SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 174


__ADS_3

Jam masuk kuliah untuk Jia dan teman - temannya telah tiba. Ketiganya duduk berjajar di barisan paling depan. Beberapa saat kemudian dosen masuk bersama Mahasiswa baru yang di ketahui mereka sebagai Diego Maldini.


Sesi perkenalan tak lepas dari senyum pemuda tampan itu yang jelas di tujukan kepada Jia yang duduk tepat di depannya.


Bangku kosong di belakang Gladys menjadi bangku yang di pilih Diego untuk duduk saat ini.


Sontak Gladys dan Reena saling lirik, kemudian sama - sama menyenggol lengan Jia yang duduk di tengah. Senyum kecil terkesan jail terbit dari bibir keduanya.


"Apa - apaan kalian ini!" gerutu Jia cuek.


"Sepertinya dia sengaja mencari tempat duduk dekat kita!" bisik Gladys tersenyum penuh arti.


"Whatever!" lirih Jia tidak peduli.


Materi kuliah berlangsung selama hampir dua jam. Setelah benar - benar usai, jia beranjak bersama Gladys dan Reena. Namun Jia berdiri paling akhir. Sehingga Diego yang juga baru beranjak mencoba untuk menyapa Jia.


"Pulang sendiri?" tanya Diego pada Jia.


"Oh, tidak! Ada orang rumah yang menunggu ku di tempat parkir!" jawab Jia datar.


"Oh..." Diego mengangguk. "Tinggal dimana?" tanya Diego mensejajari langkah Jia.


"Apa itu penting?" tanya Jia merasa tidak nyaman ditanya tinggal dimana. Sadar jika keluarganya bisa saja memiliki musuh di mana - mana.


Tersenyum manis, "tidak juga sih.." Diego menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. "Sekarang mau langsung pulang?"


"Mau ke Cafe dekat kampus sebentar, tugas tadi aku mau mengerjakan bersama mereka!" jawab Jia menunjuk Gladys dan Reena yang berjalan di depannya.


"Boleh gabung?" tanya Diego.


Jia terdiam sesaat, "coba tanya mereka saja."


"Boleh lah!" sahut Gladys dan Reena bersamaan. Tentu saja keduanya sudah mendengar obrolan Jia dan Diego.


"Thanks, ya! Glad, Reen!"


"Sama - sama, Diego.." jawab keduanya menoleh ke belakang sekilas. Melirik penuh arti pada pemuda tampan itu.


Gladys dan Reena yang merupakan sahabat sejak Senior High School sudah biasa membawa satu mobil untuk berdua. Sehingga keduanya kini masuk dalam satu mobil CRV putih.


Sedangkan Jia masuk ke dalam mobil pribadinya yang sudah ada dua bodyguard di sana. Satu di balik kemudi, satu lagi membuka pintu belakang untuk Jia.


Sementara Diego menatap Jia dengan tatapan heran dan penasaran. Cukup di lihat saja, sudah jelas Jia bukan sebarang anak. Karena untuk ke kampus saja sampai harus di jaga dua bodyguard sekaligus.


Diego sendiri mendekati sebuah sportcar Aston Martin berwarna hijau tua. Dengan santainya ia masuk ke dalam salah satu mobil mewah di parkiran kampus itu.


Hal itu tentu menarik perhatian Gladys dan Reena yang hobi mengamati Mahasiswa yang datang ke kampus menggunakan sport car mewah.


"Ternyata dia juga kaya raya!" ujar Gladys pada Reena yang duduk di balik kemudi.


"Kamu benar!" jawab Reena. "Sangat pantas jika bersanding dengan Jia yang juga kaya raya!" lanjutnya tersenyum kagum.


"Lalu siapa yang pantas bersanding dengan kita?" tanya Gladys melirik Reena.


"Belum datang mungkin!" jawab Reena mengerucutkan bibirnya dan terkesan menyedihkan.


"Memangnya akan ada lagi yang datang ke kampus menggunakan mobil mewah?"

__ADS_1


"Kamu tanya aku, memangnya aku Cenayang?" jawab Reena menoleh kesal pada sahabatnya.


"Heheheh!" gelak Gladys.


***


📞 "Jio, Pulang! Ikut Daddy ke markas!"


📞 "Ok, Dad!"


Sebuah titah di dapat Jio saat mobil Bugatti nya berhenti tepat di depan sebuah bengkel, dimana Mini Cooper orange milik Virginia baru saja selesai di ganti ban baru.


"Ada apa, Jio?" tanya Virginia.


"Daddy meminta aku pulang."


"Ada hal penting?"


"Maybe!" jawab Jio menoleh sahabat masa kecilnya itu dan menatapnya lembut.


"Kalau begitu kamu pulang saja, aku akan ambil mobil ku sendiri." ucap Virginia tersenyum manis sembari melepas seatbelt nya.


"Aku antar sebentar!" Jio ikut melepas seatbelt nya.


"Tidak usah, Jio!"


Tak ada jawaban dari Jio, Jio langsung keluar dari mobil Bugatti nya dan di sambut oleh seorang bodyguard yang ia perintahkan untuk menderek mobil Virginia.


"Sudah selesai?" tanya Jio tanpa menoleh bodyguardnya.


"Sudah, Tuan Jio!" jawab bodyguard berpakaian hitam itu.


' Dia masih sama, sejak dulu selalu di kelilingi para penjaga! '


Ucap Virginia dalam hati.


Setelah berucap dalam hati, Virginia melesat ke meja kasir untuk membayar tagihan mobilnya.


"Sudah di bayarkan atas nama Georgio, Nona!" ucap Sang Kasir setelah mengecek data pembayaran.


"Oh, begitu..."


Virginia menoleh Jio yang terlihat memastikan ban mobilnya terpasang dengan benar. Segera ia hampiri sang pemuda yang sudah ia tunggu hampir delapan tahun itu.


"Jio, berikan aku nomor rekening mu. Aku akan mengganti biayanya."


Jio yang menunduk melihat roda Mini Cooper Virginia, segera menoleh sang gadis dengan dingin.


"Mengganti?" tanya Jio lirih. "Sejak kapan kita saling mengganti uang?" tanya Jio menatap dalam sang gadis.


Virginia terdiam dalam gagu. Ia nyaris lupa berhadapan dengan siapa. Putra mahkota dari seorang pemilik kerajaan bisnis terbesar di Roma. Sekaligus pemimpin salah satu klan terbesar di dunia.


"Tapi...." Virginia tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Kami sudah tidak menganggap aku sahabat?" tanya Jio menghadapkan tubuhnya penuh pada Virginia.


"Bukan begitu, Jio... Aku hanya merasa terlalu merepotkan kamu di hari pertama kita kembali bertemu."

__ADS_1


"Tidak ada yang di repotkan, Nia! Aku, kamu, kita tetap sama." ucap Jio. "Baiklah, aku harus segera pulang! Bodyguard ku akan mengikuti mobil mu sampai kamu tiba di rumah." pamit Jio, mengulurkan tangan hendak menyentuh kepala gadis itu.


Namun tangan itu hanya berhenti di antara ruang hampa. Dna berakhir dengan mengusap lengan sang sahabat. Rasanya nyalinya belum berani untuk membelai rambut gadis cantik itu.


"Hati - hati, Jio.." lirih Virginia merasa kecewa, karena tangan itu tidak sampai menyentuh kepalanya.


"Kami juga!" balas Jio.


Sepasang sahabat kembali bertemu setelah delapan tahun berpisah. Dan saat ini keduanya harus kembali berpisah, setelah beberapa jam berada dalam satu mobil.


***


"Ada apa, Daddy?" tanya Jio memasuki ruang tengah istana Michael.


"Setelah tiga bulan kamu belajar memegang Sebastian Corp. Maka saat ini kamu harus belajar untuk menjadi pemimpin Black Hold!" desis Michael dengan wajah serius. Menatap putra sulungnya yang ia gadang - gadangkan sebagai putra mahkota.


"Kamu harus turun secara langsung ke lapangan! Berhadapan dengan musuh - musuh nyata di dalam kehidupan kita, Jio!"


"Baiklah!" jawab Jio berwajah serius pula seperti sang ayah.


"Kamu siap!" hentak Michael ingin memastikan bahwa putra nya tidak dalam keadaan dilema.


"Siap! Tuan besar Xavier!" jawab Jio bernada tegas dengan tatapan mata yang tajam.


Michael tersenyum samar. Ia puas, karena aura iblis yang ia miliki sepertinya benar - benar menurun pada sang putra. Meskipun ia tau, jika Jio memiliki sisi lain yang berlawanan dengan dirinya.


"Hm!" jawab Michael singkat. "Kita berangkat!" titah Michael pada Jack dan Dimitri yang juga ada di dalam ruangan itu.


"Siap, Tuan!" jawab kedua bodyguard utama.


Mengendarai Jeep untuk sampai ke markas. Mobil yang membawa Tuan besar dan Tuan mida Xavier di kawal oleh dua Jeep lainnya. Dengan masing - masing berisi 6 orang bodyguard bersenjata lengkap.


Tuan besar Xavier dan Tuan muda Xavier dudu di barisan tengah. Menghadap ke depan, dengan sama - sama memasang wajah iblis yang di balut dengan wajah tampan khas milik keduanya.


Berbeda usia, beda postur tubuh, dan beda kebiasaan. Namun wajah tampan yang di miliki sang ayah sepertinya menurun dengan sempurna pada sang putra mahkota.


Cit!


Ban mobil Jeep yang di kendarai dengan kecepatan nyaris penuh itu berdecit tepat di depan sebuah bangunan yang di kenal sebagai markas Black Hold.


Para penjaga segera berdiri begitu melihat tiga Jeep memasuki pagar menjulang tinggi yang menutupi bangunan di dalamnya.


Turun bersamaan dari pintu yang berbeda, membuat para anak buah segera berpencar untuk menyambut dua generasi dengan kedudukan tertinggi di klan itu.


"Selamat sore, Tuan muda Xavier!" sapa anak buah yang menyambut Jio.


"Hm!" jawab Jio dengan ekspresi datar. Mata nya terus mengamati bangunan yang akan terlihat sangat seram untuk mereka yang jauh dari dunia hitam. Namun bagi Jio, bangunan itu sudah sewajarnya seperti itu.


"Selamat sore, Tuan besar Xavier!" sapa anak buah yang menyambut turunnya sang Tuan besar.


Namun yang di sapa tak berucap sepatah katapun, ia justru segera melesat ke arah pintu masuk markas. Dan Jio sigap akan hal itu. Ia pun ikut melangkah dengan dingin.


Bapak dan anak, dimana darah yang sama mengalir di dalam tubuh mereka. Berjalan beriringan, menimbulkan aura mistis bagi yang tau sepak terjang Sang Mafia sejak muda.


"Siapa dia, Daddy?" tanya Jio dingin, menatap dua orang yang baru saja di keluarkan dari penjara gelap gulita.


"Musuh yang harus kau atasi!" jawab Michael.

__ADS_1


...ðŸŠī Happy Reading ðŸŠī...


Ok guys! Di next episode akan ada gebrakan perdana sang Putra Mahkota. Stay tune, yaaa 😘😘


__ADS_2