SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 149


__ADS_3

Setelah berhasil membawa Maya keluar dari bangunan tua, Dimitri segera membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat. Untuk segera mendapatkan pertolongan.


Setengah jam sudah, Dimitri duduk di depan ruang operasi. Tiba - tiba Michael datang dengan mendorong Chania di kursi roda. Betis Chania tampak tertutup perban. Dimitri segera berdiri untuk menyambut kedatangan bos dan istrinya. Juga ada Jack yang selalu setia mengikuti kemanapun Tuannya pergi.


Ya, mereka baru keluar dari UGD untuk mendapatkan pengobatan. Menghentikan darah yang mengalir akibat goresan peluru.


"Bagaimana kabar Maya, Di?" tanya Chania.


"Belum ada kabar, Nyonya!" jawab Dimitri sopan. "Maya masih di dalam bersama dokter bedah!"


Chania mengangguk pelan. Paham jika operasi pengambilan peluru belum selesai.


"Ya iyalah dengan dokter! masak dengan mu!" bisik Jack menggoda sahabatnya.


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat di pundak Jack yang masih cekikikan.


Michael mengarahkan kursi roda mendekati kursi besi di samping Dimitri berdiri. Kemudian ia duduk di kursi, dengan mengarahkan kursi Chania untuk berhadapan dengannya.


Michael menunduk, memeriksa kaki istrinya. Meraba perban dengan rasa bersalah yang masih bergelayut di hatinya.


"Maafkan aku, Baby..." ucap Michael.


"Sudah ratusan kali aku mendengarnya, Sayaang..." gemas Chania menangkup wajah tampan suaminya. "Ini bukan salah mu, aku saja yang kurang hati - hati. Dan lagi, Selena melakukan semua ini karena dia benci padaku!"


"Dia benci karena kamu istriku, jadi semua adalah salah ku.." Michael meraih tangan Chania dan menciumnya dalam. Mencium jemari lentik yang terlepas darinya sejak kemarin pagi.


Chania tersenyum, "Meski begitu kamu selalu berhasil menemukan aku!" jawab Chania. "Bahkan kurang dari 24 jam!" lanjut Chania tersenyum bangga. "Kalau kamu tidak datang, entahlah apa yang akan terjadi pada aku dan Maya!"


Michael memejamkan matanya, dengan masih menangkup kedua tangan Chania di depan bibirnya.


Setengah jam berlalu, pintu ruang operasi terbuka. Sontak membuat semua berdiri kecuali Chania yang memang masih berada di kursi roda.


Brankar pasien di dorong oleh dua perawat. Maya terbaring di atasnya dan masih dalam keadaan sadar. Tapi tidak dengan bagian perut kebawah. Karena masih dalam pengaruh obat bius.


"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat!" ucap seorang perawat.


"Nyonyaa..." sapa Maya saat melihat Chania berada di kursi roda.


"Aku senang kamu baik - baik saja, Maya!" ucap Chania.


"Saya jauh lebih senang karena Nyonya terselamatkan.." balas Maya meraih tangan Chania yang terulur ke arahnya. Ia merasa bersalah karena tak bisa melindungi Nyonya nya tanpa lecet.


Maya sampai di ruang rawat VIP yang di tentukan oleh sang pemimpin Klan Black Hold, si Naga Hitam alias Michael Xavier.


"Dimitri, aku menugaskan kamu dan dua anak buah lainnya untuk menjaga Maya di sini. Aku dan yang lain harus kembali ke Roma setelah Chania bangun!" ucap Michael saat pagi mulai menyapa.


"Ya, Tuan!" jawab Dimitri mah tak mau. "Saya akan segera kembali, Maya pasti lekas pulih."

__ADS_1


"Hem..." jawab Michael.


***


Sayu - sayu, mata Chania terbuka. Matahari sudah menyapa kota Latina. Dimana semua masih berada di sana. Meninggalkan Jia dan Jio bersama nenek dan para baby sitter mereka, demi misi penyelamatan ibu mereka.


Darrel dan yang lainnya sudah kembali ke kota Roma, entah sejak kapan. Yang jelas Michael masih tinggal bersama Chania, Jack, Antonio dan Noel beserta anak buah mereka.


Dan kini saatnya mereka kembali. Rombongan sudah berada di dalam mobil masing - masing. Bersiap meninggalkan Maya dan Dimitri yang masih harus dalam perawatan intensive di rumah sakit Latina.


"Dimana Selena sekarang, Honey?" tanya Chania pada suaminya.


"Di tempat yang terbaik untuknya!" jawab Michael datar.


"Kamu tidak menyiksanya, kan?" tanya Chania khawatir.


"Aku bersamamu sepanjang waktu, Baby.. Bagaimana aku menyiksanya?"


"Mungkin saja kamu memerintahkan Andreas atau yang lain menyiksanya!"


Michael tersenyum miring, "Aku hanya memberi sedikit hukuman untuk dia!"


"Hukuman apa?" tanya Chania semakin penasaran. Mana mungkin suaminya memberi hukuman kecil yang tak berarti.


"Rahasia.." jawab Michael tersenyum jail.


"Ayolah... jangan buat aku mati penasaran!" rengek Chania.


"Honey!" kesal Chania.


"Baby!" balas Michael.


"Tch!" Chania berdecih kesal.


# # # # # #


Kembali pada pertemuan dua saudara seayah beda ibu. Ya, Selena dan Zico.


Selena dirundung rasa khawatir. Karena laki - laki yang ia anggap sebagai penyelamat ternyata bukanlah penyelamat yang sesungguhnya.


"Kau tau?" tanya Zico pada Selena yang wajahnya mulai pucat pasi. "Gara - gara pria itu berselingkuh dengan ibumu, ibuku jadi gila!" hentak Zico dengan gigi yang mengerat. Rasa benci yang entah sejak kapan, perlahan ia tunjukkan. "Aku membenci ibumu, termasuk pria itu! Karena perselingkuhan mereka, kau lahir! Dan bukan salah ku, jika aku juga membencimu!"


Selena menggelengkan kepalanya pelan. Tak menyangka ternyata Zico membencinya.


"Kalau kamu membenciku, kenapa kamu menyelamatkan aku dari anak buah Michael!"


Tersenyum sinis, "Karena aku dengar... Michael ingin menghabisi mu, mencabut nyawamu dengan keji! Sementara, selama ini aku belum pernah memberi kau dan ibumu hukuman!" jawab Zico enteng. "Tentu saja aku juga ingin memberimu hukuman!"


"Apa maksud mu?" tanya Selena. "Hukuman apa? dari mana kamu tau Michael ingin membunuhku dengan keji?"

__ADS_1


Selena semakin di buat bingung. Rasanya berhadapan dengan Zico jauh lebih seram dari pada berhadapan dengan Noel dan Andreas tadi.


"Hahahaha!" Zico tertawa ala devil. "Aku yang meminta Michael supaya dia memberiku kesempatan untuk menyiksamu pertama kali! bukan anak buahnya!" jawab Zico tersenyum penuh kemenangan.


"Kalian..." Selena tak sanggup lagi berkata - kata. Tak mungkin dunia sesempit ini. Ia seolah hanya berputar - putar pada satu tempat. Tanpa ada jalan keluar.


"Tentu kau tau jika aku berada di luar negeri! Aku di Amerika Serikat, sejak kuliah sampai detik ini!" jawab Zico dengan jelas. "Sedang aku dan Michael, kami bersahabat sejak kami Junior High School! dan sampai kami sama - sama di Amerika, Selena!" jawab Zico tersenyum culas.


"Ah..ya.. aku lupa memberi tahumu! Dulu Michael kuliah di Amerika, dan saat itu kau sudah menjadi patung di atas ranjang pasien! Michael sesekali menceritakan tentang dirimu, yang ku curigai sebagai adik tiri ku, yang lahir dari sebuah perselingkuhan menjijikkan!"


"Apa?" lirih Selena merasa terjebak.


Ia pikir, ia selamat dari derasnya air sungai, namun nyatanya ia justru masuk ke dalam lautan lepas. Tak ada penolong di sana. Hanya ada dirinya dan Zico. Ia bahkan yakin ibunya tak akan tau keberadaannya. Apalagi ponsel sengaja ia tinggal di rumah Frank. Mana mungkin orang bisa melacak keberadaanya. Karena tak ada yang tau jika Zico telah kembali ke Roma.


"Ini gila..." lirih Selena.


"Hahahaha!" tawa menggelegar Zico memenuhi ruangan. "Ini memang gila, Selena! lebih gila dari apa yang sudah kau rencanakan untuk istri Michael!" lanjut Zico sinis.


"Kau tau? aku kembali ke kota ini saat Michael memberi tahuku, jika kau!" menunjuk wajah Selena dengan dingin. "Dan pria tua itu!" menunjuk luar jendela, yang artinya mengarah pada Frank. "Menculik istrinya!" lanjut Zico takam. "Kau merencanakan hal gila untuk istri sahabatku!"


Selena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berharap semua ini hanyalah mimpi. Tapi apa, saat ia menampar pipinya sendiri, pipinya itu benar terasa sakit.


"Auh!" pekiknya.


"Hahah!" Zico tertawa mengejek. "Kau pikir kau sedang bermimpi?" tanya Zico mengerutkan keningnya. "This is real, Selena!" seru Zico dengan lantang.


"Tidak!" lirih Selena. "Kita memiliki darah yang sama! aku tidak salah atas perselingkuhan Papa dan Mommy! apa setega itu kamu padaku, Kak!"


"Secara tidak langsung, kau memang tidak bersalah. Tapi tetap saja, kehadiranmu di dunia ini membuatmu ibuku gila!" tegas Zico. "Sejak awal kehamilan ibumu, ibuku tau jika dia mengandung benih suaminya! pria tua brengsek itu!" seru Zico.


Zico benar - benar membenci Ayah kandungnya. Hal itulah yang membuat Frank tak mau bergantung pada putranya sendiri.


"Kau bahkan membenci Papa kita?" tanya Selena tak percaya.


Tersenyum sinis, "Apa dia pantas aku sayangi?" tanya Zico. "Dia hanya menginginkan harta ibuku!"


Selena menggelengkan kepalanya tak percaya. "Lalu di mana Papa sekarang? apa kamu tidak menolongnya?"


"Menolong pria itu?" tanya Zico. "Hahahaha!" tawa Zico kembali menggelegar untuk kesekian kalinya. "Aku bahkan ingin membunuhnya sejak lama, Selena... jadi untuk apa aku menolongnya?" tanya Zico remeh.


"Mungkin sekarang dia sudah mati kehabisan darah!" lanjutnya santai sembari menatap jendela dengan langit yang mulai terlihat. Dimana gelap mulai memudar.


"Kamu gila!" seru Selena.


Zico kembali menoleh tajam pada Selena, "Aku dan ibuku memang gila!" jawab Zico. "Itu semua karena kehadiran kau dan ibumu!" lanjutnya menatap benci.


"Lalu apa mau mu sekarang?" tanya Selena sudah tak bisa lagi menalar kebencian macam apa yang di tanam laki - laki di depannya itu.


"Pertanyaan bagus!" sahut Zico tersenyum penuh makna.

__ADS_1


...🪴 Happy reading 🪴...


__ADS_2