SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 116


__ADS_3

Andai para gadis tau, betapa laki - laki membutuhkan banyak nyawa untuk hanya bisa mengungkapkan perasaan yang terasa begitu nyata di dalam dada.


Mereka harus menunggu waktu paling tepat, untuk bisa mengutarakan segala kesungguhan yang di rasakan.


Merangkai kata terindah dan paling menyentuh.


Membutuhkan keberanian tersendiri, untuk bersiap menerima apapun hasilnya. Diterima? di tolak? di tangguhkan? semua itu menjadi hal yang mendebarkan untuk mereka.


Keberanian itu sudah berkumpul menjadi satu. Bahkan Reno sudah memegang jemari lentik. Menyebut nama bidadari di depannya dengan lembut.


Namun...


Ting...ting...ting..ting...


Jemari lentik reflek menjauh dari tangan kokoh seorang Chef yang selalu menjaga kebersihan. Kemudian turun untuk membuka tas kecil yang berada di kursi sebelahnya.


Ponsel Sania berbunyi cukup nyaring, seolah meminta untuk segera di ambil. Hal itu jelas mengalihkan seluruh angan dan rangkaian kata yang sudah di susun oleh Reno dan siap meluncur. Menghela nafas berat. Melepas jemari Sania dengan sedikit rasa kecewa.


Melepaskan kembali debaran dada yang baru saja membuncah saat akan mengungkapkan perasaan yang sudah sebulan ini begitu menyita waktunya.


Berhubungan jarak jauh, berkomunikasi melalu dunia maya rasanya sungguh tak mampu membuatnya berpuas hati.


"Maaf!" ucap Sania menunjuk ponselnya, hendak mengangkat panggilan yang masuk di ponsel dengan tiga mata di belakangnya itu.


"Ya.." Reno mengangguk lemah.


📞 "Halo?"


📞 "Sania, pulang ya?


📞 "Memangnya kenapa, Chania?"


📞 "Michael ingin yang meminta. Aku tidak tau kenapa."


📞 "Oh, baiklah! aku akan pulang!"


📞 "Iya! eh, apa Oliver sudah ada kabar?"


📞 "Oliver di pindahkan ke ruang ICU. Hanya satu orang yang boleh menjenguknya!"


📞 "Baguslah! ya sudah cepat pulang, ya?"


📞 "Iya!"


Sania mengakhiri panggilan telponnya.


Reno yang mendengar samar - samar pun dapat menduga apa yang akan terjadi setelah ini.


Ya.. pulang!


***


Mobil mewah Reno berhenti tepat di depan rumah megah Michael. Menghela nafas setengah kecewa, lalu turun untuk membukakan pintu sang wanita.


"Kenapa sedari tadi kamu terlihat masam?" tanya Sania sebelum ia turun dari mobil Reno. Ia memilih untuk tetap duduk santai di joknya.


Reno menggeleng pelan, lalu tersenyum hambar.

__ADS_1


"Itu!" menunjuk wajah Reno.


"Apa?" tanya Reno tak mengerti.


"Senyum mu seperti itu" jawab Sania lalu mengerucutkan bibir dengan mata yang menyipit.


Oh... manisnya bidadari di depannya ini. Gelora di dalam dada Reno semakin membuncah. Ia sungguh tak sabar bisa memiliki gadis 23 tahun yang masih berada di dalam mobilnya itu.


Reno meletakkan satu tangan di atas pintu, satu lagi si cap mobil. Ia menahan senyum dengan memainkan lidah di dalam mulutnya. Mendongak ke langit untuk beberapa saat, lalu kembali menatap lekat Sania yang masih terlihat menggemaskan.


"Kamu mau aku senyum seperti apa?" tanya Reno sedikit menundukkan kepala.


"Emm... yang manis seperti biasanya!" jawab Sania mengerlingkan matanya.


Yaa Tuhan... Reno semakin tidak tahan dengan godaan di depan mata. Reno menunduk dalam. Menyembunyikan gelak tawa gemasnya.


"Senyum seperti ini?" tanya Reno menunjukkan senyum termanis miliknya. Dengan gaya cool yang dulu selalu di tunjukkan pada Chania saat menjadi Carina.


Jika dulu senyum itu tak berarti apa - apa untuk Chania. Maka kini senyum itu mampu menyihir saudara kembar Chania.


' Tampan! '


Seru Sania dalam hati.


Sesaat gadis itu hanyut dalam senyum Reno yang begitu hangat di antara kedinginan wajah tampannya.


"Iya!" ucap Sania tersenyum senang.


Ah.... Sania terlihat begitu manis dengan senyum ceria miliknya.


"Eittsss! mau apa!" cegah Sania mendorong wajah Reno yang sudah masuk ke dalam mobil. Sania takut jika Reno tiba - tiba menciumnya.


"Memangnya kamu pikir aku mau apa?" tanya Reno tersenyum menggoda. Sengaja ia ingin menggoda gadis yang kini wajahnya bersemu merah.


"Jangan macam - macam!" sentak Sania salah tingkah.


"Memangnya aku mau berbuat apa disini?" tanya Reno menahan rasa ingin tertawanya. "Mencium mu?" tanya Reno selanjutnya membuat wajah Sania semakin memerah.


Reno, pria itu kini tersenyum puas, karena berhasil menggoda bidadari idamannya.


"Aku hanya ingin membuka seatbelt mu!" jawab Reno sembari membuka kunci seatbelt.


Sontak Sania merasa malu karena salah menduga. Ia benar - benar tidak sanggup lagi menatap mata Reno karena malu.


"Aku bisa di cincang mafia itu kalau aku berani mencium mu di sini!" tersenyum lirih Reno menoleh sekilas ke arah rumah Michael.


Sania pun reflek ikut menoleh. Dan benar saja, di depan pintu tidak jauh dari mobil, sudah ada Michael dan Chania yang menunggu kedatangan mereka.


"Ups!" Sania menutup mulutnya dengan satu tangan. Lagi - lagi ia merasa malu dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


Reno mengeluarkan kepalanya, dan mundur sedikit supaya Sania bisa keluar dari mobilnya.


Berjalan beriringan mendekati Michael dan Chania yang sudah menunggunya.


"Kau sudah menggagalkan rencanaku!" bisik Reno saat ia sudah sampai tepat di samping Michael.


"Memang aku sengaja!" balas Michael tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"WHAT!" pekik Reno dengan mata terbelalak. "Apa maksudmu?"


"Berani nya kau memegang tangan Sania di tempat umum datar!" jawab Michael kemudian berlalu dari hadapan sahabatnya.


Mengerutkan kening, "Dari mana kau tau?" tanya Reno mengikuti langkah Michael memasuki rumah.


Namun Michael hanya menjawab dengan kedua pundak yang terangkat. Dan ia masih terus masuk ke dalam. Dimana dua gadis kembar sudah berjalan beberapa meter di depannya.


Sontak Reno yang dapat menebak, menoleh ke belakang. Dan sorot mata mengarah tajam pada Antoni yang segera menunduk sembari mengulum senyum.


"Brengsek!" dengkus Reno, menatap kesal pada Antoni. Jelas Antoni telah melapor pada Tuannya.


"Berhenti mengintimidasi anak buah ku!" seru Michael dari ruang tengah.


"Kenapa kau brengsek sekali!" kesal Reno berkacak pinggang. Menatap kesal pada Michael yang sama sekali tak merasa bersalah.


"Aku hanya mempunyai kewajiban untuk menjaga adik ipar ku dari laki - laki yang belum jelas serius atau tidak!" jawab Michael mengulum senyumnya.


"Awas kau ya!" desis Reno. "Kalau saja kau bukan Mafia pasti sudah ku cincang!" Reno menyebikkan bibirnya kesal. Kedua tangan mengepal geram, mengangkat keatas seolah hendak meninju sang Mafia.


"Apa?" tanya Michael menantang. "Maju sini!"


Bukannya maju, Reno justru membuang nafas kasar. Mana berani dia berhadapan dengan Mafia kelas dunia seperti Michael Xavier. Bisa - bisa yang pulang ke Venice hanya jasadnya saja. Atau bahkan nama beserta kenangannya.


"Michael benar - benar menyebalkan!" gerutu Reno lirih.


***


Chania membawa Sania untuk memasuki ruang kerja Michael. Dimana ternyata di sana sudah ada Roy, beserta Frederick.


"Jika Nona Sania bersedia, rumah utama Tuan Smith bisa anda tempati." ucap Roy setelah terjadi beberapa percakapan ringan.


"Saya belum ada keputusan apapun, Uncle!" jawab Sania. "Jujur saja, saya masih merasa asing dengan semua ini!"


"Aku tidak keberatan jika kamu tetap ingin tinggal di sini!" sahut Michael. Ia tau, Sania tidak mungkin semudah itu mau menerima kenyataan siapa dirinya sebenarnya.


Dimana kedudukan sebagai Putri Arlington adalah kedudukan yang tinggi dimata para pebisnis Italia.


"Sepertinya untuk saat ini, aku lebih memilih tinggal bersama Chania." ucap Sania. "Aku juga tidak tau cara berbisnis! Itu bukan bidang ku."


"Lalu bagaimana dengan saham perusahaan yang anda miliki?" tanya Roy. "Tidak mungkin kan di kelola oleh Nona Oliver juga?"


"Saham?" tanya Sania.


"Ya, Nona"


"Aku tidak tau!" jawab Sania seperti orang bingung.


"Apa Chania menjalankan bisnis sendiri?"


"Tentu saja tidak, Sania. Semua bagian ku akan berada di bawah naungan Sebastian Company. Aku tidak mau di sibukkan dengan pekerjaan."


"Apa bisa jika bagian ku juga di kelola oleh Kak Michael?" tanya Sania menatap Michael penuh harap.


ðŸŠīðŸŠīðŸŠī


Happy reading ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2