SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 28


__ADS_3

Chania melirik Michael, berharap pria itu segera menolongnya. Bukankah sebelumnya ia sudah membela dirinya? Tapi kenapa sekarang Michael tak kunjung menunjukkan pembelaan pada dirinya.


Chania menutup matanya, tak lagi tau harus berbuat apa. Jangankan untuk bergerak, bernafas saja sulit.


Namun sesaat kemudian, Chania merasakan cekikan Oliver merenggang. Chania merasa ada yang aneh. Seketika itulah ia membuka mata. Dan ia merasa lega.


Ternyata Michael menempelkan ujung pistolnya tepat di pelipis Oliver. Membuat Oliver merasa kalah telak pada Chania yang bernafas terengah - engah. Seolah meraih udara sebanyak - banyaknya.


"Teruskan!" ucap Michael pada Oliver.


Bukan perintah, melainkan sebuah sindiran. Jika Oliver terus mencekik, maka peluru akan bersarang di kepalanya.


Oliver diam, ia hanya melempar tatapan kebencian pada Chania yang seketika berdiri dan mencari perlindungan di belakang Michael.


"Tuan!" Chania merangkul lengan kiri Michael, mencoba membuat Michael berhenti memberi ancaman pada Oliver.


Michael bergeming. Seolah tak peduli dengan usaha Chania. Ia tau, Chania sendiri sebenarnya benci dengan Oliver. Namun naluri baik Chania, selalu berhasil membuat gadis itu memilih untuk mengalah.


"Dengarkan aku! sekali saja kau mencari masalah dengan perempuan yang bersamaku, maka aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu! dan aku tidak akan peduli dengan asik mu! sama seperti dirimu!" desis Michael.


"Satu lagi! jangan pernah mencari tau siapa yang berhasil ku temukan!"


Kalimat terakhir dari Michael itu membuat Oliver membulatkan matanya. Apakah Michael tau, jika dia tengah mencari dimana Michael menyembunyikan gadis pendonor itu?


Sesaat kemudian, Michael kembali menyimpan senjatanya. Setelah melihat Oliver yang mulai tunduk dan tidak lagi melawan.


Michael beranjak, meninggalkan ruang makan yang kini berganti dengan kesunyian. Dimana sang kepala pelayan masih terduduk di lantai, dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan.


"Pergi kalian semua!" teriak Oliver pada para pelayan yang masih berada di ruang makan.


"Baik, Nona!" jawab semua pelayan serentak.


Nafas Oliver tersengal, ia turunkan tangan menyentuh lantai dengan kepala menunduk. Dan akhirnya ia meneteskan air matanya.


Benarkan Chania perawan? apakah Michael menyukai Chania? sehingga tak keberatan gadis itu memanggilnya hanya dengan nama saja?


Mengingat Chania adalah satu - satunya gadis yang di bawa Michael ke rumah itu. Oliver semakin frustasi.


"Aku kalah?" lirihnya kemudian.


***


Di sisi lain, Michael membawa kembali Chania ke kamarnya. Ia dudukkan Chania di tepi ranjang. Ia ambil sisir dan mulai menyisir rambut pirang kecoklatan Chania yang berantakan.


OMG, demi apa seorang Michael menyisir rambut seorang perempuan? Hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Kecuali menyisir rambut Mamanya tercinta.


Sesekali air mata Chania masih menetes, ia masih merasakan sakit di lehernya yang memerah. Membentuk lingkaran di leher jenjang dan putihnya.


"Sakit?" tanya Michael lirih.


"Kamu keterlaluan! sudah tau aku hampir mati. Tapi tidak juga di selamatkan!" gerutu Chania kesal. Mengingat sikap cuek Michael tadi.

__ADS_1


Michael tersenyum samar menanggapi gerutuan Chania.


"Siapa suruh memanggil nama ku di luar kamar" balas Michael tersenyum tipis.


Chania melirik kesal senyuman Michael, lalu memukul pinggang Michael yang berada di depan wajahnya.


Michael semakin terkekeh sambil terus merapikan rambut Chania.


"Jangan ketawa!" teriak Chania kesal.


Michael mengakhiri menyisir rambut Chania, dan melempar sisir di meja nakas. Beralih duduk di samping Chania.


"Marah?" lirih Michael sedikit berbisik.


Chania tak menjawab, ia justru memutar bola matanya malas dan melempar pandangan ke sisi lain. Ia tak ingin melihat wajah tampan Michael yang seolah tengah mengejeknya itu. Karena jelas Michael terlihat lebih hangat dan tampan.


"Hemm... yang penting kan kamu sudah berhasil membuatnya menangis." ucap Michael kemudian.


Chania terperangah, ia menoleh Michael hanya dalam hitungan detik.


"Apa maksud kamu?"


"Sekarang dia pasti menangis!"


"Sok tau kamu!"


"Kenyataan"


Michael tersenyum samar, "Oliver hanyalah gadis lemah, yang di balut dengan sok berani."


"Kamu yakin?"


Michael melirik Chania sekilas, lalu menghela nafas panjang.


"Aku, Oliver, dan adiknya adalah sahabat masa kecil. Karena suatu hal, membuat aku membencinya!"


"Masalah apa?" Chania memasang wajah penasaran.


"Rahasia!" jawab Michael tersenyum simpul.


"Tch!" Chania berdecih kesal sambil memukul paha Michael. "Kalau nggak jelas begitu, nggak usah cerita!" ketus Chania.


Michael melirik pahanya yang di pukul Chania. Rasanya baru kali ini ada sekretaris pribadi yang berani memukul pahanya. Namun ia terlihat biasa saja. Seolah tak ada yang salah dengan ulah Chania padanya.


Michael kembali melihat Chania dari sisi samping. Dimana muka Chania terlihat masih begitu kusut. Akibat di aniaya oleh Oliver. Meski begitu tak mengurangi kadar kecantikan natural yang di miliki Chania.


"Mau makan lagi?" tanya Michael.


"Nggak!" ketus Chania.


Tanpa aba - aba lagi, Michael memasukkan tangan kanannya di bawah lutut Chania, sedang tangan kirinya merangkul pundak Chania. Ia angkat tubuh ramping itu untuk naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Michael!" pekik Chania yang terdengar cukup manja di telinga Michael.


"Sebaiknya kita mulai ronde untuk malam ini!" ujar Michael. "Kau sudah selesai datang bulan bukan?" tebak Michael.


"Dari mana kamu tau?"


Michael hanya tersenyum sinis menanggapi rasa penasaran Chania.


Dan akhirnya, ronde pertama untuk malam ini telah di mulai. Michael dengan aksi sedikit kasarnya.


Bukan kasar sih, melainkan hasrat yang saking terbakarnya, membuat Michael sedikit bermain gila. Apalagi kini ia bisa bermain dalam ronde panjang dengan Chania. Tak seperti awal - awal bercinta mereka dulu.


Berbagai posisi bercinta mereka lakukan. Demi mendapatkan kepuasan yang tidak membosankan. Chania selalu menuruti keinginan Michael, meskipun dengan posisi bercinta yang menurutnya sangat aneh sekalipun.


Hingga membuat tubuh ramping Chania berulang kali mengejang, dan membuat gadis itu kini meringkuk dalam pelukan Michael. Bahkan tanpa sempat membersihkan dirinya setelah percintaan panas dan membara.


Michael membelai wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu. Tatapan teduhnya ia berikan untuk Chania yang saat ini memeluk tubuhnya.


Mereka masih sama - sama polos. Percintaan panjang membuat keduanya kelelahan. Namun tidak membuat sang Mafia lekas tertidur.


Pria bertubuh tinggi dengan postur sempurna itu kini hanya dapat menghela nafas. Ia tidak bisa mengartikan keberadaan Chania di sisinya.


Di sisi lain, ia tidak tau seperti apa rasanya jatuh cinta. Tapi kehadiran Chania dalam hidupnya memberi warna lain dalam dunia hitam yang ia geluti selama ini.


Namun, jauh di lubuk hati terdalam, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tentang urusannya dengan Deborah yang harus ia tepati.


Meski ia sudah mendapatkan petunjuk tentang gadis itu, mampukah ia menyerahkan gadis yang tak tau apa - apa itu pada Deborah?


Membuat seorang gadis polos dengan suka rela menyerahkan sumsum tulang belakangnya untuk Selena.


Ataukah ia mengatur alur cerita, agar gadis itu gagal bertemu Deborah?


Tapi bagaimana jika sang Mama akan menjadi korban?


Ataukah ia keluarkan jiwa Mafianya yang sesungguhnya? Yaitu membunuh Deborah? Yang artinya Selena dan Oliver pun bisa jadi akan mati di tangannya.


Michael menghela nafas panjang, kemudian mengalihkan pandangannya ke atap kamarnya. Ukiran naga emas membuatnya merasa kembali menjadi seorang Mafia yang tidak mungkin luluh oleh seorang gadis manapun.


Namun saat Chania menggeliat di pelukannya, membuat pria itu tersadar, bahwa beberapa bagian hatinya telah teralihkan oleh keberadaan Chania di sisinya selama lebih sebulan ini.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


Sampai di sini dulu untuk hari ini, esok Othor akan nulis lagi 🥰


Jika berkenan, bisa mampir di karya Author yang lain. Ada empat novel Author Lovallena yang sudah tamat.

__ADS_1


Selamat berkunjung 🥰


__ADS_2