SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 162


__ADS_3

🍄 Empat Tahun Kemudian . . .


Waktu terus berlalu. Tahun - tahun terus di lalui oleh pengiriman anak - anak secara beruntun dari keluarga Xavier.


Tujuh tahun, waktu yang di gadang - gadang Michael sebagai lama masa untuk anak - anak mereka menempa berbagai jenis ilmu untuk membuat mereka jauh lebih tangguh dan kuat.


Sempat mendapat penolakan dari sang istri, tak membuat Michael menyerah. Berulang kali memberi penjelasan tentang masa depan putra - putri mereka kelak. Berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa di sangka - sangka sebelumnya.


Oliver yang memiliki pikiran jernih pun ikut membujuk Chania agar bersedia melepas anak - anak mereka. Demi keselamatan mereka di masa depan.


Mengirim tiga anak pada gelombang pertama. Dua tahun kemudian di susul oleh Zee Everest, anak Sania dan Reno, di gelombang kedua.


Kini empat tahun sudah Jia, Jio dan Jellow berada di kuil Master Shifu. Berguru pada guru legendaris yang di miliki Michael kecil.


Banyak hal di Roma yang harus di lewatkan oleh anak - anak mereka. Salah satunya, kematian Deborah.


Untuk kedua kalinya, Michael akan mengunjungi sang anak kembar di kuil bersama Gerald, putra bungsunya. Serta Arfha Orlando, anak kedua Reno dan Sania.


Namun kali ini dengan membawa kabar duka. Kaki Michael nyaris bergetar saat bersiap menghadap sang putra mahkota, dan putri satu - satunya.


Merasa bersalah, karena membuat mereka tak bisa melihat detik - detik terakhir orang yang mereka cintai. Tapi apalah daya, semua tidak dapat di atur ulang.


Dua tahun lalu, ia bersama Reno menggandeng tangan Zee tepat di gerbang itu. Sekarang mereka kembali menggandeng tangan dua bocah mungil.


"Daddy!"


Suara teriakan dari sisi kiri membuat Michael segera menoleh ke sana. Ia sangat mengenal suara itu.


"Jia!" panggil Michael lirih. Menahan sesak di dalam dada.


"Daddy!" Jia berlari sekencang yang ia bisa.


Jia kecil telah beranjak remaja. Usianya kini sudah 14 tahun. Tubuhnya semakin tinggi dan ramping. Rambutnya hitam legam seperti sang ayah. Matanya bulat seperti Ibunya, Chania.


Michael menunggu dengan merentangkan tangan. Seperti saat ia menyambut gadis itu sepuluh tahun lalu. Bedanya, jika dulu Michael menunggu dengan berjongkok, maka kini ia menunggu dengan berdiri.


"Aku merindukan Daddy dan Mommy!" ucap Jia.


Anak gadisnya kini masuk dalam dekapan. Memeluk tubuh tegapnya dengan erat. Seolah enggan melepasnya lagi. Sama seperti sang putri, Michael pun memeluk putrinya dengan erat. Ada sesuatu yang menjanggal di hatinya, yang membuat Sang Mafia merasa bersalah pada kedua anak kembarnya.


"Daddy jauh merindukan kalian..." ucap Michael menciumi puncak kepala Jia dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa Mommy tidak pernah ikut?" tanya Jia sendu.


"Mommy tidak perlu tahu dimana kalian, Jia..." jawab Michael menatap lirih putrinya.


Michael melihat ke arah belakang sang putri. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Michael tersenyum, melihat sang putra mahkota baru saja keluar dari bukit.


Sama seperti Jia, tubuh Jio pun semakin tinggi. Rambut pirang dengan tatapan tegas dan alis tebal, membuat sang putra terlihat jauh lebih tampan.


"Jio?" panggil Michael.


Bukannya menjawab, dari jarak 100 meter, Jio justru melempar sesuatu ke arah sang Daddy nya. Michael yang sangat peka tentu tau apa yang di lempar oleh sang putra.


Ya, pisau kecil dan runcing. Mungkin akan mendarat tepat di punggung Jia, jika Michael bukan ahlinya dan menangkap sesuatu. Michael berhasil menangkap pisau itu tepat 10 senti dari baju Jia.


Michael sama sekali tidak marah. Ia justru tersenyum. Putra semakin hebat. Lemparan pisau jauh lebih presisi di banding dua tahun lalu.


Dan apa yang baru saja dilakukan Jio membuat Gerald melotot. Ia sudah sering berlatih dengan ayahnya, tapi belum pernah di ajari melempar pisau seperti sang kakak.

__ADS_1


"Kau semakin hebat, Jio!" ucap Michael menyambut kedatangan sang putra dengan bangga.


"Hai, Daddy!" sapa Jio tersenyum tipis. Ia peluk Daddy nya dengan rasa kagum.


Jio kecil telah tumbuh menjadi Jio remaja yang cukup sulit untuk tertawa. Meski begitu ia cukup mudah untuk bergaul. Berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu.


Empat tahun sudah Jio menempa ilmu di kuil. Dan selama itu pula ia selalu menjadi murid terbaik Shifu. Menurun dari sang ayah, mungkin Jio juga akan menjadi legenda kedua kuil Shifu.


"Selamat datang, Boy!" sapa Jio pada Gerald. Ia berikan sebuah kepalan tangan pada adiknya itu.


"Hai, Kak!" balas Gerald.


Jio kembali menghadap sang Ayah. Menatap lekat sepasang bola mata berwarna kecoklatan yang sama dengan dirinya.


"Ada yang ingin di bicarakan denganku, Dad?" tanya Jio langsung pada intinya.


Michael menarik nafas panjang. Tidak menyangka putranya sudah sedemikian sensitif akan ekspresi seseorang.


Michael menarik pundak Jia untuk di rangkulnya. Kemudian menepuk pundak sang putra mahkota. Putra nya sudah 14 tahun, sudah saatnya untuk memperlakukan sang putra seperti sahabat.


"Maafkan Daddy... Daddy tidak bisa menjemput kalian..."


"Apa maksud Daddy? kan kami memang belum waktunya pulang!" sahut Jia.


"Jia... maafkan Daddy... tidak menjemputmu saat Kakek dan Nenek kalian meninggal..." lirih Michael terdengar pilu.


"Kakek Frederick dan Nenek Madalena meninggal?" tanya Jia lirih, menatap lekat pada sang Ayah.


"Hem..." jawab Michael menarik sang putri untuk di peluknya.


Michael tau seberapa besar cinta Jia pada kakek neneknya. Kakek dan Neneknya adalah pembela pertama jika Jia membangkang dari pelatihan yang keras. Dengan alasan sebagai anak gadis tidak harus bertempur di medan perang.


Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk Jia. Rasa kecewa dan menyesal bercampur menjadi satu.


"Kenapa Daddy tidak menjemput ku saat Kakek dan Nenek sakit!" ucap Jia meremas baju yang dikenakan Michael.


"Maafkan Daddy, Jia..." ucap Michael memeluk putrinya lebih erat. "Kakek meninggal bukan karena sakit. Beberapa minggu yang lalu, rumah Kakek dan Nenek di masuki penyusup secara tiba - tiba. Dan Kakek tewas terkana bazoka musuh. Sedang Nenek, meninggal karena serangan jantung..." Michael bercerita lirih. Terdengar sangat sendu di telinga Jia.


Sedang Jio, dia tetap bermuka datar. Namun dalam hatinya sudah hancur tersayat. Empat tahun tak bertemu. Dan justru kabar duka yang ia dapat.


"Kenapa Jia tidak boleh pulang sama sekali?" tanya Jia mendongak sang Ayah. "Kenapa, Dad!" hentak Jia menatap protes pada sang Ayah.


"Maafkan Daddy, Jia..." lirih Michael.


"Jia mau pulang!" hentak Jia.


"Daddy akan mengatur supaya kamu bisa pulang!"


"Harus!" seru Jia mendorong dada Michael dan berlari meninggalkan keluarganya.


Jia terus berlari ke arah dimana tadi Jio muncul. Dan menghilang di bukit - bukit. Semua menatap ke arah Jia. Michael hendak mengejar putrinya. Namun Jio mencegahnya.


"Dia hanya ingin mencari ketenangan, Dad. Biarkan saja!" ucap Jio.


"Kamu juga marah pada Daddy?"


Jio menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tau kenapa Daddy begitu!" jawab Jio, membuat Michael tersenyum tipis.


Michael tau sang putra memang lebih dewasa di banding saudara kembarnya. Untuk itu mengajak bicara sang putra demi menemukan solusi, di pikir Michael adalah sebagai cara yang tepat. mengingat Jio lah yang saat ini paling dekat dengan Jia.

__ADS_1


***


Atas beberapa pertimbangan, akhirnya Michael membawa Jia dan Jio untuk kembali ke Roma atas izin Shifu. Rombongan Michael sampai di Roma saat hari telah gelap.


Sepanjang perjalanan kembali Jia lebih banyak diam. Memang dialah yang paling merasa kehilangan Kakek dan Neneknya.


Sejak mendengar Michael turun dari dari pesawat, Chania sudah menunggu anak kembarnya yang sudah sangat ia rindukan. Tanpa ia tau setampan dan secantik apa wajah anak - anaknya.


"Jia, Jio..." Chania menyambut anak kembarnya yang sudah empat tahun tak pernah ia lihat. Ia bahkan


Chania masih ingat, betapa beratnya dulu ia melepas keduanya pergi. Setelah sekian tahun, kini keduanya telah kembali. Dan sang putra kini memiliki tinggi yang sama dengannya.


"I miss you, Mommy!" Jio memeluk perempuan yang sudah melahirkan dirinya ke dunia.


"Mommy juga, Boy!" Chania menitikan air mata dalam pelukan sang putra.


"Jia..." Chania beralih memeluk putrinya.


"Kalian memang sengaja untuk memberi tahu Jia dan Kak Jio?"


"Bukan begitu, Jia... tapi kami tidak sempat menjemputmu..."


"Sementara Daddy harus menghukum musuh - musuh yang tertangkap terlebih dahulu." sahut Michael. "Untuk tau, siapa yang sudah menyerang kita tiba - tiba!"


"Lalu siapa?" tanya Jia sedikit sinis.


"Belum ada jawaban, saat interogasi berlangsung, mereka yang tertangkap justru meminum racun dan tewas begitu saja." jawab Michael menghela nafas.


"What!" pekik Jia merasa tidak masuk akal.


Ia sudah paham akan gelapnya dunia yang di lakoni sang ayah. Dan baru kali ini ia mendengar kelakukan konyol para tawanannya.


"Lebih menyebalkan lagi, mereka beroperasi menggunakan sarung tangan! membuat kita kesulitan menemukan jejak dari mana mereka berasal.


"Aneh!" cibir Jia kemudian.


"Istirahatlah, Jia... besok pagi kita ke makam Kakek dan Nenek." ucap Chania mengelus rambut hitam putrinya.


"Yes, Mom!"


# # # # # #


Di sebuah bangunan kayu berlumur salju, beberapa orang berkumpul untuk suatu diskusi.


"Aku sama sekali tidak melihat anak kembar Michael selama di sana!" ucap seseorang dengan tato di leher kiri.


"Sepertinya anak - anak Michael tidak di Roma!" sahut lainnya.


"Padahal malam itu aku ingin tau, sejauh mana kekuatan putra mahkota Michael! hah!" tersenyum miring, seolah mengejek seseorang yang sedang mereka bicarakan.


"Setidaknya Frederick dan satu bodyguard terbaiknya berhasil tewas pada malam itu!"


"Kita bisa menargetkan untuk membunuh dua bodyguard utama Michael terlebih dahulu! dengan begitu Michael akan kehilangan taringnya!"


"Kapan kita melakukan penyerangan kembali?"


"Malam ini kita harus kembali ke Roma!" ucap pria bertato di leher. "Dan kau kali ini harus ikut! aku dengar dua bodyguard utama Michael sangat kuat!"


"Fine!"

__ADS_1


...🪴 Happy Reading! 🪴...


__ADS_2