
Ruang kamar seorang gadis petarung sudah tidak lagi sepi. Karena kemunculan sosok pemuda yang tak lain salah satu bodyguard utama di Klan Black Hold. Dan yang lebih penting, bukan tentang kedudukan sang pemuda di Klan. Tapi tentang hubungan sang pemuda dan sang gadis pemilik kamar.
Sepasang kekasih yang sama-sama di mabuk cinta itu tengah menikmati suasana syahdu untuk saling melepas rindu. Dengan perbedaan status yang mereka miliki membuat keduanya tidak bisa dengan bebas mengekspresikan cinta mereka.
Sungguh jauh berbeda dengan Jio yang bisa bebas melakukan apapun juga dengan sang kekasih tanpa perlu memikirkan kasta dan tahta. Karena kisah Jio dan Virginia bahkan sudah di restui sejak mereka masih kanak-kanak oleh Daddy Michael dan Mommy Chania.
Mengunci tubuh sang gadis dari belakang, Xiaoli mendaratkan wajahnya pada ceruk leher sang gadis. Memberikan kecupan lembut pada leher jenjang putih mulus, dengan keharuman yang khas Nona Muda Xavier. Teramat menyukai, Xioali menghirup dalam-dalam keharuman yang menguar dari kulit putih Jia yang di balur dengan parfum mewah tentunya.
"Genit..." celetuk sang gadis merasakan kedamaian luar biasa, ketika di peluk sedemikian erat oleh sang pemuda tampan yang di juluki sebagai pembunuh senyap itu.
Merasa sangat di inginkan adalah salah satu hal yang membuat seorang gadis atau perempuan merasa sangat bahagia dan nyaman.
Jia mengangkat tangan kirinya, merambat di pelipis Xiaoli hingga menyisir rambut kepala bagian atas. Kemudian Jia menoleh ke sisi kiri, dan ia kecup singkat pipi sang pemuda.
Xiaoli tersenyum dengan apa yang di gumam kan sang gadis untuknya. Dan semakin mempererat pelukan ketika di berikan kecupan pertama untuk mengawali malam yang akan terasa singkat ini. Xiaoli kembali mengecup leher harum itu berulang kali. Hingga Jia menggerakkan kepalanya karena rasa geli yang terasa aneh di tubuhnya mulai menjalar kemana-mana.
Bukan sembarang geli, karena geli di cium kekasih adalah sesuatu yang... Ah... sulit untuk di utarakan.
Apalagi jika itu adalah kecupan pertama dan belaian pertama setelah beberapa hari tidak saling bersentuhan. Getarannya akan sangat cepat menyebar pada titik sensitif yang lain.
"I love you, Bao Bao..." bisik Xiaoli tepat di telinga sang gadis jelita.
"I love you more, Sayang!" balas Jia kembali mencium pipi sang pemuda dengan cara menancapkan hidungnya pada pipi tirus nan putih meski tidak semulus kulit wajahnya. Menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri saking gemasnya pada sang kekasih.
"Apa yang kamu rencanakan, Bao Bao?" tanya Xiaoli ketika secara tidak sengaja menoleh pada ranjang dengan papan catur yang anak-anaknya sudah tersusun rapi sesuai dengan kelompoknya.
Tersenyum cerah, Jia langsung melepas pelukan tangan Xiaoli di perutnya. Dna menarik lengan kekar yang sudah berulang kali menghabisi penjahat atau musuh Klan Black Hold, ataupun musuh dari kuil tempat sang pemuda menuntut ilmu bela diri.
"Malam ini kita main catur saja, ya? aja Jia meminta sang pemuda untuk naik ke atas ranjangnya yang super empuk dan mewah.
Ini kali kedua sang pemuda menaiki tempat tidur sang gadis. Yang mana tak semua orang bisa untuk sekedar duduk di sana. Bahkan pelayan rumah pun tidak ada yang berani untuk sekedar mencoba duduk di sana.
"Kamu bisa?" tanya Xiaoli yang sudah duduk berhadapan dengan Jia.
"Sedikit..." jawab Jia mendekatkan ujung ibu jari dan ujung jari telunjuk, dengan memberi jarak sekitar 1 cm saja.
"Baiklah... mari kita mulai!" Xiaoli berucap dengan senyum menawannya.
__ADS_1
"Aku duluan!" seru Jia dengan suara tertahan.
Maka Jia langsung memajukan salah satu anak catur ke depan. Dan Xiaoli membalasnya dengan santai namun sedikit terlihat bingung.
Permainan yang hanya sekedar untuk mengulur waktu itu, sudah pasti akan di ketahui siapa yang akan menjadi pemenangnya, bukan?
Xiaoli cukup pintar untuk berpura tidak bisa, hingga membuat sang gadis petarung menang di sesi pertama, bahkan sesi kedua.
"Ternyata kamu pintar juga, Bao Bao..." puji Xiaoli menatap sang kekasih dengan senyum manis dan rasa kagum.
Tidak bangga, tidak juga berbesar kepala, Jia justru tersenyum misterius dan menyungging senyum miring yang menyimpan ribuan makna tersirat. Tatapannya memicing tajam, seperti singa mengincar buruannya.
Meluruskan pandang, ketika sang kekasih justru membalasnya dengan tatapan yang dalam dan memabukkan.
Tanpa aba-aba, Jia setengah berdiri, dan menggunakan lututnya ia berjalan mendekati Xiaoli yang masih duduk bersila di depannya.
Dengan gerakan cepat dan agresif, Jia langsung meringsek pada sang pemuda. Duduk di pangkuan Xiaoli tanpa permisi.
Untuk apa permisi jika yang di mintai pangku akan semakin senang?
Xiaoli menerima tubuh Jia dengan senang hati. Ia peluk erat pinggang ramping Jia. Dan membiarkan tubuh kecil itu bermanja di pangkuannya.
"Dan kamu sungguh pintar untuk berpura tidak bisa, Tuan!" desis Jia mendekatkan wajahnya pada wajah Xiaoli yang langsung tergelak gemas tanpa suara.
Jia berucap dengan gigi yang mengerat gemas. Seolah ingin sekali mengigit hidung mancung di hadapan. Namun tak ia lakukan.
"Katakan padaku, tuan! Kenapa kamu mengalah?" desis Jia masih berakting seperti tengah menginterogasi musuh, namun kali ini menginterogasi sang kekasih. Sehingga posisi tubuh mereka yang ada sudah jelas berbeda.
"Karena aku tidak akan bisa memenangkan diriku, untuk mengalahkan kamu, Nona Muda Xavier.." jawab Xiaoli.
"Dan itu membuat aku merasa semakin kecil bocah tengil!"
"Siapa yang bocah tengil?" tanya Xiaoli merasa dirinya sudah dewasa, bukan lagi bocah.
"Kamu! masa Gerald?"
"Memang Tuan Muda Gerald yang paling tengil, Bao Bao..." jawab Xiaoli dengan gemas sembari meringsek pada tengah dada Jia yang ada di depan mata.
__ADS_1
Sebagai lelaki normal, di suguhi dua buah gundukan yang kenyal padat dan terbentuk dengan indah, tentu saja ada sesuatu yang lain mengalir di dalam tubuhnya. Apalagi hanya di balut menggunakan kaos piyama longgar yang tipis.
Di tambah ketika melirik sekilas ke bawah, dua bagian paling sensitif milik manusia bertemu dengan hanya terhalang oleh hotpants mini dengan bahan kain yang sama dengan kaos Jia, sedang di bagiannya terhalang oleh celana kain Stretch berwarna hitam.
Dan ketika sangat gemas pada sang gadis, rasanya tidak sanggup untuk tidak menubruk bagian tengah dadanya. Apalagi di bukit bawah sana, ada sesuatu yang mulai bergerak karena tertindih bagian yang menjadi rumah terhangat untuk tinggal.
Tidak marah, Jia justru sangat suka dengan Xiaoli yang terlihat menginginkan dirinya. Maka ketika Xiaoli kembali mendongak, ia langsung membalas dengan menabrak bibir Xiaoli dengan bibirnya.
Hmmm... ciuman yang panas kembali di mulai. Meletakkan, meninggalkan, melupakan apapun yang ada di Bumi ini. Bahkan catur mereka pun di biarkan berantakan di atas tempat tidur Jia.
Dengan sangat agresif, Jia mencium bibir Xiaoli. Menggigit kecil, juga memasukkan lidahnya ke dalam mulut sang bodyguard. Beradu lidah, menyesapnya dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh penghayatan.
Tentu saja Xiaoli tidak mau tinggal diam dengan semua ini. Ia lelaki normal yang jika di sentuh oleh gadis yang ia cintai, nalurinya langsung bereaksi untuk selalu menginginkan yang lebih jauh dan lebih dalam.
Dengan memejamkan matanya, Xiaoli menikmati ciuman panas yang di mulai oleh sang kekasih. Menikmati setiap inchi dari bibir Jia. Buah dada yang kenyal milik Jia, menempel sempurna di dadanya bagian atas. Seolah sengaja di tekankan oleh sang gadis.
Maka tangan sang bodyguard pun akhirnya tidak tahan jika harus diam membeku di pinggang ramping tanpa benjolan lemak itu.
Satu tangan kekarnya mulai bergerak merambat ke atas. Membelai punggung dengan sangat lembut. Satu tangan lagi turun ke bawah, merayap di atas bongkahan padat. Mengusap dua bongkahan secara bergantian.
Dan saking hebatnya keduanya berciuman, Xiaoli tidak tahan untuk meneken jari-jarinya. Meremas dnegan lembut bongkahan kanan Jia.
"Mmmh..." Jia bereaksi dengan manja, ketika sang kekasih meremas lembut bagian yang tak akan ada yang berani menyentuhnya sembarangan.
Satu ******* kecil Jia, ternyata membuat bagain bawah tubuh Xiaoli bereaksi dengan cepat, dan menegang hanya dalam satu detik.
Jia dapat merasakan benda itu bergerak di bawah tubuhnya. Dalam hati, Jia merasa senang karena sang kekasih bernafsu dengan dirinya. Tapi juga takut jika sampai terjadi hal yang mungkin bisa berujung dengan kepala sang kekasih yang mungkin akan pecah oleh Glock sang Ayah.
Seperti ketagihan, Xiaoli kembali meremas bagian yang sama, namun dengan tekanan yang lebih kuat. Sehingga membuat Jia semakin mendesah tertahan. Xiaoli tersenyum tertahan, dan ingin rasanya melakukan lebih dari ini. Seperti menyentuh dada kenyal yang sedang menabrak dadanya. Pasti akan menyenangkan jika bisa menyentuh benda itu untuk pertama kali.
Tapi... Boleh kah?
Tapi... Bagaimana jika menimbulkan masalah?
Tapi....
"Jia! Sedang apa?"
__ADS_1
Mata yang tertutup rapat dan nyaman karena sedang saling menyalurkan perasaan di dalam dada. Tiba-tiba saja satu kalimat membuat kedua pasang mata itu terbuka lebar...
...🪴 Bersambung ... 🪴...