
"Hai, Xiaoli!"
Jellow membalas sapaan Xiaoli dengan seulas senyuman ramah. Ia melihat Xiaoli seolah menemukan teman baru. Ya, Jellow memang suka bergaul dengan bodyguard yang seumuran. Bahkan salah satu bodyguard yang saat ini mengikuti langkahnya juga berusia tak jauh darinya.
"Tuan Muda berkenan untuk mendatangi kediaman Arlington terlebih dahulu, atau langsung menuju istana Xavier?" tanya Antonio.
"Langsung ke Istana Xavier saja!" jawab Jellow tanpa ragu. Tujuannya mengunjungi Italia memang untuk bertemu dengan sepupu - sepupunya yang lama tak ia jumpai.
"Siap, Tuan!" jawab Antonio dan Xiaoli bersamaan.
***
Di sebrang sana, Jia tengah tersenyum tanpa henti ketika mengetahui arti dari panggilan Bao - Bao yang di sematkan oleh sang Kekasih.
Ia sudah membalas pesan sang boyguard kecintaan, tapi entah apa yang sedang di lakukan sang kekasih, sampai tak sempat membalas pesan darinya.
__ADS_1
Yang pasti Jia tetap akan sabar menunggu. Sampai panggilan yang menggemaskan itu kembali terucap oleh Xiaoli untuk dirinya.
...πͺ΄ Bersambung ... πͺ΄...