SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 38


__ADS_3

Di lakukan penjagaan ketat saat pelaksanaan prosesi pernikahan berlangsung. Dengan semua yang serba mendadak, tak membuat para anak buah bekerja sembarangan. Semua harus sempurna.


Sebuah gereja kecil di ujung kota di pilih sebagai lokasi pemberkatan. Karena di anggap sebagai tempat paling aman untuk seorang Mafia seperti Michael Xavier melangsungkan pernikahan rahasia.


Hanya ada pendeta, Chania, Michael, Jack, Dimitri dan dua saksi yang di ambil dari anak buah di markas saja yang berada di dalam. Dan di tambah dua perempuan kepercayaan yang di seleksi langsung oleh Jack.


' Ma, aku putra mu tengah berada di salah satu gereja negeri ini. Bersiap menikahi seorang gadis muda. Entah Mama akan menyukainya atau tidak. Mungkin Mama akan membenciku jika tau semua ini. Mama aku menyayangi mu dan maafkan aku, Pa! '


Ucap Michael dalam hati, saat menunggu Chania yang berjalan di atas altar untuk sampai padanya yang berdiri bersama pendeta.


Beberapa pengawal yang sudah di bungkam mulutnya berjaga di luar demi pengamanan yang maksimal.


Permintaan Michael sempat mengejutkan sang pendeta, namun nyatanya Chania dan Michael kini sudah saling berhadapan untuk mengikat janji suci.


Michael dengan tuxedo hitam kemeja putih yang membuatnya semakin tampan dan gagah. Mata Chania sampai tak berkedip saat melihat calon suaminya.


Chania sendiri dengan gaun putih menjuntai, dengan rambut di hias rapi dan sebuah mahkota kecil di kepalanya. Di tambah riasan tipis.


Semua terkesan simpel, gaun dan tuxedo di pesan mendadak oleh Jack dan teamnya, karena sebenarnya hanya sebagai simbolis saja. Agar terkesan sedikit istimewa untuk Chania yang sangat memimpikan sebuah pernikahan sakral.


Michael dan Chania saling berpegangan tangan di depan pendeta. Saling menatap mata satu sama lain. Pendeta pun mempersilahkan keduanya untuk saling mengucap janji suci.


" Di hadapan Tuhan, Imam dan para saksi saya Michael Xavier Sebastian, Mengambil engkau Chania Renata, untuk menjadi istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang dan selama - lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. "


Kalimat balasan pun keluar dari bibir Chania dengan air mata yang menganak sungai. Ia begitu terharu dengan kata demi kata yang keluar dari bibir Michael. Seolah semua adalah tulus. Meskipun kenyataannya tak seindah itu.


Prosesi suci itu di akhiri dengan sebuah ciuman yang romantis di depan altar. Di hadapan para pendeta dan para saksi.


' Semoga ini adalah awal dari cinta Tuan muda Xavier! '


Ucap Jack dalam hati.


' Jika Tuan muda bersedia melakukan semua ini, aku yakin ada setitik ketulusan di dalam hatinya. Semoga ini awal yang baik! '


Batin Dimitri penuh ketulusan.


Semuanya bertepuk tangan, berharap Tuan mudanya yang dingin setengah iblis itu memulai kehidupan yanga baru.


Senyuman tipis terbit dari para pria berhati iblis yang di tutupi dengan raut wajah yang tampan itu. Hanya Chania yang tersenyum dengan tulus dan cerah. Secerah hatinya sekarang.

__ADS_1


Sedang dua perempuan bayaran tersenyum tanpa diketahui itu tulus atau tidak. Yang jelas mereka terlihat iri dengan Chania yang di nikahi seorang pria tampan dan kaya raya.


***


Beberapa saat berlalu, Michael dan Chania sudah kembali berada di dalam limousine. Kembali dengan pakaian semula saat mereka mendatangi pengadilan agama dan berlanjut ke gereja akhirnya mereka sah menjadi suami istri.


Hari sudah melewati sore, dimana Matahari sudah menunjukkan warna khas miliknya di kala senja. Chania tak hentinya tersenyum, dengan melingkarkan tangannya di lengan Michael.


"Michael, jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, kau mau tidak melunasi hutangku?" tanya Chania. "Setidaknya agar aku tetap hidup!"


"Memangnya siapa yang akan membunuhmu?" tanya Michael.


"Jika aku tidak mampu membayar tiga milyar saat mereka menagih, maka aku akan menyerahkan nyawaku sebagai ganti. Toh jika saat itu tiba, kamu juga belum bisa mencintai ku, kan?" Chania melirik Michael yang saat ini menjadi pendengar yang baik untuknya. "Jadi tidak akan ada yang menangisi ku jika aku mati. Lagi pula aku tak punya saudara! paman atau bibi pun aku tak pernah tau!" lanjut Chania dengan wajah melasnya.


Michael melirik Chania dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada sesuatu yang sangat sulit untuk keluar dari bibirnya. Sebuah kata beserta penjelasannya. Yang entah, sampai kapan akan tertahan di lidahnya.


Namun satu, ketika Chania mengatakan bahwa tak akan ada yang menangisinya saat ia mati, maka tersentilah hati Michael. Seolah taj menerimanya.


Akhirnya Michael hanya bisa diam membuang pandangan, dan siap mendengar setiap kata yang akan di ucapkan oleh Chania.


Pria bengis generasi ke empat seorang Mafia itu pada akhirnya bisa diam tanpa memberontak oleh seorang wanita.


"Hm?" Michael kembali melirik Chania.


"Boleh tidak selama sisa kontrak kau berpura mencintaiku?" tanya Chania ragu, sedangkan Michael seketika mengerutkan keningnya.


"Maksud ku saat kita sedang berdua, bisa tidak kamu memperlakukan aku seperti istri kamu sesungguhnya?" jelas Chania lebih detail.


Michael menghembuskan nafas sepenuh dadanya. Membuah rasa yang tiba - tiba membuatnya gelisah. Namun detik berikutnya ia menatap dalam mata Chania. Dan sebuah anggukkan pelan beserta senyumnya terbit dari wajah tampannya.


"Thank you, Michael suamiku!" seru Chania mengecup singkat pipi Michael.


Michael tertegun ketika Chania menyebutnya suamiku. Sebuah panggilan yang tak pernah muncul di dalam benaknya. Pikirannya seketika berputar - putar dengan panggilan itu. Hatinya menghangat. Telinganya begitu sejuk saat mendengar satu kata yang sangat asing baginya.


"Emmm... Michael?" panggil Chania lagi, saat gelap mulai menyapa perjalanan mereka kembali ke rumah utama Michael.


"Hm?"


"Boleh kita makan malam romantis untuk malam ini?" tanya Chania. "Please! untuk istrimu pertama kali!"

__ADS_1


Michael tampak diam sejenak mendengar kata istrimu. Benarkah dunia sedang berputar? sehingga pria seperti dirinya bsa memiliki seorang istri?


Ia segera memberi kode pada Jack untuk menyiapkan keinginan istrinya. Melupakan sebutan - sebutan yang membuat hatinya bergetar.


Apakah memang benar ada getaran cinta untuk seorang Chania?


Satu - satu nya gadis yang bisa membuatnya mendatangi pengadilan agama dan gereja untuk suatu ikatan yang tak pernah sekalipun masuk ke dalam otaknya.


Hingga sampailah mereka di sebuah restauran bergaya klasik romantis. Michael menyewa satu lantai hanya untuk dirinya dan Chania. Sebuah meja dengan dua kursi berada di dekat pagar lantai dua.


Dekorasi sederhana namun menggambarkan keromantisan, membuat mata Chania enggan berkedip. Gelap malam, di padu dengan lampu indah menawan, menunjukkan kekuasaan sang malam.


Seorang pemain biola berdiri di dekat meja dengan sebuah lilin di bagian tengah untuk menyambut keduanya. Chania yang begitu bahagia membawa Michael untuk berdansa romantis dengannya.


' Dunia serasa milikku malam ini! thanks, God! '


Ucap Chania dalam hati.


Michael menatap dalam sepasang mata Chania yang berbinar. Ada perasaan puas di hatinya, bisa membuat Chania tersenyum.


' Istriku? '


Batin Michael bergetar setiap kata - kata asing itu keluar dari benaknya.


"Mau makan malam sekarang?" tanya Chania, yang masih mengalungkan kedua tangan di leher Michael.


"Hem... aku sudah lapar!" jawab Michael santai.


Baiklah, suamiku! ayo kita makan!" bisik Chania yang tak mau pemain biola mendengarnya menyebut Michael dengan sebutan suami.


"Pergilah!" perintah Michael pada pemain biola itu.


Segera saja pria dengan pakaian rapi itu meninggalkan lantai dua. Tanpa rasa penasaran pada siapa yang bersama sosol Michael Xavier.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2