SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 302


__ADS_3

Jio dan Jellow tengah membahas dua anak muda yang baru saja membuat keributan dengan masalah yang cukup rumit untuk Tuan besar bahkan Tuan muda Xavier.


"Jia seorang petarung... Xiaoli bahkan mantan senior atau bahkan guru di kuil tempat ia berasal..." gumam Jellow menatap langit-langit kamar yang sebelumnya terlukis bayang-bayang wajah cantik sang mantan.


"Aku penasaran... bagaimana kalau mereka sedang bertengkar..." kikik Jellow membuat Jio melirik tajam sembari menghela nafas kasar. Tak habis pikir dengan pemikiran sang sepupu.


"Apakah Jia akan mengangkat pedang?" tanyanya lagi, tapi entah pada siapa. Yang jelas di kamar itu hanya ada dirinya dan Jio. Jadi besar kemungkinan jika gumaman nya itu untuk di bahas dengan Jio.


Hanya saja sang putra mahkota memilih untuk tidak menanggapi menggunakan suaranya. Melainkan sebuah lirikan mata dan helaan nafas saja.


"Mengingat saudara kembar mu itu memiliki kesabaran yang setipis tisu." Lanjutnya kembali terkikik tidak jelas.


"Aku lihat... Xiaoli lelaki dingin dan tidak terlalu mudah marah. Aku yakin dia akan kalah kalau berdebat dengan Jia." lanjutnya tersenyum tidak jelas membuat Jio berdecih malas.


Sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Jio yang tengah berada di tangannya. Sebuah pesan yang membuat darah Jio mendidih hanya dalam hitungan detik saja.


Jemari meremas udara dengan sangat kuat. Nafasnya seketika berubah menjadi tersengal karena menahan diri untuk tidak menghancurkan sesuatu di dalam ruang kamarnya itu.


Jellow yang kurang lebih memiliki pendengaran yang cukup tajam bisa merasakan jika ada yang tidak beres dengan sang sepupu.


"What happened, Brother?" tanya Jellow sontak duduk dan menatap serius pada Jio yang masih menatap tajam layar ponselnya.


"Sebenarnya selain meretas ponsel Jia, aku juga tengah mengurusi satu nama yang cukup mencurigakan..." jawab Jio.


"Siapa?"


"Namanya Axton, aku mengejar berbagai informasi tentang dia..."


"Axton..." Jellow bergumam.


"Hm! Axton Jackob! Dia berasal dari Texas! Tapi aku belum menemukan data yang valid tentang dia. Entah, aku merasa sangat sulit untuk menemukan data lengkap tentang dia."


"Memangnya apa hubungannya dengan mu?" tanya Jellow. "Atau berurusan dengan Klan?"


"Aku rasa dia sengaja mendekati Virginia..." jawab Jio. "Kemarin aku melihatnya di kampus, dan malam ini ternyata dia mengikuti Nia sampai ke rumah Flo!"


Jellow tersenyum miring sembari mengangkat dagu keatas mendengar cerita sang sepupu terdekatnya.


"Apa dia cari mati?" tanyanya tersenyum culas. "Apa rencanamu?"


"Aku belum tau.. yang jelas aku harus lebih dulu menemukan informasi lengkap tentang pemuda itu."


"Dia berasal dari Texas?" ulang Jellow.

__ADS_1


"Hmmm..." Jellow mengangguk-anggukkan kepalanya. "Daddy beberapa kali membahas tentang Texas!"


"Kenapa?"


"Katanya... dia punya kenangan buruk dengan Texas..." jawab Jellow menjadikan dua tangannya sebagai penyangga tubuhnya di belakang.


"Tentang?"


"Entahlah! Aku tidak terlalu memperhatikan permasalah masa lalu Daddy!" jawab Jellow mengubah posisi duduknya kemudian berdiri mendekati meja kerja Jio. "Yang jelas, yang harus kita lakukan sekarang ialah... mencari tau tentang Axton!" gumamnya sembari membuka laptop Jio yang ada di atas meja.


"Kita selesaikan masalah Axton bersama! Jangan biarkan ia memiliki kesempatan untuk bisa mendekati Virginia." ujarnya tersenyum culas.


Jio melirik sepupu yang juga gemar mendekati para gadis itu. Dia memang suka sekali mengejar orang-orang yang di anggap mencari masalah dengannya.


Darah seorang Darrel Harcourt menurun persis pada tubuh tunggal yang di miliki pasangan Darrel dan Oliver itu.


***


Sementara itu... Di kamar yang sempit, hanya sekian meter persegi saja. Dimana hanya akan cukup jika di huni oleh satu orang saja. Karena jika di huni lebih dari satu orang, sudah pasti akan terasa pengap.


Itulah kamar sang bodyguard tampan yang siap di kirim pemimpin Klan untuk mendalami berbagai ilmu di negeri sakura, Jepang.


Di percaya sedemikian rupa untuk bisa menempati posisi yang tidak semua orang bisa dapatkan.


Ia duduk di kursi kayu yang berhadapan dengan meja kecil. Ponselnya menyala dengan wajah seorang lelaki tua, yang saat ini hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.


"Ayah akan sangat bangga padamu, Kakak Chen!" ucap seorang gadis yang merupakan adik dari Xiaoli Chen.


Kabar keberangkatan sang bodyguard tentu sudah di dengar bahkan sebelum Xiaoli tau.


"Aku juga sangat bangga karena memiliki Ayah sehebat Ayah!" jawab Xiaoli. "Klan Black Hold sangat menghargai keberadaan Ayah!" lanjutnya menatap haru pada wajah keriput mantan bodyguard terbaik Frederick di masa kejayaannya.


"Chen Chen? Jaga... nama... ba..ik...ke..luarga ki...ta!" ucap Ayah Xiaoli dengan nafas terengah.


Xiaoli menatap pilu dan sedih pada lelaki tua yang tengah berada di negara asal mereka, China.


Dalam bayangannya, ia sungguh takut jika pergi menempa ilmu dan tak selesai dalam tiga tahun seperti Jack, bagaimana jika ia kembali dan lelaki tua di hadapan sudah tidak lagi bernafas?


Ia tak akan bisa menghubungi siapapun yang berada di luar negara Jepang, bukan?


Sepasang mata Xiaoli nyaris berkaca-kaca bahkan sebelum ia berhasil membalas kalimat sang ayah.


"Pasti, Ayah!" jawabnya kemudian. "Yang penting mulai sekarang Ayah harus lebih berhati-hati. Cukup beristirahat di dalam kamar. Jangan sampai jatuh lagi di kamar mandi seperti kemarin."

__ADS_1


"Biar Fang Yin dan pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah dan Ibu cukup nikmati hari tua kalian."


"Siap, Kak!" sahut Fang Yin, gadis remaja yang duduk di bangku kelas 12 Senior High School. "Tuan Michael sangat baik ya, Kak Chen! Beliau mengirim seseorang untuk membantu kami di rumah."


"Hmmm... beliau memang sangat baik!" jawab Xiaoli tanpa memberi tau jika kepalanya tengah babak belur akibat pukulan dari sang naga hitam yang mengamuk akibat dari ulahnya.


"Kak Chen juga harus baik-baik di sana, ya! Jangan buat kecewa Tuan Michael!"


"Tentu!" jawab Xiaoli tersenyum getir. Karena sesungguhnya ia baru saja membuat kecewa sang pemimpin Klan. Meski pada akhirnya ia termaafkan.


"Aku akan menjaga Ayah dan Ibu sampai Kak Chen bisa menghubungi kami kembali. Entah tiga maupun lima tahun yang akan datang!" ucap Fang Yin setengah menahan air mata karena ia mungkin tidak akan mendengar suara maupun melihat wajah sang Kakak dalam jangka waktu yang lama.


"Terima kasih, Fang Yin!"


"Untuk apa berterima kasih? Mereka adalah orang tua ku juga, bukan hanya orang tua kamu, Kak!"


Ya... kamu benar!" jawab Xiaoli memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Setidaknya memberi kesan terbaik untuk keluarga yang jauh di sana sebelum mereka tau jika ia baru saja mengacau emosi orang seisi istana.


Bisa saja kan? Saat ia sudah di Jepang, keluarganya mendengar kabar jika ia di hajar oleh sang naga hitam karena mengencani putrinya?


"Baiklah, Kak! Kamu sebaiknya istirahat sekarang. Bukankah kamu besok harus mempersiapkan keperluan sebelum berangkat lusa?"


"Hmm... memang! Baiklah, aku istirahat dulu. Salam untuk Ibu... Ingatkan lagi, supaya tidak terlalu lelah membantu mengajar di padepokan!"


"Siap, Kak!" jawab Fang Yin sigap. "Lagi pula minggu ini terakhir Ibu membantu mengajar di sana."


"Baguslah!" sahut Xiaoli. "Bye, Ayah!" pamit Xiaoli.


Namun lelaki yang kini di nyatakan lumpuh akibat terjatuh di kamar mandi itu hanya bisa mengangguk dengan senyum kecil. Karena mengalami sulit bicara bahkan menggerakkan anggota tubuhnya.


"Kakak Chen pasti baik-baik saja, Ayah..." ucap Fang Yin mengusap lengan sang Ayah.


"Ayah... se..dih." ucap lelaki yang pernah sangat gagah pada masanya.


"Kenapa?, Ayah?"


"Ayah... ta..kut..."


"Kenapa takut?"


"Ta..kut tidak bi..sa.. me..li..hat..nya la..gi.." ucap sang Ayah dengan terbata-bata.


"No, Ayah! Kak Chen Chen pasti berusaha untuk bisa cepat menyelesaikan tugasnya. Dan dia pasti akan datang ke sini untuk bertemu dengan kita. Kita akan kembali berkumpul walau mungkin tidak akan lama. Karena Kak Chen harus melanjutkan tugas Ayah, mengabdi dengan setia pada Klan Black Hold!"

__ADS_1


Fang Yin mencoba untuk menghibur lelaki tua yang teramat ia sayangi. Meski diri sendiri juga tak terlalu yakin apa yang ia ucapkan akan benar terjadi.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2