
Jika bukan Jio yang bertindak, mungkin Xiaoli sudah menangkis kaki yang menghentak perutnya secara sengaja dan tiba-tiba. Hanya saja ia tau, sang putra mahkota tengah membutuhkan pelampiasan akibat ulahnya yang memang melampaui batas.
Dua pemuda, dengan usia yang terpaut hanya 3 tahun saja, tapi mereka memiliki garis wajah yang sama tampan dan sama-sama memiliki daya pikat yang luar biasa tentunya.
Setelah menjejak perut Xiaoli dengan setengah dari kekuatan yang ia miliki, Jio melempar pistol ke sembarang arah dengan sedikit menghentak. Meski begitu tatapan matanya tidak berpindah ke arah yang lain. Tetap lurus menatap wajah khas China milik Xiaoli Chen.
"Gunakan kekuatan penuh! Aku tidak mau ada rekayasa dalam hal ini!" desis Jio.
"Tentu saja, Tuan Muda!" jawab Xiaoli yang kini menatap Jio bukan lagi sebagai putra mahkota yang harus ia hormati. Tapi sebagai lawan dalam sebuah ring pertandingan. Karena tujuannya hanya satu, mempertahankan Jia apapun caranya.
Xiaoli mundur dua langkah, begitu juga dengan Jio. Keduanya siap untuk bertarung dengan tangan kosong.
Kali ini Xiaoli Chen harus memenangkan setidaknya 5 kali jurus untuk bisa memiliki perpanjangan waktu untuk bisa menghadap Tuan Besar Xavier.
Dua pemuda mengambil ancang-ancang sembari berjalan ke arah kanan membentuk lingkaran dengan diameter yang sama. Meski berbeda dalam mengambil kuda-kuda, keduanya tetap sama-sama memiliki jurus andalan yang mematikan lawan.
Jio dengan IQ 160 yang ia miliki, selalu mengamati pergerakan lawan walau hanya satu inchi dengan sangat mudah.
Hingga ia bisa membaca jika Xiaoli hendak maju dengan kaki yang akan menjejak dirinya. Maka dengan gerakan yang sangat cepat Jio menghindar dengan cara menjejakkan kaki ke atas lantai, hingga ia melompat setinggi tinggi badan manusia laki-laki. Sekitar 180 cm.
Bersamaan dengan itu, Jio kembali turun dengan cara memutar tubuhnya, kemudian tangan di kepalkan e depan, hingga nyaris menyerempet dagu Xiaoli yang tengah mendongak ke atas dengan setengah badan terhuyung ke belakang membentuk sudut 90 derajat untuk menghindari wajahnya terkena pukulan telak dari sang Tuan muda.
Satu jurus Xiaoli telah gagal mengenai Jio. Maka ia harus segera memikirkan serangan balasan.
Dagu yang lolos dari pukulan Jio, membuat Xiaoli memilih untuk mengambil jurus berikutnya yang lebih ringan, yaitu tanpa berjalan mundur, sang bodyguard langsung kembali pada posisi awal dan mengarahkan tinju pada JIo.
Jio mundur dengan cepat, ketika merasa arah angin tengah mengarah ke arah tubuhnya ayang hanya berlapis baju biasa.
__ADS_1
"Dua jurus mu telah gagal, Xiaoli Chen..." desis Jio ketika keduanya sudah dalam posisi berdiri tegak.
"Masih ada 8 yang bisa aku usahakan, Tuan muda..." balas Xiaoli tak kalah dingin.
Sesuai kesepakatan, maka tidak ada majikan dan bodyguard saat ini. Yang ada hanyalah perjuangan untuk membuktikan keseriusan yang ia miliki untuk mendapatkan restu dari keluarga sang kekasih.
"Hemm..." sahut Jio dengan seulas senyuman dingin.
Dan kali ini Xiaoli menggunakan keahliannya untuk bergerak senyap. Meski ia tau jika sang Tuan muda bisa dengan mudah mendeteksi keberadaanya, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?
Xiaoli bergerak ke arah kiri Jio. Dan Jio langsung menyiapkan kelebihan yang ia miliki. Jio memejamkan matanya dengan santai. Ketika mata tidak bisa melihat keberadaan lawan, maka sang TUan muda menggunakan kelebihan lainnya.
Dengan cara merasakan pergerakan udara di sekitar tubuhnya. Ia bisa dengan mudah menemukan siapapun yang mencoba mencelakai dirinya menggunakan jurus ini. Dan ia berpikir Xiaoli telah salah mengambil jurus ketiga.
"Hiaaakkk!!" teriakan yang di ikuti dengan tangan yang terjulur menuju punggung Jio ternyata dapat di antisipasi kembali oleh Jio. Sehingga Xiaoli kembali gagal di jurus ke tiga.
Dan jurus ini berhasil membuat Jio tertinju sebanyak dua kali di bagian perut kanan dan kiri. Jio reflek kembali bergeser ke arah kiri. Karena jika mundur, ia tau Xiaoli akan terus mendorongnya ke belakang, dan membuat dirinya terpukul berulang kali dengan gerakan tangan yang sangat cepat.
"Tingkatkan konsentrasi, Tuan muda." ucap Xiaoli ketika mengakhiri serangan ke empat nya.
Jio tersenyum miring mendengar Ucapan Xiaoli yang di anggap sebagai hinaan. Sungguhlah mencibir bodyguard bukanlah sikap seorang Georgio. Tapi keadaan sedang menguji dirinya yang sedang merasa di bohongi oleh bodyguard yang sangat di percayai oleh Klan Black Hold.
"Sisa kesempatan mu hanya enam! Sedangkan kau harus memenangkan empat lagi dari ku!"
"Tidak ada yang tidak mungkin, Tuan!" jawab Xiaoli yakin.
Setelah berucap demikian, Xiaoli langsung melompat ke udara, bergerak dengan berputar seperti yang tadi di lakukan oleh Jio. Bedanya kali ini Xiaoli sembari bergerak ke arah Jio yang sudah siap dengan kuda-kudanya.
__ADS_1
Beberapa kali putaran tubuh Xiaoli terbaca oleh Jio, hingga sang putra mahkota bisa menghindar. Namun lagi-lagi, tak di sangka Xiaoli kembali memutar tubuhnya berulang ke arah yang berbeda, dan itu membuat pukulan di undak Jio terasa cukup nyeri.
"Haahh..." Xiaoli menghela nafas panjang.
"Kau hanya bisa kalah satu kali lagi saja!" ucap Jio. "Lebih dari itu, jangan salahkan aku jika besok aku akan menunggumu di ruang tengah istana jam 12 siang!" desis Jio dengan seulas senyum tipis.
Tanpa menjawab, Xiaoli langsung meluncur dengan berlari sekencang yang ia bisa,tangan kembali terkepal untuk mendaratkan tinjuan lagi.
Jio menanggapi dengan bergerak mundur, dan ketika Jio hendak menunduk untuk menghindari pukulan telak, ternyata Xiaoli berjongkok, menekuk satu kakinya dan menjulurkan kaki satunya. Hingga akhirnya kaki yang terjulur ke depan menjejak kaki Jio dengan sangat sempurna.
Jika orang biasa yang di hantam oleh Xiaoli, sudah bisa di tebak jika orang itu pasti akan jatuh terjungkal. Namun ini Jio, dia hanya bergerak mundur sekitar satu langkah, kemudian dengan gerakan yang sangat cepat ia justru sudah berada di belakang tubuh Xiaoli.
"Tiga kemenangan..." gumam Xiaoli.
"Empat kali kekalahan!" gumam Jio menjawab ucapan Xiaoli dengan setengah mengingatkan. "Jika sampai enam kali kekalahan, maka tawaran tidak berlaku lagi!"
"Baiklah!" jawab Xiaoli dengan cukup gugup, namun tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
Perkelahian yang disengaja itu terus berlanjut, hingga akhirnya poin Xiaoli sudah mendapat lima kekalahan. Jika sampai di kesempatan terakhir ini kembali kalah, maka mau tak mau ia harus menghadap Tuan Besar Xavier besok jam 12 siang.
Sungguh waktu yang sangat singkat, batin sang bodyguard.
Jio menatap lekat wajah sang bodyguard. Selain melihat sejauh mana Xiaoli berjuang ia juga ingin melihat sedalam apa rasa cinta yang di miliki Xiaoli untuk sang saudara kembar.
"Terakhir ..." desis Jio dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1