SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 143


__ADS_3

Memasuki bilik toilet seorang diri, sedang Maya berada di luar pintunya. Memastikan keamanan untuk sang majikan. Sedang Antonio berada di lorong toilet. Memastikan sekelilingnya aman.


Kala itu, saat itu, tiba - tiba jaringan listrik mall padam. Sehingga seluruh aktivitas yang menggunakan listrik terhenti seketika. Termasuk lampu di toilet yang mati. Membuat seluruhnya menjadi gelap tanpa celah.


"Nyonya!" teriak Maya.


"Maya!" balas Chania tak kalah keras.


"Cepat keluar, Nyonya!" teriak Maya.


"Sebentar Maya, aku masih buang air kecil!" jawab Chania. "Tunggu aku!"


"Nyalakan senter ponsel, Nyonya!" ucap Maya melakukan hal yang sama.


"Aku tau!" sahut Chania segera mengambil ponsel dan menyalakan senternya.


"Upph!" suara Maya tercekat.


Tiba - tiba suara Maya semakin menghilang, setelah suara Maya yang terdengar seolah kehabisan nafas.


"Maya?" panggil Chania panik.


Chania segera membersihkan dirinya. Dan merapikan kembali bajunya.


"Maya?" panggil Chania lagi. Ia ragu untuk keluar. Lampu senter ia arahkan ke atas, namun kosong. Kemudian menempelkan telinga tepat pada daun pintu. Namun telinga normalnya tak mendengar apapun.


Jika itu telinga Michael, pasti tau ada orang atau tidak di luar bilik toilet.


"Maya?" panggil Chania lagi, dan lagi - lagi tak ada balasan.


Chania mulai panik, ia takut terjadi hal - hal yang tidak ia inginkan. Tubuh Chania mendadak lemas, saat teringat jika Selena mengincar dirinya.


Chania memutuskan untuk memanggil sang suami melalui ponselnya. Namun sial! sinyal menghilang tanpa tersisa.


"Yaa Tuhan, tolong aku..." lirih Chania semakin panik.


"Tolong!" teriak Chania kemudian. Berharap anak buah suaminya ada di luar sana. "Maya!" teriak Chania lagi. "Siapapun di luar, tolong saya!"


Namun sayang, tak ada suara apapun di luar sana. Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya Chania mencoba untuk membuka pintu. Dan...


"Umpph!"


Mulut Chania tertutup sapu tangan yang seketika membuat kesadarannya hilang. Pandangan berubah menjadi gelap. Tubuhnya lemas tak tertahan. Ponsel yang senternya masih menyala, entah jatuh di mana.


Di dalam gelap gulita, ia di bawa oleh beberapa orang yang entah berasal dari mana. Dan entah mereka keluar masuk mall dari mana.


Yang jelas, saat lampu kembali menyala, semua dalam kepanikan. Hingga akhirnya semua menyadari jika Chania dan Maya menghilang.


Oliver dan Darrel yang belum datang pun segera memutar arah saat mendapat kabar hilangnya Chania dan Maya saat lampu mati. Darrel menghubungi tim IT yang ia miliki, untuk segera melacak ponsel Chania.


Beruntung, karena ternyata ponsel Chania di bawa oleh salah satu penculik bayaran itu. Darrel terus mengikuti kemana arah ponsel itu berada.


"Kita harus menemukan Chania..." lirih Oliver. Wanita itu sudah kalut dan takut. Mendengar dari kekasihnya jika kemungkinan besar sang adiklah yang menjadi dalang penusukan Gia, maka ia pun segera meminta tim IT suaminya untuk melacak ponsel Selena.


"Aku tau, Sayang!" jawab Darrel yang fokus mengikuti pergerakan di layar ponselnya. Ada sebuah mobil jeep pengawalnya di belakang.


Namun Darrel dan Oliver harus menelan kekecewaan. Karena ponsel Chania berhenti di tepi sungai beraliran besar. Tak ada lagi pergerakan signal. Namun area itu sangat sepi.


"Ponsel Chania pasti di buang!" ucap Oliver.


"Ini jebakan!" lirih Darrel yang hanya bisa di dengar kekasihnya. "Putar arah!" seru Darrel memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti langkahnya kembali ke mobil.


"Jebakan bagaimana, Sayang?" tanya Oliver saat Darrel mulai menjalankan mobil.

__ADS_1


"Ponsel Chania di pisah dari tubuh Chania!"


"What!" pekik Oliver tak percaya. "Ini sungguh gila!"


"Perencanaan mereka benar - benar matang!" jawab Darrel. "Hubungi Michael agar tidak perlu mencari sinyal ponsel Chania!"


"Ya, Sayang!" jawab Oliver segera mengambil ponselnya.


📞 "Fokus untuk melacak ponsel Selena dan Deborah!" ucap Darrel melalui sambungan telepon.


📞 "Siap, Tuan!"


Beberapa menit kemudian ia bisa mendapatkan signal ponsel Selena.


"Selena sudah keluar dari Klub!"


"Kita ikuti mereka!"


"Ya!" jawab Darrel. "Apa Deborah bersama Selena?"


"Tidak! Mommy ada di rumah! sepertinya Mommy mengetahui semuanya. Tapi entah, dia tidak ikut karena tidak setuju, atau hanya..."


"Hanya untuk mengalihkan perhatian kita!"


"Kamu benar, Sayang!" jawab Oliver kecewa. "Mommy...tidak kah Mommy ingin menjadi lebih baik?" lirih Oliver yang perasaannya semakin di buat tidak karuan.


📞 "Dimana?" tanya Darrel pada anak buahnya.


📞 "Saya kirim ke ponsel, Tuan!" jawaban dari sebrang.


📞 "Hemm!"


Darrel kembali melajukan mobil menuju titik yang dikirim oleh anak buahnya.


***


📞 "Kami berhasil membawa dua, Nona!" ucap pria di jok samping kemudi melirik Chania dan Maya pingsan di jok belakang.


📞 "Bagus!" jawab Selena. "Bawa mereka ke tempat yang aku minta kemarin! dan jangan hubungi aku, jika bukan aku yang menghubungi kalian!"


📞 "Siap, Nona!"


"Kita akan mendapatkan uang banyak!" seru pria di jok samping kemudi.


"Aku justru tidak sabar mencicipi tubuh mereka!" sahut pria di balik kemudi. "Bukankah Nona Selena bilang, mereka untuk kita? hahaha!"


"Hahahaha! kau benar!" sahut pria yang tadi menelpon Selena. "Aku harus menjadi yang pertama untuk si Nyonya itu! kulitnya sangat mulus!" melirik lapar ke arah belakang.


"Aku harus lebih dulu!" sahut pria di balik kemudi menoyor temannya.


"Ah! kita lihat saja nanti! siapa yang di suruh Nona Selena untuk memilih lebih dulu! hahah!"


"Terserah kau!"


Mobil Gummer itu terus melaju cepat menuju lokasi yang di sepakati dengan Selena.


***


"Brengsek!" umpat Michael setelah mendapat kabar dari Oliver jika ponsel Chania di buang di sungai.


"Lacak semua nomor yang di hubungi Selena!"


"Siap, Tuan!" jawab Jack.

__ADS_1


Mereka sepakat untuk berkumpul di ruang kerja Michael di kantor. Di sana banyak alat canggih untuk mendeteksi sinyal dan berbagai jenis pencarian lainnya.


***


Mobil Hummer berdecit tepat di depan sebuah gudang tua tak terpakai. Beberapa orang berpakaian hitam menyambut mobil Hummer yang membawa Chania dan Maya di dalamnya.


Setelah pintu di buka, beberapa pria mengangkat tubuh lemas karena bius itu. Dan membawanya ke dalam gudang. Memasukkan Chania dan Maya ke dalam jeruji yang sudah di desain seperti penjara.


"Kita tinggal menunggu kedatangan Nona Selena!"


"Kapan Nona akan datang?" tanya seorang pria yang sudah berjaga di sana. "Aku sudah tidak sabar mencicipi mereka!"


"Hah! kenapa kalian semua tak sabaran?" sahut pria yang tadi mengemudikan Hummer.


"Karena mereka terlihat cukup lezat untuk di santap bersamaan!"


"Sabarlah! mungkin nanti malam Nona Selena akan datang!"


***


Di sebuah rumah mewah, Selena sedang tertawa puas. Rencananya berjalan dengan begitu mudah.


"Thanks, Papa!" ucap Selena pada Frank.


Frank mengangguk, menatap Selena yang tampak sumringah menghadap jendela.


"Kalau aku tidak bisa memiliki Kak Michael, maka wanita manapun tak berhak atas dirinya!"


"Kapan kamu akan menemui wanita itu?"


"Setelah mereka berdua terbangun dari tidur nyenyak mereka!"


"Papa akan menemanimu!"


"Tentu saja, Papa!" jawab Selena. "Siapa yang akan melindungi ku kalau Papa tak ikut dengan ku!"


"Apa kamu tidak memikirkan, bagaimana jika Michael justru akan terus menganggap mu musuh? apa yang akan kau dapat?"


"Setidaknya aku berhasil melenyapkan saudara tiri ku, Pa!" jawab Selena dingin. "Setidaknya bukan orang di sekitar ku yang bisa memiliki Kak Michael! Aku tidak peduli, jika setelah ini Kak Michael membunuhku!"


"Kamu gila, Selena!" sahut Frank beranjak dari sofa. "Kita baru bertemu, aku mengerahkan pasukan Mafia untuk mu! Dan kamu membiarkan dirimu mati di tangan Michael?" tanya Frank tak percaya. "Bisnis Papa dengan Sebastian hancur demi kamu, Selen!"


"Please, Pa! jangan semudah itu berfikir kalau Kak Michael akan membunuhku..."


"Michael adalah keluarga Sebastian, keluarga Mafia kelas dunia! Apapun bisa terjadi!" seru Frank. "Istri Papa sekarat! Papa tidak mau kehilangan kamu!"


"Bukankah Papa masih punya anak yang lain?"


"Dia di Amerika, Selen!"


"Dia bisa kapan saja kembali, Pa!"


"Tapi dia laki - laki! Papa ingin anak perempuan juga!"


"Hah!" menghela nafas. "Sudahlah, Papa tenang. Kak Michael tidak mungkin membunuhku! Aku dulu juga pernah membuatnya marah, tapi dia justru menutupi semua itu dari semua orang!"


"Itu dulu, Selen! saat jiwa iblisnya belum di munculkan!"


Selena terdiam, apa yang di ucapkan Frank memang ada benarnya. Tapi terbesit dalam hati kecilnya, bahwa Michael tidak mungkin membunuhnya begitu saja.


...ðŸŠī Happy reading ðŸŠī...


Bagaimana nasib Chania selanjutnya?

__ADS_1


Stay tune di SANG MAFIA! 😘


__ADS_2