
"Dulu kami pernah dekat!" jawab Michael melirik ekspresi Chania.
Dan benar saja, seketika nafas istrinya itu kembang kempis menahan rasa yang entah kenapa bisa begitu saja menghujam hatinya. Cemburu, tapi untuk apa? toh dialah istri Michael sekarang. Lagi pula hanya pernah dekat.
"Jadi kamu pernah mencintainya?" tanya Chania tak bersemangat.
"Bukan mencintai, hanya semacam..." Michael memikirkan kalimat yang tepat untuk menggambarkan dirinya dan Margareth di masa lalu.
"Hanya apa!" hardik Chania tak sabar.
"Dia hanya pernah sedikit menarik perhatian saja, dan itupun dulu!" jawab Michael menatap istrinya penuh harap. Berharap istrinya itu tidak marah berlebihan.
"Kapan?"
"Saat kami masih berumur belasan tahun." jawabnya. "Waktu itu aku satu sekolah dengan dia! Dan juga..."
"Apa!" hardik Chania semakin kesal membayangkan mereka punya kisah di masa remaja. Masa remaja pasti susah di lupakan bukan.
"Reno!" jawab Michael cepat.
"Reno?" pekik Chania. "Maksud kamu.."
"Ya! Chef Reno yang menyukai mu itu adalah sahabatku pada masa itu!" potong Michael sedikit ketus ketika menyebut nama Reno.
"What!" pekik Chania membelalakkan mata. "Kamu yakin!" tanya Chania tak percaya.
"Iya, Sayaaang!" gemas Michael mencubit hidung Chania.
"Yang kamu bilang mengembalikan ponsel darinya waktu itu, berarti kamu sudah tau kalau dia teman kamu?"
"Awalnya aku tidak tau! begitu dia muncul, aku juga kaget. Dan dialah yang dulu menjauhkan aku dengan Margareth!"
"Kenapa begitu?"
"Entahlah, katanya dia tidak suka dengan sikap Margareth." jawab Michael seadanya. " Dan mungkin saja ada hal lain yang di sembunyikan Reno, yang aku tak tau."
"Jadi sebenarnya dulu kamu pernah jatuh cinta, sebelum kamu bilang cinta padaku waktu di rumah Papa?" hardik Chania dengan ekspresi wajah yang mulai tidak baik - baik saja.
Wajah Michael terlihat salah tingkah, bibirnya tampak mengulum senyum. Ingin menjawab iya, tapi ekspresi wajah istrinya cukup mencekam. Menjawab bohong, ia yakin wanitanya tidak mungkin percaya. Lagi pula dulu pun ia tak yakin, benar bisa di sebut jatuh cinta atau tidak.
"Jawaaab!" desis Chania dengan gigi yang mengerat dan mencubit perut suaminya.
Bukannya merasa sakit, Michael justru terkekeh gemas.
__ADS_1
"Sedikit!" jawab Michael menyipitkan mata, serta ibu jari dan telunjuk yang mendekat. "Dan aku pun tak yakin itu adalah cinta."
"Sedikit atau banyak, tetap saja artinya sama! kamu pernah mencintainya!" dengkus Chania dengan bibir yang mengerucut. Menghentakkan punggung pada sandaran tempat tidur, menyilangkan tangan di depan dada. Di dalam sana, sudah mulai sedikit terbakar.
Michael tersenyum miring, semakin gemas dengan tingkah istrinya. Ia miringkan tubuh dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.
"Kamu cemburu?" tanya Michael mengusap pipi istrinya dengan ibu jari.
"Hah! siapa yang cemburu." tertawa sumbang.
"Terus, kenapa jadi begini?"
"Apanya yang begini?" Chania melirik jengah pada suaminya.
"Aku tau apa yang ada di dalam sini, Baby!" ucap Michael menunjuk dada Chania
"Jangan sok tau!" menepis tangan Michael yang menyentuh dada bagian atas.
"Hampir setahun kau dengan ku, tentu aku tau seperti apa dirimu, Baby..." goda Michael mencubit gemas dagu Chania.
"Haha!" tertawa sumbang. "Kamu lupa? kamu sudah melewatkan waktu kita selama 4 bulan, Honey..." balas Chania sinis.
"Haah!" menghela nafas berat. "Yaa .. itulah bodohnya aku!" lirih Michael.
***
Sejak kehadiran Chania dan Michael di kamarnya, ia hanya terus berfikir dan melamun. Sesekali melirik buku diary usang yang ia biarkan begitu saja di atas meja sofa.
Ingin membaca, namun dalam hati ragu. Ia takut akan banyak kenyataan - kenyataan yang lebih menyakitkan dari yang ia alami di sepanjang hidupnya.
Tapi malam ini hatinya tersentuh. Ia berjalan mendekati meja, ia menatap nanar pada buku usang itu. Jemari lentik teranyun untuk mengusap sampulnya. Lama - kelamaan akhirnya ia ambil buku usang itu.
Membawanya duduk, dan mulai membuka halaman yang sama. Seperti saudara kembarnya, Chania. Ia pun merasakan hal sama.
Sepasang bola mata terus bergerak ke kanan dan ke kiri untuk membaca setiap kata yang tertulis. Sesekali tangan kanan bergerak untuk membuka halaman selanjutnya.
Beberapa kali ia tampak memejamkan matanya, dengan di iringi nafas berat yang terhembus dari hidung kecil nan mancung.
Sesekali ia meletakkan buku itu di dada. Seolah memeluk seseorang yang sudah lama ia rindukan.
Waktu terus berjalan, detik berganti menit, menit berganti jam. Jarum hitam kecil terus berjalan. Tanpa terasa semalam suntuk ia habiskan untuk membaca buku yang di tinggalkan Chania.
Hingga sampailah ia di halaman terakhir. Ia tutup buku itu dan memeluknya di dada. Dan saat itu juga air bening menetes dari kedua pelupuk matanya.
__ADS_1
"Mama... Papa..." lirihnya di tengah isakan.
Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dada. Ingin berteriak tapi untuk apa. Ingin menangis tapi keduanya sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Menyisakan dirinya yang bahkan tidak pernah bertemu dengan sang Mama. Wanita yang melahirkan dirinya.
Juga meninggalkan saudara kembarnya, Chania Arlington. Yang tak pernah bertemu dengan Papa kandungnya.
"Apa harus kembali ke Italia?" tanya Sania setelah tangisan sedikit berkurang. "Tapi, apa aku bisa berada di sekitar mereka? sepertinya Michael Xavier bukan sembarang konglomerat."
Tak bisa berfikir, akhirnya Sania menjatuhkan tubuh di tempat tidur. Menatap langit - langit kamar. Setelah mendapatkan keputusan, akhirnya sepasang mata lentik terpejam dengan sendirinya.
Meninggalkan hiruk pikuk dunia yang menurutnya tak pernah sesuai harapan.
***
Di belahan negara lain, wanita yang terkenal kejam tengah mengancam seorang pengacara untuk segera menyerahkan seluruh harta warisan atas nama dirinya dan kedua putrinya.
"Belum saatnya surat itu di bacakan, Nyonya!"
"Menunggu apalagi kau, hah!"
"Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan." jawab sang pengacara.
"Dasar pengacara brengsek!" umpat wanita yang tak lain adalah Deborah.
Di belakangnya ada beberapa bodyguard yang mengancam sang pengacara menggunakan senjata. Namun pengacara itu tak bergeming. Tak ada sedikitpun rasa takut untuk melawan wanita di hadapannya.
"Ini sudah tengah malam, Nyonya. Sebaiknya Nyonya beserta anak buah Nyonya segera pergi meninggalkan kantor saya." usirnya pelan.
"Kau belum tau siapa aku!" desis Deborah.
"Saya tau siapa anda, Nyonya. Dan jika saya mati karena pembunuhan sebelum surat wasiat itu di bacakan, maka dapat di pastikan jika seluruh harta warisan Smith Arlington akan jatuh ke tangan Frederick Sebastian!"
"Wasiat gila!" umpat Deborah. "Tidak masuk akal!"
Sang pengacara hanya tersenyum tipis. Ia yakin wanita di depannya pasti kalah telak dengan surat wasiat Smith Arlington.
"Fvck you!" umpat Deborah mengakhiri ancaman malam itu. Ia melangkah meninggalkan ruangan yang ia rasa seperti neraka.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1