SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 256


__ADS_3

Setelah membuat sebuah vidio yang akan di jadikan bukti kenangan, Jio mengajak sang kekasih untuk tidur sebelum nanti sore menjalani operasi yang menegangkan.


Mengantarkan sang kekasih pada mimpi yang semoga akan indah, Jio hanya berpura - pura tidur. Pemuda itu berbaring di samping tubuh Virginia yang kini sudah terlelap dalam tidurnya. Brankar pasien ruang rawat VIP cukup untuk menopang dua anak manusia yang beda tinggi itu. Apalagi tubuh Virginia sangat kecil.


Merasa sang kekasih sudah berada di bawah alam sadarnya, Jio kembali membuka matanya secara perlahan. Dan saat mata itu terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik sang kekasih yang tertidur dalam damai.


Sungguh jauh berbeda dengan perasaan Jio yah sedang jauh dari kata damai dan tenang. Itu semua karena yang mimpinya sering menjadi nyata.


Ia teringat kembali tentang mimpi... Mimpi yang hadir pada suatu malam di antara tidurnya yang akhir-akhir ini sulit sekali terasa nyenyak.


Di dalam mimpi itu ia tengah berjalan di atas pasir pantai seorang diri, di tengah gelapnya malam. Pantai yang menjadi titik awal kebahagiaan dirinya dan sang kekasih. Pantai yang menjadi saksi bisu menyatunya dua hati yang sudah sekian tahun memendam perasaan cinta.


Malam itu pantai itu terlihat sunyi sepi tanpa satu orang lain lagi yang ada di sana. Bahkan lampu yang di bentuk sedemikian rupa telah mati semua. Entah di sengaja atau tidak. Yang jelas yang ada hanya lah sinar bulan yang menerpa pemukaan pantai. Sedangkan lampu--lampu kecil yang redup hanya ada di beberapa titik saja. Itu pun di jalanan tepi pantai.


Lalu kemana Virginia?


Rasanya tidak mungkin jika gadis itu tidak menemani Jio di pantai yang di nobatkan sebagai pantai terindah oleh mereka berdua.


Kenapa dirinya hanya seorang diri di pantai yang menjadi saksi dimana cinta mereka bersemi dan mulai memasuki kapal cinta. Untuk kemudian berlayar di antara berbagai halangan dan rintangan, untuk bisa sampai di tengah laut.


' Semoga semua hanya mimpi pengantar tidurku... dan hanya kebetulan saja mimpi itu sangat buruk untuk ku yang tengah terombang ambing oleh badai. '


Ucap Jio dalam hati.


Sungguhlah ia tak bisa tenang dengan kemampuannya akan mimpi-mimpi yang selalu menjadi nyata. Semua itu seolah menjadi malapetaka untuk dirinya. Tak ada yang ingin tau tentang masa depan yang suram Semua manusia menginginkan masa depan yang indah.


***


Sementara di kantin Sapienza University ada cerita lain. Kantin dengan nuansa restauran ala bintang 5 tengah ramai oleh Mahasiswa dari berbagai fakultas yang memiliki uang saku lebih untuk membeli makan siang di sana.

__ADS_1


Namun satu yang menarik perhatian banyak Mahasiswa di sana. Yaitu keberadaan seorang pemuda, dengan pakaian ala bodyguard, namun wajahnya sangat tampan, bahkan lebih tampan dari anak pejabat, tengah makan siang bersama seorang Georgia Xavier. Mahasiswi Desain yang mana mereka semua tau, jika Jia adalah anak orang terkaya di daratan Italia.


"Siapa namanya?" tanya Reena yang mengambil posisi untuk duduk di sisi kanan Jia.


"Untuk apa kamu ingin tau siapa namanya?" tanya Jia sedikit tidak suka jika ada yang ingin tau lebih banyak tentang sang kekasih. Meskipun itu hanya sekedar nama panggilan semata.


"Tidak boleh? memangnya dia pacar kamu?" bisik Reena dengan seulas senyum simpul. Terlihat dari wajah Jia yang tidak mau langsung menjawab, maka kemungkinan besar dugaan nya sudah pasti benar.


"Jangan sembarangan bicara kamu, ya!" hentak Jia yang takut jika rahasianya akan secepat itu terbongkar.


"Hehehe! canda!" ucap Reena. "Kalau dia jomblo aku dengan senang hati di perkenalkan dengan dia, Jia! aku tidak peduli walau dia seorang bodyguard sekalipun" bisik Reena lagi.


Kali ini Reena bicara dengan senyum yang terlihat sangat menyebalkan di mata Jia. Karena senyum itu seolah-olah menunjukkan jika Reena sangat menginginkan Xiaoli yang duduk di depannya.


"Aku juga mau, Jia!" sahut Gladys yang juga mendengar bisikan Reena.


Jia menarik nafas panjang dan dalam. Kemudian menghelanya dengan pelan dan panjang pula. Kini ia serasa menyesal telah membawa sang kekasih memasuki area kampus. Banyak sekali kupu-kupu yang ingin hinggap di tubuh sang kekasih.


"Ha? apa pengaruhnya? kan dia bodyguard! justru dia bisa melindungi kekasihnya yang lemah!" ucap Reena menatap wajah tampan Xiaoli yang terlihat sangat cuek dengan obrolan gadis-gadis di depannya.


"Nah, betul itu!" sahut Gladys.


"Tch!" Jia berdecih kesal. "Tugas dia kan melindungi bos nya, lah saat dia tidak sedang bersama kalian, siapa yang melindungi kalian? kan sangat tidak masuk akal, jika pacar bodyguard luka-luka karena di hajar orang, misalnya. Atau bisa juga dengan kasus yang lain."


Jia mencari alasan yang masuk akal dalam waktu singkat. Sangat sulit rasanya, hingga yang keluar hanya kalimat itu saja. Dan sedikit tidka masuk akal karena tidak di jelaskan secara rinci.


"Tapi... tanpa dia jadi pacarku. Selama ini tidak ada yang menghajarku..." jawab Reena mengerenyitkan keningnya. "Kenapa jadi pacarnya, tiba-tiba aku hajar orang?"


Ide brilian mulai muncul di kepala Jia, "Karena pacarnya adalah seorang guru silat wanita! Sekali tebas, musuh lewat! kalau kamu berani merebut pacarnya, bersiaplah lehermu patah olehnya!" jawab Jia dengan senyum penuh kemenangan. Apalagi nada bicaranya di buat seseram mungkin.

__ADS_1


"Jadi harus bisa bela diri?" tanya Reena yang tampaknya sangat antusias dengan sosok Xiaoli Chen.


"Ya, betul!" sahut Jia. "Kamu bisa?"


Reena menggelengkan kepala dengan bibir yang mengerucut. Ia tidak pernah berkenalan dengan dunia keras semacam itu. Tapi wajah tampan Xiaoli sangat memabukkan matanya. Sedari tadi matanya tak bisa berpaling ke arah manapun. Termasuk ke arah Diego sekalipun.


Padahal dulu wajah Diego menurutnya paling tampan. Tapi sekarang terlihat biasa saja jika di sandingkan dengan Xiaoli. Apalagi Xiaoli jauh lebih macho dan jiwa gentle man nya menguar dengan sendirinya, meski sang pemuda hanya diam.


"Dia sudah punya kekasih! jangan di lihat terus!" sembur Jia tepat di telinga Reena, hingga membuat Diego dan Gladys reflek tergelak.


Tak terkecuali Xiaoli. Bedanya pemuda itu sangat pintar menutupi ekspresi aslinya.


"Kamu tidak berniat menukar pacar mu dengan kau?" tanya Reena menghiraukan peringatan Jia.


"TIDAK AKAN!" sembur Jia lagi dengan mata yang sedikit membulat. Karena jika benar di tukar, itu artinya dirinyalah yang di tukar. Oh, TIDAK BISA!


"Kamu mau apa yang akuu ceritakan tadi terjadi padamu?" tanya Jia. "Kamu mau pulang-pulang tinggal nama dan tubuhmu yang berantakan? entah terpotong jadi berapa!"


Reena kembali menggelengkan kepalanya lagi. Pupus lagi target untuk ia bisa mencuri hati sang pemuda.


"Bagus!"


Sementara Xiaoli, sejak tadi perutnya serasa di gelitiki. Bagaimana tidak, obrolan Jia dan Reena benar-benar terlihat sangat lucu di mata sang pemuda. Setengah mati ia menahan rasa ingin tertawanya melihat Jia yang jelas langsung badmood ketika sang sahabat menanyakan namanya. Hanya sekedar nama.


"Memangnya kekasihmu tidak marah kalau kamu makan siang bersama Jia?" tanya Diego pada Xiaoli. "Hanya berdua begini. Tadi aku sempat berfikir kalian memang menjalin kedekatan."


"Nona Muda Jia adalan anak Bos besar saya. Siapa yang berani memarahi saya ketika bertugas menuruti keinginan Nona Muda?" jawab Xiaoli dengan nada yang sangat dingin.


"Iya juga ya!" jawab Diego sedikit ketus.

__ADS_1


Sebagai sesama lelaki, Diego tau ada nada yang tak biasa yang keluar bersamaan dengan jawaban Xiaoli. Namun ia hanya menjawab singkat.


...🪴 Bersambung... 🪴...


__ADS_2