
"Carina, kamu istirahat saja dulu. Biar aku yang menggantikan!"
"Thanks, Gia! kamu memang baik!"
"Yaa.. ibu hamil jangan sampai telat makan!" celetuk Gia.
"Hehe kamu pengertian sekali." senyum mengembang dari bibir manis nan ranum.
Berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan meja kasir, gadis yang di sapa Carina itu langsung menuju tempat istirahat karyawan.
Mengambil piring dan mengisinya dengan menu makan siang yang sudah di siapkan oleh pengelola restoran untuk para karyawan yang bekerja.
"Makan yang banyak, Carina!" celetuk laki - laki berusia sekitar 30 tahun yang berpakaian juru masak.
"Siap, Chef Reno." terkekeh malu pada Reno. Seorang Chef berambut pirang dengan tingkat ketampanan khas pria eropa.
Setelah siap dengan sepiring makan siang, ia duduk di kursi yang berjajar mengelilingi meja panjang. Perut buncit berisi dua calon bayi kembar yang sudah enam bulan di dalam sana tak menyulitkan dirinya untuk duduk.
Karena tubuh gadis itu tak terlihat bengkak berlebihan karena kehamilan. Hanya bagian perutnya saja yang tampak membuncit. Dan pipi yang sedikit lebih chubby dari sebelum hamil.
Dengan lahap ia memakan jatah makan siang miliknya. Tanpa peduli dengan sekitar, sampai tidak tau jika ada sepasang mata yang aktif menatap setiap gerak gerik tangannya yang naik turun memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Lapar?" satu kata yang menunjukkan sebuah pertanyaan itu mengagetkannya yang fokus mengunyah.
"Eh, maaf Chef!" ucapnya kikuk. "Iya Chef, saya lapar." lanjutnya melirik dengan senyum salah tingkah pada Reno yang duduk di depannya dengan senyuman ramah.
"Lanjutkan saja." ucap Reno melempar senyuman manis.
"Iya, Chef."
Gadis yang dulu di panggil Chania Renata, itu kini di kenal dengan nama Carina Gabriella. Merubah identitasnya menjadi janda akibat suaminya telah berpaling ke lain hati.
Berpindah kota dengan alasan ingin melupakan masa lalu yang menyedihkan. Dan beruntungnya semua orang percaya tanpa mengecek keaslian identitasnya.
Lebih dramatis lagi, sebagian dari mereka merasa iba dan prihatin pada Chania yang di tinggalkan suami dalam keadaan hamil.
Chania yang kesepian kini bekerja di salah satu Restauran mewah di tepi pantai sebagai kasir. Empat bulan sudah dia di sana mengucurkan peluhnya.
Dengan perutnya yang semakin membesar tak menghalangi Chania untuk terus mendapatkan pemasukan. Biaya melahirkan tidaklah sedikit.
Glek glek glek!
Air minum memasuki kerongkongan Chania dengan cukup lembut. Menandakan ibu hamil enam bulan itu telah mengakhiri sesi makan siangnya.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Reno yang juga mengakhiri makan siangnya.
__ADS_1
"Biasa, Chef. Jalan kaki." jawab Chania. "Kan deket."
"Pulang jam berapa?"
"Jam empat, Chef."
"Saya juga pulang jam empat. Nanti bareng saya saja."
"Tidak usah, Chef. Terima kasih. Lagi pula tidak sampai 1 kilo meter dari sini."
"Kenapa kamu selalu menolak?" tanya Reno. "Kamu kan hamil, tidak baik terlalu lelah."
"Saya tidak lelah, Chef. Justru bagus bukan ibu hamil berjalan - jalan santai. Lagi pula kerjaan saya kan cuma duduk di balik meja kasir. Sekalinya gerak hanya menggantikan waiters atau pergi ke ruang istirahat ini." terkekeh kecil.
Tersenyum kagum, Reno menatap lekat wajah Chania yang memang begitu cantik natural. Make up tipis yang melekat di kulit wajahnya, menandakan kecantikan yang tidak di buat - buat.
"Kamu belum siap menikah lagi?"
"Ini bukan pertanyaan pertama dari Chef Reno." Tersenyum kecil. "Dan sekali lagi saya jawab, sampai detik ini saya tidak ada pikiran untuk menikah lagi, Chef. Sama sekali belum muncul di benak saya, Chef."
Tersenyum hambar, Reno mengakui wanita yang di kenalnya sebagai Carina ini sangat teguh pendirian. Sejak pertama bertemu dan mengetahui kisah hidup Chania, ia sudah menaruh hati pada Chania. Namun tak sedikitpun Chania memberi harapan.
"Saya permisi dulu, Chef." pamit Chania sopan.
"Iya." jawab Reno masih dengan senyuman manis.
Menghela nafas, setiap ada yang mengingatkan ia tentang sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu, membuatnya kembali merasakan kecewa dan rindu yang bersamaan.
Mengusap perut yang sudah membuncit. Merasakan kembali tendangan - tendangan kecil dari dua buah hatinya. Tersenyum senang, hanya merekalah yang menjadi penyemangat untuk Chania bisa melewati semua kesulitan pada titik ini.
***
Rombongan Michael Xavier mendarat di Venice saat sore tiba. Michael di dampingi Jack, Dimitri dan tiga bodyguard lainnya, segera menuju penginapan yang sudah di pesan oleh Jack sebelumnya.
Tidak sabar dengan tujuannya datang ke kota itu, Michael langsung melakukan pertemuan dengan beberapa anak buah yang ada di kota itu. Menyebar pasukan untuk mencari keberadaan Chania masih dengan cara yang sama, sembunyi - sembunyi.
Malam telah tiba, Michael berdiri di balkon kamar presidential suit khusus untuknya. Menatap hamparan salah satu pantai di Venice. Pergerakan air laut memunculkan deburan ombak yang membasahi pantai.
"Dimana kamu, Baby..." lirihnya menyisir tepian pantai. Pantai telah sepi, hanya ada beberapa orang saja yang masih ingin menikmati pantai di kala malam.
Bayang - bayang Chania masih terus berputar - putar di kepalanya. Membayangkan istrinya tengah yang tengah berbadan dua, menjalani kehidupan sendiri tanpa siapapun.
Kembali teringat saat Chania muntah - muntah pagi itu. Hati sang Mafia semakin kalut. Tak henti ia merutuki kecerobohan demi kecerobohan yang ia lakukan.
Cukup lama ia berdiri memandangi deburan ombak, juga lampu - lampu pantai yang kelap kelip. Beberapa sisa batang rokok sudah berada di pelabuhannya. Terlihat jelas sang pemilik rokok tengah tidak baik - baik saja.
__ADS_1
Sampai akhirnya sepasang mata tajamnya melihat gestur seorang wanita yang tengah mengusap perut buncitnya sembari berjalan seorang diri di tepi pantai ke arah yang membelakangi dirinya.
Rambut hitam lurus dan panjang tergerai jatuh hingga hampir sampai di bokong. Hanya kedua tepi rambut saja yang di satukan menggunakan jedai kecil di bagian tengah.
Michael cukup betah menatap punggung itu. Apalagi tatanan rambut seperti itu tidak asing baginya. Sampai ia tersadar dari lamunan.
"Chania?" gumamnya semakin menajamkan matanya.
Ia ingat jika Chania tengah hamil. Jika di hitung bisa jadi perutnya sesuai dengan buncitnya perut wanita itu. Ia pun ingat rambut Chania memang seperti itu.
"Chania!" teriaknya sekencang yang ia bisa.
Namun wanita itu sepertinya tak mendengar satu Desibel pun dari teriakannya. Karena kamarnya yang berada di lantai cukup tinggi.
Secepat kilat ia masuk ke dalam kamar dan turun menggunakan lift khusus untuk penghuni kamar paling istimewa di hotel itu.
Dua bodyguard yang berjaga di depan lift terkaget - kaget dengan kedatangan sang boss yang mendadak dan buru - buru.
"Menyebar! Chania ada di pantai!" ucapnya tegas dan lugas pada para pengawalnya.
"Siap, Tuan!"
Tanpa pikir panjang, semua pasukan termasuk dirinya menyebar ke arah pantai. Menyisir pantai dengan para anak buah yang jumlahnya mendadak jadi banyak. Termasuk di dalamnya sudah ada Jack dan Dimitri.
Entahlah dari mana datangnya mereka. Yang jelas pasukan Michael memang tidak sedikit yang sudah standby di Venice.
"Chania!" teriakan Michael tak henti - hentinya terdengar. Bersautan dengan suara deburan ombak yang silih berganti.
Wanita yang ia lihat dari atas balkon itu sudah tak berada di tempat. Entah itu hanya halusinasi atau benar Chania ada di sana. Namun ia sangat yakin jika itu adalah Chania, istri yabg dirindukannya.
"Cari sampai ketemu!" teriak Michael tanpa menyerah.
Namun sudah hampir satu jam mereka menyebar di pantai. Sebagian bahkan menyisir tepian jalan raya. Tapi belum juga menemukan keberadaan sosok yang di cari bosnya.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan, Michael terpaksa menghentikan pencarian setelah dua jam tak menemukan sosok itu.
Dan Michael, pria itu mengakhiri pencarian dengan duduk di atas pasir. Mengunci kedua lututnya dengan lengan tangan yang melingkar. Menatap jauh ke tengah laut yang berselimut gelapnya malam.
' Tidak mungkin jika itu hanya bayang - bayang mu, Baby... aku hafal dirimu... hanya aku yang mengenali tubuhmu... '
Ucap Michael dalam hati.
Jack dan Dimitri saling lirik, melihat kondisi bosnya yang tak seperti dulu. Ikut resah juga merasa gagal menjalankan perintah bosnya.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan dukungannya ya kakak 🙏🥰