
"Hai, aku Georgio Xavier! dan ini adalah kekasih ku! Virginia Brown." ucap Jio merangkul pundak sang kekasih dan menolehnya dengan menatap lekat wajah cantik yang selalu menghiasi mimpi - mimpinya selama ini.
Mereka tengah berucap di depan kamera sebuah ponsel milik Jio. Membuat video untuk di jadikan kenangan, jika sampai sang kekasih mengalami lupa ingatan pasca operasi.
Ketika Jio menyebut namanya, reflek Virginia melambaikan tangan dengan senyum yang sudah ia pamerkan sejak tadi. Ia seolah tengah menyapa dirinya sendiri, jika kelak ia harus memutar video itu untuk membuka memori yang mungkin akan terlupakan.
Tapi tentu saja bukan itu yang di inginkan oleh semua pasangan di muka Bumi ini. Kehilangan kekasih dengan cara yang sulit.
"Vidio ini kami ambil di Rumah Sakit, sengaja di buat sebelum dia melakukan operasi pengangkatan tumor. Dan video ini adalah sebagai bukti jika aku sangat mencintanya!" ucap Jio tanpa melihat kamera. Ia masih betah menatap lekat wajah sang kekasih.
"Aku juga sangat mencintai mu, Darling!" balas Virginia mengecup singkat bibir Jio yang memang sejak tadi menghadap dirinya.
Kecupan singkat itu sungguh menggetarkan hati sang Tuan Muda. Membuat aliran darah di dalam tubuhnya terasa mengalir jauh lebih cepat dan membuat jantung bergemuruh ingin membalasnya dengan jauh lebih dalam lagi.
Menatap layar ponselnya, kini Jio siap kembali menyampaikan kalimatnya.
"Baby, kamu tau aku sangat mencintaimu, sangat menginginkan mu. Apapun yang terjadi padamu, apapun yang terjadi setelah operasi nanti, kamu harus tau... Jika tidak akan ada yang berubah di antara kita. Semua akan tetap sama. Dan kadar cinta ku padamu tidak akan pernah berubah! Dan tidak akan pernah ada yang bisa merubahnya!"
Ucap Jio dengan sangat tegas dan sangat yakin. Semua yang ia ucapkan adalah kalimat yang memang keluar dari hati. Bukan hanya sekedar dari bibir semata. Apalagi hanya untuk menghibur sang kekasih.
"Aku juga!" sahut Virginia tak ingin kalah dalam mengungkapkan perasaannya pada sang kekasih. Ia menoleh Jio dan menatap penuh cinta pada wajah tampan rupawan sang kekasih.
"Aku sangat mencintaimu, dan apapun yang akan terjadi setelah ini, aku akan terus dan terus mencintaimu!" lanjut Virginia merebahkan kepala di dada bidang sang kekasih, melingkarkan tangan di atas perut Jio yang tersenyum pilu. Menyembunyikan semua getaran dan rasa takut, hanya untuk diri sendiri.
Kesedihan itu, kepiluan itu akan selau bergelayut, selama keadaan masih belum pasti seperti sekarang.
Dan yang kita harapkan adalah semua akan baik - baik saja. Dengan cinta yang tetap bersemi, dengan hati yang tetap sama.
Dan jika bisa, semoga keajaiban datang di waktu yang tepat, dan operasi tidak meninggalkan efek samping sama sekali.
***
Tangan berukuran lebih besar dari tangan Jia yang mendarat tepat di kaca mobil yang gelap, membuat Jia yang tengah fokus mencari sang bodyguard terlonjak kaget.
Bagaimana tidak, tangan itu tiba - tiba muncul, memutus paksa konsentrasi yang dia bangun untuk mencari seseorang yang hilang. Ia tidak dalam mode siap seperti saat menghadapi musuh. Sehingga kepekaannya tidak ia gunakan dengan baik.
Itulah kesalahan Nona Muda yang suka tidak siaga, karena merasa sudah ada sang bodyguard yang siap melindungi.
__ADS_1
"AAAH!!" teriak Jia sembari menoleh ke belakang dan bersiap untuk mengambil kuda - kuda. Namun sebelum suara itu semakin terdengar keras, sudah ada sebuah tangan kekar yang menutup mulut sang Nona Muda.
Mata mendelik ketika ingin tau siapa yang menutup mulutnya. Namun semua degup jantung di dada yang ingin melompat kemudian siap menghajar lawan, lenyap begitu saja. Ketika melihat ternyata Xiaoli lah yang menjadi pelakunya.
"Xiaoli!" seru Jia begitu telapak tangan sang bodyguard terlepas dari menutup mulutnya.
Tersenyum menawan, "Kamu mencari ku?" tanya Xiaoli yang kini mengungkung tubuh ramping sang kekasih dengan menyandarkan kedua telapak tangannya pada kaca mobil yang gelap dan tebal.
"Kamu kemana saja...?" gemas Jia mencubit gemas pinggang Xiaoli.
"Aw.." gurau Xiaoli. Padahal sama sekali tidak terasa sakit. "Hanya ke toilet, Bao - Bao!" jawab Xiaoli mencubit gemas kedua pipi Jia.
Tersenyum manis, Jia melingkarkan tangannya di perut Xiaoli. Dan mengunci kedua telapak tangannya di punggung sang pemuda. Dengan cara menautkan ke sepuluh jarinya.
"Aku pikir kamu pergi menggoda kumpulan Mahasiswi yang ada di sana!" Jia melirik ke arah belakang. Lebih tepatnya arah taman. Karena di jam seperti ini sudah pasti banyak Mahasiswi yang sedang berkumpul di sana.
tersenyum miring, tangan kirinya bergerak untuk membelai rambut sang gadis. Membelai dengan lembut dan penuh dengan penuh kasih sayang.
''Aku sudah memiliki Mahasiswi yang kecantikannya tiada tanding..." ucap Xiaoli lirih, lembut mendayu dan terdengar jika itu adalah pengungkapan dari hati yang terdalam. Ia belai pipi mulus nan putih sang kekasih.
Dan saat itulah tubuh Xiaoli terasa membeku. Udara yang ia hirup seolah tidak cukup untuk membuat jantungnya berdetak normal kembali. Perlakuan yang simpel, tapi rasanya benar - benar dahsyat untuk sang bodyguard.
"Aku mencintaimu, Sayang..." lirih Xiaoli tak sanggup lag merangkai kata yang indah untuk menggambarkan betapa bahagianya hati ketika mendapat kecupan di jemarinya. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku juga sangat mencintaimu!" balas Jia tak kalah dalam.
Maka Xiaoli langsung menghapus jarak bibir di antar mereka. Menautkan bibir yang selalu berhasil menciptakan rindu dan rasa ingin yang teramat sangat sulit untuk di tahan.
Ciuman yang panas di bawah terik matahari dan membuat keduanya gerah. Justru terasa begitu menggelora di dalam dada.
Xiaoli meletakkan tangannya di belakang tekuk leher sang gadis, menjadikan bantal untuk Jia dan membuat ciuman semakin terasa kuat. Tangan kanannya pun kini membelai rambut hitam kecoklatan sang gadis.
Rasanya tidak ada yang lebih indah dari semua ini...
"Kenapa kesini?" tanya Xiaoli setelah mengakhiri ciuman hangatnya dengan lembut.
"Em... aku ingin makan siang dengan kamu saja."
__ADS_1
"Di mana?"
"Di kantin!"
"Di kantin?" tanya Xiaoli dengan sedikit memekik, namun kemudian ia tergelak. "Kamu tidak malu makan di kantin bersama seorang bodyguard?" tanya Xiaoli. "Apa kata mereka tentang kamu nanti?"
"Whatever!" sahut Jia. "Memangnya aku peduli mereka mau bilang apa!" jawab Jia dengan bibir yang mengerucut.
Xiaoli tersenyum, menahan gemas dengan kekasihnya yang ternyata seorang gadis petarung yang manja. Meski hanya dengan dirinya Jia terlihat manja.
"Baiklah..." jawab Xiaoli.
***
Duduk berhadapan di meja panjang kantin yang menyerupai restauran, tentu menarik pandangan beberapa mata Mahasiswi. Banyak yang tidak menyangka jika Jia mau makan satu meja dengan bodyguard nya. Meskipun dari segi fisik, Xiaoli tak kalah tampan dari Mahasiswa yang notabene nya berasal dari keluarga kaya raya.
Bahkan ada beberapa Mahasiswi yang berbisik karena mengagumi ketampanan sang bodyguard. Tapi tetap saja, pangkat sangat berpengaruh di sebagian mata Mahasiswa yang ada di sana.
Namun Jia terlihat sangat tidak peduli dengan lirikan orang lain. Mereka tidak tau saja hubungan keduanya. Kalau mereka tau jika Jia dan Xiaoli adalah sepasang kekasih, kemungkinan besar mereka akan pingsan di tempat.
"Jia! kamu di sini!" sapa Gladys yang datang bersama Diego dan Reena.
"Iya." jawab Jia singkat.
Gladys langsung memposisikan diri untuk duduk di sisi kiri Jia. Sedang Reena memposisikan diri untuk duduk di sisi kanan Jia. Kemudian Diego tidak ada pilihan lain. Mau tak mau ia duduk di samping Xiaoli.
"Hai!" sapa Diego ramah.
"Hem..." jawab Xiaoli tersenyum tipis setengah dingin. Bukankan ia sangat membenci pemuda ini? Tentulah Xiaoli sangat tidak suka duduk berdampingan dengan rivalnya.
Yang ada ia ingin mencekik lehernya, atau memotong tangannya yang malam itu menyentuh pinggang kekasihnya.
"Siapa namanya?" bisik Reena pada Jia.
tidak di pungkiri jika Reena juga sepertinya tertarik dengan ketampanan sang bodyguard.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1