SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 96


__ADS_3

Matahari masih malu - malu menyapa kota Roma, Italia. Dua insan manusia masih bergelung di bawah selimut tebal. Saling berpelukan dan bertukar kehangatan.


Sepasang mata lentik mulai mengerjap, menarik nafas dan menggeliat lembut di dalam dekapan hangat sang lelaki. Meregangkan otot - otot kaku karena semalam dalam posisi tidur yang tidak bebas.


Merasakan ada pergerakan, sang lelaki tak tinggal diam. Takut jika yang bergerak melepaskan diri, maka ia segera memiringkan tubuh dan menarik si perut buncit untuk kembali menempel pada tubuhnya.


"Michael!" pekik Chania reflek.


Spontan Michael membuka matanya lebar. Menatap tajam Chania yang sontak menutup mulutnya karena salah memanggil.


"Apa kamu bilang?" tanya Michael masih dengan nada datar.


"A... A... Honey..." jawab Chania tersenyum semanis mungkin. Mencoba mengurai kekesalan Michael.


"Telinga ku tidak tuli, Baby..." desis Michael semakin mengeratkan pelukan.


"Ih.. sesak!" pekik Chania mencoba melepaskan tangan Michael.


Michael justru meringsek ke dalam lipatan leher Chania. Menimbulkan rasa geli menggelitik di sana.


"Hahaha!" gelak Chania menahan geli.


"Beraninya kamu memanggil hanya dengan namaku." ucap Michael semakin menjadi - jadi. Hingga lidahnya pun ikut menari di sana.


"Hahaha! Maaf! Maafkan aku!" seru Chania mencoba mendorong tubuh Michael. Namun siapalah dirinya. Tenaganya tak ada seperempat dari tenaga Michael.


"Panggil dengan benar!"


"Iya! Iya! Honey!" seru Chania.


"Lagi!"


"Honey! my Honey! suamiku... please lepaskan aku!"


Ucapan Chania berhasil membuat Michael menghentikan aksinya. Tuan Mafia itu jelas masih menahan gemas pada sang istri.


Cahaya matahari masuk, menyelinap di antara gorden yang tidak tertutup rapat. Membuat Michael segera beralih pandang.


"Oh, God! kita harus segera ke rumah Papa!" ucap Michael bangkit dari ranjang, melompat turun. "Mau mandi bersama?" tawar Michael.


"Hanya mandi, kan?" tanya Chania yang masih di atas ranjang.


"Memangnya mau apa lagi?" Michael kembali melompat ke atas tempat tidur. Mendekatkan wajah pada istrinya dengan senyuman menggoda. "Kamu mau aku menjenguk baby twins kita?" goda Michael semakin mendekatkan wajahnya.


"Noooo!" jawab Chania mendorong dahi Michael ke belakang. Hingga pria itu mendongak ke atas dengan mata terpejam dan kekehan kecil.


"Hanya mandi! Papa pasti sudah menunggu!" ucap Michael mengangkat tubuh Chania di depan dada.


***


Michael dan Chania turun dari limousine, mereka sudah berada di depan rumah megah. Dimana Chania pernah di bawa kesana saat pertama kali ikut Michael pulang. Semua masih sama. Warna cat, taman dan kemegahannya masih sama.


Michael selalu dengan jas mahalnya. Sedang Chania dengan dress untuk ibu hamil berwarna putih, yang terlihat begitu anggun dan mewah.

__ADS_1


Di antara keraguan kekhawatiran akan bertemu orang tua Michael, Chania masih sempat tersenyum. Mengingat momen berbulan - bulan yang lalu. Saat pertama kali ia mengenal Michael. Saat pertama kali melihat aksi heroik Michael menghabisi musuh dan menghukum musuh. Sampai akhirnya ia jatuh cinta dengan sang Tuan Mafia.


Chania melirik Michael yang berjalan di sisi kanannya. Seutas senyum terbit di sana. Ia yakin bahwa sang suami akan melindunginya. Ia semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Michael.


Hingga membuat sang empunya tangan menoleh. Dikira ada yang ingin di katakan, namun hanya senyuman manis yang terbit di sana. Ia balas dengan senyuman tipis nyaris tak terlihat. Namun tangan kanannya terangkat untuk mengusap jemari Chania di lengan.


Pintu di buka oleh seorang pengawal yang berjaga di depan pintu. "Silahkan, Tuan muda Xavier!" ucapnya menunduk hormat.


Tanpa menjawab, ia tetap membawa Chania melenggang memasuki rumah megah dan mewah itu. Dua maid ternyata sudah bersiap untuk menyambutnya.


"Tuan besar dan Nyonya besar ada di halaman belakang, Tuan muda!"


"Hem!"


Michael segera menuju lorong yang mengarah ke halaman belakang. Sementara lerasaan Chania semakin tidak karuan. Antara takut dan siap menerima kenyataan apapun yang akan terjadi sebentar lagi.


Michael meraih jemari Chania, dan menautkan jari - jari mereka. Ia sadar Chania sedang tidak baik - baik saja.


"Mom?" panggil Michael pada sang Papa dan Mama yang duduk membelakangi kehadirannya.


"Michael?" Mama Madalena menoleh kebelakang, menatap penuh rindu pada putra satu - satunya yang ia miliki.


Chania sedikit tertegun, karena Mama Michael tak lagi duduk di kursi roda. Namun ia masih melihat perempuan pendamping yang sama, Jennie. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari Frederick dan Madalena duduk.


Dan terlihat jelas jika sang Mama tidak lagi seperti dulu. Jika dulu terlihat pucat, dan seperti orang sakit dan lupa ingatan. Kali ini terlihat begitu muda dan fresh.


"Kemarilah, Michael!" perintah sang Papa Frederick.


Mengikuti langkah Michael, Chania menunduk setelah mengambangkan bibirnya untuk menyapa Papa dan Mama mertuanya.


"Selamat pagi Tuan besar dan Nyonya besar." sapa Chania yang sudah berdiri di samping mertuanya.


"Hemm!" jawab Frederick datar.


Melihat Mama Madalena yang tak merespon sapaannya Chania hanya bisa tersenyum perih sembari mengusap perutnya Kembali mencari kekuatan dari dua calon bayinya.


"Mom?" Michael menunduk untuk mencium pipi sang Mama. "Apa Mama merasa semakin membaik?"


"Iya!" jawab Madalena mengusap pipi sang putra mahkota.


Michael mengajak Chania untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan orang tuanya. Sebuah meja persegi panjang menjadi pembatas di antara mereka.


Chania semakin di ambang kegugupan, karena sejak ia duduk Mama Madalena menatap wajah dan perutnya lekat secara bergantian. Hingga gadis itu kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


Suasana terasa hening untuk sesaat. Hanya deru nafas berat dan detak kencang jantung Chania saja yang mendominasi.


"Berapa usia kandungan mu?" suara datar dari wanita yang tetap cantik di usia lewat setengah abad itu.


"Ham..hampir tujuh bulan, Nyonya." jawab Chania ragu. Ia begitu gugup, dan takut akan terjadi hal buruk pada kandungannya. Meski begitu, Chania tetap memberanikan diri untuk menjawab dengan menatap mata Madalena.


Madalena melirik Michael yang tersenyum simpul. "Kenapa kamu tidak mengatakan padanya?" tanya sang Mama.


"Apa?" Michael balik bertanya.

__ADS_1


"Kenapa gadis ini memanggil Mama dan Papa dengan sebutan Tuan dan Nyonya? memangnya dia pembantu mu?" sindir Madalena pada sang putra.


"Hahaha!" Michael justru terkekeh. "Dia saja yang terlalu polos, Mom!" jawab Michael meraih jemari Chania dan menggenggamnya lembut.


Chania menoleh Michael seolah bertanya memberi tahu tentang apa.


"Segila itu kalian menikah tanpa Papa dan Mama!" sahut Frederick.


Chania membulatkan matanya lebar. Ia tak menyangka jika mertuanya tau mereka sudah menikah. Dan menikah itu adalah permintaan darinya. Akankah ia akan di telan hidup - hidup oleh salah satu penguasa negeri itu?


Reflek kaki Chania bergetar, tangannya pun ikut bergetar. Ia tak tau harus berbuat apa. Tangan yang bergetar meremas dress putihnya untuk menguasai diri.


Namun detik berikutnya, "Kapan kalian akan mengadakan pesta?" suara sang Mama membuat Chania membeku, kaki yang bergetar berhenti seketika.


"Setelah kedua bayi kami lahir!" jawab Michael.


"Pesta?" pekik Chania menoleh Michael. "Pesta apa?"


"Tentu saja pesta pernikahan, Baby..."


Chania semakin membeku, pesta pernikahan? apakah cintanya direstui? Dengan ragu ia menoleh Papa dan Mama mertuanya.


"Kenapa kamu tidak meminta sebuah pesta pernikahan?" tanya sang Mama. "Meskipun pada akhirnya akan menimbulkan kerumitan yang sulit untuk di atasi, bukankah setiap wanita yang di nikahi seorang lelaki selalu menginginkan sebuah pesta?"


"Tentu saja sebenarnya dia ingin, Mom! hanya saja dulu..." Michael menggantung kalimatnya. Melirik Chania, dan rasa bersalah kembali mendera hatinya. "Mama dan Papa tentu tau jawabannya."


"Hemm.. jangan khawatir, kita akan menghadapi bersama. Papa dengar Antoni sudah menemukan jalan terang di mana keberadaan saudara kembar mu, Chania."


"Apa!" pekik Chania tak percaya. "Maksud Tuan, Sania Arlington?"


"Iya!" jawab Frederick.


Reflek Chania menoleh pada Michael untuk mencari kebenarannya. Michael tampak mengangguk dengan seulas senyuman.


"Kita akan terlepas dari jerat Deborah!"


Jantung Chania semakin berdetak hebat. Namun kali ini berpacu karena rasa tak percaya jika Michael mencari saudara kembarnya.


"Setelah semua urusan selesai, kita akan menikah, Baby!"


"Tapi..."


"Kenapa?" sahut Madalena.


Lidahnya seolah tercekat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi... saya merasa tidak pantas untuk di akui sebagai istri sekaligus menantu keluarga Sebastian, Nyonya." lanjut Chania menunduk.


Tiga orang saling pandang. Michael tersenyum tipis, sedang Frederick dan Madalena mengulum senyum mereka.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2