SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 36


__ADS_3

Michael yang belum sepenuhnya konsentrasi tertegun mendengar kalimat yang keluar dari bibir Chania. Apa dia tidak salah dengar? mengingat suara shower masih mendominasi bilik kaca itu.


Michael mendorong sedikit tubuh Chania. Kemudian melepas penyatuan mereka. Michael mengarahkan wajah Chania untuk menghadapnya.


Dua pasang manik mata saling beradu. Michael mencari dari kebenaran kalimat yang samar - samar ia dengar.


"Ucapkan lagi" desis Michael dengan jantung memburu.


"Aku mencintaimu, Michael! salahkah jika budak seperti ku mencintai mu?" jelas Chania dengan wajah sendu.


Kali ini Michael yakin pendengarannya tidak salah. Tak bisa menjawab kalimat seperri itu, Michael menarik pinggang Chania dan membawanya dalam dekapan. Ia daratkan kecupan di puncak kepala Chania.


Chania membalas pelukan Michael, berharap pria itu akan membalas kalimat cintanya. Namun sampai beberapa menit pelukan itu berlangsung, Michael tak juga mengeluarkan sepatah katapun.


"Maafkan aku!" ucap Chania kemudian dengan mendorong tubuh tegap Michael. Memberikan jarak pada dua tubuh polos mereka. Dengan buru - buru Chania segera beralih untuk mengambil sabun cair dan spons nya. Segera saja ia menyelesaikan ritual mandi.


Chania merasa malu, karena mengucapkan kalimat itu. Padahal sudah jelas Michael tidak akan membalas cintanya. Tapi dengan bodohnya ia keluarkan begitu saja tanpa ragu. Seolah Michael akan berubah pikiran.


Sekarang mata lentik Chania, tak berani menatap sepasang mata Mafia itu. Chania meninggalkan Michael yang masih terpaku di tempat. Hanya sepasang mata saja yang mengikuti setiap pergerakan Chania.


Chania segera memakai baju lengkap dan keluar lebih dulu untuk makan malam. Hatinya masih saja merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan.


"Pantaskah kau makan sendiri? dimana Tuan mu?" tanya Oliver yang tiba - tiba muncul dari arah belakang.


"Bukan urusan mu!" jawab Chania ketus.


Ia dalam mode kesal sekarang, keberanian akan muncul berkali - kali lipat tanpa di duga.


"Sejak kapan kau berani berkata kasar padaku!" hardik Oliver menatap benci pada Chania.


"Hah! memangnya sejak kapan aku takut padamu!" Chania tersenyum sinis, masih terus melanjutkan makan malam miliknya.


"Kau!" bentak Oliver mendekati Chania, berdiri tepat di samping gadis itu dengan nafas yang mendadak memburu.


Chania tak terlihat takut sama sekali. Gadis itu terlihat sangat santai.


"Baru dua bulan di sini dan kau sudah berani melawanku, Hah!" teriak Oliver, hingga beberapa maid di sekitar menunduk


Chania tak menggubris, ia bahkan membuang pandangan, dan menulikan telinganya. Ia meneguk air di gelasnya, lalu mengusap bibirnya dengan tissue, kemudian beranjak dari kursinya, dan melenggang keluar dari ruang makan.


"Brengsek!" umpat Oliver menyadari Chania tak menggubrisnya. Oliver menghentakkan kakinya, lalu mengikuti Chania yang hampir sampai di tangga utama rumah megah itu.


"Rasakan ini!" Oliver meraih rambut Chania.


Namun dengan sigap Chania menepis tangan Oliver dan mendorong kuat tubuh Oliver, hingga gadis itu terjerembab ke lantai.


"Auh!" pekik Oliver, ketika lututnya membentur lantai marmer.


"Mulai hari ini aku bukan pelacur kecil yang kau aniaya selama ini, Nona!" tegas Chania dengan gigi yang mengerat. "Aku Chania Renata! ingat itu!"

__ADS_1


Chania segera berbalik dan mendekati tangga untuk kembali ke kamar Michael. Saat sampai di anak tangga pertama, ia mendongakkan kepalanya karena ada yang aneh.


Ya! ternyata pria Mafia yang di cintai Chania berdiri di bagian tengah tangga yang meliuk itu.


Chania menarik dan nafas dalam dan membuangnya, sebelum kembali melangkahkan kakinya naik ke atas sambil menunduk.


Saat posisinya dan Michael hanya tinggal tiga anak tangga lagi, sepasang mata mereka saling bertemu dan beradu. Seolah membaca apa pandangan Michael tentang apa yang baru saja ia lakukan pada Oliver.


Dengan sekuat hati, Chania melewati tubuh tegap Michael dengan sedikit menunduk. Masih ada sisa - sisa rasa malu akan ulahnya di kamar mandi tadi.


Michael mengikuti pergerakan Chania melalui ekor matanya. Entah, apa yang ada benak pria itu.


Chania membuka pintu kamar Michael lalu membantingnya, hingga dua pengawal penjaga kamar Michael sedikit tersentak kaget lalu beradu pandang, untuk kemudian saling mengangkat pundak masing - masing.


Sementara Oliver di bawah menatap sendu pada Michael yang menatapnya dengan datar. Seolah ia tengah mengadu sesuatu, namun Michael tak menggubrisnya. Michael berbalik dan memilih untuk menyusul Chania.


Michael masuk ke dalam kamar megahnya, matanya menyusuri kamarnya untuk mendapatkan dimana keberadaan Chania. Dan tak menemukan.


Namun pintu balkon terbuka, ia yakin Chania ada di di balkon saat ini. Ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekati Chania.


Nampaknya gadis yang tengah melawan rasa malu itu tengah berdiri dengan berpegang pagar, menatap ke arah taman. Dimana lampu taman mendominasi di saat malam seperti ini.


Michael menatap punggung gadis berambut pirang kecoklatan itu. Ada sesuatu yang sangat sulit untuk ia jelaskan. Baik soal perasaan maupun soal pikiran. Semua seolah bertabrakan dan siap meledak saat itu juga.


' Kenapa jadi lebih baik menghadapi seribu James dari pada satu Chania! '


Michael beralih melirik ponsel di atas meja, kemudian mendekatinya dan melakukan panggilan pribadi pada seseorang di sebrang sana. Hanya beberapa kata saja yang keluar dari bibirnya. Lalu mengakhiri panggilannya.


Dan akhirnya pria itu memberanikan diri untuk mendekati Chania yang seperti terlihat bingung harus berbuat apa.


Chania tengah termenung menatap langit, seolah mengajak bicara apa yang bertengger di sana. Mungkinkah ia berharap Tuhan menurunkan kembali orang tuanya. Agar ia memiliki kembali kehidupan yang sempurna, memiliki tempat untuk bercerita bahkan tak perlu susah memikirkan uang.


Di saat - saat ia meresapi perasaan sendunya, tiba - tiba saja sepasang tangan kekar menyelinap di antara perut dan lengannya. Mendekap erat perutnya ya g ramping. Hingga ia merasakan garis pipi yang tegas menempel di kepalanya.


Chania sedikit menunduk, melirik tangan kekar Michael yang melingkar di perutnya. Perasaan hangat menjalar di sekujur rubuhnya, manakala punggungnya menempel di dada bidang Michael Xavier.


"Kenapa meninggalkan aku makan malam?" tanya Michael lirih.


"Tidak apa - apa." Jawab Chania sedatar mungkin.


"Aku ingin melihat mu tersenyum besok!" ujar Michael tak peduli dengan jawaban Chania yang ia ketahui sebagai alasan klasik saja.


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin kau tersenyum besok! dan membuat satu perjanjian!"


"Perjanjian?" pekik Chania segera melepas dekapan tangan Michael, dan memutar tubuhnya menghadap Michael yang seketika itu mengunci tubuhnya dengan memegang pagar besi tepat di kanan dan kiri tubuh Chania.


"Ya"

__ADS_1


"Perjanjian apa?"


' Apakah perjanjian yang akan merugikan aku? '


Batin Chania di penuhi dengan tanda tanya. Rasa penasaran yang tinggi membuat matanya tak lepas menatap wajah Michael yang justru melempat senyuman tipis.


"Cepat katakan, Michael!"


"Besok!" jawab Michael cuek.


"Jangan buat aku mati penasaran!" hardik Chania memukul dada Michael.


Michael hanya tersenyum sinis, namun ada hati yang tersentil saat mendengar kata mati penasaran yang di lontarkan Chania.


"Hahaha!" Michael tergelak untuk menutupi hatinya yang gundah. "Bukan sesuatu yang harus kau takutkan!"


"Tetap saja aku penasaran!" kekeh Chania. "Apa merugikan aku?"


"Justru menguntungkan kamu!"


"Serius!"


"Hemm!" Michael mengangguk pelan.


"Aaah! sekarang dong!"


"Besok!" kekeh Michael. "Sekarang kau hanya cukup istirahat, untuk mendapatkan perjanjian yang baik untukmu!"


"Baiklah!" jawabnya setengah kecewa.


Namun janji Michael padanya, mampu membuat Chania melupakan rasa malunya pada Michael.


Kali ini Michael dan Chania kembali pada ranjang. Dimana ranjang itu adalah saksi bisu ketika hilangnya kesucian Chania. Juga saksi bisu untuk percintaan mereka selanjutnya.


Dan entahlah, akan menjadi saksi bisu untuk apa lagi. Yang jelas saat ini, Chania yang gundah mendadak begitu cepat terlelap di pelukan Michael yang juga terlelap. Bahkan saat jam dinding belum sampai di angka 8.


Mengabaikan bunyi alarm yang berdenting dari ponsel Chania. Michael yang memiliki indera pendengaran yang cukup tajam, justru mematikan bunyi alarm itu dengan satu tangan. Tanpa membaca note yang tercatat di layar.


Minum rutin sebelum tidur!


.


.


🪴🪴🪴


Seperti kata Michael, Besok! jadi Othor lanjut up besok aja ya 🤭


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2