
Istana Michael tampak ramai karena kehadiran tamu yang tak asing, namun lama tak jumpa. Ya, Virginia Brown.
"Sebenarnya Aunty masih tidak menyangka kalian kuliah di tempat sama..." ujar Chania pada Virginia yang duduk di samping Jia. "Greta tidak pernah cerita tentang kamu..."
Sementara Jio ada di sofa lain yang berhadapan dengan Virginia.
"Virginia juga tidak pernah tau, kalau Jio dan Jia ada di sana..." jawab Virginia tersenyum pada Chania yang duduk di sofa sebelahnya bersama Michael.
"Bagaimana kabar Papa mu, Irgee?" sahut Michael menyapa Virginia. Hanya basa - basi karena sebenarnya ia pun tau, seperti apa sepak terjang Irgee Brown.
"Kabar Papa baik, Uncle!"
Wajah Michael tetap datar, yang ia lihat sedari tadi bukanlah Virginia sebagai tamu yang ia tanyai, melainkan ekspresi putra sulungnya. Ia tau apa yang di rasakan sang putra mahkota. Ia tahu ada bahagia pada pemuda yang kaki kirinya terdapat perban bekas peluru. Juga ada beberapa perban lain di pundaknya.
Selain itu ia juga bangga karena sang putra menuntaskan satu klan musuh tanpa dirinya. Ia tau, kelak Jio akan tumbuh lebih hebat di banding dirinya.
"Ini sudah malam... Tadi Aunty menghubungi Mama mu dan bilang kalau kamu di rumah kami. Bagaimana kalau menginap saja di sini?" tanya Chania.
"Em, tidak Aunty! Nia pulang saja!" jawab Virginia gugup.
Menginap di istana Michael? Sepertinya akan sangat menyenangkan karena bisa bertemu Jio. Tapi... sepertinya itu sangat tidak pantas untuk anak perempuan menginap di rumah laki - laki.
"Baiklah, biar di antar Xiaoli saja!" sahut Jia ikut bicara.
"Xiaoli?" tanya Virginia tak mengenal nama itu.
"Bodyguard yang tadi bersama ku!"
"Ohh...." Virginia mengangguk.
"Aku akan ikut!" sahut Jio.
"Kak Jio!" seru Jia tak terima sang Kakak yang sedang terluka justru mencoba ikut mengantar Virginia.
"Nia tidak bisa pulang sendiri. Itu terlalu berbahaya!" jawab Jio memberi penjelasan. "Kamu tau sendiri apa yang kita alami hari ini!" omel Jio.
"Jangan ragukan Xiaoli! Dia sangat hebat! Bukankah Kakak melihat sendiri tadi, bagaimana Xiaoli menghabisi 5 musuh hanya dalam waktu 5 menit!" jawab Jia keukeh tak ingin sang Kakak meninggalkan rumah dalam keadaan terluka.
Meskipun sebenarnya luka itu sama sekali tak membuat Jio kesakitan ataupun pincang.
"Siapapun itu, aku tetap harus ikut!"
"Tidak bisa! Kalau ragu, biar aku yang membawa mobil Virginia!"
Sontak Michael menoleh pada putri semata wayangnya, "memangnya kmu bisa bawa mobil?" tanya Michael penuh selidik.
"Hehehe... Tidak, Daddy!" jawab Jia nyengir.
__ADS_1
Michael dan Chania merasa lega, mereka sempat berfikir jika diam - diam Jia mencuri kesempatan untuk belajar membawa mobil sendiri. Tanpa izin dari sang Daddy.
"Tapi, Daddy! Virginia saja boleh bawa mobil sendiri ke kampus! Masak Jia tidak!" Jia mengerucutkan bibirnya. "Bolehlah, Mommy..." rengeknya pada sang Ibu.
Michael melirik Jia dengan penuh tanda tanya. Antara mengizinkan atau tidak. Mengingat anak muda memang banyak maunya. Termasuk dirinya.
"Untuk apa kamu belajar mengemudi?" sahut Jio. "Sudah banyak bodyguard di rumah ini yang siap mengantarmu kemana saja!"
"Tentu saja supaya bisa! Biar seperti anak gadis yang lain! Virginia contohnya!"
Jio dan Michael saling lirik, seolah berunding boleh atau tidak, namun hanya mata dua lelaki dengan posisi tertinggi itu saja yang bicara. Anggukan Jio ternyata sangat berpengaruh pada keputusan Michael.
Selain itu bisikan Nyonya besar juga sangat mempengaruhi mood sang Tuan Besar.
"Biarlah, Honey! Toh aku sendiri saat muda bisa bawa mobil! Meskipun sudah 20 tahun tidak pernah lagi mencobanya..." bisik Chania lirih di telinga suaminya.
Michael melirik istrinya, "Baiklah, minta Xiaoli mengajarimu!" ujar Michael menoleh putrinya.
"Yeay!" seru Jia segera berdiri dari sofa dan melompat memeluk Daddy nya. "Thank you, Daddy!" Jia mencium pipi Michael dengan suka cita.
"Yaa..." jawab Michael mengusap punggung Jia yang duduk di antara Michael dan Chania.
"Thank you, Mommy!" Jia berganti mencium pipi Mommy kesayangannya.
Sementara Jio dan Virginia saling bersilang tatap. Dua sahabat yang sulit di jelaskan itu hanya bisa diam dan bicara melalui sorot mata.
Akhirnya malam itu Virginia pulang dengan di antar oleh Xiaoli dan salah satu bodyguard Michael lainnya.
Dua hari kemudian, Jio sudah melepas semua perban yang menempel di tubuhnya. Rasanya ia tidak bisa menjadi diri sendiri, selama ada benda putih itu menempel di tubuhnya.
Hari itu, seperti sebelumnya, ia akan untuk membawa sendiri mobilnya ke kampus. Tanpa perlu di antar siapa pun. Meskipun harus mengeluarkan jurus rayuan maut untuk mendapat izin dari sang Bunda.
Toh satu - satunya musuh dari China yang selama ini mengusik keluarganya telah tewas di tangannya sendiri. Begitu juga dengan para bawahan musuh. Tak akan ada yang mengusiknya, entah sampai kapan. Karena musuh bisa datang kapan saja. Dengan berbagai cara licik mereka.
Seperti yang semula di kira sebagai incaran musuh adalah Jia. Tapi ternyata Virginia yang menjadi sasaran. Meskipun sempat gagal melindungi sang wanita, setidaknya Jio tidak gagal menyelamatkan nyawanya.
Tujuannya ke kampus hari ini salah satunya adalah untuk menemui para Mahasiswi yang bekerja sama dengan Lussio.
Data tiga orang sudah ia kantongi. Itulah enaknya menjadi seorang Hacker. Ia bisa dengan mudah menemukan apa yang ia cari secara virtual.
Bugatti berwarna biru melaju dengan kecepatan tinggi. Bugatti memang di desain untuk melaju dengan kecepatan di atas rata - rata, bukan? Maka itulah yang di lakukan Jio.
Setelah dua hari tak mendapat izin dari Mommy Chania untuk meninggalkan rumah, maka hari ini menjadi kesempatan untuknya mencari kaki terakhir suruhan Lussio. Ia tak ingin lagi terkecoh oleh musuh.
Langkah tegak berderap di sepanjang koridor kampus. Menghiraukan sapaan beberapa Mahasiswa yang mulai mengenalnya. Meskipun Jio sendiri sama sekali tidak mengenal mereka semua.
Langkah Jio semakin cepat dan dingin saat memasuki Fakultas Art & Desain. Jio melintasi beberapa gerombolan Mahasiswi yang melihatnya tanpa berkedip. Namun sama sekali tak membuat sang Tuan Muda Xavier menoleh mereka. Tujuannya hanya satu menemukan mereka - mereka melalui sinyak ponsel mereka.
__ADS_1
Langkah kaki berhenti tepat di mana dua Mahasiswi dan seorang Mahasiswa tengah berdiskusi serius di belakang tangga. Ya, sinyal menunjukkan di sanalah para kaki musuh berada.
Entah apa yang sedang di bicarakan tiga Mahasiswa itu. Saat salah satu dari mereka melihat kehadiran Jio, sontak yang lain menoleh dan kompak untuk diam dengan mata mendelik melihat wajah Jio yang nyaris seperti iblis.
"A..a..ada apa?" tanya seorang Mahasiswi berambut hitam.
Tanpa menjawab pertanyaan Mahasiswi itu, Jio menarik kerah baju laki - laki dan menyeretnya kasar keluar dari Fakultas melalui pintu belakang.
"David!" panggil dua Mahasiswi bersamaan.
Melihat temannya yang di panggil David itu di bawa keluar, reflek keduanya mengikuti langkah Jio yang menyeret David. Mahasiswa bernama David itu mengikuti langkah Jio dengan tertatih - tatih.
Bagaimana tidak, langkah Jio sangat lebar. Hingga saat melewati jalan setapak menuju area belakang kampus, David harus berulang kali terjatuh. Namun ia harus bangkit dengan cepat jika tak ingin terluka oleh goresan aspal.
Aksi Jio cukup menarik perhatian beberapa Mahasiswa lain yang ada di area belakang taman. Beberapa mencoba mendekat, namun tak sedikit pula yang memilih untuk bisik - bisik di tempat.
"Berapa Lussio membayar mu, hah!" ujar Jio melempar tubuh David hingga jatuh dua meter di depannya.
David terperangah, ia sama sekali tak menduga jika Jio berhasil mengalahkan kelompok Mafia asal China itu.
"Ma..maksudnya? Aku tidak tau!"
Bugh!
"Jangan bohong!" seru Jio menendang rahang David menggunakan sepatu mahal yang membalut kakinya.
"Akh!" pekik David kesakitan.
"Jio! Jio! Kami tidak mengenal nama itu!" sahut gadis berambut pirang di belakang Jio. Ia mencoba untuk menyelamatkan temannya yang bibirnya seketika berdarah hanya dengan satu tendangan Jio saja.
Semakin panaslah telinga Jio mendengar apa yang di ucapkan Mahasiswi di belakangnya. Cepat ia menoleh dan merengsakkan satu tangannya tepat di leher gadis itu.
"Aku tidak suka berurusan dengan perempuan!" desis Jio dengan gigi yang mengerat. "Tapi perempuan berdarah ular seperti kalian, layak untuk aku kirim menyusul Lussio!"
"Akkhh!" gadis pirang itu memegangi pergelangan tangan Jio yang mencengkeram lehernya erat. Nafasnya hampir habis, namun Jio seolah tak memberinya ampun.
"Lepas!" gadis berambut hitam mencoba menarik tangan Jio dari leher temannya.
Namun sudah bisa di baca, pastilah gagal!
Bukannya melepaskan kini Jio justru mencengkeram leher si rambut hitam menggunakan tangan kirinya. Dua leher Mahasiswi ada di genggaman seornag Jio.
"To...to..." gagap dua Mahasiswi yang sebelumnya menghajar Virginia di dalam toilet.
"Lepas!" seru David. Ia meraih batu di atas tanah taman, kemudian berdiri dari duduknya. Mengangkat batu itu ke udara dan mengarahkan ke kepala Jio yang membelakanginya.
Dan ....
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...
✍️ 1344 kata untuk hari ini... 🤩