SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 51


__ADS_3

🍄 Los Angeles, California


Menjelang pagi, Chania yang masih berpakaian lengkap seperti saat berangkat dari Italia, masih terlelap di balik selimut tebal nan harum.


Saat kesadaran merasuki setengah tubuhnya, ia menggeliat. Tak lupa meraba sandaran ternyaman yang menjadi miliknya untuk saat ini. Namun... tak menemukan.


Seketika mata Chania terbuka untuk memastikan keberadaan pangeran tercinta. Namun tak kunjung menemukan tanda - tanda keberadaan pria itu di sana.


"Honey?" panggil Chania mengubah posisi menjadi duduk di atas ranjang.


Tak kunjung mendapat balasan panggilan, Chania memilih beranjak. Menyibak gorden blackout yang memperlihatkan kota Los Angeles.


"Hah! jam berapa ini?" pekik Chania yang sudah melihat cahaya matahari. Dan tampak beberapa pekerja kebersihan membersihkan area taman.


Matanya beredar mencari keberadaan jam dinding, hingga mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Oh my God! pantas saja Michael sudah bangun!" gerutu Chania buru - buru masuk ke walk in closed.


30 menit berlalu Chania sudah rapi dengan menggunakan dress rumahan berwarna merah, make up tipis dan rambut yang di ikat sebagian menggunakan jedai kecil di bagian belakang.


Bertepatan dengan ia membuka pintu walk in closed, pintu utama kamar mewah itu juga terbuka. Pria tampan nan rupawan berdiri dengan pakaian casual miliknya.


Celana pendek di padu sweater lengan panjang berwarna putih dari brand ternama. Di tambah sebuah jam tangan kelas dunia dengan harga fantastis melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ya, dialah Tuan muda Michael Xavier Sebastian!


Tatapan mereka bertemu dan saling diam untuk beberapa detik. Chania dengan rasa cinta & kagum yang selalu bertambah si setiap harinya. Michael dengan rasa kagum akan kecantikan alami seorang Chania Renata.


"Maaf, aku bangun terlambat!" ucap Chania memutus tatapan diam mereka dengan senyuman kikuk.


Michael hanya menjawab dengan senyuman smirk. Karena pria itu tak pernah mengatur Chania untuk bangun pagi. Alias membebaskan Chania bangun jam berapa pun yang ia mau.


"Sudah lapar?" tanya Michael.


Chania menggeleng dengan seulas senyuman. Namun detik berikutnya sebuah suara keluar dari perutnya. Ya, suara perut yang keroncongan sampai di telinga Michael.

__ADS_1


Seketika senyuman malu yang terbit dari bibir manis Chania. Membuat Michael semakin gemas saja dengan gadis di depannya. Gadis yang tak lain adalah istrinya sendiri.


"Kita makan sekarang." ajak Michael mengulurkan tangannya untuk di sambut Chania.


"Hehem!" Chania mengangguk sembari melangkahkan kaki mendekati Michael yang masih berdiri tak jauh dari pintu utama.


Meraih tangan kekar dengan garis - garis tegas yang menunjukkan betapa tangan itu terlatih dengan keras dan kuat. Namun ada beberapa bekas luka - luka di beberapa titik.


Entahlah kapan Michael mendapatkan luka - luka kecil itu. Mungkin sabetan lawan saat berlatih di masa lalu. Atau goresan dari musuh saat berperang?


Keluar kamar dengan jemari yang saling menggenggam, menyalurkan rasa yang ada di antara dua hati. Namun tak saling menyadari.


Melangkahkan kaki menuruni tangga dengan bersamaan. Membuat beberapa pasang mata maid yang melihat memendam pemikiran masing - masing.


Ada yang tak menyangka Tuan mudanya yang dingin itu ternyata pada akhirnya menikah.


Ada yang merasa iri dengan sosok Chania. Gadis muda yang di akui sebagai istri di dalam rumah putih itu, meskipun seluruh dunia tak ada yang tau.


Ada juga yang menganggap Chania tak pantas mendampingi Michael Xavier. Tentu saja itu pemikiran mereka yang iri di barengi dengan sifat dengki nya.


Ya! pertama kali!


Michael dan Chania duduk bersebalahan. Di sebuah meja makan yang di penuhi dengan hidangan mewah.


Hingga makan pagi itu berakhir, masih ada saja yang curi - curi pandang pada setiap gerak gerik majikan mereka itu.


Tak ada aktivitas yang menunjukkan kebucinan di antara keduanya. Tentu saja, bagaimana pun Michael harus menjaga wibawanya di hadapan para pelayan dan bodyguard.


***


Jam dinding menunjukkan pukul 12 siang. Sampai detik itu, Chania belum tau tujuan Michael membawanya ke Los Angeles.


Jika untuk berlibur, sedari tadi mereka hanya di rumah. Setelah sarapan Michael mengajaknya untuk bersantai di ruang tengah sembari menonton siaran televisi Amerika, dengan seorang maid yang selalu berdiri beberapa meter dari sofa, untuk bersiap jika sang Tuan muda membutuhkan bantuannya.


Jika untuk bekerja, tak sedikitpun melihat Michael sibuk dengan ponsel maupun laptopnya. Bahkan tak masuk ke ruang kerja, jika memang ada ruang kerja.

__ADS_1


Jika hanya untuk mengunjungi rumah itu, kenapa Michael sempat mengatakan ada hal penting dengan ekspresi yang kalut.


Tak tahan dengan pertanyaan yang hanya berputar - putar di kepala tanpa menemukan jawaban, akhirnya Chania memutuskan untuk menanyakan pada suami yang kini tengah duduk tegap di sampingnya dengan menatap lurus layar televisi berukuran hampir setengah dinding itu.


"Honey?"


"Hm?" Michael melirik Chania lembut.


"Sebenarnya ngapain sih ke sini?" tanya Chania penasaran.


Michael diam untuk sesaat, menatap wajah Chania untuk mendapatkan kesejukan. Dan detik berikutnya sebuah helaan nafas meluncur dari hidung mancungnya.


"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu." jawab Michael mendadak sendu.


"Apa?" tanya Chania ikut berekspresi serius setelah raut wajah Michael berubah.


Menghela nafas, "Berjanjilah untuk tidak takut padaku karena satu hal itu."


"Memangnya kenapa aku harus takut padamu, Honey?" tanya balik Chania. "Aku tau kamu seorang Mafia yang dengan mudah menghabisi musuh mu saja justru aku semakin hari semakin mencintai mu. Kamu terluka parah karena peperangan, musuh mu di mana - mana, tak lantas membuat ku menjauh darimu. Jika banyak hal mengerikan saja tak membuatku takut padamu, lalu kenapa aku harus takut padamu hanya karena satu hal?" berondong Chania dengan raut wajah serius.


Tak lantas menjawab, Michael kembali membuang nafas. Namun kali ini terdengar sedikit kasar.


Michael menatap dalam sepasang manik mata Chania dengan dalam. Mencari tau apakah gadis itu benar - benar tulus dengan kalimat panjangnya itu. Atau hanya sekedar hiburan, atau agar di akui. Namun Chania bukanlah gadis munafik. Setidaknya itulah yang diketahui Michael selama ini.


Perlahan Michael menarik dagu Chania yang mengarah padanya. Mendekatkan bibir pada bibir sang istri yang selalu terlihat menggoda. Dan sebuah kecupan lembut mendarat di sana.


Tak berhenti di situ, Michael kembali menyatukan bibir mereka. Membawa Chania untuk memadu kasih dengan saling berciuman, bertukar saliva hingga tarik menarik lidah.


Jangan tanya bagaimana ekspresi maid yang bertugas di ruangan itu. Meskipun tak mendengar dengan jelas percakapan majikannya, tapi ia mampu mengartikan jika sang Tuan muda dan Nyonya muda sedang terlibat percakapan serius, dan berakhir pada keintiman yang tak sanggup di lihat oleh matanya.


Memalingkan wajah pun rasanya tak cukup untuk menutupi rasa malu karena menjadi nyamuk di antara dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2