
Selena menerima tamu yang tak di undang saat jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Katanya pria 40 tahun itu teman Zico.
Setelah beberapa kali obrolan ringan. Selena di buat tercengang dengan pengakuan pria itu. Bahwa pria itu ingin menemui dirinya, bukan Michael.
Dan semakin tercengang, saat seorang pria lagi seumuran dengan Zico masuk ke dalam apartemen.
"Hai girl!" sapanya dengan mata mengerling sebelah serta senyuman nakal. "Zico menjanjikan dirimu pada kami..." desisnya dengan nada yang menjijikkan.
Nafas Selena tak beraturan. Ia dapat mengira apa yang akan terjadi. Maka segera ia berdiri dan hendak masuk ke kamarnya untuk melarikan diri. Namun sial, pria 31 tahun berhasil menahan tubuhnya.
[ Adegan 21+ ]
"Kamu tidak bisa kabur, sayang... kamu lupa kamar mu tidak bisa di kunci?" tanyanya.
Selena kembali tercekat. Ia benar - benar tak punya jalan keluar untuk saat ini.
"Mau tak mau, sebaiknya kamu menikmati permainan kita, girl..." sahut pria 40 tahun menyentuh kedua pundak Selena dari belakang. "Betul kan, Marc?" tanyanya pada pria 31 tahun.
"Betul, Uncle Zen!" sahut Marc.
"Zico bilang kamu perawan. Jadi biarkan kami saja yang mengajari kamu bercinta." ucap Zen. "Kami janji akan membuat kamu mendesah nikmat semalaman..." bisiknya nakal.
"Uncle Zen benar! bermain bertiga sangat menggairahkan, girl.... kamu harus mencobanya!"
"Lepas!" ucap Selena.
Bukannya melepas, Marc justru meringsek, mencium bibir Selena secara paksa. Sedangkan Zen langsung beraksi dengan membuka kimono Selena. Melepasnya dari tubuh Selena. Menyisakan satu set pakaian dalam berwarna merah menyala.
"Wow..." desis Zen menatap tubuh Selena dari belakang.
Cepat - cepat ia mencium dan menjilati punggung mulus Selena. Tangannya bergerak nakal dan meraih dua gunung kembar dari belakang.
Kecupan Zen semakin turun sampai di bokong. Memainkan bokong dengan kedua tangannya. Sedangkan Marc, melepas pengait br* Selena.
Keduanya kompak mendorong Selena, hingga Selena bersandar pada punggung sofa. Zen dan Marc langsung melahap buah dada Selena yang menantang.
Untuk kedua kalinya ada dua pria yang menghisap dadanya secara bersamaan dengan penuh nafsu.
Rasanya sangat aneh untuk Selena. Tapi Selena tak bisa menolaknya. Mau tak mau ia membiarkan tubuhnya di nikmati dua pria beda usia itu.
Hingga akhirnya kini ia sudah berada di atas ranjangnya. Punggungnya bersandar pada paha Marc, yang tengah asyik bermain dengan buah dadanya.
Sedang pahanya terbuka lebar, dimana kepala Zen tengah asyik bermain dengan bukti keperawanannya.
"Aku atau kamu yang duluan Marc?" tanya Zen sembari terus mengoyak menggunakan jari.
"Uncle saja yang duluan! Marc sudah sering dapat perawan!" sahut Marc.
"Good!" jawab Zen senang.
Maka Zen segera melucuti pakaiannya. Menunjukkan pada Selena senjatanya yang sudah menegang.
Dan dapat di perkirakan apa yang terjadi selanjutnya.
Maaf, Author tidak melanjutkan apa yang terjadi dengan Selena. Jika kurang, silahkan membayangkan sendiri 😂
# # # # # #
__ADS_1
Pagi menyapa, Selena duduk termenung di atas ranjangnya. Ia belum sempat berpakaian. Dua pria itu baru saja meninggalkan apartemennya.
"Aku akan membalas mu, Chania! Semua ini karena kamu!"
Dengkusnya meremas selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
"Aku harus bisa keluar dari sini! dan menyeret mu untuk menggantikan aku di sini!"
Janjinya menatap tajam ke arah depan.
# # # # # #
"Apa rencana mu setelah ini?" tanya Michael pada Zico yang berada dalam satu mobil limousine dengannya.
"Aku akan membawanya ke Amerika!" jawab Zico datar.
"Why?"
"Aku punya tempat yang tepat untuknya?"
"Lokalisasi?" sahut Michael setengah bercanda.
"Bukanlah!" jawab Zico cepat. "Aku juga masih punya hati, Mich!"
"Serius?" Michael menoleh tak percaya pada sahabatnya.
"Aku hanya memberinya hukuman malam ini saja. Itupun karena janji ku yang tak kunjung dapat ku bayar pada Zen dan Marc!Selanjutnya aku akan mengirimnya ke asrama!"
"Asrama macam apa?"
"Haha!" tergelak kecil. "Aku tak yakin kau masih punya hati sebaik itu!" Michael meninju pelan lengan Zico.
"Sekali itu saja, tapi kalau dia tetap gila, maka aku akan mengirimnya ke pedalaman amazon!" ucap Zico meremas jemarinya sendiri.
"Aku justru ingin mengirimnya sekarang!" ujar Michael. "Kau tau! gara - gara ulah adik mu itu, tubuh istri ku oenuh goresan luka! Aku yakin Chania mendapatkan goresan - goresan itu saat di gudang!" ucap Michael. "Belum lagi bekas goresan peluru yang masih di perban. Aku tak bisa bermain seliar yang ku inginkan semalam!"
"Haha!" Zico tergelak mendengar curhatan sahabat lamanya. "Jadi semalam kau tak puas?"
"Tentu saja aku puas! istriku selalu yang terbaik!"
"Yaa..yaa.. terserah kau saja!" dengkus Zico.
***
Selena duduk di meja makan, menatap makanan yang baru saja di masukkan oleh penjaga. Ia hanya menatap tanpa ingin memakannya.
Sejak semalam, sejak apa yang terjadi dengannya, rasanya ia tak nafsu lagi untuk sekedar makan. Ia bahkan merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah cara untuk membalas Chania lebih kejam. Namun tiba - tiba pikirannya kembali pada hari ini.
Bagaimana jika Michael akan membalasnya lebih kejam dari sekarang?
"Aku tetap akan membalas mu, Chania! aku tidak akan membiarkan hidupmu baik - baik saja!" dengkusnya menusukkan pisau ke dalam daging di atas piring. Pandangannya terus kosong ke arah jendela.
Tanpa ia tau, jika kalimat yang baru saja ia ucapkan terdengar oleh dua pasang telinga yang baru saja memasuki apartemennya.
Terbiasa bergerak dengan senyap, membuat langkah Michael sama sekali tidak terdeteksi oleh Selena yang sedang merencanakan kejahatan untuk istrinya.
__ADS_1
Zico yang juga mendengar kalimat Selena, ikut merasa geram. Bagaimana tidak, sudah di beri hukuman sedemikian menjijikkan tapi tidak juga jengah. Maka kali ini ia akan angkat tangan. Membiarkan Sang Mafia melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Maka... Michael Xavier, Mafia si Naga Hitam bergerak maju. Mendekati tempat duduk Selena yang membelakangi dirinya.
Tanpa ragu, tanpa perasaan, Michael mendorong kepala Selena hingga pipi Selena menempel sempurna pada meja kayu berwarna putih.
"Aakh!" teriak Selena kesakitan. Karena tekanan Michael sangat kuat di rasa.
Dengan gigi mengerat, Michael melontarkan kalimat - kalimat iblisnya.
"Kau ingin mati di tanganku?" tanya Michael dengan amarah sepenuh dada.
"Akkh!" teriak Selena. telinganya terjepit, sangat sakit.
"Aku sempat berfikir untuk mengampuni mu, dengan menyerahkan mu pada kakakmu! Tapi apa?" tanya Michael. "Telinga ku sendiri mendengar rencana busuk mu untuk istriku!"
"Lepas, Kak!" ucap Selena mencoba melepaskan tangan Michael yang mendorong kepalanya dengan sangat kuat.
Namun tangan Michael sama sekali bergerak. Tenaga Selena bukanlah apa - apa.
"Kau tidak akan bisa menyentuhnya! Sebelum kau melangkahi mayat ku!" ucap Michael dengan gigi yang mengerat.
"Ampun, Kak!" mohon Selena. Air mata sudah mengalir di pelipisnya. Jatuh tepat mengenai meja putih.
"Aku tidak pernah sekalipun mengampuni musuhku dua kali!" jawab Michael. "Semalam aku sudah mengampuni mu! Jadi sekarang..." Michael menggantung kalimatnya, menarik nafas dalam sebelum kembali berucap.
"Sekarang kau harus mendapat hukuman dariku!" seru Michael meraih pisau kecil dari balik jaketnya. Pisau kecil, tajam dan turun temurun dari generasi pertama Black Hold.
Maka tanpa ragu lagi, Menggores pipi Selena menggunakan pisau itu. Hanya sayatan kecil, tapi efeknya bisa membuat seseorang pingsan kehabisan darah.
"AAAAKKKHHH!" teriak Selena kesakitan.
Darah merah mengalir dari pipi mulus tanpa jerawat. Air mata semakin deras mengucur. Rasa sakit serasa tembus sampai ke tulang pipi satunya.
Zico mengalihkan pandangan. Ia bukanlah Mafia macam Michael. Melihat darah mengalir sederas itu tentu membuatnya sedikit mual.
Meski bertahun - tahun berteman dengan Michael, tapi baru kali ini ia melihat Michael membuat seorang wanita berdarah dengan tangannya sendiri.
"Kau ingin satu lagi?" tanya Michael dengan gigi yang masih mengerat.
"A...ampun, Kak!" ucap Selena sebisa mungkin.
"Mich, serahkan saja dia padaku! aku akan membalaskan mu!" ucap Zico merasa kasihan dengan Selena. Bagaimana pun ia tak ingin Selena mati begitu saja.
Tapi Michael belum puas dengan aksinya. Maka kembali ia menggores tangan Selena dari punggung tangan sampai siku.
"Ini akan menjadi bukti seumur hidup, kalau kau pernah berurusan denganku!" ucap Michael tegas, penuh penekanan. Ia hempaskan kepala Selena begitu saja. Mendengkus kesal, kemudian berlalu dari apartemen itu.
"Aku akan menagih janjimu!" ucap Michael pada Zico yang mengikuti langkahnya.
"Serahkan saja dia padaku!"
Dengan amarah yang belum sepenuhnya reda, Michael masuk ke dalam lift, begitu juga dengan Zico.
Sementara dua penjaga memanggil dokter untuk menangani luka Selena. Gadis itu terus menangis, karena sakit yang luar biasa.
...🪴 Happy reading 🪴...
__ADS_1