
"Aku tidak ingin semua itu mempengaruhi pekerjaan Xiaoli! Tugas yang sudah aku embankan untuknya tidak bisa di ganggu oleh apapun!" ujar sang mafia tegas dengan nada satu oktaf lebih tinggi tanpa menoleh ke belakang.
"Dan ingat! Tidak ada air mata di wajah putriku!" lanjutnya seolah berbicara pada Xiaoli.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, dan tanpa berucap apapun lagi, Michael berjalan tegap meninggalkan gedung latihan itu dengan tatapan lurus ke depan.
Hingga tubuh tegapnya menghilang di balik pintu kayu berukuran besar. Di ikuti pula oleh hilangnya punggung dua bodyguard kebanggan sang naga hitam.
Menuruni tangga, genggaman tangan berulang kali memukuli pagar besi yang mengikuti arah tangga. Tatapan sang mafia kosong ke arah depan, entah apa yang sedang di pikirkan oleh beliau. Syarat yang ia ajukan untuk sang bodyguard sesungguhnya terdengar mudah.
Hanya saja, mungkin tidak akan mudah untuk Jia dan Xiaoli. Karena syarat itu sama artinya dengan memisahkan mereka untuk tiga sampai lima tahun ke depan.
' Daddy tidak tau harus berbuat apa, Jia! Sudah lama Daddy curiga. Tapi sekuat hati Daddy yakin kalian tidak akan sekompak ini untuk menyembunyikan semuanya dari Daddy! '
Gumam sang Mafia dalam hati.
' Sementara rencana ku untuk menjadikan Xiaoli sebagai penerus Jack di generasi Jio pun sudah aku rancang sejak Ayahnya mengajukan namanya padaku... Meski aku pernah memberi kesempatan untuk Jio mencari sendiri... '
Sang Mafia di penuhi dengan pikiran yang menjalar kemana-kemana.
' Sementara mulai lusa Xiaoli sudah harus berangkat! '
Sang Mafia terus bergumam dalam hati, hingga langkah kakinya sampai di lantai dua istana miliknya. Memasuki satu-satunya kamar paling mewah, sang Tuan mafia menghela nafas berat dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan tatapan kosong ke arah jendela raksasa kamarnya.
Bukan tentang harta, tahta, jabatan dan segalanya. Tapi tentang janjinya pada Ayah Xiaoli untuk menjadikan putranya kelak sebagai pemimpin bodyguard utama, menggantikan Jack Black di generasinya.
Di mana siapapun yang menggantikan posisi Jack Black wajib memasuki perguruan yang akan membesarkan nama sang bodyguard di dunia keamanan, sekaligus pendidikan bisnis singkat yang mumpuni.
' Bisakah kalian bertahan dalam hubungan tanpa berkabar? '
' Tapi janji tetaplah janji! '
***
Sementara itu di dalam ruangan yang masih ada 4 orang tersisa, semua masih terdiam dengan nafas yang berangsur membaik dan lebih normal dari sebelumnya.
Namun apa yang di ucapkan sang Mafia sungguh membuat mereka tidak bisa bersorak sorai begitu saja. Berbagai pemikiran yang tak jauh berbeda dari mereka yang ada di dalam ruangan.
Bagi Chania, Jia, Jio dan Jellow, yang di pikirkan oleh mereka hampir sama dengan apa yang dipikirkan oleh sang Tuan besar.
__ADS_1
Tentang bagaimana kedepannya ketika hubungan Jia dan Xiaoli tidak ada komunikasi sampai empat tahun lamanya?
Apakah semua akan masih sama?
Akankah tidak ada yang berubah ketika sang bodyguard kembali?
Akankah cinta Jia dan Xiaoli sama kuat seperti perjuangan mereka hari ini?
Mereka tau apa yang harus di lakukan oleh siapapun yang kelak akan menggantikan posisi seorang Jack Black.
Tapi bagia Xiaoli, yang di pikirkan adalah...
' Pantaskah aku menggantikan seorang Jack Black yang bahkan mengetahui jumlah kekayaan Klan Black Hold secara real? '
' Akankah aku bisa bekerja dengan baik untuk menjadi seseorang yang paling di percaya oleh penguasa Italia ini? '
' Dunia Tuan Muda Jio kedepannya bukanlah sekedar dunia anak muda dan dunia bisnis semata. Tapi dia adalah putra mahkota. Penerus Klan sekaligus perusahaan terbesar di Italia dan satu lagi di Amerika Serikat! '
' Ayah... Ibu... Do'akan aku... Agar diriku selamanya menjadi orang yang bisa di percaya oleh keluarga terkaya di negeri ini... '
Lirih sang Bodyguard di dalam hati. Tatapannya lurus ke depan, namun tampak kosong. Hanya pikirannya saja yang berkeliaran di dalam bayangan dan angan.
Kesetiaan dan kepintarannya dalam menjalankan bisnis di uji habis-habisan oleh seorang guru yang sangat di percaya secara turun temurun. Hingga guru yang ada di sana pun juga sampai ke generasi ketiga saat ini.
Setelah aksi saling diam dengan kepala menunduk, pada akhirnya mereka semua mendongakkan kepala masing-masing dan saling menatap satu sama lain. Dengan tatapan lirih dan pilu.
"Bagaimana menurut kamu, Jia?" tanya Chania merasa prihatin dengan syarat yang di berikan oleh sang Ayah.
Dengan tatapan pilu dna sedih, Jia menoleh pada sang kekasih yang masih diam membisu dengan pikirannya sendiri.
Dan ketika Jia menoleh padanya, dengan sigap ia menoleh dan menatap tenang pada sang kekasih. Membuat tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Dalam hati sungguh keduanya ingin berpelukan dan mengucap syukur bersamaan karena masih ada kesempatan untuk bisa bersama, meski akan melalui jalan yang terjal.
Hanya saja, keduanya tak bisa melakukan hal itu. Masih teramat malu jika harus berpelukan di hadapan orang lain, meski hati sangat ingin.
"Jia tidak bisa menjawab sekarang, Mommy... Karena dia pasti belum tau apa yang akan terjadi di depan..." lirih Jia terdengar sangat memilukan.
Hingga Jio dan Jellow saling tatap satu sama lain. Namun keduanya hanya bisa mengangkat kedua pundak mereka sembari menghela nafas resah.
Bagaimanapun kesalahan yang mereka lakukan, tetap saja mereka tidak akan bisa untuk tidak prihatin. Ketika cinta harus terpisah karena sebuah tugas.
__ADS_1
"Maafkan saya, jika saya menyela..." sahut Xiaoli. "Tapi apa yang tidak saya ketahui?" tanya Xiaoli dengan raut wajah yang kini terlihat panik.
Semua terdiam, dan hanya saling tatap satu sama lain secara bergantian.
"Aku rasa... kita harus memberikan waktu untuk Jia dan Xiaoli hanya berdua," ujar Tuan muda Harcourt yang hari ini terlihat begitu serius dan jauh dari kenyataan jika ia adalah seorang casanova yang pecicilan.
"Biarkan Jia yang menjawab pertanyaan Xiaoli." lanjut Jellow menatap sepasang mata Aunty kesayangannya.
"Jio setuju, Mommy!" sahut Jio. "Jio yakin, Jia bisa memberi penjelasan dengan sangat baik."
"Baiklah... Kita tinggalkan mereka di sini..." jawab sang Ibu setuju.
Jio dan Jellow mengangguk setuju.
Sebelum meninggalkan ruangan yang di jadikan sebagai gedung latihan dan ruang pertemuan dalam jumlah anggota cukup besar itu, Nyonya besar Xavier berjalan mendekati sang putri.
Menatap lekat netra bening yang terlihat sisa-sisa air mata. Jemari lentik terangkat ke atas, meraba pipi putih mulus yang lengket oleh sisa air mata.
Dengan jiwa keibuan yang ia miliki, Chania berucap dengan sangat lembut. Memberikan petuah yang mungkin sudah biasa di berikan oleh orang tua untuk anak-anak mereka.
"Jia..." lirihnya menyebut salah satu dari anak kembarnya. "Jujur... Mommy sangat shock dengan berita besar yang Mommy baru ketahui hari ini." ucap Ibu tiga anak itu.
"Mommy yang sudah mengandung kamu selama sembilan bulan, dan sembilan bulan itu terasa sangat lama untuk seorang wanita..." lirih sang Ibu. "Mommy yang melahirkan kamu.. Dan merawat mu menggunakan jemari Mommy sendiri..." ucap Chania mengusap wajah cantik dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Tapi kenapa? Mommy menjadi orang terakhir yang tau tentang putri Mommy?" lirih Mommy Chania terdengar sangat sedih. "Kenapa, Jia?" tanya Mommy Chania.
"Mommy sangat kecewa... Tapi juga sangat menyayangi kamu..." lanjut sang Ibu.
"Mommy..." lirih Jia tak sanggup berkata-kata lagi. Hanya air mata yang kembali menetes yang melanjutkan kalimatnya. Sebagai gambaran penyesalan akan apa yang sudah ia lakukan.
"Mommy... sebaiknya jangan membahas tentang ini sekarang..." sahut Jio mendekati Chania dan merangkul pundaknya. Merasa situasi belum tepat untuk kembali memberi sanksi pada Jia dan Xiaoli.
"Yes, Aunty... Biarkan mereka merenungi semua ini terlebih dahulu..." sahut Jellow membenarkan kalimat sang sepupu. "Banyak yang harus mereka bahas mengenai syarat yang di berikan oleh Uncle Michael..."
Chania terdiam, seolah membenarkan saran dari putra dan keponakannya itu. Situasi memang sedang tidak mudah untuk Jia dan Xiaoli.
"Jaga diri kalian baik-baik..." ucap Mommy Chania sebelum mengikuti putra nya yang menggiringnya untuk meninggalkan ruangan itu. "Mommy berharap kalian menemukan jalan terbaik setelah ini..."
"Yes, Mommy..." jawab Jia di tengah isakan yang menggambarkan diri sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...