SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 230


__ADS_3

Jio melajukan Bugatti nya di jalan raya yang cukup ramai dengan kecepatan di atas 100 km/jam. Kanan kiri jalan raya di penuhi dengan orang - orang yang sedang makan siang. Ataupun orang - orang yang meninggalkan pekerjaan untuk mencari makan siang, dan belum mendapatkan tempat yang cocok untuk mengisi perut.


Satu yang menjadi tujuan Jio siang itu, rumah sang kekasih. Virginia yang mengatakan jika sedang ada kelas, namun mobil sang gadis tidak ada di tempat, dan bayangan yang sempat melintas di dalam pandangannya membuat Jio tidak tenang. Apalagi setelah itu sang kekasih tidak lagi dapat di hubungi. Tentu membuat hati Tuan Muda merasa gundah.


Dan dalam hitungan menit, sampailah ia di depan rumah sang kekasih. Rumah mewah yang sudah sering ia datangi sejak kecil dulu. Dan juga akhir - akhir ini tentunya.


Security yang sudah hafal itu mobil siapa, tentu saja segera membuka pagar besinya, dan Jio langsung memasukkan mobilnya ke halaman parkir khusus tamu, yang tak jauh dari pos security.


"Tuan Xavier mencari Nona Virginia?" tanya security menghampiri Jio yang baru saja keluar dari pintu kemudinya.


"Ya, tentu saja!" jawab Jio.


"Tapi..." Security tampak ragu untuk menjawab.


"Kenapa?" hardik Jio yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Nona Muda tidak ada di rumah, Tuan."


"Kemana?" selidik Jio dengan mata yang memicing.


Security itu melihat kanan kiri, seolah mencari alasan yang tepat.


"Cepat katakan!" sentak Jio sudah tak sabar. "Mobilnya ada di rumah, kenapa dia tidak ada di rumah?" Jio menunjuk mobil Mini Cooper orange yang ada di parkiran keluarga.


"Nona Muda pergi bersama Tuan Besar dan Nyonya Besar, Tuan Xavier." jawab Security dengan menunduk. Seolah menutupi sesuatu yang tak boleh di ketahui Jio.


"Kemana?" tanya Jio dengan tatapan mengintimidasi yang nyaris seperti tatapan iblis. Hingga membuat scurity itu ragu untuk mendongak.


"Saya tidak tau... Tuan.." tentu saja sang security berbohong.


"Tidak mungkin!" sahut JIo. "Kalau kamu benar - benar tidak tau, tingkah mu tidak akan seperti ini! cepat katakan kemana perginya mereka? Aku bisa tau dengan mudah, seseorang berbohong atau tidak!"


"Tapi Tuan...."


"Nia bilang dia ada di kampus, tapi ternyata dia tidak ada di kampus, lalu kemana dia? kemana mereka!" bentak Jio.


Security itu mendongak, memberanikan diri untuk menatap wajah sang Tuan Muda Xavier yang tampan, namun saat ini terlihat seperti ingin menelannya hidup - hidup.


***


Jia sedang berada di kantin kampus, ketika sang Kakak menghubunginya untuk bertanya tentang Virginia.


Selain makan siang untuk memulihkan energi yang baru saja terkuras karena mengikuti mata kuliah di kelas, yang di lakukan Jia adalah mengobrol dengan kedua temannya, Diego dan Reena.


Sementara Gladys hari itu sudah tidak masuk kuliah, karena nanti malam akan menjadi ratu semalam dalam pesta ulang tahunnya.


"Siapa, Jia?" tanya Reena yang penasaran Jia berbincang dengan siapa melalui saluran teleponnya.


"Kak Jio!"


"Jio?" pekik Reena seolah mendengar nama pangeran impian. "Apa yang di tanyakan? Kenapa kamu cemberut?"


"Menanyakan Virginia padaku, mana aku tau!" jawab Jia mengedikkan bahunya.


"Virginia?" tanya Reena. "Mahasiswi kedokteran itu?"


"Yap!


"Untuk apa mencari Virginia?" tanya Reena.


"Mana aku tau!" jawab Jia enteng. "Lagi pula Virginia kan pacarnya, bukan pacarku! untuk apa bertanya padaku!" gerutunya.


"WHAT!" pekik Reena sampai menggebrak meja kantin yang kokoh dan jauh dari kata kotor itu.

__ADS_1


Sontak Jia dan Diego melompat dari kursi masing - masing karena saking kagetnya.


"****!" umpat Diego kembali duduk. "Kenapa denganmu, woy!" seru Diego sambil mengatur detak jantungnya.


"Jio berpacaran dengan Virginia itu fakta?" tanya Reena.


"Ya iyalah! untuk apa mereka bersandiwara? toh mereka sudah saling mencintai sejak lama." jawab Jia dengan entengnya.


"My God! habis sudah kesempatan kalian para gadis!" gerutunya tidak jelas.


"Sudah satu minggu mereka resmi berpacaran, dan malam ini friday night pertama untuk mereka!"


"Apa Gladys tidak mengundang mereka?"


"Untuk apa Gladys mengundang mereka? kalaupun Kak Jio di undang, aku yakin dia tidak akan datang!"


"Oh... begitu ya?" kecewa Reena.


"Ya jelaslah!" jawab Virginia kembali menatap layar ponselnya.


Selain berceloteh tentang pakaian apa yang akan mereka kenakan nanti malam juga tentang Kakaknya, Jia juga asyik bertukar pesan dengan Xiaoli Chen, yang konon katanya tengah beristirahat di dalam mess.


ðŸ“Đ "Makan apa?" tanya Xiaoli yang baru saja di beri tau Jia, jika gadis itu tengah makan siang di kantin kampus.


✉ïļ "Sushi!" jawab Jia menyertakan foto sepiring Sushi di depannya.


ðŸ“Đ "Sama siapa?"


Kini Jia mengambil foto bertiga, dirinya, Diego dan Reena. Sementara posisi Diego duduk di samping Jia, dan Reena duduk di depan Diego. Kedua teman Jia tidak ada yang melihat kamera, karena Jia mengambil foto secara spontan dan tanpa aba - aba.


✉ïļ "Mereka!" Jia mengirim foto itu pada Xiaoli.


Tanpa di sadari Jia, apa yang di lakukan Jia membuat dada sang Bodyguard bergemuruh. Xiaoli menarik nafas panjang, kemudian ia menghelanya dengan panjang.


"Kenapa harus laki - laki yang duduk di sampingmu, My Pookie!" gemas Xiaoli namun terdengar jelas jika ia sedang geram karena Jia duduk berdampingan dengan pemuda yang ia ketahui sebagai teman satu kelas Jia.


Jia mengerutkan keningnya, ketika status waktu pada Xiaoli sedang online. Tapi tumben lama sekali membalas pesan. Bahkan mengetik pun tidak.


✉ïļ "Hai?" sapa Jia, dan pesan itu pun langsung menjadi dua centang biru. Yang artinya Xiaoli masih berada dalam layar nomornya.


ðŸ“Đ "Hm?" balas singkat Xiaoli.


✉ïļ "Kenapa cuma hm?"


ðŸ“Đ "Tidak apa - apa."


Jawab Xiaoli terkesan sangat datar. Dan itu benar - benar membuat Jia mengerutkan keningnya.


✉ïļ "Ada apa? jangan bohong... biasanya banyak bicara!" goda sang Nona Muda.


ðŸ“Đ "Kalau sudah selesai makan siang, langsung balik ke kelas, ya? jangan lama - lama di kantin."


Balasan Xiaoli benar - benar membuat Jia mengerutkan kening keheranan. Sungguh seperti bukan Xiaoli Chen, batin Jia.


✉ïļ "Iya..." balas Jia.


Dan Jia kembali heran. Biasanya obrolan akan di akhiri Xiaoli dengan kalimat penutup yang membuat hatinya berbunga - bunga. Tapi ini, tiba - tiba datar dan menghilang begitu saja.


"Kenapa, Jia?" tanya Diego dengan lembut.


"Oh, tidak ada!" jawab Jia menggelengkan kepalanya pelan.


Namun dalam hatinya ada resah yang tak bisa ia ceritakan pada teman - temannya.

__ADS_1


***


Jio melesat menggunakan Bugatti Divo miliknya menuju Rumah Sakit yang berada cukup jauh dari rumah Virginia. Namun terbaik di kota Roma.


Berdasarkan informasi, seluruh keluarga pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan lebih detail tentang Virginia. Yang mana kata security tadi, Virginia mengalami gejala yang mengarah pada satu penyakit serius...


Tumor otak!


Dada Jio bergemuruh mendengar keterangan security yang ia intimidasi sampai harus mengeluarkan senjata dari balik ikat pinggangnya.


Sebagai seorang sahabat sejak kecil dan kini sebagai kekasih, tentu Jio merasa sangat bodoh karena tidak mengetahui ataupun menyadari semua itu sejak awal.


Dan satu yang membuat ia kecewa, sang kekasih benar - benar bungkam dengan apa yang sedang ia alami.


Cit!


Ban mobil berdecit di area parkir Rumah Sakit yang luas. Jio segera melesat dengan sangat cepat untuk mencari ruangan di mana Virginia sedang melakukan tes MRI.


Setelah bertanya pada beberapa perawat yang ia lewati, akhirnya Jio menemukan ruangan yang ia cari. Ruang Dokter Saraf berada.


Dengan langkah gontai, Jio mendekati pintu yang bertuliskan Dr. Martin Lee, Spesialis saraf.


Pintu itu tertutup rapat. Seolah ada pasien khusus yang sedang di tangani di dalam sana. Dan ia yakin, itu adalah sang kekasih.


Menggunakan keahliannya yang memiliki indera pendengaran yang sangat tajam, Jio menempelkan telinganya pada daun pintu ruang pemerikasaan itu.


"Tidak perlu khawatir, Nona Brown. Tumor otak jenis Glioma bisa di sembuhkan bahkan tanpa melakukan operasi."


"Dokter yakin itu tidak akan mempengaruhi perkembangan putri kami di masa depan?" tanya Tuan Brown pada sang Dokter.


"Tidak, Tuan... Kami akan melakukan gamma knife."


"Apa itu gamma knife, Dok?" tanya Nyonya Brown.


"Itu sejenis perawatan radioterapi. Jadi tidak di operasi. Melainkan menggunakan sinar gamma."


"Lakukan yang terbaik untuk putri kami, Dok!" ucap Irgee Brown.


"Tentu, Tuan Brown!" jawab sang dokter. "Nona Brown, pastikan minggu depan, Nona sudah siap untuk melakukan gamma knife. Jaga pola makan, ya..?"


Mengangguk lemah, "Baik..." jawabnya singkat dan lemah. Sangat lemah.


Semua obrolan di dalam sana, tentu sampai ke telinga Jio yang berada di luar pintu dengan telinga yang nyaris menempel pada daun pintu. Pendengarannya yang tajam, membuat Jio kini merasakan getaran yang tak biasa.


Meski Dokter bilang tumor otak yang di derita Virginia tidak bahaya. Tetap saja ia khawatir. Sebagai seorang kekasih, tentulah ia tak ingin kekasihnya mengalami kesakitan.


Setelah obrolan itu berhenti. jio mendengar suara langkah dari beberapa orang mendekat ke arah pintu. Dan Jio mempersiapkan diri untuk menyambut satu keluarga yang menyembunyikan sakit Virginia darinya.


Clekk!


"Jio!" pekik Virginia.


...ðŸŠī Bersambung ... ðŸŠī...


✍ïļ Dear, para pembaca yang baik hati...


Author memohon dukungannya, berupa like, komen dan vote.. Tapi jika memang tidak berkenan dengan cerita ataupun kesalahan dalam pengetikan, Author mohon maaf. Karena memang banyak yang harus di ingat selama menulis.


Dan jika memang hanya untuk kesalahan kecil, saya mohon, jangan patahkan semangat kami dengan bintang 1 atau 2 dari teman - teman 🙏😔


Terima kasih 🙏


Salam, Lovallena ðŸĨ°

__ADS_1


__ADS_2