
' Xiaoli memang seharusnya cepat bicara pada Daddy, kalau tidak... Cepat atau lambat semua pasti terungkap dan Daddy tau sendiri. Itu akan jauh lebih berbahaya untuk dia dan aku tentunya... '
Jia menunduk, salah tingkah sendiri dengan tatapan sang Ayah yang selalu mematikan siapa saja yang sedang di tatap dengan cara demikian.
Selang tiga menit sejak Jia kembali duduk di kursinya, Xiaoli muncul dari lorong yang mengarah pada toilet. Dan hebatnya, pemuda itu muncul bersama wanita tua yang terlihat tengah kehilangan arah.
Tentulah itu membuat semua pasukan Klan Black Hold mengerutkan kening masing-masing. Tak terkecuali Jia yang langsung terperangah dengan apa yang ia lihat.
' Dapat wanita tua dari mana dia? '
' Pintar sekali menciptakan drama. '
Batin sang Nona Muda dengan mengulum senyuman gemas. Selalu saja menemukan ide terbaik untuk mengelabui orang lain. Sehingga kali ini sepertinya akan aman. Setidaknya memberi waktu untuk Xiaoli menyiapkan kata-katanya. Sebelum menghadap pemimpin Klan yang terkenal bengis sejak muda dan tak lain adalah Ayah dari kekasihnya.
Hanya saja dua anak muda itu lupa, siapa yang tengah berusaha mereka kelabui. Michael Xavier, Mafia bengis yang ketangguhannya tidak perlu di pertanyakan lagi.
Entah, sampai kapan mereka bertahan dengan keadaan ini. Dan semua kembali pada janji Xiaoli yang akan bersiap menghadap sang Naga Hitam dari Italia.
# # # # # #
Jika Jia takut jika sang Ayah mencurigai gerak geriknya dengan Xiaoli. Maka di sekolah terbaik kota Roma ada adiknya, Gerald Xavier yang tengah duduk berdua bersama dengan Jenia.
Berada di kantin berdua bersama Jenia adalah momen yang sangat langka untuk ia dapatkan. Karena selama ini Jenia selalu menolak untuk di temani ketika di tempat umum. Sehingga perpustakaan yang sepi itu selalu menjadi satu-satunya tempat yang bisa gunakan untuk menghabiskan waktu bersama Jenia selain di kelas mereka.
Namun...
Pemuda satu ini sudah berhasil membuat Jenia menerima satu box kalung dengan liontin bergambar emoji BTS, yang khusus ia beli untuk gadis pujaan yang paling susah di dekati ini. Dan momen pemberian itu tentu tidak akan semudah itu di lupakan oleh sang pemuda.
Menghadap piring berisikan spaghetti yang sisa sedikit, Jenia merasa jengah dengan situasi yang ada. Penggemar BTS itu tidak biasa duduk bersama seorang pemuda yang bisa di katakan cukup di idolakan di sekolah ketika berada di keramaian.
"Sebaiknya kamu kembali ke kelas!" lirih Jenia.
"Kenapa?" tanya Gerald dengan santainya.
"Aku bosan jadi pusat perhatian karena duduk dengan pemuda buaya darat seperti kamu..."
Jenia kembali melirik sekitar dengan jengah. Di mana Gerald memang selalu menarik perhatian lawan jenisnya di manapun ia berada. Namun kejadian yang pernah terjadi antara Gerald dan anak kelas lain membuat sebagian dari mereka memilih untuk mengagumi sosok Gerald Xavier Sebastian dalam diam.
"Buaya darat?" tanya Gerald menoleh pada Jenia dan menjadikan tangan kirinya sebagai penumpu kepalanya.
"Ya!"
"Haha!" gelak nya. "Padahal pacar saja aku tidak punya!"
__ADS_1
"Oh, ya! Jangan kamu pikir aku tidak tau kamu dekat dengan Chloe!"
"Hahaha!" gelak Gerald lagi. "Selama aku tidak punya pacar, bukankah aku bebas berdekatan atau pun mendekati siapa saja?"
Menghela nafas kasar. "Ya... kamu bebas berdekatan dan mendekati siapa saja! Termasuk Ibu-Ibu penjaga kantin itu!" cibir Jenia dengan gerakan bibirnya. "Pergi sana! Aku tidak suka banyak mata yang melihat ke arah ku!" gerutu kesal Jenia.
"Itu karena mereka iri dengan kamu..." jawab Gerald dengan senyuman nakal yang mana jika itu bukan Jenia pasti sudah salah tingkah ketika di beri senyuman semacam ini. Apalagi posisi Gerald yang hanya menoleh pada Jenia. "Mereka ingin duduk di tempatmu..."
"Aku justru iri dengan mereka!" sahut Jenia ketus.
"Kenapa begitu?" tanya Gerald terperangah dengan jawaban Jenia.
"Ya, karena mereka tidak di ikuti makhluk halus kemana-mana." Jenia melirik sekilas pada Gerald yang sontak mengerutkan keningnya.
"Ha?" pekiknya. "Jadi maksud kamu... aku ini makhluk halus?" tanya Gerald memicing manja pada gadis 15 tahun yang ada di samping kanannya ini.
"Merasa?" tanya Jenia melirik Gerald kembali tanpa rasa bersalah.
"Tentu saja! Cara bicara kamu seperti itu..." jawab Gerald dengan sok merajuk.
"Karena memang iya!" sahut Jenia cuek.
"Akkh!" pekik Jenia ketika merasa lengannya di cubit oleh Gerald. "Sakit, you know!" desis Jenia mengeratkan giginya dan mengarahkan wajah kesal pada Gerald.
Jenia memicingkan matanya tajam pada Gerald. Kemudian meneguk sisa minumannya di gelas dengan sedikit lebih cepat dari biasa cara dia minum. Meletakkan gelas dengan sedikit menghentak, menarik nafas panjang, dan menghelanya dengan pelan. Ia kumpulkan seluruh tenaga yang baru saja ia isi dengan makanan.
Dan dengan kekuatan bulan bagai Sailermoon, sang gadis berucap ...
"Rasakan pembalasan ku!" seru Jenia di mendekatkan wajahnya pada wajah Gerald. Sedang ibu jari dan jari telunjuk bekerja sama untuk mencubit perut bagian samping Gerald sekuat yang ia bisa.
"AAAKHH!" pekik Gerald tertahan karena tengah berada di kantin sekolah. Tangan kanan yang semula diam di atas meja, reflek memegang tangan Jenia yang mencubit perutnya bagian samping.
Meski begitu tak sedikit murid yang menoleh pada kedua remaja yang saling adu cubit itu.
Sempat besar kepala ketika melihat Jenia mendekati wajahnya. Namun ternyata tujuan Jenia adalah untuk mencubitnya tentulah sang Tuan Muda Xavier shock bukan kepalang.
"Enak, bukan?" tanya Jenia sinis dengan senyum penuh kemenangan.
Kemudian dengan gerakan acuhnya, Jenia menarik tangan dan memutar tubuh lalu meninggalkan meja kantin yang masih di tempati oleh Gerald yang mengaduh sakit dan geli secara bersamaan.
Soal rasa sakit, itu sama sekali tidak berarti untuk Gerald. Namun rasa geli dan desiran aneh saja yang membuat sang pemuda seperti membeku oleh apa yang baru saja di lakukan oleh Jenia. Hingga akhirnya seulas senyuman sedikit lebar terbit di wajahnya yang tampan.
' Tidak biasanya dia akan membalas dengan cara seperti ini. Apa dia mulai membuka hatinya untukku? '
__ADS_1
' Ah! Jangan mimpi terlalu jauh dulu, Gerald! '
Gumam Gerald dalam hati sembari menatap tubuh Jenia yang berjalan cepat meninggalkan area kantin. Namun sayang, sang pemuda tidak bisa melihat ekspresi wajah Jenia saat meninggalkan dirinya setelah puas memberinya cubitan maut.
Cubitan maut?
Tentu bukan sakitnya yang membuat Gerald tersenyum. Tapi...
Ah, sentuhan jemari lentik gadis itu baru pertama kali menyentuh tubuhnya tanpa di minta. Meski harus mendarat dengan sangat tidak romantis. Tapi setidaknya ia merasa ada kemajuan akan apa yang sudah ia usahakan.
Dan rasanya?
Oh, Damn! Sungguh menggetarkan jiwa muda sang putra bungsu Mafia.
Rasanya sangat beda dengan ketika Chloe menyentuhnya. Padahal tubuhnya sudah terbiasa di sentuh oleh Chloe. Bahkan gadis itu tak ragu untuk memeluk lengannya dengan manja, hingga lengannya itu menempel pada dua bongkahan padat yang masih belum terbentuk sempurna. Tapi tidak ada perasaan aneh yang merambat di dalam hatinya.
Tapi sentuhan Jenia?
Hmm... Hal ini membuat sang Tuan Muda Xavier segera berjalan cepat untuk mengejar Jenia yang kini sudah menuju gedung sekolah.
"Jenia? aku akan menangkap mu!" ujar Gerald menyeringai sembari mengejar Jenia tanpa peduli dengan gadis di sekitar yang terhipnotis oleh senyumnya ini.
Jenia yang sedang berjalan cepat seorang diri, menoleh ke belakang ketika merasa ada yang sedang mengikuti dirinya.
"Oh, no!" lirihnya langsung berlari memasuki gedung sekolah yang terlihat cukup megah. Menaiki tangga dengan cepat dan tanpa sadar ia melintasi kelas seseorang yang tak lain adalah kelas Chloe Patrizia Robert.
Tak kunjung menangkap Jenia, bukan berarti Gerald tidak bisa mengejar Jenia. Hanya saja Gerald memang sengaja memperlambat kecepatan larinya agar terlihat lebih mendebarkan.
Jika menggunakan kelebihan yang ia miliki, tentu Jenia sudah tertangkap sejak tadi. Hanya saja Gerald ingin bermain terlebih dahulu dengan sang gadis jelita.
***
Jika di sekolah ada Gerald yang kini semakin dekat dengan Jenia, maka di ruang kerja perusahaan yang gedungnya menjulang teramat tinggi, ada Jio yang tengah bekerja.
Namun kali ini bukan bekerja untuk perusahaan sang Ayah. Melainkan ia tengah menjebol pertahanan beberapa ponsel milik orang-orang yang ada di sekitarnya.
Atau biasa di sebut menyadap ponsel milik orang lain.
Ada banyak hal yang harus ia cari dan ia temukan untuk mendapatkan jawaban yang lebih akurat. Karena bertanya pada pemilik ponsel secara langsung, sudah bisa di pastikan jika itu bukanlah cara yang aman.
Karena mulut manusia cukup pandai dan cukup pintar untuk berkilah dan mengulur waktu demi mencari satu kata yang di sebut aman. Meski dengan cara berbohong.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1