
Menoleh ke arah tangga. Dan yang ia lihat adalah sang kepala pelayan yang baru saja memecahkan sebuah vas bunga dengan harga yang tidak murah. Namun sang pemecah pastilah sangat mudah untuk bisa menggantinya denagn yang baru.
Michael tak menggubris ucapan maaf Oliver yang terpaku di tempatnya berdiri. Gadis itu menatap nanar pada Michael yang justru kembali mengetuk pintu kamarnya sendiri.
Ya! Tuan muda, salah satu penguasa di Italia itu tidak bisa masuk kamarnya sendiri. Baru sekali ini hal memalukan itu terjadi tepat di hadapan dua bodyguardnya dan seseorang yang sudah bertahun-tahun berharap bisa memiiki dirinya.
"Baby, ayolah! buka pintunya!" teriak Michael memelas.
"Baby...?" lirih Oliver.
Posisi pintu yang cukup jauh dari ujung tangga membuat dua bodyguard tak mendengar gumaman Oliver. Meskipun mungkin saja Michael masih bisa mendengarnya. Mengingat ketajaman telinga Sang Mafia yang sudah terlatih sejak usia muda.
' Kenapa semakin lama mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai? '
Oliver menghela nafas berat.
' Chania Arlington, aku memiliki nama yang sama dengan mu. Kita sedarah, tapi kenapa aku tidak bisa menaklukkan Michael seperti dirimu... '
Batin Oliver mulai bergemuruh. Dadanya terasa sesak mendengar cara Michael memanggil sang saudara beda Ibu itu.
Menyalahkan takdir? siapalah dirinya berani menyalahkan takdir.
Mundur secara perlahan? Ah! itu bukan sifat seorang Oliver Arlington.
Gelar Nona Muda keluarga Arlington saja ia tinggalkan dan rela mengganti dengan julukan kepala pelayan di rumah mewah Michael Xavier.
"Chaniaaa, dengarkan aku! aku hitung sampai tiga, jika tidak kamu buka, aku akan hancurkan pintu ini!" ancam Michael mulai menyerah membujuk dengan cara yang halus.
Ingatlah, Tuan muda Michael Xavier bukanlah laki - laki penyabar, lembut dan penurut. Ia adalah pemberontak ulung dengan segala kekuatan dan kekuasaan ia miliki.
Dan pada akhirnya lebih banyak yang tunduk padanya, dari pada harus melawan kehendaknya.
Michael kembali menajamkan pendengaran, dan tersenyum tipis saat merasakan ada pergerakan di dalam sana. Lebih tepatnya gerak langkah kaki Chania.
"Hancurkan saja! lagi pula ini rumah mu, bukan? Aku tidak peduli! aku tidak akan rugi! Dasar jelek!"
Suara teriakan Chania terdengar kecil dari luar karena efek kedap suara di dalam kamar. Dan itu cukup menggelitik untuk dua bodyguard yang berjaga. Namun mereka hanya bisa setengah mati mengulum senyuman dan saling lirik satu sama lain.
Mereka berdua mulai tahu jika sekretaris pribadi bosnya sedang dalam mode merajuk.
Berbeda dengan dua bodyguardnya, Michael justru tertegun dan tak menyangka Chania akan membalas dengan jawaban seperti itu.
Ia menarik nafas panjang. Menatap kesal pada pintu kamarnya yang di desain dengan sangat mewah dan khusus itu.
"Berani - beraninya dia memberontak padaku!" gumam Michael lirih.
Baru kali ini ia merasa di permalukan di depan bodyguard. Jika itu musuh, sudah pasti rudal akan mendarat di mulut tersangka.
Tapi ini Chania, istrinya sendiri. Satu - satunya wanita yang berhasil menempati kamar seorang Michael Xavier dengan bebas tanpa syarat yang berat. Karena syarat yang di berikan pada Chania hanya satu.
Yaitu, buka baju setiap malam!
"Baiklah! Jangan salahkan aku jika kamu menyesal setelah ini!" teriak Michael dengan nafas yang menggebu dan seringai licik.
__ADS_1
"SATU!"
Teriakan Michael membuat dua bodyguard dan Oliver menatap Tuannya dengan heran.
"DUA!"
Teriakan kedua, membuat yang lain spontan menatap pintu. Mungkinkah sang Nona akan membuka pintu? Mengingat Michael tak pernah main - main dengan ancamannya.
"Ti...!"
Michael sengaja menjeda dengan nada teriakan yang mulai terdengar dingin dan penuh keseriusan. Membuat semua tubuh di sekitarnya membeku.
Akankah pintu dengan nilai jual fantastis itu hancur oleh pemiliknya sendiri?
Dengan alasan karena seorang wanita di dalam tengah merajuk?
Padahal di luaran sana banyak wanita yang justru mengharapkan dirinya. Rela melakukan apapun dei mendapatkan waktunya yang berharga.
Em.... sepertinya pembaca harus kecewa, karena nyatanya telinga Michael mendengar jemari yang mengotak atik finger lock yang khusus untuk mengunci dari dalam.
Michael tersenyum tipis, menyembunyikan seringai kemenangan yang sepertinya akan dia dapatkan.
' Michael di lawan! '
Desisnya dalam hati.
Namun tiba - tiba ....
"Michael!" teriak Chania dari dalam. "Michael, tolong!"
"Baby, kamu kenapa? cepat buka pintunya!" teriak Michael tepat di depan daun pintu.
Kata tolong sudah cukup membuat sang Mafia merasa resah.
Oliver bahkan ikut mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Chania di dalam.
Namun saat mencari jawaban pada dua bodyguard dengan menggunakan isyarat mata, hanya sebuah gelengan yang ia dapat dari mereka.
"Michael! tolong! finger lock tidak berfungsi! pintunya tidak bisa di buka!" teriak Chania panik.
"Apa!" pekik Michael di ikuti aksi saling pandang antara dua bodyguard.
"Bagaimana bisa! apa jari mu berubah jadi jari singa!" teriak Michael membuat dua bodyguard reflek tergelak napa suara.
Setengah mati keduanya menahan tawanya di perut yang terasa sangat geli. Hingga akhirnya dua bodyguard cekikikan dengan suara begitu lirih saking sakitnya perut mereka. Tak menyangka sang Tuan muda masih sempat bercanda di tengah kegaduhannya sendiri.
Sesuatu yang baru pertama kali mereka lihat di sepanjang waktu yang mereka gunakan untuk mengabdi.
"Aku tidak tau! cepat, Honey!" teriak Chania sekeras mungkin, mengingat kamar Michael cukup kedap suara.
"Tch!" Michael berdecih bingung. "Lakukan sesuatu!" perintah Michael pada dua bodyguardnya yang seketika terkesiap dari rasa ingin tertawa mereka.
Sedangkan Oliver yang mendekat hanya membeku. Lagi - lagi mendapat kejutan yang membuat telinga sampai hatinya terasa panas. Panggilan Honey yang di lontarkan Chania untuk Michael berhasil memercikkan api di jantung Oliver.
__ADS_1
Ia hendak mencari kejelasan dari hubungan yang di jalani Michael dan Chania. Seumur hidup baru kali ini ia mendengar Michael memanggil wanita dengan sebutan Baby di hadapan bodyguard.
Dan baru kali ini pula ia tak marah di panggil orang lain dengan sebutan yang menunjukkan kasih sayang di luar kebutuhan khusus.
Di mana rata - rata orang memanggil dengan sebutan itu, adalah bentuk ungkapan khusus untuk menyatakan perasaan.
Apa Honey dan Baby adalah panggilan sayang mereka? Namun sepertinya waktu tidak tepat untuk ia ingin bertanya. Michael terlihat gusar di depan pintu kamarnya.
"Chania, dengarkan aku!" teriak Michael.
"Apa!"
"Buka pintu balkon dari dalam! aku akan naik ke balkon!" teriak Michael tepat di daun pintu.
"Iya!" teriak Chania yang segera berlari ke arah pintu balkon.
Sedangkan Michael langsung berlari menuruni tangga. Di ikuti dua bodyguard yang langsung menyiapkan tangga besi di luar untuk Tuannya menaiki balkon kamarnya. Karena balkon kamar Michael cukup jauh dari balkon kamar yang lain.
Chania sudah menunggu sang suami di atas balkon. Berpegangan pada pagar balkon. Terlihat Michael mulai menaiki tangga dengan cepat, layaknya monyet memanjat pohon. Tak butuh waktu lama untuk seorang Michael sampai di balkon lantai dua yang tingginya di atas rata - rata.
"Finger lock nya rusaak!" ucap Chania saat Michael berhasil mendarat di balkon, ia merasa cukup bersalah. Selain itu ia takut jika terkena amukan seorang Michael Xavier.
Pernah melihat seorang Michael menghajar musuh di markas, sudah cukup membuat Chania takut akan kemurkaan lelaki itu.
Namun Michael justru memasang senyum misterius. Lalu mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri yang masih memasang wajah takut dan bingung.
"Makanya jangan merajuk," bisik Michael dengan menyembunyikan seringai kemenangan. "Jangan berani - berani meneriaki suamimu di depan para bodyguard!" suara Michael terdengar dingin mengintimidasi di telinga Chania.
Sedang Michael sendiri sekuat tenaga menyembunyikan rasa ingin tertawanya. Meskipun ia dapat melihat jika Chania baru saja menangis, namun melihat ekspresi bersalah sang istri membuatnya ingin tertawa.
"Kamu sih! bilang aku jelek!" rajuk Chania mendorong dada tegap Michael. Namun tubuh Mafia itu tak sedikitpun bergerak akibat dorongan Chania yang terasa begitu lemah di tubuhnya.
"Hahaha!" lepas juga tawa Michael. "Memangnya kamu merasa cantik?" tanya Michael menarik pinggang Chania untuk merapat pada tubuhnya. Mengikis jarak di antara mereka. Memandang nakal pada istrinya yang masih memasang wajah cemberut.
"Tuh kan!" Chania memukul manja lengan Michael.
"Haha!" gelak kecil meluncur dari bibir tipis Michael. "You're so beautiful!" lirih Michael mencuri kecupan di bibir Chania yang tipi nan ranum.
Drrrtt! drrrt!
Ponsel di saku jas bagian dalam yang dikenakan Michael bergetar. Spontan ia mengambilnya tanpa melepaskan pinggang Chania yang direngkuhnya erat.
Ekspresi nakal Michael berubah sekejap mata, saat membaca nomor tanpa nama yang muncul di layar ponselnya. Meski tanpa nama, sepertinya Michael cukup hafal dengan nomor itu.
Menghela nafas kasar, melepaskan kebencian yang selalu dan terus tersimpan di dalam dadanya, ia geser tombol hijau.
Dalam saluran 📞
Michael : "Hemm!"
Suara ketus Michael mengintimidasi sang penelepon.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹