
Malam bertabur bintang di pusat kota, membuat malam semakin terasa begitu indah. Apalagi untuk mereka yang tengah berdampingan dengan orang - orang yang mereka cintai.
Namun akan terasa sunyi sepi tanpa warna, untuk mereka yang tengah menyendiri. Menjauh dari keramaian, meninggalkan hingar bingar yang di tawarkan dunia saat malam menyapa.
Dan semakin terasa horor untuk mereka yang tengah patah hati dan dirundung kegalauan. Menyendiri di kamar mungkin menjadi pilihan terbaik.
Lalu Chania, gadis 23 tahun yang tengah mengandung benih suaminya itu tengah menyendiri di balkon kamar. Menunggu kepulangan sang suami yang entah menghilang kemana sejak pagi.
Apalagi ia tak menemukan ponsel miliknya. Yang ada hanya ponsel lama yang dulu ia tinggal di kamar Michael setelah membius seisi rumah.
"Tadi bilangnya kerja! sampai sekarang belum pulang!"
Gerutunya berpangku tangan. Menumpukan siku pada pagar besi yang terlihat begitu kokoh dengan kemegahannya. Pagar yang pernah dilompati Michael saat Chania terkunci di dalam kamar.
Mengerucutkan bibir, merasa bosan dengan ponsel lamanya. Dimana tak ada kontak teman - teman barunya. Yang ada hanya pesan - pesan yang belum ia baca selama ponsel itu tak ada di tangannya.
"Seingatku ponselku aku letakkan di meja nakas, kenapa menghilang?" gumamnya, "padahal itu ponsel milik Chef Reno..." lanjutnya menghela nafas.
Malam semakin larut, tak ada tanda - tanda mobil Michael beserta prajuritnya memasuki area rumah mewah yang menjadi tempatnya pulang. Ia mulai meyakini jika Michael malam ini tak akan pulang untuknya.
"Mungkin bukan hanya urusan kantor yang ia selesaikan!" mencoba berpikir positif.
Merasa kakinya lelah, karena perut yang membesar dan berat badan yang bertambah membuatnya tak mampu berdiri dalam waktu cukup lama. Chania akhirnya masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di ranjang setelah mengganti bajunya dengan piyama satin berwarna ungu.
"Selamat tidur anak - anak Mommy..." lirih Chania mengusap perutnya. Sebelum akhirnya memejamkan mata dengan mengambil posisi tidur miring ke kiri. Posisi terbaik untuk ibu hamil dengan perut yang semakin hari semakin membesar.
***
Sayup - sayup, di bawah alam sadarnya, Chania merasa ada sebuah gerakan tangan di perutnya. Dan kepala yang merengsak di belakang lehernya. Pelan - pelan Chania membuka matanya, menggerakkan ke kanan sedikit kepalanya. Ia yakin sang suami telah pulang dan mendarat di ranjang tercinta.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku, kalau ada dua baby di dalam sini?"
Suara berat namun begitu lembut yang selalu membuatnya jatuh cinta terdengar lirih di telinganya.
Tersenyum tipis, "Aku ingin menjadikan mereka sebagai surprise saat mereka lahir nanti." jawab Chania dengan suara serak khas bangun tidur. "Dari mana kamu tau?" melirik ke belakang, dimana suaminya mulai mengangkat kepalanya sedikit guna melihat wajah Cantik Chania.
Michael hanya tersenyum manis. "Mudah bagiku untuk mengetahui semuanya, Baby..." jawab Michael mengecup kening Chania.
"Eghm!" Chania berdehem sembari mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Hingga kini wajah mereka berhadapan. Tangan terangkat, membelai lembut wajah tampan seorang Michael Xavier. "Kamu tau dimana ponselku?"
Michael mengecup jemari lentik yang menari di rahangnya, kemudian menggerakkan matanya, melirik ponsel di atas nakas.
"Bukan ponsel itu..." jawab Chania mencubit hidung Michael. "Ponsel baruku!"
Menarik nafas dalam, dan menghelanya cepat, "Kamu tidak perlu mencarinya. Sudah aku kembalikan." lanjutnya santai tanpa beban.
__ADS_1
Tak sanggup mengeluarkan suara, mulut Chania terbuka lebar dengan kedua mata yang membulat tak kalah lebar.
"Maksud kamu?"
"Bukan punya kamu, kan?" tanyanya santai.
"Dari mana kamu tau?"
Kembali tersenyum, "Kamu lupa siapa aku, Baby?" desis Michael dengan gaya cool khas miliknya. Senyuman sinis dan mungkin setengah sombong.
"Kamu yakin mengembalikan pada orang yang tepat?" Chania seolah masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan suami buas nya itu.
"Namanya Reno, kan?"
"Hah! kamu tau dari mana?"
Cup!
Bukan jawaban jelas yang di terima Chania. Namun sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya. "Bisa nggak ekspresinya biasa saja?"
"Kapan kamu mengembalikannya?"
"Tadi!"
"Hemm.." Michael mengangguk santai.
"Kamu cuma mengembalikannya, kan?" tanya Chania ragu. Ia khawatir Michael melakukan hal gila di luar logika manusia normal.
"Tentu saja, Baby! memangnya aku mau apa lagi?" tanya Michael santai. Seolah tak ada dosa dalam hidupnya. "Aku hanya tidak mau di rumahku ada barang orang lain yang bukan milik kita!" jawab Michael sedikit dingin.
Menelan ludahnya sendiri. Dengan nada bicara seperti itu, ia yakin Michael tak hanya sekedar mengembalikan ponsel. Pasti ada hal lain yang di lakukan Michael pada Reno.
Chania melempar pandang ke arah lain. Tepatnya dinding dimana ada beberapa model pedang bertengger di sana. Ia seolah membayangkan apa yang terjadi pada Reno saat ini. Ingin bertanya, tapi pada siapa? Pada Michael? yang ada kebohongan yang akan dia dapat.
Michael menghela nafas sembari menjatuhkan kepala di bantal. Berhimpitan dengan kepala Chania.
"Kamu memikirkan laki - laki itu?" tebak Michael.
"Emm..."
"Aku tidak apa - apakan dia," potongnya sebelum Chania menjawab. "Aku hanya ingin berkenalan. Apa dia lebih lebih tampan dari Michael Xavier? atau lebih gagah? atau mungkin lebih kaya raya?" tanyanya sendiri. "Ternyata dia hanya anak pemilik restoran!"
"Hah! kamu yakin?"
"Hemm!"
__ADS_1
"Pantas saja dulu manager saja takut padanya!"
Michael terkekeh kecil, merasa lucu melirik ekspresi Chania yang polos.
"Tapi kamu yakin tidak apa - apakan dia kan? kamu tidak salah paham kan? please! jangan katakan ada hal buruk yang kamu lakukan pada Reno." cecar Chania.
"Baby... memang aku mau apakan dia?" tanya Michael melirik Chania. "Dia hanya seorang Chef, bukan dari kalangan Mafia seperti ku. Kekuatan kami tak sebanding. Mana mungkin aku memasukkan peluru ke dalam otaknya?"
Sedikit mendelik mendengar penjelasan Michael. Mendengar peluru di sebut, membuatnya semakin yakin Reno tak baik - baik saja. Namun ia mencoba untuk tetap terlihat tenang. Dan memilih untuk mengakhiri obrolan mengenai Reno. Ia tak akan menemukan titik temu walau membahas sampai akar.
"Besok kita ke rumah Papa! menemui Mama." ucap Michael setelah Chania diam tak lagi membalas perkataannya.
"Hah?" tak sanggup menyahut. Ia selalu takut sendiri setiap mendengar nama Mama mertuanya di sebut.
Michael tau ekspresi Chania sedang takut dan khawatir. Namun ia justru tersenyum misterius.
# # # # # #
"Chania..."
Gumam seseorang yang tengah duduk tepi jalan. Ia baru saja di turunkan secara paksa oleh orang tak di kenal di tengah jalan. Rumahnya masih kurang berkilo - kilo meter. Namun ia masih bersyukur karena di turunkan di sana dalam keadaan masih bernyawa.
"Bagaimana kamu bisa menikah dengan Michael Xavier?"
"Pria bengis, pembunuh berdarah dingin, dan seorang Tuan muda Mafia!"
"Apa kamu tidak takut akan di bunuh jika kamu melakukan kesalahan?"
"Chania... Chania..."
Pria itu menghela nafas. Merasa tak percaya dengan kenyataan - kenyataan yang baru saja dia dapatkan.
Melirik sepatu mahal yang ia kenakan. Sepatu yang semula begitu menawan, kini terlihat begitu miris dan menyedihkan. Namun ia beruntung, karena sepatu mahal itu membuat kakinya selamat dari tumbuhan liar di tengah hutan.
Beralih melirik baju mahalnya, yang kini lebih terlihat seperti baju para gelandangan. Celana mahalnya pun kini terdapat sobekan - sobekan di beberapa titik.
"Suami mu keterlaluan, Carina! eh Chania!" gerutu Reno kesal.
Ia merasa begitu kecil saat berhadapan dengan Michael tadi. Dimana?
Di next episode! 😉
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1