
Ciitt!
Decit suara roda mobil dan aspal terdengar tepat di parkiran Rumah Sakit yang tak jauh dari komplek elit perumahan mewah. Dimana di perumahan itulah istana Michael Xavier berdiri kokoh, bahkan paling besar di antara yang lain.
Jio dan Virginia keluar dari mobil secara bersamaan. Keduanya berjalan cepat di lorong rumah sakit, untuk menemukan ruang operasi, dimana kata Jia, Xiaoli tengah di tangani oleh ahlinya di dalam sana.
Brug!!
Tubuh Virginia yang berjalan sedikit tertinggal oleh Jio, di tabrak seseorang yang berlari cepat dari arah belakangnya.
"Sorry!" ucap seorang pemuda saat Virginia jatuh dengan lutut menyentuh lantai, karena tanpa sengaja ia tabrak. "Aku tidak sengaja!"
"Nia!" pekik Jio menoleh ke belakang saat menyadari Virginia terjatuh.
Emosi yang belum terarah di dalam dada, semakin tak beraturan saat melihat tangan pemuda asing itu terjulur untuk menolong Virginia.
Virginia mendongakkan kepalanya, saat mendengar suara yang seolah tak asing, tapi sangat tidak ingin untuk ia ingat.
Dua sorot mata bertemu untuk kesekian kalinya. Sontak Virginia mendelik, saat mengenali siapa yang menabrak dirinya.
Langsung ia menoleh Jio yang kini sudah berjongkok di sampingnya untuk membantu dirinya berdiri.
"Virginia!" ucap pemuda itu merasa tak percaya bertemu dengan Virginia di Rumah Sakit.
Seketika mata Jio menatap tajam pemuda yang masih berdiri di samping Virginia. Seolah bertanya siapa kamu, bisa mengenal sahabatnya. Dada yang sudah bergemuruh, kini semakin terlihat seperti hutan yang terbakar.
Tatapan tajam Jio tentu tak luput dari ekor mata pemuda asing itu. Namun seolah memiliki nyawa layaknya nyawa kucing, ia sama sekali tak gentar oleh tatapan Jio. Ia justru ikut berjongkok, sama seperti Jio.
"Maaf, Virginia! aku sama sekali tidak sengaja menabrak kamu." ucapnya dengan nada selembut sutra.
Ia ulurkan tangan kembali, namun bukan untuk membantu berdiri. Melainkan untuk meminta maaf. Dan ah, tentu saja untuk mendapatkan kesempatan bisa menyentuh kulit putih nan lembut sang gadis.
Tanpa ia ketahui bahwa ia seperti sedang berdiri di atas tebing. Untuk mencari kematian.
Tanpa ia sadari, jika ada elang yang menjadikan dirinya target makan siang.
Jio terus menelisik gerak gerik pemuda yang berani mengambil kesempatan pada Virginia tepat di depan matanya.
Virginia mendelik melihat ekspresi Jio. Tentu saja selain takut Jio salah paham, ia juga malas bertemu lagi dan lagi dengan pemuda itu.
"Maafkan aku, Virginia..." ucap pemuda itu lagi, karena melihat Virginia seolah tak menganggap keberadaannya, "tentu kamu tidak lupa siapa aku, kan?" lanjutnya mencoba membuka ingatan sang gadis.
Semua itu tentu tak luput dari sorot mata Jio yang tajam. Karakter laki - laki itu cukup mudah untuk di baca oleh Jio melalui gerak geriknya.
"Hemm.." jawab Virginia cuek, ia justru memegang lengan Jio untuk di jadikan tumpuan ia berdiri.
"Hati - hati!" ucap Jio datar membantu sang gadis untuk berdiri.
__ADS_1
"Kita harus cepat, Jio!" ucap Virginia menarik tangan Jio untuk menjauh dari pemuda di belakang.
Meski kaki mengikuti langkah Virginia, namun pikirannya tidak ikut sama sekali. Pikirannya masih tentang siapa lelaki di belakang. Dari penampilan saja sudah bisa di lihat jika laki - laki itu juha seorang konglomerat. Tak beda jauh dari asal usul dirinya.
Tak!
Sampailah keduanya di depan ruang operasi. Jia tampak duduk di lantai. Bersandar pada dinding, mengunci kedua lutut di depan dada menggunakan tangannya. Kepala menunduk, masuk di antar lingkaran tangan.
Terlihat ada beberapa lecet di siku Jia. Namun sama sekali tak terlihat parah. Untuk seorang petarung seperti mereka, hal itu sama sekali tidak berharga. Karena banyak lika yang tersembunyi di baju mereka.
"Jia!" seru Jio mendekati saudara kembarnya.
"Kak!" sontak Jia mendongak dan langsung melompat memeluk sang Kakak. Derai air mata masih terlihat berjatuhan dari pelupuk matanya.
Jio mengusap punggung adiknya dengan tulus. Meskipun entah ekspresi apa yang harus ia berikan pada Jia.
Virginia mematung, melihat kakak beradik yang sedang berbagi luka.
"Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi!" bisik Jio tepat di telinga Jia.
Jia memejamkan matanya dalam, sebelum melepas pelukannya dengan sang Kakak.
"Ini semua salah Jia, Kak..." lirih Jia penuh penyesalan.
***
Namun jika sang Ayah yang kini berada di posisi Jio, pastilah Xiaoli di jatuhi hukuman yang lebih berat di banding Jia.
Bahkan bisa jadi anak itu tidak akan keluar dari ruang operasi dengan selamat. Karena peluru pasti sudah bersarang di kepalanya karena melanggar aturannya.
"Apa yang harus Jia katakan pada Daddy, Kak?"
"Katakan sejujurnya!" jawab Jio.
"Tapi bagaimana kalau kami akan di hukum berat? Atau bahkan mungkin Xiaoli akan di hukum mati oleh Daddy?"
"Kamu takut dia mati?" tanya Jio menoleh adiknya.
"Aku...." gumam Jia menggantung kalimatnya.
"Apa?"
"Aku hanya merasa bersalah, Kak! Dia sudah melarang ku! Tapi aku terlalu keras kepala!" ucapnya lagi.
"Daddy akan menentukan hukuman apa yang pantas untuk kalian!" jawab Jio. "Aku akan berusaha membantu mencegah kemurkaan Daddy!"
Jia menatap lekat sang Kakak. Apapun caranya, memang tidak akan bisa menutupi kesalahannya. Cepat atau lambat Daddy mereka pasti akan tau.
__ADS_1
***
Sementara itu pemuda yang tidak sengaja menabrak Virginia, merasa penasaran siapa yang bersama Virginia. Dan apa yang mereka lakukan di rumah sakit itu.
Maka setelah ia sampai di ruang ia tuju, dan urusannya selesai. Cepat - cepat ia menyusuri setiap lorong rumah sakit. Guna menemukan gadis cantik yang menjadi incarannya.
Salah! Bukan hanya incarannya, melainkan incaran keluarganya.
Yah! pemuda yang tak lain adalah Alex Miguel itu sampai haris berlari - lari kecil hanya agar segera menemukan keberadaan Virginia.
Langkah lebar pemuda setinggi 180 cm itu berhenti tepat di lorong toilet wanita. Di pintu itu, sekelebat ia melihat gadis yang sangat mirip dengan Virginia, dan bajunya pun sama tengah memasuki pintu utama toilet wanita.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini..." gumamnya bersandar pada dinding rumah sakit, menghadap toilet wanita. Agar saat Virginia keluar dari sana, ia bisa kembali melancarkan aksinya. Yakni mendekati keluarga Brown.
Jarum panjang nan runcing pada jam di pergelangan tangannya terus berputar. Sepuluh menit sudah pemuda itu berdiri. Namun tak ada tanda - tanda jika Virginia keluar dari balik pintu. Setiap pintu terbuka, pasti bukan gadis yang ia tunggu.
Hingga saat pintu terbuka di sepuluh menit berikutnya, barulah gadis yang ia lihat masuk ke dalam toilet wanita keluar dari balik pintu utama.
"Virginia!" seru Alex menarik pelan lengan Virginia dan membawa gadis itu sedikit menjauh dari area toilet.
"Lepas!" pekik Virginia enggan di sentuh siapapun. Apalagi laki - laki macam Alex. Ia hanya rela jika tangannya di sentuh oleh....
Ya, kalian pasti tau siapa laki - laki di maksudkan.
"Maaf!" seru Alex reflek melepas tangannya dari lengan Virginia. "Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu..."
"Lantas?" ketus Virginia.
"Aku hanya ingin... Emm... Berbincang dengan kamu."
"Berbincang?" tanya Virginia mencibir.
"Ya, sepertinya berbincang cocok untuk mengawali pertemanan kita."
"Teman?" tanya Virginia semakin malas melanjutkan obrolan.
"Kenapa?"
"Teman ku sudah cukup!" jawab Virginia ketus. "Aku tidak suka terlalu banyak teman!" lanjutnya datar dan terkesan sangat
Cuek.
"Maksudmu... laki - laki tadi termasuk temanmu?" tanya Alex.
"Dia bukan teman!" tegas Virginia menatap tegas sepasang mata Alex.
"Lalu?"
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...