SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 48


__ADS_3

"Nyonya Xavier!" sebut Verra dingin, dokter kandungan yang menjadi konsultan saat pemilihan alat kontrasepsi yang tepat untuk Chania yang masih muda.


Melihat nada sapaan dokter Verra, Chania menjadi sedikit canggung. Jika saja ada tangan Michael yang bisa di genggam untuk saat ini, ia pasti merasa lebih tenang.


"I..iya, dok!" jawab Chania yang sudah duduk di depan meja dokter dengan jantung berdebar. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan. Kenapa raut wajah dokter cantik itu tidak bersahabat.


"Kenapa anda baru kembali?" tanya Verra dengan nada yang sama.


"Hah!" pekik Chania bingung. "Karena pil Kontrasepsi yang dokter berikan habis semalam." jawab Chania seadanya.


"Habis semalam?" tanya dokter mengulangi.


"I..iya!" jawab Chania dengan wajah yang tegang.


"Jika di lihat dari tanggal kehadiran anda terakhir, maka obat itu harusnya sudah habis sejak dua minggu yang lalu."


"A...Apa? maksudnya gimana dok?"


"Bisa di pastikan jika Nyonya Xavier sering lupa meminumnya!" jelas Verra sedikit ketus.


"Hah!" pekik Chania kebingungan.


"Jadi jangan salahkan saya, jika seandainya terjadi hal yang tidak anda inginkan."


"Maksudnya dok?" wajah Chania memanas, ia yakin yang di maksud dokter Verra adalah kehamilan. Namun ia tak sanggup membayangkan hal itu terjadi.


"Bisa saja saat ini Nyonya sedang hamil!" ujar Verra langsung pada intinya.


"Apa!" pekik Chania.


Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih kencang. Dia bisa saja sangat bahagia saat ini, karena memiliki benih pria yang sangat ia cintai. tapi Michael? apa pria itu akan menerimanya? Bagaimana jika Michael tau lalu mengusirnya?


"Kapan Nyonya terakhir kali datang bulan?"


Degh!


"Datang bulan!" pekik Chania yang merasa sudah lama tidak datang bulan. Kembali ia mengingat, sejak menikah hampir setiap hari mereka bercinta. Memadu kasih, menyatukan tubuh mereka tanpa ingat kapan terakhir kali ia datang bulan.


"Sepertinya sudah lama saya tidak datang bulan, dok!" ucapnya ragu.


Kaki Chania bergetar melihat ekspresi Verra yang mendengar jawabannya.


Sang dokter menghela nafas panjang, "Saya tidak akan memberikan Nyonya obat kontrasepsi lagi." ucap Verra sembari membuka salah satu laci miliknya. Mengambil beberapa benda dan menyerahkan pada Chania.


Chania tentu tau benda apa itu. Meskipun berbeda merek dan model tetap saja satu tujuan.


"Testpack?" lirih Chania, membulatkan matanya menatap beberapa testpack di atas meja.


"Ya! saya harap besok pagi saat Nyonya bangun tidur, segera anda periksa secara pribadi. Jika hasilnya positif, silahkan Nyonya Xavier kembali menemui saya." jelas Verra dengan nada lebih lembut dari sebelumnya. Verra yakin, gadis yang baru menginjak 23 tahun itu sebenarnya belum siap jika dirinya benar - benar hamil.


Tak mampu menjawab, tangan Chania bergetar saat hendak mengambil testpack yang di berikan padanya. Dengan dada naik turun akibat nafas berat yang ia ambil, akhirnya testpack berhasil ia raih.


Chania menggenggam testpack itu erat. Kepalanya menunduk, mencoba menetralkan dirinya.

__ADS_1


"Boleh saya pulang sekarang, dok?" tanya Chania.


"Ya" jawab dokter Verra lembut. "Nyonya Xavier harus ingat, Nyonya besok harus menemui saya, jika benar hasilnya positif! dan satu lagi, hindari stres berlebih!"


Chania hanya mengangguk pelan, lalu memasukkan beberapa testpack itu ke dalam tasnya. Kemudian beranjak dari kursinya.


"Saya permisi, dok!" pamit Chania.


"Iya, Nyonya!" dokter Verra menghela nafasnya saat melihat Chania keluar dari ruang pemeriksaannya.


"Semoga saja Tuan Michael Xavier menerima kehadiran bayi itu." gumamnya kemudian.


***


Di dalam mobil limousine, Chania duduk sendiri di ruang belakang. Dimitri dan seorang scurity yang di perintahkan mengikuti mereka duduk di bagian depan.


Sepanjang perjalanan Chania hanya terdiam. Memikirkan bagaimana jika Michael menolak janin yang mungkin benar sudah tumbuh di rahimnya.


Ia mengusap lembut perutnya, ia sangat senang dengan kehamilan itu. Namun di sisi lain ia takut menghadapi kenyataan yang akan dia hadapi.


' Pertama, bagaimana jika Michael menolaknya? ia akan mengusirku dari rumah. Lalu aku akan tinggal dimana? dari mana aku bisa menghidupinya?


Kedua, nyawaku saja dalam ancaman jika aku tidak bisa melunasi hutangku.


Jika Michael mengusirku, otomatis pemasukan ku akan berakhir hari itu juga. Apa sudah cukup untuk membayar tiga milyar?


Atau, mungkin aku akan tewas bersama calon buah hatiku? '


' Mommy akan merawat mu, apapun yang terjadi, hidup dan mati kita akan terus bersama. '


Ucap Chania dalam hati, sembari terus mengusap perutnya yang masih datar dengan satu tangannya.


***


Chania yang seharusnya kembali ke kantor, meminta untuk di antar pulang saja. Ia berpesan pada Dimitri, agar menyampaikan keinginannya itu pada Michael.


Di kamar, Chania masuk ke ruang walk on closed. Berdiri di depan cermin besar sepenuh badan.


Dengan sepasang mata yang masih basah, Chania menatap tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan berakhir pada perutnya.


Ia lepas blezer hitam yang ia kenakan. Menyisakan rok mini dan kaos ketat berwarna putih. Ia angkat sedikit kaos yang menutupi perutnya memperlihatkan perut datar nan ramping. Ia usap perutnya dengan lembut.


"Benarkah kamu ada di sana?"


"Bagaimana jika Daddy mu tidak menginginkan kehadiranmu?"


"Apa kamu bersedia hidup berdua dengan ku?"


"Jika kita hidup berdua, maka kamu harus siap untuk hidup apa adanya, baby."


Gumaman demi gumaman terus keluar dari bibirnya.


Sampai tiba - tiba kepalanya merasa pusing. Ia memijit pelipis yang berdenyut. Ia ingat dokter bilang dia tidak boleh stres.

__ADS_1


"Baiklah, Baby. Sebaiknya kita tidur. Menunggu Daddy mu pulang."


Chania mengakhiri lamunan, ia beranjak ke atas ranjang. Ia rebahkan tubuhnya yang lelah di balik selimut tebal. Bukan lelah karena pekerjaan. Melainkan lelah karena memikirkan nasib janin dalam perutnya.


Tak mungkin ia sanggup membesarkan anak seorang diri. Apalagi hidupnya saat sebatang kara saja pontang pantingan dikejar sisa hutang orang tuanya.


Tanpa teras mata lentik itu terlelap, dengan sisa - sisa air mata di sekeliling pelupuk mata.


***


"Mommy awas!" teriak seorang anak kecil pada ibunya dengan menunjuk belakang ibunya.


Sang ibu yang tengah duduk di kursi taman segera menoleh arah yang di tunjuk putranya. Namun terlambat, seseorang telah menancapkan sebuah pisau ke lehernya.


"Mommy!" teriak histeris bocah laki - laki berusia sekitar lima tahu itu.


"NOOO!" teriakan Chania menggema, memenuhi seisi kamar, dengan nafas yang terengah.


"Ada apa, Baby?" tanya Michael yang baru saja masuk ke dalam kamar bersamaan dengan teriakan Chania yang terbangun dari mimpi buruknya.


"Hah!" kaget Chania segera terduduk saat mendengar suara suaminya di kamar.


"Kamu mimpi?" tanya Michael yang sudah berada di dekatnya.


"Michael!" Chania segera merengkuh tubuh Michael. Menyadarkan wajahnya di perut sang suami.


Michael Xavier membalas pelukan Chania dengan mengusap kepala Chania dengan lembut.


"Mimpi apa? hm?"


"Aku takut, Michael!" ucap Chania dengan nafas yang masih terengah.


"Takut kenapa?"


"Ada yang ingin membunuhku, Michael!" ujar Chania dengan air mata yang tiba - tiba menetes. "Mereka menusuk leher ku dengan pisau! sama seperti pisau yang selalu kamu bawa!"


Michael tertegun mendengar cerita Chania. Ia belum bisa berkata apapun. Namun ia mengecup puncak kepala Chania dengan tulus.


"Itu hanya mimpi bukan? mimpi hanya bunga tidur, Baby" jelas Michael.


Chania menggeleng, "Tapi itu seperti nyata, Michael!"


"Sudahlah, ada aku! tak akan ada yang berani menyakitimu selama ada aku!" Michael menarik dagu Chania, memberikan tatapan yakin pada mata Chania yang basah.


Chania merasa lebih damai, saat Michael mendaratkan kecupan di dahi dengan cukup lama.


Kendati sikap Michael terlihat begitu tulus, Chania belum berani menceritakan tentang seorang anak laki - laki yang memanggilnya Mommy.


Dengan hadirnya mimpi itu, Chania yakin, jika di dalam rahimnya benar tengah ada janin yang sedang tumbuh. Buah cintanya bersama Michael Xavier.


🪴🪴🪴


Happy Reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2