SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 259


__ADS_3

Di dalam hidup ini terkadang ada yang harus di raih untuk di miliki, tapi ada juga yang harus di lepaskan demi sesuatu yang mungkin akan menjadi lebih baik. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjadi lebih menyesakkan.


Untuk setiap yang datang dan pergi, semua itu memang butuh pengorbanan. Meraih bukanlah hal yang mudah, dan melepaskan juga bukanlah sesuatu bisa dengan mudah kita ikhlaskan.


Begitu juga dengan takdir, yang mana tak selalu kita anggap baik. Kadang takdir Tuhan juga membuat kita marah dan benci dengan apa yang terjadi. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga misalnya.


Di antara detik yang berjalan, di antara rasa tegang yang ada, sepasang pintu ruang operasi akhirnya terbuka setelah satu jam berlalu. Dan seorang dokter keluar dari dalam sana, bersama seorang asistennya.


Dokter Martin Lee, selaku dokter spesialis saraf keluar bersama asisten pribadinya. Sembari melepas masker yang beliau kenakan selama berada di dalam ruang operasi.


Pengobatan yang seharusnya bisa di lakukan menggunakan Gamma Knife justru harus di langsungkan operasi, karena suatu hal. Dan membuat sang gadis kini masih berada di bawah alam sadarnya akibat obat bius..


Keluarnya sang dokter, sontak membuat semua yang menunggu di depan ruang operasi beranjak untuk mendekat pada Dokter Martin. Tak terkecuali Irgee Brown, sang Papa yang datang terlambat itu tampak sangat gugup dengan apa yang akan di sampaikan oleh sang dokter.


Sebagai cinta pertama untuk putrinya, Irgee adalah lelaki pertama yang akan hancur berkeping-keping jika melihat sang putri bersedih.


"Bagaimana, Dok?" tanya Nyonya Brown yang berdiri di samping sang suami dengan wajah panik dan tegang.


"Operasi sudah selesai, Nyonya." jawab dokter yang sudah menangani Virginia sejak awal pemeriksaan. "Sebentar lagi Nona Brown akan di pindahkan kembali ke ruang rawatnya. Untuk saat ini Nona Brown masih berada di bawah pengaruh obat bius."


"Apa putri kami mengalami efek samping yang berarti, Dok?" tanya Tuan Brown dengan wajh yang tegang.


"Kita akan mengetahui setelah Nona Brown sadar dari pengaruh obat bius, Tuan." jawab sang dokter dengan tenang.


Sudah biasa menangani hal semacam ini membuat sang dokter terlihat tenang, meski tidak memungkiri jika ada garis tegang di wajahnya yang hanya terbaca oleh Jio.


Sang pemuda berdiri di samping Tuan Brown bersama sang adik. Ia tidak berniat untuk bertanya pada sang dokter. Karena hanya satu yang ia harapkan, sang kekasih tetap menjadi kekasihnya, tidak ada yang berubah sedikitpun tentang perasaan maupun tentang ingatannya.


Soal kemungkinan Virginia lumpuh, ia sama sekali tidak peduli. Ia tidak akan pernah keberatan dengan kenyataan itu. Yang ia nginkan Virginia aan tetap menjadi Virginia yang ia cintai.


"Kami sebagai tim medis juga berharap tidak akan ada masalah yang berarti setelah operasi ini..." lanjut sang dokter. "Permisi, Tuan dan Nyonya... Saya akan kembali menemui Nona Brown, setelah Nona tersadar dari tidurnya..." pamit sang dokter mengangguk pelan, dan langsung meninggalkan area ruang tunggu operasi setelah Tuan dan Nyonya Brown mengangguk.


Semua yang di tinggalkan sang dokter terlibat adegan saling tatap satu sama lain. Semua beraut wajah sedih. Tidak ada kepuasan dari jawaban sang dokter. Hingga akhirnya pintu kembali terbuka, dan brankar yang membawa tubuh lemah dan tak berdaya Virginia keluar dari dalam sana.

__ADS_1


"Nia..." lirih Jio dan langsung menghambur mendekat, meraih tangan lemah seolah tak bertulang.


"Maaf, Tuan. Kami harus segera membawa Nona Brown ke ruang rawat!" ucap salah satu perawat mencegah Jio untuk menghentikan langkah mereka.


"Ya! aku tau!" ketus Jio tanpa bisa melepas pandangannya dari wajah Virginia yang matanya tertutup rapat. Bahkan tangannya pun tetap menggenggam lembut tangan Virginia, hingga brankar di dorong kembali menuju ruang rawatnya.


Selain Jio, semua hanya bisa mengikuti di belakang. Semua orang yang ada di sana tentu tau, seperti apa perasaan Jio saat ini. Selain orang tua Virginia, Jio adalah satu-satunya orang di luar anggota keluarga yang paling sedih saat ini.


***


"Kapan dia akan sadar?" tanya Jio pada perawat setelah ia memindahkan sang kekasih dari brankar dorong, ke brankar pasien rawat inap yang ukurannya lebih besar dan jauh lebih nyaman.


"Kurang lebih dua jam lagi, Tuan..." jawab sang perawat wanita.


Tidak lagi menjawab ataupun bertanya, Jio hanya menunjukkan wajah tampannya yang di gelayuti awan mendung yang gelap. Tidak ada lagi senyum di wajah sang pemuda.


Terlihat kedua orang tua Virginia berdiri di sisi kanan sang anak gadis, sedangkan Jia berdiri di belakang sang Kakak, mengusap punggung sang saudara kembar dengan sangat lembut. Saat ini posisi Jio lah yang paling dekat dengan Virginia.


***


Waktu yang di tunggu telah tiba, hampir dua jam sudah Jio dan yang lain menunggu sang putri tidur terbangun dari tidurnya. Ada tambahan orang yang ada di dalam ruangan itu, yaitu Jellow Harcourt.


Pemuda itu datang satu jam yang lalu bersama bodyguard yang kini menunggu di luar bersama Xiaoli. Dengan membawa satu buket bunga, Jellow memberikan tanda dukungan untuk sang sepupu. Anak tunggal Oliver dan Darrel itu masih berada di Italia, dan tinggal di rumahnya sendiri. Rumah peninggalan sang Kakek.


Jio, Jia dan Jellow duduk di sofa ruang tunggu, dengan tirai yang terbuka. Sehingga mereka masih bisa melihat tubuh Virginia yang terbaring lemah. Sedangkan orang tua Virginia memilih untuk di temat tidur penjaga pasien, untuk saling menguatkan.


"Aku pernah punya teman yang menderita penyakit yang sangat mirip dengan Virginia..." gumam Jellow.


"Lantas apa dia sehat kembali?" tanya Jio berharap hanya takdir baik yang di dengar olehnya.


"Kaki kirinya lumpuh..." jawab Jellow.


Membuat Jio menarik nafas panjang. Ia sudah sangat paha, jika operasi ini pasti menimbulkan efek samping.

__ADS_1


"Tapi yang aku dengar reaksi dari setiap pasien itu berbeda. Ada yang lumpuh, ada yang kehilangan memory di tahun-tahun terkahir sebelum ini. Tapi ada juga yang tidak mengalami efek apapun juga!" lanjut Jellow.


"Itu yang aku harapkan!" sahut Jio. "Aku hanya ingin dia tetap menjadi Virginia, milikku..." ucap Jio lirih, menatap lekat wajah cantik sang kekasih.


"Semoga apa yang kita semua harapkan benar terwujud." jawab Jellow menepuk pelan pundak sang sepupu yang berusia satu tahun di atasnya itu.


"Hemmm..." jawab Jio.


Jio menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Tubuhnya yang sekuat baja, kini terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan yang belum pasti ini. Matanya tak lepas sedikit pun dari tubuh Virginia yang terbaring di atas brankar.


Hingga mata Jio menangkap pergerakan di jemari Virginia yanng ada di sisi kiri tubuh sang gadis.


"Nia!" seru Jio dengan langsung bergerak cepat menghampiri sang kekasih.


Gerakan Jio tentu menarik perhatian semua yang ada di dalam ruangan itu. Membuat semua ikut bergerak dan berjalan cepat mengerubungi brankar.


"Nia, kamu sudah bangun?" tanya Jio menyentuh tangan dan lengan Jio. Sang pemuda langsung menghadap wajah Virginia. Berharap mata itu terbuka dan ia menjadi orang pertama yang di lihat sang kekasih.


Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mata itu tetap tertutup. Seolah belum benar-benar siap untuk tersadar, dan kembali pada kehidupan di dunia.


"Apa yang terjadi, Jio?" tanya Nyonya Brown.


"Jio tadi melihat jemari Nia bergerak Aunty!" jawab Jio.


Ia segera berinisiatif untuk memanggil dokter. Untuk itu tangan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter Martin Lee.


"Nia..." lirih sang Mama.


DAn menit berikutnya yang terjadi adalah, kepala Virginia bergerak pelan, sangat pelan. Kemudian sayu-sayu kelopak matanya bergerak. Dan mata terbuka sedikit, namun kembali menutup.


"Nia...?" panggil Jio sangat lirih dan pelan. Ia raih tangan Virginia dan mengusapnya lembut.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2