
Kembali ke suasana di sekolah Junior High School, dimana Gerald sedang mencari jati dirinya sebagai seorang remaja. Dan jam istirahat pun tiba.
"Kita ke kantin yuk, Bro!" ajak Leo sembari mengemas semua peralatan sekolah ke dalam tas.
Gerald melirik Jenia yang tampak masih duduk di bangkunya, dengan tangan yang masih menari di atas sebuah buku.
"Duluan sajalah! ada yang harus aku selesaikan!" jawab Gerald.
"Yakin?"
"Yap!"
"Okay!"
Akhirnya Leo pergi bersama Zain dan yang lain meninggalkan kelas. Hingga menyisakan beberapa siswa saja di dalam sana.
"Hai, Gerald! Kamu tidak ke kantin?" tanya seorang siswi perempuan dari arah belakangnya. "Barang kali mau bareng sama kita?" tawar mereka mencoba untuk mengakrabkan diri.
"Oh, tidak!" jawab Gerald tersenyum datar.
"Baiklah kalau begitu.. Bye!" ujar gadis itu tersenyum manis pada Gerald. Tentu saja untuk menarik simpati dari sang putra Mafia.
Kini Gerald menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap punggung Jenia yang tampak masih sibuk menggambar. Gerald berfikir, apa gerangan yang di gambar gadis itu?
Karena semua siswa sudah menyelesaikan tugas dari Miss Donna. Rasanya tidak mungkin jika Jenia menulis mata pelajaran Miss Donna. Dari gerakan tangan, sepertinya dia tengah menggambar sesuatu.
Menarik nafas panjang, Gerald berdiri sambil berdehem kecil. Namun gadis itu terlihat tak tertarik untuk meresponnya. Akhirnya Gerald duduk kembali di bangku depannya. Yang artinya ia kini sejajar dengan meja Jenia yang belum juga melirik keberadaannya.
' Heran, semua gadis mencuri pandang padaku. Tapi kenapa dia diam saja? '
Batin sang ABG 14 tahun yang baru terbit dari gudang ilmu bela diri. Ia menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal. Sembari terus mencuri pandang pada Jenia yang belum juga mengalihkan pandangan dari pensil yang menari di atas kertas putih.
"Nama kamu Jenia?" tanya Gerald begitu saja.
Merasa ada yang menyebut namanya, gadis dengan rambut hitam kecoklatan itu menoleh ke sisi kanan. Dan melihat sorot mata Gerald yang menatapnya tanpa berkedip.
"Iya." jawab Jenia datar dan singkat, dan kembali fokus pada kertas putih yang sudah terlukis lekukan indah.
Tidak mendapat pertanyaan balik membuat Gerald sempat canggung. Tapi sebisa mungkin ia tak akan pantang menyerah untuk bisa mengenal gadis itu lebih jauh. Ia melihat seisi ruang kelas, hanya ada dirinya dan Jenia di dalam kelas itu.
"Kamu tidak istirahat di kantin?" tanya gerald lagi.
Jenia hanya menjawab dengan sebuah gelengan tanpa menoleh ataupun melirik Gerald yang berharap akan di toleh gadis itu. Dan itu membuat Gerald hanya bisa menelan ludahnya dengan sedikit memalukan.
Ada puluhan gadis yang ia temui di hari pertama sekolah. Dan baru Jenia yang terlihat sulit di dekati. Atau hanya jual mahal?
"Tidak lapar?" tanya Gerald lagi.
Kali ini Jenia menoleh pada Gerald. Hanya saja lagi - lagi hanya sebuah gelengan yang ia dapat.
Gerald pun hanya bisa mendelik gemas, saat gadis itu kembali menunduk.
' Semakin membuatku penasaran! '
Gumam Gerald dalam hati.
"Menggambar apa?" tanya Gerald lagi dan lagi.
"Bukan apa - apa!" Jenia menggeleng lemah dan menjawab dengan nada yang selalu datar.
"Kalau bukan apa - apa, berarti aku boleh lihat, dong?"
Gerald berkata dengan sedikit di tambahi senyum gurauan.
"Tidak boleh!" jawab Jenia segera merapikan semua buku - bukunya, dan memasukkan ke dalam tas miliknya.
"Kenapa di kemasi? aku hanya bercanda.
"Tidak apa - apa, aku mau keluar!"
"Kemana? boleh ikut?" tanya Gerald.
__ADS_1
"Perpustakaan. Untuk apa kamu mengikuti ku?" tanya Jenia sembari berdiri dari kursinya.
"Kamu kan tau, aku murid baru di sini. Jadi tidak salah kan, kalau aku ingin mengenalmu juga?" jawab Gerald dengan senyum tampan miliknya.
"Iya, aku tau!" jawab Jenia, "tapi di sini ada 19 murid, kenapa harus mengikuti aku ke perpustakaan? Kenapa tidak ikut Leo dan Zian yang pergi ke kantin?' tanya Jenia, "atau Sisca tadi!" cerocos Jenia membalas jawaban Gerald yang terdengar hanya sebuah alasan klise untuk menutupi niat yang di sembunyikan.
"Memangnya kenapa?" tanya Gerald tak mau kalah," apa ada larangan untuk mengikuti mu?"
Menghela nafas, "tidak juga sih...." jawab Jenia mengedikkan bahunya.
Kemudian gadis 14 tahun yang tingginya sudah mencapai 155 cm itu pun melangkahkan kakinya ke arah pintu kelas. Dan Gerald secara reflek tentu saja mengikuti langkah Jenia.
***
"Kamu suka mendesain baju?" tanya Gerald saat melihat Jenia menarik sebuah buku desain dari barisan desain & grafis.
"Ya!" jawab Jenia datar sembari membuka satu persatu halaman buku dengan berbagai penjelasan dan contoh desain gaun.
"Aku juga!" sahut Gerald begitu saja.
"Oh, ya?" tanya Jenia melirik tak percaya pada Gerald yang sejak awal ia anggap hanya sekedar merayunya saja.
Dan saat mata lentik gadis itu meliriknya, Gerald justru tersenyum smirk dengan tatapan menggoda.
"Dasar buaya Alaska!" celetuk Jenia mencibir Gerald.
Mendengar cibiran Jenia, Gerald justru terkekeh geli. Untuk pertama kalinya ada yang mengatai dirinya buaya. Dan yang lebih menggelitik adalah sebutan buaya Alaska.
"Aku bukan buaya, girl! Tapi aku memang pawang buaya!"
Kembali Jenia melirik Gerald yang bersandar di salah satu rak buku dekat dengan dirinya.
"Masa?" tanya Jenia menatap ta percaya pada Gerald yang di anggap terlalu percaya diri.
"Hm... aku punya buaya di rumah! kamu mau lihat?" tawar Gerald serius.
Kali ini Jenia menoleh Gerald yang masih menatapnya lekat. Kemudian ia angkat kedua pundaknya. Setelah itu ia langsung pergi dari hadapan Gerald dengan membawa buku desain ke arah barisan meja dan kursi baca.
Duduk berhadapan, Jenia hanya fokus menunduk untuk membaca dan mengamati gambar desain gaun dan sebagainya.
Sementara banyak anak perempuan yang akhirnya saling mencuri pandang pada Gerald yang hanya fokus pada Jenia. Bisik - bisik pun terjadi di dalam ruang baca itu.
"Jenia?"
"Hm?"
Tersenyum jahil, "kamu tau..."
"Tidak." sahut Jenia datar dan singkat. Bahkan sebelum Gerald menyampaikan maksudnya.
Gerald terkekeh dengan jawaban singkat Jenia untuk memotong pembicaraannya.
"Kamu cantik!" ucap Gerald menatap lekat wajah cantik Jenia.
Namun rupanya Jenia bukanlah orang mudah tersentuh oleh kalimat manis laki - laki macam Gerald. Ia hanya menyebikkan bibirnya, pertanda malas untuk menjawab kalimat Gerald.
"Jenia?" panggil Jio lagi.
"Hm?"
"Kamu manis!" lanjut Gerald.
Namun yang di bilang manis hanya mengangkat kedua alisnya, tanpa berniat untuk membalas perkataan Gerald lagi.
"Jenia?" panggil Gerald lagi.
"Tolong jangan berisik! ini perpustakaan. Bukan panggung sandiwara!" suara barinton dari meja penjaga ruangan terdengar nyaring di telinga Gerald dan yang lain.
Sontak semua siswa termasuk Jenia mengulum senyum mengejek pada Gerald yang baru saja di peringati oleh penjaga perpustakaan. Wania 45 tahun, dengan tubuh gendut dan wajahnya yang tak bersahabat.
Gerald yang melihat cara Jenia tersenyum mengejeknya, justru tertantang untuk menarik perhatian gadis itu.
__ADS_1
"Yes, Miss!" seru Gerald dengan lantang, menoleh pada penjaga kampus yang seketika menggelengkan kepalanya heran.
Baru juga Gerald menjawab dengan lantang untuk tidak berisik, justru ponsel di saku celananya berbunyi dengan sangat nyaring.
Tentu saja hal itu membuat semua menoleh ke arah Gerald yang kelabakan menemukan ponselnya di saku celana. Termasuk Jenia yang kembali mengulum senyuman. Karena bisa jadi Gerald akan mendapat peringatan kedua dari penjaga perpustakaan.
Begitu di temukan, cepat - cepat Gerald mematikan panggilan itu dengan wajah kesalnya. Tanpa melihat siapa nama yang tertera di sana. Dan segera mengubah mode dering menjadi silent.
"Kalau mau telepon, silahkan keluar!" seru penjaga perpustakaan lagi.
"Sorry, Miss! tidak jadi!" jawab Gerald sembari tersenyum terpaksa yang disertai dua alis yang bergerak naik turun.
Dan itu membuat sang penjaga kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Kenapa di matikan?" tanya Jenia lirih.
"Tidak penting!" jawab Gerald.
"Bagaimana kalau itu Papa, Mama atau saudara mu yang sedang dalam bahaya?"
"Hah?" pekik Gerald. Merasa kalimat Jenia ada benarnya, cepat - cepat ia melihat layar untuk menemukan siapa yang menghubunginya saat dia tengah asyik mendekati seorang gadis cantik.
"What!" pekik Gerald lirih. Selirih mungkin. Jika perlu jangan smpai Jneia tau siapa yang baru saja menghubunginya.
"Bagaimana? siapa yang menghubungimu?" tanya Jenia penasaran melihat ekspresi Gerald.
"Oh, bukan siapa - siapa."
"Lantas kenapa shock?"
"Emm.. tidak apa - apa. Bukan hal yang penting." jawab Gerald dengan senyum manis sembari memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana.
"Ka..."
Belum selesai bertanya, tiba - tiba bel tanda pelajaran akan kembali di mulai, membuat Gerald menutup mulut dengan terpaksa. Menelan kembali pertanyaan yang hampir ia lontarkan pada Jenia. Belum puas rasanya berkenalan dengan Jenia. Namun bel sudah berbunyi, dan Jenia pun sudah mendekati meja penjaga untuk meminjam buku.
Sehingga Gerald memilih untuk mengembalikan bukunya, dan menunggu Jenia di pintu perpustakaan.
***
Untuk Gerald, hari itu di lalui dengan tidak sempurna. Karena ia gagal mendapatkan nomor telepon Jenia. Gadis itu rupanya cukup sulit untuk sekedar di dekati.
"Harus pakai hati mungkin!" gumamnya tanpa sadar.
"Apanya yang harus pakai hati, Tuan Gerald?" tanya seorang bodyguard yang sedang melajukan mobil khusus untuk putra bungsu sang Tuan Mafia.
"Tidak apa - apa!" jawab Gerald datar dan sedikit kaget ketika ia baru menyadari bahwa ada supir di depan yang sedang membawanya kembali ke istana sang Ayah.
***
Jika di sana Gerald yang sedang dalam perjalanan pulang, maka di bagan lain ada Jio yang menjemput Virginia.
"Saya meminta ijin untuk membawa Virginia pergi ke pantai, Nyonya Brown!" ucap Jio pada Nyonya Brown.
"Tersenyum manis, panggil Aunty saja!" jawab Mama Virginia. "Dan pergilah! jaga putri ku dengan baik!"
Mengangguk hormat, "pasti, Aunty!" jawab Jio yakin.
"Dan... terima kasih untuk pertolongannya semalam..." lanjut Mama Virginia.
Kembali mengangguk, "sudah kewajiban saya untuk menjaga mereka semua yang berhubungan dekat dengan saya, Aunty!"
Mama Virginia mengangguk dengan seulas senyum tulus.
"Ma? Nia pergi dulu!" pamit Nia mencium pipi Mamanya dengan rasa sayang.
"Ya, Nia! hati - hati!"
Pergilah dua bersahabat meninggalkan rumah mewah milik pengusaha Irgee Brown. Menuju pantai di tepi kota. Yang pernah mereka datangi pada suatu waktu.
Jio menahan senyum bahagia, karena berhasil membawa gadis cantik yang selalu menghiasi malam - malam di dalam mimpinya.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...