SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 214


__ADS_3

Di pantai yang luas, dimana debur ombak menghasilkan suara syahdu tersendiri, dan suasana pantai semakin cantik oleh taburan bintang yang berkelap - kelip di langit malam yang cerah. Dimana rembulan sedang terang benderang menyinari Bumi di salah satu sisi langit, tanpa tertutup awan pekat sama sekali.


Cahayanya yang indah memantul dari wajah cantik dan tampan yang menjadi satu - satunya pasangan yang mengunjungi pantai.


Sebagai anak orang terkaya d kota Roma, tentu sang pemuda bisa melakukan apapun yang ia mau. Termasuk menggunakan uang untuk  membuat pantai yang ramai pengunjung, menjadi pantai pribadi sampai fajar tiba.


Seorang gadis tengah mengutarakan apa yang ia rasakan selama bertahun - tahun. Tapi tak pernah berani mengungkapkan pada siapapun juga. Apalagi pada pemuda yang baru saja mendekap tubuhnya dari belakang.


"Dulu.... Setiap kali ada prom night di sekolah, aku selalu membayangkan akan datang bersama mu... Berdansa bersama mu, hanya denganmu, Jio. Seperti teman - teman yang berdansa dengan pasangan pilihan mereka masing - masing." ucap Virginia mengenang dua kali prom night yang sudah ia lalui seorang diri.


Yakni saat Junior High School dan saat Senior High School. Momen perpisahan dimana biasa di penihi oleh pasangan muda - mudi. Entah itu sebagai sepasang kekasih, gebetan atau sebagai sahabat lawan jenis yang paling dekat. Seperti dua pasang yang saat ini sama - sama dilema.


"Aku selalu menolak setiap ada yang mengajakku untuk datang bersama," ucap Virginia dengan suara yang bergetar. "Aku lebih memiih untuk duduk di bangku meja bar, atau sofa, bersama mereka yang juga datang seorang diri. Meski tak banyak yang datang sendiri, setidaknya aku ada teman."


"Tapi dalam angan sepanjang acara berlangsung, aku hanya membayangkan bisa turun ke lantai dansa bersama mu, memakai kostum yang serasi... Dan bergerak beriringan seperti pasangan yang lain." kenang Virginia dengan senyuma lirih yang pilu. "Aku selalu berandai - andai, kita pasti akan sangat bahagia, jika bisa datang ke prom night bersama."


Setitik air mata kembali jatuh begitu saja di pipi sang gadis jelita. Memori kembali berputar, di mana selama tujuh tahun ia menjalani hari - hari yang sepi dan begitu - begitu saja. Serasa tak bisa memiliki teman dekat lagi setelah kepergian Jio.


"Maafkan aku, Jio... aku tidak bisa lagi mengartikan siapa dirimu bagiku... Yang jelas, sejak pertama kita bertemu dan bersahabat, aku tak pernah lagi menemukan sahabat seperti kamu." ucap Nona muda Brown.


"Aku hanya merasa bahagia jika kamu bahagia. Bukankah harus begitu yang namanya... sahabat." ucapnya lirih dengan mata terpejam saat menyebut sebutan yang sama sekali tak ia inginkan, sembari mengusap setitik air mata yang sempat jatuh di pipinya.


Menarik nafas panjang, Virginia menguatkan hatinya untuk kembali berucap. Tentang sesuatu yang juga sangat ingin ia ketahui. Apalagi jika bukan tentang perasaan Jio padanya.


"Lalu apa artinya diriku bagimu, Jio?" tanya Virginia balik, melirik ke belakang, dimana sang pemuda masih berdiri dengan menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Seperti apa kamu mengartikan kedekatan kita?"


Jio, pemuda dengan IQ 160 itu seolah membeku. Mendengar jawaban Virginia sekaligus di tanya balik membuatnya seperti mati kutu. Apalagi saat mendengar sebutan sahabat yang di lontarkan Virginia. Ia pun tak suka dengan sebutan itu.


Namun saat ingat jika ada air mata yang keluar dari sepasang mata lentik Virginia, Jio tak sanggup lagi menahan apa yang sudah ingin meledak di dalm dadanya. Sesuatu yang sudah ia tahan selama bertahun - tahun lamanya.


Ia tau apa yang di rasakan olehnya dan di rasakan oleh Virginia sebenarnya adalah sama. Hanya saja lidahnya masih kilu oleh ketidak biasaan.


Bukannya menjawab, Jio justru membalikkan badanya, membelakangi pantai. Kemudian berjalan meninggalkan Virginia seorang diri di tepi pantai dengan langkah dingin sng Tuan muda.


Jio melangkah dan terus melangkah, tanpa menoleh kembali ke belakang. Dimana Virginia pada akhirnya justru membeku di tepi pantai.

__ADS_1


Sadar jika Jio justru pergi meninggalkan dirinya seorang diri, seketika tangis Virginia pecah tak lagi tertahankan. Bukan akhir seperti itu yang ia inginkan.


Sama seperti Jio, ia pun juga ingin tau seperti apa perasaan Jio padanya. Tujuh tahun menunggu, dan setelah bertemu kembali hampir setiap hari selalu bersama. Tapi kenapa tidak ada hubungan yang lebih jelas dan nyata di antara keduanya.


Hanya sebuah status sahabat yang seolah tak bisa tergeserkan oleh apapun. Menyadari diri yang seolah tak di anggap penting oleh sang pemuda, Virginia menyesal sudah mengatakan semua yang ia pendam pada sang pemuda.


Virginia menangis sesenggukan. Menjatuhkan semua luka dan kecewa yang ia rasakan dalam bentuk butiran air mata yang di sertai isakan kecil yang berangsur menjadi isakan yang lebih keras.


Tapi suara isakan pilunya itu di telan mentah - mentah oleh suara deburan ombak. Sehingga ia tak perlu khawatir Jio dapat mendengarnya. Karena baginya, laki - laki itu tak perlu tau jika ia menangis di tepi pantai sunyi yang di ciptakan Jio.


Namun kali ini, gadis itu benar - benar merasa menjadi gadis bodoh yang seolah baru saja menyatakan cinta pada seseorang. Lalu kemudian di tolak mentah - mentah oleh sang pemuda yang di dambakan.


Gadis mana yang tak malu, saat merasakan hal itu? Seolah tak ada laki - laki lain saja! Sampai harus menyatakan cinta terlebih dahulu.


Tapi satu yang membuatnya selamat dari gadis malang. Ia sama sekali tak menyatakan cinta. Kalimat cinta yang tertulis hanyalah perumpamaan.


Ia hany menyampaikan jika ia menunggu Jio, dengan dali tak bisa lagi menemukan seorang sahabat yang sama seperti Jio. Yang setulus Jio padanya.


Di saat semua kesedihan sang Nona muda Brown, pantai yang semula hanya di terangi oleh beberapa lampu di bagian - bagian tertentu, tiba - tiba berubah menjadi terang benderang.


Virginia yang masih menghadap ke arah pantai di buat mengerutkan kening. Heran dengan cahaya yang berpendar. Padahal sebelumnya pantai hanya di dominasi cahaya suci dari langit. Tapi kini....


"Kenapa jadi terang begini?" gumamnya menatap ombak yang kini terlihat jelas, dan menyentuk ujung - ujung jemari kakinya.


Pelan - pelan, Virginia menoleh ke arah kiri. Sepanjang pantai pun sama. Semua menjadi terang benderang. Jauh berbeda dengan sebelumnya.


Segera ia usap air mata yang membanjiri pipinya. Isakan yang semula terasa poli, berangsur berkurang bahkan menghilang.


Virginia segera menoleh ke belakang, dan terbelalak lah sepasang mata sang Nona muda Brown. Bahkan mulut yang semula tertutup rapat kini menganga tak percaya.


Bagaimana tidak, bohlam lampu dengan warna yang sama membentuk sebuah simbol singkat yang artinya sangat jelas.


Tapi siapa yang menyiapkan semua itu?


Sepasang mata segera mencari target. Satu - satu yang bisa melakukan semua hanyalah Jio, selaku penyewa pantai. Tapi di mana pemuda itu?

__ADS_1


Sampai semua lampu menyala dengan indahnya, Jio belum juga terlihat muncul.


Sepasang mata yang basah, terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Menyusuri setiap inchi dari bagian taman. Namun sang pemuda tampan belum juga terlihat.


Dari posisi ia kini berdiri, Virginia tak melihat satu orang pun. Seolah hanya dirinya seorang yang berada di sana. Dan tak ada makhluk lain pun yang ikut bersamanya.


"Jio?" panggil Virginia lirih, berharap sahabat tercintanya itu segera muncul, entah dari sisi mana saja. Yang terpenting lelaki itu harus muncul. Sebelum ia takut karena sepi yang luar biasa.


Dan suasana sunyi seketika berubah, saat tiba - tiba suara deru nafas seseorang terdengar dari arah belakangnya. Bahkan hembusannya sampai ke atas kepalanya dengan sangat hangat


Segera Virginia menoleh ke belakang dengan dada yang kembang - kempis. Wajah pun terlihat sangat tegang saat melihat sepasang bola mata yang menatapnya dengan sendu.


"Jio!" pekik Virginia dengan nafas yang tak beraturan.


Wajah tampan Jio terlihat begitu dingin membeku. Ada apa gerangan dengan sang pemuda?


Tidak mungkin jika bukan Jio yang menyiapkan lampu - lampu itu. Tapi kenapa Jio seperti patung manusia yang bisa bernafas.


Dan pertanyaan yang paling membuatnya penasaran adalah, sejak kapan Jio ada di belakangnya?


***


Kembali pada suasa di Istana Xavier yang malam itu di tinggalkan sang putra mahkota untuk menepati sebuah janji pada seorang gadis.


Jia terbaring di atas tempat tidurnya. Sebuah topeng yang ia dapat dari dalam box undangan kini ada di tangan kirinya. Ia putar di atas wajahnya yang menghadap langit - langit kamar.


Ia tak pernah menghadiri pesta sebelum ini. Ia bingung harus berpakaian seperti apa. Sementara dori terbiasa dengan baku casual yang nyaman untuk bertarung dan kuliah saja.


Tak pernah sekalipun dress cantik ala anak muda menempel di tubuhnya yang tangguh.


"Apa yang harus aku pakai untuk ke pesta?" gumamnya bingung.


"Apa aku serahkan saja pada Mommy?" gumamnya lagi. "Toh, Mommy jauh lebih feminim dari aku!" lanjutnya mengangkat kedua alisnya.


"Sepetinya tidak ada ide lain selain meminta bantuan Mommy!"

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2