
Malam telah berlalu...
Hingar bingar ketika malam hari tiba, mungkin di rasakan oleh sebagian penduduk kota Roma lainnya. Tapi tidak di rasakan oleh beberapa orang di bawah naungan Klan Black Hold.
Jio berkutat dengan dunia maya yang membutuhkan IQ nya yang tinggi. Mencari sosok pasti dari pemilik nama Axton Jacob.
Sedang Jia mengakhiri malam dengan lamunan yang membuatnya malam ini kurang tidur. Karena esok adalah hari terakhir baginya untuk bisa bertemu dengan calon pemimpin bodyguard di seluruh penjuru dunia yang berada di bawah naungan Klan Black Hold.
Di mana pasukan terbesar ada di Italia dan Amerika Serikat.
Lalu pemimpin Klan sendiri masih bingung harus berbuat apa. Membuat malam yang biasa berlalu dengan khidmat percintaan, malam itu berlalu dengan hanya duduk di kursi balkon kamarnya.
Menghabiskan beberapa batang rokok, dan beberapa gelas minuman beralkohol. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang istri yang sudah tertidur di atas ranjang.
Ya, Tuan besar turun dari ranjang begitu sang istri tertidur. Meski mungkin tidak tidur dalam keadaan damai.
Keesokan harinya, semua kembali dengan aktivitas yang di anggap rumit oleh sebagian orang.
Beruntung, Michael memberi kesempatan untuk putrinya dan Xiaoli menghabiskan hari bersama. Tanpa mau menunjukkan diri di hadapan sang putri maupun sang bodyguard. Hanya sang istri yang di minta untuk menemui mereka.
Sehingga saat ini, dua anak muda yang akan terpisah sekian tahun itu tengah menikmati hari mereka. Jia membolos kuliah, dan pergi bersama Xiaoli menuju salah satu tempat wisata yang ada di Italia.
Colloseum Rome, salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Italia. Dan hari itu mereka juga mengunjungi Trevi Fountain. Salah satu tempat wisata yang tak kalah terkenal dari Colloseum yang di anggap sebagai salah satu keajaiban dunia.
Di dua tempat itu, keduanya seolah menunjukkan pada dunia, jika mereka adalah sepasang kekasih. Tak perduli di hadapan banyak orang keduanya bebas melakukan apapun. Termasuk saling mengecup dan mencium. Maupun berpelukan sekalipun.
Sengaja keduanya melupakan jika esok mereka akan berpisah dan berganti menjadi hari yang sunyi sepi tanpa tau harus berbuat apa. Terutama Jia yang hanya akan kembali sibuk dengan tugas kuliah, tanpa memiliki penyemangat untuk bangun pagi.
Berjalan bergandengan tangan, Jia membawa ice cream di genggaman tangan kirinya. Sedang tangan kanannya bertaut dengan jemari sang kekasih.
Berjalan berdua, senyum tak sedikitpun lepas dari bibirnya. Sangat jelas terlihat jika keduanya adalah sepasang kekasih yang berbahagia.
"Em!" Jia menyodorkan ice cream yang sudah di makannya separuh ke mulut Xiaoli.
Tanpa berpikir ulang, tentu Xiaoli langsung mencobanya juga. "Enak!" ucapnya.
"Kamu harus ingat! ice cream coklat adalah rasa kesukaan ku!" ucap Jia dengan manjanya.
Untuk saat ini, gadis itu sama sekali tidak terlihat jika ia adalah gadis petarung. Karena untuk pertama kalinya ia pergi dengan Xiaoli menggunakan rok line A pink muda di atas lutut. Sepatu kets berwarna putih, lalu kaos ketat warna putih berlengan pendek dengan tulisan Burberry di bagian dada.
Ya, dia tampil ala remaja Korea pada umumnya. Meninggalkan kesan apa adanya yang selalu menjadi pelapis penampilannya selama ini.
Meski sesungguhnya ia tak nyaman berpenampilan semacam ini.
Rok mini? Sesuatu yang menghalangi dirinya untuk bisa bergerak bebas.
"Aku akan selalu mengingatnya! Tidak akan pernah lupa!" jawab Xiaoli yakin.
__ADS_1
"Sipp!" seru Jia berjinjit dan mengecup singkat pipi Xiaoli yang memiliki garis rahang yang cukup tinggi dan tegas.
"Hmmm... Bagaimana kalau kita photo box! Supaya bisa di cetak dan aku bisa membawanya bersama ku!" saran Xiaoli. "Karena ponsel rasanya akan sangat terbatas di sana!"
"Setuju, Amore!"
"Hm!" Xiaoli mengangguk. "Setelah ini kita pergi ke mall!"
"Yup!"
***
Dan setelah menikmati hari yang panjang di luar ruangan, kini keduanya mengunjungi mall ketika hari mulai menjelang gelap.
Dimana lampu-lampu mulai berpendar, menerangi gelap malam yang pasti akan selalu hadir.
Sesuai rencana, keduanya memasuki bilik khusus untuk mereka yang ingin bergaya secara bebas di dalam ruangan tertutup. Untuk kemudian foto mereka tercetak dan bisa di simpan tanpa perlu hilang secara misterius di ponsel, maupun ikut hilang ketika ponsel hilang.
Beberapa pose menggemaskan di buat oleh sepasang anak muda yang sedang di mabuk cinta itu. Mulai dari pose lucu sampai dengan pose romantis.
Bagi yang melihat, tentu tidak akan ada yang tau, jika keduanya memiliki perbedaan kasta yang sangat jauh. Karena wajah Xiaoli yang tampan, dan apa yang di kenakan juga bukan barang murah. Gajinya sebagai salah satu bodyguard utama Klan juga tidak main-main.
"Jangan keluarkan foto ini dari dompet kamu!" ucap Jia menyelipkan satu foto mereka di salah satu tempat kartu. "Aku juga akan menyimpan satu di dompetku!"
"Siap, Tuan putri!" jawab Xiaoli.
Xiaoli tersenyum sembari menerima kembali dompet miliknya, kemudian mengintip sekilas foto pipinya yang di cium dengan gemas oleh Jia, lalu kembali menutup dompet dan memasukkannya lagi ke dalam sling bag kecil berlogo LV yang ia gunakan.
"Kita akan kembali ke sini, saat aku kembali dari Jepang!" jawab Xiaoli menarik pinggang Jia untuk lebih dekat dengannya. Hingga tidak ada jarak di antara bagian depan tubuh mereka.
"Hemm!" Jia mengangguk sembari melilitkan jemari di balik tengkuk Xiaoli. "Aku pasti akan menagihnya, Tuan!"
"Dan aku akan menepatinya, Nona!" jawab Xiaoli menahan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
Esok ia tidak akan lagi mendapatkan pelukan manja semacam ini dari sang kekasih. Esok ia pun tak akan bisa memeluk dan mencium sang kekasih. Lantas, harus kah hari ini ia puaskan diri untuk memeluk gadis dambaannya ini?
Keduanya tengah berada di lantai 4 mall. Dan Xiaoli bersandar pada pagar pembatas yang terbuat dari besi berlapis kaca tebal anti pecah.
Tidak peduli jika ada yang melihat. Tidak peduli juga jika terekam CCTV. Toh, mereka bukan satu-satunya pasangan yang berpelukan di tempat umum.
Sudah sangat biasa, hal semacam ini di lakukan oleh mereka.
"Kenapa?" tanya Jia ketika raut wajah Xiaoli berubah tak secerah tadi.
"Tidak apa..." jawab Xiaoli membelai rambut sang kekasih dengan lembut. Kemudian meraih ujungnya dan membawanya ke hidung lalu mencium keharuman yang ada.
"Kamu sangat cantik hari ini..." ucapnya terdengar lirih dan syahdu.
__ADS_1
"Kamu juga sangat tampan dengan kaos putih seperti ini! Biasanya selalu hitam!" ucap Jia memundurkan kepala dan melihat dada serta lengan sang bodyguard yang terlihat maskulin dengan warna baju yang sangat jarang ia gunakan.
"Hanya kamu yang bilang aku tampan..." gumam Xiaoli.
"Karena aku yang hanya berani!" sahut Jia. "Kalau gadis-gadis yang melirik kamu sejak tadi berani berucap demikian, itu artinya mereka sedang mencari masalah dengan ku!"
"Dan jika ada yang berani mencari masalah dengan ku, itu artinya mereka tidak tau siapa aku!"
Xiaoli terkekeh dengan jawaban sang kekasih. "Jadi menurut kamu... ada gadis yang menyimpan kalimat pujian padaku hanya di dalam pikiran mereka?"
"Bukan hanya ada, Sayang! Tapi banyak!" jawab Jia merentangkan kedua tangan. Menggambarkan betapa banyak gadis yang mencuri pandang pada sang kekasih. "Kamu saja yang tidak menyadarinya!"
"Siapa bilang aku tidak menyadari?" tanya Xiaoli menatap sang kekasih dengan tatapan gemas dan setengah percaya diri.
"Jadi... sebenarnya kamu tau?" tanya Jia memicingkan matanya.
Tersenyum gemas, Xiaoli mendaratkan kecupan singkat di bibir berbalur lipstick orange tipis.
"Kalau seandainya aku bilang tidak menyadari... apa kamu percaya, seorang Xiaoli Chen tidak peka terhadap gerakan sekitar... Walau hanya sekedar lirikan kecil?"
Jia menarik nafas panjang dan menghelanya dengan berat. Karena memang apa yang di katakan sang kekasih sudah pasti benar. Mana mungkin Xiaoli tidak sadar dengan keadaan sekitar?
"Apa kata teman-teman di Klan tentang bodyguard yang akan di kirim untuk menggantikan seorang Jack Black jika aku tidak peka?" tanyanya lagi dengan senyum misteriusnya.
"Ya, memang!" jawab Jia. "Kamu tidur saja bisa merasakan jika ada bahaya sekedar mengintai!"
"Hmm!" jawab Xiaoli mengangguk.
Di saat dua anak manusia saling tatap, ekor mata Jia melihat beberapa gerombolan anak muda berjalan menuju gedung bioskop. Dan tu menarik perhatian Nona muda pula.
"Kita nonton, mau?" tawar sang gadis.
"Apapun yang kamu minta akan aku turuti, Sayang! Selama tidak melampaui batas waktu yang di berikan oleh Tuan besar Michael..."
"Good job, boy!" seru Jia menangkup gemas wajah sang kekasih sembari membenturkan hidung mancungnya pada hidung sang kekasih.
Namun yang di lakukan Xiaoli adalah mencuri sebuah ciuman dari rasa gemas sang kekasih padanya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, tentu saja Jia membalasnya. Walau hanya sebuah ciuman singkat, tapi semua itu sudah cukup untuk saat ini.
Ia butuh tempat lain, jika ingin memperdalam ciuman mereka.
"Let's go!" ujar Jia mengakhiri ciuman hangat yang di padu dengan pelukan hangat, dan di balur tatapan iri dari para jomblo yang melintas
Pergilah dua anak muda itu menuju gedung bioskop yang ada di lantai yang sama dengan keberadaan mereka saat ini.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1