SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 187


__ADS_3

Secepat kilat Jio berlari untuk mendekati mobil Bugatti miliknya. Jangan sampai bom di selendang Virginia meledak. Tujuh meter lagi ia akan sampai. Namun sebuah peluru menembus kulit betis kakinya hingga melesak sampai ke tulang.


"Ashh!" pekik Jio merasakan timah panas menembus kakinya.


Jika orang awam akan jatuh oleh timah panas, maka Jio sama sekali tidak larut oleh peluru yang bersarang di kakinya. Ia tetap bisa berlari mendekati mobilnya.


Sementara Virginia tampak berteriak saat melihat pistol di tangan Paman Lussio di kongkang ke arah Jio. Dan menjerit sembari menutup mata dalam saat peluru tepat mengenai betis Jio.


Di tengah kepanikannya, ia tetap sadar jika Jio tengah berlari mendekati dirinya, Virginia segera membuka kuncian pintu mobil. Meski sesungguhnya diri masih sangat panik.


"Satu!"


Teriakan Paman Lussio mengiringi langkah cepat Jio.


"Kalian tidak akan selamat..." desis Lussio di belakang Pamannya.


"Dua!"


Lima langkah lagi Jio akan sampai. Paman Lussio tersenyum sinis. Jio akan ikut meledak, pikirnya.


' Semudah ini menghabisi keturunan Michael Xavier! Hahahah! '


Serunya dalam hati. Puas akan rencana yang ia buta bersama keponakannya.


"Ledakkan sekarang!" seru Paman Lussio memerintahkan anak buahnya untuk menekan tombol ON pada sebuah remote yang di kendalikan anak buah kepercayaannya. Tatapannya tajam lurus ke arah Jio yang sudah berada di ujung mobil.


Mendengar teriakan itu, semakin paniklah Jio yang sudah sampai di pintu.


Tak tak!


Jio sampai bersamaan dengan Virginia yang membuka pintu, Jio menarik tubuh Virginia keluar dari mobilnya.


"Lepas selendang ini!" ucap Jio berusaha membuka ikatan selendang di pinggang Virginia.


"Kenapa, Jio?" tanya Virginia panik. Meski begitu ia juga berusaha untuk membuka ikatan kuat selendang itu.


"Ada bom yang di selipkan!" jawab Jio semakin panik.


"Apa!" pekik Virginia semakin panik. "Pergilah, Jio! Biarkan aku saja yang meledak!" ucap Virginia semakin panik. "Kamu harus selamat! Supaya kamu bisa membalas perbuatan mereka!"


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" jawab Jio. "Urusan balas dendam, Daddy punya banyak pasukan untuk membalas para penjahat!"


Tangan Jio bekerja cepat untuk membuka selendang, namun pikirannya terus berangan. Bukankah Paman Lussio sudah memerintahkan anak buahnya untuk meledakkan bom di tubuh Virginia? Tapi kenapa belum ada tanda - tanda bom akan meledak?


"Ledakkan, bodoh!" teriak Paman Lussio menoleh ke belakang.


Dan ....


"Kau ingin aku meledakkan kepala pemuda ini?"


Suara lembut mendayu - dayu namun terdengar sangat mengintimidasi membuat semua anak buah menoleh ke arah belakang. Tatapan pemilik suara itu terlihat santai namun menusuk ke arah Paman Lussio.


Tangan kiri mengunci kedua tangan Lussio dengan sangat erat. Tangan kanan mengongkang senjata jenis Revolver, dengan ujung tepat menyentuh pelipis kanan Lussio.


"Kau!" pekik Paman Lussio mendelik.


"Ya!" jawabnya tersenyum culas. "Tentu kau pun tau siapa aku, bukan?"


Paman Lussio menahan nafas, manakala melihat orang - orang di belakangnya semua sudah dalam keadaan terkepung.


Para anak buah yang tersisa seketika saling todong senjata. Beberapa bahkan pelipisnya sudah tertempel ujung pistol oleh beberapa anak buah. Seperti yang sedang di alami Lussio.


Ya, lelaki itu dalam tawanan gadis cantik, yang tak lain adalah Georgia Xavier.

__ADS_1


Sementara si pemegang remote, berada dalam kuncian Xiaoli. Tidak di ragukan lagi, pergerakan Xiaoli sangat cepat. Hingga tak ada yang menyadari kedatangan Xiaoli bersama Jia yang bertepatan dengan anak buah Lussio hendak menekan tombol ON.


"Siap meneruskan semua ini, Pak tua?" tanya Jia sinis.


"Biarkan tua bangka ini menjadi urusan saya, Nona!" suara barinton muncul dadi dalam pintu pabrik, dengan menyeret seseorang yang di ketahui penjaga pintu belakang pabrik.


"Pria ini sangat lemah! Sekali tinjuan! Tewas!" ujar lelaki yang tak lain ada pemimpin utama bodyguard Klan Black Hold. Ya, dialah Jack Black.


Jack melempar tubuh anak buah Lussio tepat di hadapan Paman Lussio.


"Brengsek!" umpat Paman Lussio. Lelaki itu berkahir menatap sang keponakan yang bagaimana mungkin begitu mudah di kunci oleh seorang gadis.


Namun yang di tatap heran justru terlihat kesakitan. Hanya bola mata Lussio saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Menahan rasa sakit di pergelangan tangan yang baru saja tertancap pisau Jio. Dan kini harus di cengkeram erat oleh Jia.


Sementara di bagian lain, Jio sudah selesai dengan misinya dan berhasil melempar bom berukuran sangat kecil keluar pagar pabrik. Sangat kecil memang, namun bisa meledak dalam jarak sekian meter.


Jio menoleh ke belakang, untuk mencari jawaban atas pemikirannya tadi. Dan seketika senyum sinis tersungging di bibirnya. Dimana anak buah Black Hold sudah menyebar.


Selain itu ia juga kagum melihat sang adik yang tak ragu mengunci tubuh lawan, meski itu lelaki sekalipun.


"Baiklah, perang di mulai!" desis Jio tersenyum puas.


Alarm yang ia aktifkan bekerja sesuai perkiraannya. Alarm itu tersambung pada ponsel milik Jia. Begitu juga sebaliknya. Di dalam mobil Jia ada alarm khusus yang tersambung pada ponsel Jio.


"Jio! Jangan ikut bertempur! Di kaki mu ada peluru!" ujar Virginia khawatir. "Mereka sudah ada di sini, sebaiknya kita mencari dokter untuk mengeluarkan peluru di kaki mu!"


Jio menatap sendu gadis itu, "aku akan baik - baik saja... Lagi pula aku sudah berjanji untuk menghabisi orang yang sudah menyakitimu." jawab Jio membelai pipi Virginia yang masih menyisakan bekas air mata.


"Tapi..."


Jio menyentuhkan jari telunjuknya tepat di depan bibir tipis Virginia. Setelah memastikan Virginia tak lagi berucap. Sorot mata Jio menyisir sekitar, untuk memanggil anak buah terbaik yang bisa di percaya. Hingga sebuah Jeep memasuki area pabrik, dan berhenti beberapa meter di belakang Jio.


Antoni keluar dari mobil itu bersama beberapa anak buah lainnya. Dan akhirnya lelaki itulah yang ka tugaskan untuk menjaga Virginia.


"Aku pergi dulu!" pamit Jio setelah memastikan keamanan untuk sang gadis.


Punggung sang lelaki mulai menjauh, berjalan dengan sedikit pincang. Namun sama sekali tak terlihat kesakitan.


Jio berjalan dingin mendekati kawanan musuh dan anak buahnya yang sedang baradu, dengan sebilah pedang pusaka di tangan kanannya.


"This time!" seru Jio. "Sesuai janjiku, aku akan membunuh siapapun yang menyakiti Virginia, walau hanya seujung kuku!" desisnya dingin.


Lussio mendelik melihat tubuh Jio yang seperti sudah terbakar emosi di dalam dada.


"Lepaskan dia, Jia! Biarkan pemuda brengsek ini menjadi urusanku!" desisnya.


"Baiklah, Kakak ku sayang!" jawab Jia tersenyum sinis. Ia dorong kuat punggung Lussio hingga ambruk, tepat di depan kaki Jio.


Lussio menatap ke atas, dimana Jio terlihat seperti malaikat pencabut nyawa yang sedang tersenyum padanya. Atau mungkin Jio lebih terlihat seperti iblis yang mengucap mantra untuk mengakhiri hidupnya yang malang?


"Dimana kesombonganmu, Lussio?" tanya Jio sembari memutari tubuh Lussio dengan langkah dingin.


Tersenyum sinis, "dimana suara mu yang sangat mengintimidasi itu?"


"Ah, ya! Bahkan Paman mu yang licik itu sudah tidak bersuara lagi!"


Ya, Paman Lussio sudah dalam pertempuran bersama Jack. Sangat mudah bagi Jack menghabisi Paman Lussio dengan pertempuran satu lawan satu.


Mata Lussio menyisir sekitar, dan mendapati sang Paman yang bernasib sama dengan dirinya. Ambruk di atas tanah berpaving. Dan di hunus sebuah pedang oleh Jack.


Bersamaan dengan itu, ujung pedang di tangan Jio pun, berhenti tepat di depan hidungnya.


"Kini saatnya kau bertemu dengan Ayahmu, Lussio!" ucap Jio dingin. "Sampaikan salam ku padanya! Dan ah... katakan jika Daddy ku sangat bahagia melihat aku mengirim mu ke sana!" Jio tersenyum miring.

__ADS_1


"Kamu tidak akan semudah itu membunuhku, Jio!" seru Lussio lirih. Ia berusaha untuk berdiri. Bangkit dari posisi paling memalukan yang pernah ia lakukan.


"Oh... Rupanya kau masih mau mencoba untuk berdiri!" gumam Jio. "Baiklah! Ayo serang aku!"


"Jangan banyak bicara, Sialan!" umpat Lussio. Menahan segala rasa perih di dalan diri. Ia bangkit dan mencoba mengambil pedangnya yang tadi sempat jatuh saat Jio menancapkan pisau di pergelangan tangannya.


Dua pemuda yang sama - sama tengah terluka mencoba untuk menciptakan kemenangan untuk salah satu dari mereka.


Jio dengan kaki yang sedikit pincang. Lussio dengan kedua pergelangan tangan yang rapuh dan berdarah.


Maka suara pedang mulai beradu. Menembus riuh ramai dua kubu yang juga tengah bertempur.


Melawan rasa sakitnya, Jio masih bisa memutar tubuhnya, ataupun melompat ke udara untuk menghindari pedang Lussio. Meskipun pergerakan pedang Lussio tak sekuat peperangan awal mereka.


"Saatnya semua berakhir!" teriak Jio mengakhiri hidup Lussio dengan sebuah tusukan di punggung yang tembus hingga ke jantung sang pemuda.


Sontak semua berhenti dengan aksi tempur mereka. Semua menoleh ke arah Jio, yang mana terlihat di sana Tuan Besar Lee tengah mendelik di akhir hidupnya. Sebuah pedang menembus tubuh sang pemuda dari belakang. Kemudian bersama - sama, semua menyaksikan pemuda itu ambruk ke sisi kiri. Dan.... Tewas!


Sementara Jack pun sudah berhasil mengakhiri hidup Paman Lussio sejak beberapa menit yang lalu. Ia tengah mencabut pedang yang tertancap di leher Paman Lussio.


Dua pemimpin pasukan Lee tewas di tangan pemimpin pasukan Klan Black Hold. Yang artinya kubu mereka telah kalah.


Kemenangan sudah tercipta. Klan Black Hold telah meraih kemenangan, saat peperangan di pimpin oleh sang Tuan Muda Xavier.


Jio menghela nafas panjang, permasalahannya tinggal satu. Segera mengeluarkan peluru di kakinya.


Jio menoleh ke arah Virginia yang sebelumnya berada di sisi Bugatti miliknya.


Namun saat menoleh ke sisi kanan, ternyata bersamaan dengan gadis itu yang menubruk tubuhnya dan kembali memeluknya erat.


"Kamu menang, Jio..." lirihnya bangga.


Kali ini, jantung Jio yang seperti tengah menemukan kedamaian. Jantungnya yang berdekatan dengan wajah cantik Virginia terasa begitu damai. Hingga merasuki relung hati terdalam.


"Kita pulang..." lirih Jio mengusap lembut punggung Virginia.


Namun Virginia menggeleng, "kita ke rumah sakit!" ucapnya mendongakkan kepala.


Tersenyumlah sang Tuan Muda, ia tak tahan menatap wajah cantik menggemaskan yang bertahun - tahun ia rindukan. Akhirnya ia pun mengangguk. Menuruti keinginan sang Nona Muda Brown.


"Sudah! Ayo! Mau sampai kapan kalian seperti ini!"


Suara Jia membuyarkan keromantisan yang diciptakan dua anak muda yang saling berbagi bahagia. Hingga mereka melepas pelukannya.


"Thanks, Jia!" ucap Jio pada adiknya.


"Sudah tugasku, Kak!" jawab Jia tersenyum senang.


"Hai, Jia!" sapa Virginia, mengawali pertemuan pertama mereka.


"Hai!" balas Jia tersenyum pula. "Kamu harus ke rumahku! Mobil mu ada di rumahku!" ucap Jia.


"Oh, ya?"


"Ya! Dan lagi! Jangan pulang dengan baju seperti ini!" lanjut Jia.


Virginia tersenyum, "baiklah, terima kasih, Jia!"


"Hemm!" Nona muda Xavier tersenyum manis. Kemudian berjalan mendekati mobil Lexus LM miliknya. Dimana tampak Xiaoli mengikuti langkahnya setelah menunduk pada Jio.


...🪴 Happy Reading 🪴...


✍️ 1639 kata untuk hari ini...

__ADS_1


Maafkan Author yang jarang update. Tapi percayalah, setiap hari Author selalu menulis. 🥰


Musuh sudah habis? 🤔


__ADS_2