
Meeting berakhir dengan sebuah langkah cepat dan tegas Michael yang kembali ke ruang kerjanya. Ekspresinya sangat sulit di artikan. Namun ada kilatan emosi di sana. Membuat karyawan yang melihatnya memilih untuk menundukkan pandangan.
Chania tergopoh - gopoh mengikuti langkah lebar Michael yang juga di ikuti Jack di belakangnya. Tumpukan berkas di tangannya nyaris saja jatuh, yang pasti akan membuatnya semakin berantakan.
Clekk!
Jack membuka pintu ruang kerja Michael. Mempersilahkan Tuannya untuk masuk.
"Suruh dia masuk!" ucap Michael pada Jack yang berdiri di samping pintu.
"Baik, Tuan!"
Sampailah Chania di meja kerjanya yang berada di depan ruang kerja Michael dengan dada kembang kempis akibat mengikuti langkah cepat Michael. Ia hentakkan tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
"Nona Chania, Tuan Michael meminta Nona untuk masuk!" ucap Jack pada Chania.
"Hemm... baiklah, Jack!" jawab Chania pasrah. Karena ia ingat, setelah meeting Tuannya meminta tanda terima kasih darinya.
Chania masuk ke dalam ruangan Michael, sedangkan Jack duduk di meja kerja nya yang berada di sebrang meja Chania.
"Selamat siang, Tuan!" sapa Chania dengan hormat.
Ia tau, emosi Michael sedang tidak stabil pasca meeting. Sehingga ia memilih untuk bersikap tunduk dan patuh.
Michael terlihat duduk di singgasananya dengan membelakangi meja kerja. Lebih tepatnya membelakangi Chania yang berdiri. Saat Chania menyapanya ia segera mengunci pintu secara otomatis dengan tombol khusus.
Chania hanya melirik sedikit pintu di belakangnya. Ia paham jika pintu sudah di kunci secara otomatis. Sudah jelas CCTV di ruangan itu pun akan mati dan sudah bisa di tebak apa yang akan di lakukan Michael pada tubuhnya.
Untuk beberapa saat hanya keheningan yang ada di dalam ruang kerja itu. Chania dengan posisi yang sama, begitu juga dengan Michael.
"Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Chania yang sudah tidak tahan dengan keheningan yang hampir berlangsung 20 menit lamanya itu.
Selain itu, kakinya yang memakai heels juga sudah mulai terasa lelah, akibat berdiri terlalu lama.
Tak ada jawaban sampai beberapa detik lamanya. Namun kemudian Michael memutar kursinya.
Sepasang mata Chania menangkap Michael yang duduk bersandar, dengan satu jari yang memainkan kumis tipis yang belum sempat di cukur.
"Bersihkan jambang ku!" ucap Michael datar.
__ADS_1
"Siap, Tuan!" jawab Chania segera mendekati laci dimana semua peralatan itu di simpan.
Chania mendekati Michael dengan membawa semua perlengkapan untuk mencukur jambang.
Ia berdiri di depan Michael, dengan menjadikan meja kerja Michael sebagai sandaran bokongnya. Sedang Michael masih dengan posisi yang sama. Hanya saja kini di antara dua lututnya ada sepasang kaki jenjang Chania yang hanya di tutup rok mini saja. Membuat Michael leluasa melihat paha mulus Chania yang menggoda matanya.
Chania mulai menyemprotkan shaving foam dan meratakannya di area dagu hingga hampir menutupi rahang Michael. Setelah itu Chania mengambil alat cukur dan menyalakannya.
"Auh!" pekik Chania.
Bukan karena terkena alat cukur Michael. Tapi karena dengan nakalnya Michael menyentil paha Chania yang terekspos. Michael tersenyum jahat di balik shaving foam yang menutupi sebagian wajahnya saat Chania kaget.
"Jahil sekali, saya main kasar nih!" ancam Chania menunjukkan alat cukur yang sudah di nayalakan.
"Lakukan saja jika nyawamu banyak!" kelakar Michael dengan santainya. "Kamu pikir aku tidak bisa main kasar di ranjang? hah?"
Sontak saja Chania menelan ludahnya dan sedikit mengerucutkan bibirnya karena selalu kalah dengan ancaman Michael.
Akhirnya Chania melakukan tugasnya tanpa bantahan. Ia hanya menggerak - gerakan sedikit tubuh dan kakinya saat Michael menggodanya.
Entah itu mencubit paha Chania, Meremas bokongnya, ataupun meremas buah kenyal di dadanya dengan nakal. Ia merasa senang mengganggu pekerjaan Chania.
"Tuan, jangan gitu dong! nanti kalau kegores bisa - bisa Tuan tidak tampan lagiii" protes Chania dengan gaya manjanya.
"Tapi kalau Tuan terus saja godain saya, yang ada malah bibir Tuan yang kena cukur! Tuan mau bibir Tuan yang seksi inj jadi berdarah - darah?" ucap Chania. "Saya nggak mau di cium kalau bibir Tuan terluka!" lanjut Chania masih terus membersihkan jambang Michael dengan hati - hati.
"Kalau pun kau tidak mau, masih banyak perempuan yang mau aku cium meskipun bibirku berdarah sekalipun! bahkan dengan suka rela!"
"Nggak! nggak boleh!" ekspresi manja Chania berubah, "selama saya menjadi sekretaris Tuan, Tuan tidak boleh berhubungan dengan perempuan manapun!" tegas Chania dengan ekspresi wajah seolah menunjukkan kecemburuan. Di tambah gerakan tangannya yang membersihkan sisa - sisa mencukur dengan gerakan yang sedikit kasar.
"Hahaha!" Michael terkekeh mendengar penuturan Chania. "Memangnya kenapa? aku ini Michael Xavier! banyak wanita berkelas, model seksi, bahkan sekelas artis pun melempar tubuh mereka di atas ranjang untuk ku! bahkan dengan cuma - cuma, Chania!"
Chania begidik ngeri mendengar kesombongan Michael yang memang sering berhubungan intim dengan banyak wanita dari berbagai kalangan. Ia pun tak menyangkal ucapan Michael. Syaratnya satu, bukan lagi perawan. Karena Michael tidak mau mengambil kesucian seorang gadis dengan cara yang kotor.
Soal keperawanan Chania, bagi Michael ini adalah kecelakaan fatal. Satu milyar pun bukan harga yang pantas untuk Chania. Namun itu pun bukan seratus persen kesalahan Michael. Sehingga masih ada toleransi. Ia pun tidak semudah itu melupakan kesucian Chania yang ia renggut semalam.
"Pokoknya saya nggak suka Tuan main sana sini selama saya menjadi sekretaris!" tegas Chania dengan bibir yang cemberut. "Saya sudah memberikan kesucian saya untuk Tuan, apa itu tidak cukup? Bukankah itu lebih istimewa, karena Tuan yang memakainya dari pertama sampai Tuan bosan! Apa masih perlu perempuan lain? bukankah mendapat yang pertama itu jauh lebih indah?"
Michael menghela nafas, ia tau dan sadar. Sensasi perawan memang jauh berbeda. Apalagi sebenarnya Chania sedikit mencuri perhatiannya.
__ADS_1
Michael menatap datar wajah Chania yang masih cemberut menunduk. Ia tarik pinggang ramping itu hingga jatuh di paha kanannya. Ia rengkuh pinggang dan menarik dagu Chania agar menatap matanya.
"Kalau kamu mau aku hanya bercinta dengan mu, maka kamu harus pandai memberiku kepuasan di ranjang." ucap Michael lirih penuh penekanan, membuat Chania tersenyum tipis. "Dan jangan pernah menolak ku apapun alasannya, kecuali datang bulan!"
Chania reflek mengangguk. Syarat yang mudah pikirnya. Ia hanya perlu mencari artikel dan belajar memuaskan laki - laki di atas ranjang. Jika perlu ia akan menonton video dewasa untuk belajar lebih jauh lagi.
' Baiklah! aku akan melakukan semua itu, asal Tuan hanya akan berhubungan intim dengan ku! Aku tidak mau Tuan hinggap di sembarang tempat lalu kembali padaku! No! sangat menjijikkan! '
Ucap Chania dalam hati.
"Sekarang apa kamu siap?" tanya Michael tersenyum mesum.
"Hem!" Chania mengangguk malu - malu.
Michael mengangkat tubuh kecil Chania sembari berdiri dari singgasananya. Membawanya keluar dari sela - sela kursi dan meja kerja.
"Kemana, Tuan?" tanya Chania saat Michael melewati sofa. Ia pikir Michael akan melakukannya di sofa. Namun ternyata Michael melewatinya dan mendekati rak berisi majalah dan berkas - berkas.
Michael bergeming. Ia menekan sesuatu di salah satu sela rak, kemudian mundur sedikit. Dan bergeserlah rak itu.
Terlihat sebuah pintu berwarna putih dengan ukiran naga emas. Yang membuat sepasang mata Chania tercengang. Ia tak menyangka ada pintu di balik rak buku itu.
Michael menyentuhkan salah satu jarinya, membuat pintu itu bisa di buka dalam satu dorongan.
Mata Chania semakin membulat, manakala melihat interior di balik pintu itu. Ruangan bernuansa gold. Dan lagi - lagi ukiran naga di atap selalu menarik perhatian mata.
Sebuah ranjang berukuran king size, dengan sprei dan bad cover berwarna merah abstrak.
Michael membawa langkah kakinya ke arah ranjang itu. Kemudian melirik nakal setengah sinis pada Chania yang masih mengagumi arsitektur luar biasa dari kamar pribadi Michael di kantor. Meskipun beda desain, namun tak kalah mewah dari kamar Michael di rumahnya.
Michael meletakkan tubuh Chania di atas tempat tidur dengan pelan.
"Kau perlu tau," bisik Michael, "kau adalah sekretaris pertama yang berada di ranjang ini." lanjutnya sebelum mengeluarkan tangan kanannya dari sela - sela leher dan bantal, serta tangan kirinya dari lutut dan ranjang.
Chania mengedipkan matanya beberapa kali menatap mata Michael. Seolah tak percaya dengan bisikan Michael. Yang merupakan Mafia kelas kakap.
.
.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹