
Chania kebingungan dengan reaksi sang ibu mertua. Ekspresi yang berubah menjadi dingin dan entahlah apa yang di pikirkan oleh wanita yang ada di depannya itu.
"Smith!" desisnya kemudian.
"Smith?" pekik Chania merasa tidak mengenal nama Smith yang di sebutkan ibu mertuanya itu.
"Bukan, Mom! dia bukan putri Arlington!" Michael mencoba mengambil alih ketegangan wajah Mamanya.
"Smith Arlington!" desisnya lagi dengan yakin. Tanpa memperdulikan ucapan sang putra.
Michael kebingungan, bagaimana Mama nya bisa secepat itu mengenali, jika Chania adalah salah satu anak kandung Smith Arlington.
"Kau putri Smith Arlington!" ucap sang Mama lebih kencang.
"Bukan, Mom!" jawab Chania reflek mengikuti cara Michael memanggil sang Mama.
"Kau putri Smith Arlington!" teriak lagi ibu Michael dengan mata yang menatap tajam pada Chania.
"Bukan, Mom!" elak Michael menenangkan sang Mama dengan nada yang begitu lembut. Mencegah sang Mama yang mencoba untuk berdiri dari kursi roda.
Sementara Chania tampak kebingungan dengan sikap Mama Michael. Ia reflek mundur sedikit saat Mama Michael mencoba untuk meraihnya dengan gerakan yang cukup kasar.
"Mom, Mom, Mom, please! dengarkan Michael bicara." Michael mencegah Mamanya yang memberontak. "Mom?"
"Gadis itu!" teriak sang Mama histeris.
Tanpa sadar Chania meneteskan air mata melihat ibu mertuanya yang seolah ingin menelannya hidup - hidup.
Benarkah mertua baik hati hanya ada dalam cerita novel? Namun kenapa dia di sebut putri Smith Arlington? Nama yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
Jantung Chania berdetak lebih cepat membayangkan hal itu. Tidak di terima sebagai calon menantu, padahal sudah menjadi menantu secara tidak langsung. Di tolak, dan bersiap untuk di tinggalkan Michael sewaktu - waktu karena terhalang restu?
Satu lagi yang membuat kepalanya pening, semua terjadi saat dia dalam keadaan hamil anak seorang pria yang tak lain adalah suaminya sendiri, Michael Xavier.
"Kau dan putrimu harus bertanggung jawab! Kimberly!" teriak Ibu Michael.
Chania semakin bingung, bagaimana bisa Mama Michael tau nama ibunya. Jika saling mengenal, kenapa sang mertua menyebut ia putri Smith Arlington. Padahal Papanya bernama Anata.
__ADS_1
Seketika kepala Chania terasa berputar. Seluruh dinding bahkan Michael dan ibunya tampak berputar - putar mengelilingi dirinya.
Dalam hitungan detik, kakinya terasa lemas. Namun sekuat tenaga ia berusaha agar kesadarannya tetap terjaga. Suara - suara Michael yang berusaha menenangkan ibunya samar - samar terdengar di telinganya.
"Maaf, Mom. Bagaimana pun juga, Michael akan tetap menikahi Chania!" kalimat yang berhasil terdengar begitu jelas di telinga Chania.
Namun tak membuat gadis itu tenang. Justru semakin membuatnya ketakutan. Ia yakin ada rahasia di masa lalu yang tak ia ketahui.
Beberapa saat kemudian suster muncul dari balik pintu kamar. Dengan membawa spuit berisi sedikit cairan. Dan dengan cekatan menyuntikkan ke lengan Nyonya besar yang berhasil di tahan oleh Michael di tengah pemberontakannya.
Beberapa saat kemudian wanita itu melemas, dengan mata yang secara perlahan menyipit hingga akhirnya menutup bersamaan dengan seluruh tubuh yang melemah. Hingga tersandar di kursi roda. Layaknya orang yang tertidur.
Michael menghela nafasnya, "I'm sorry, Mom." lirih Michael setengah menyesal.
"Biarkan saya yang mengurus Nyonya besar Madalena, Tuan muda." ucap suster berusia sekitar 37 tahun itu.
"Baiklah." jawab Michael menghela nafas panjang.
Michael menatap punggung suster yang mendorong kursi roda sang Mama. Setelah menghilang di balik pintu, Michael beralih pada istrinya yang tampak masih kebingungan dengan nafas terengah.
Chania mengangguk lemah, karena sesungguhnya tak ada yang baik dalam dirinya saat ini. Mulai dari pikiran, perasaan bahkan tubuhnya pun melemas dengan sendirinya.
"Maaf, Mama ku sakit." ucap Michael lirih.
Chania menggelengkan kepalanya pelan. Seolah membantah Michael yang mengatakan ibunya sakit.
"Bagaimana Mama kamu tau nama ibuku, Michael?" tanya Chania setelah nafasnya hampir kembali normal. "Tidak mungkin ini suatu kebetulan, kan?" cecar Chania.
"Memangnya benar ibu kamu bernama Kimberly?" tanya Michael santai yang seketika di angguki oleh Chania.
"Tapi bukan hanya satu kan wanita di bumi ini yang bernama Kimberly?" tanya balik Michael. "Bisa jadi kamu hanya mirip dengan seseorang yang ibunya bernama Kimberly juga."
Chania menggeleng, ia yakin ada di sembunyikan oleh Michael.
"Baby?" panggil Michael lirih. Sebagai seorang Mafia dengan seribu satu pengalaman, membuat Michael tahu jika Chania mulai penasaran akan suatu hal.
Chania hanya menatap sepasang manik mata pria tampan itu. Ia mengharap pria itu mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu pasti bohong." ucap Chania yakin.
Michael mengangkat satu tangan lainnya, membelai anak rambut Chania yang berantakan di dahi dan pelipisnya, dan merapikan bersama rambut lainnya. Kemudian menghapus keringat dingin di dahinya. Menatap sendu wajah cantik itu, untuk mendapatkan kedamaian.
"Percaya padaku, Baby. Semua akan baik - baik saja." ucap Michael. "Sebaiknya kita keluar dari sini."
Ajak Michael, berusaha menghindari suasana tegang yang terjadi di balkon itu. Meraih jari jemari lentik Chania, dan menariknya perlahan untuk membawanya masuk ke dalam sang kamar.
Saat sampai di area tempat tidur sang Mama, Michael berhenti. Menatap sendu pada ranjang, dimana wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan itu tengah berbaring dengan mata terpejam.
Hati Michael bergetar setiap mengingat beberapa kebohongan yang selalu ia lakukan. Tapi bagaimanapun, semua itu demi ketenangan sang ibu yang sakit secara lahir dan batin.
Michael menghela nafas, dan kembali menarik tangan Chania untuk meneruskan langkah mereka.
***
Waktu terus berlalu, malam telah tiba. Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, Chania enggan untuk keluar kamar. Gadis itu masih betah duduk merenung di atas tempat tidur Michael yang berukuran king size.
Menenangkan dirinya sendiri yang tadi sempat hampir tumbang karena kebingungan dan kejutan luar biasa.
' Apa yang di maksud oleh Nyonya besar Madalena, bahwa aku harus bertanggung jawab? '
Ingin rasanya ia cepat - cepat kembali ke Italia dan membaca buku diary sang Mama. Rasa penasaran begitu tinggi. Akankah ia akan menemukan nama Madalena di buku itu? atau bahkan akan menemukan nama Michael beserta Sebastian Company?
Tatapan yang beralih menatap sendu pada pada Michael yang tampak sedang melakukan pengecekan akan pekerjaannya di meja kerja.
Sebagai seorang Mafia dan CEO terlatih, tentu firasat dan nurani Michael tau jika ada yang menatapnya meski dari jarak sekita kilo meter sekalipun.
Michael berdiri, berjalan dengan santai ke arah ranjang. Chania yang hanyut dalam lamunan, tak menyadari jika tubuh tegap yang ia tatap itu berjalan ke arahnya.
"Berhentilah memikirkan ucapan Mama ku." Michael duduk di sisi ranjang, menghadap Chania yang bersandar pada kepala ranjang.
"Katakan sejujurnya padaku, Michael. Aku yakin ini semua bukan suatu kebetulan. Tidak mungkin Nyonya besar Madalena mengenal ibuku jika ini suatu kebetulan semata. Rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku, Michael?" ucap Chania lirih.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1