SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 281


__ADS_3

Mood sang Tuan Muda Xavier sedang tidak baik-baik saja. Selain masalah dengan sang kekasih yang tak kunjung usai, ia juga tengah mengurusi sang saudara kembar yang berani berbohong demi menutupi satu hubungan yang masih belum jelas akan seperti apa kedepannya nanti.


Meski ia sudah tau, jika Xiaoli sudah memiliki niat untuk menghadap sang Ayah.


Langkah tegap, dingin dan tanpa satu kata pun yang keluar dari bibirnya, membuat semua bodyguard yang melihat tentu saja merinding. Tidak ada yang berani untuk bergerak, walau hanya satu tolehan kepala saja.


Karena jika sampai mereka menjadi sasaran emosi sang Tuan Muda pun, pasti tidak akan ada yang berani menentang walau hanya sekedar menghindar. Semua hanya akan bisa pasrah akan apa yang di lakukan sang putra mahkota.


Dan yang lebih mengerikan adalah, semua tau kekuatan sang Tuan Muda bahkan melampaui Ayahnya sendiri, yang tak lain adalah pemimpin Klan Mafia terbesar di Italia itu. Yang mana kekuatannya sulit untuk di ungguli siapapun yang menjadi musuhnya selama ini.


Lantas, adakah anak buah yang berani melawannya?


Nope!


***


Xiaoli tergopoh mengikuti langkah Jio yang teramat cepat, sementara ia harus lebih dulu sampai di ambang pintu untuk membuka kunci gedung latihan. Bisa saja ia bergerak cepat, tapi berhubungan urusan kali ini dengan Tuan muda Xavier semua tidak bisa di buat semudah itu tentunya.


"Silahkan, Tuan muda..." ucap Xiaoli setelah membuka pintu gedung latihan tembak dengan kepala yang menunduk dalam.


Tak menjawab dengan cara apapun, Jio terus berjalan melewati tubuh Xiaoli yang berdiri tegak di dekat pintu. Langkahnya langsung menuju pada barisan senjata yang tertata rapi untuk siapapun yang ingin menggunakan senjata itu di ruang khusus latihan tembak dan memanah ini.


Tanpa menoleh pada Xiaoli sama sekali, Jio langsung mengambil peredam telinga dan pistol yang selalu menjadi favoritnya, desert eagle. Mengisi dengan beberapa peluru hingga penuh, dan di saat itulah aura dingin sang putra Mafia semakin menguar dengan sangat sempurna.


Di mana aura dingin itu membuat Xiaoli Chen, lelaki yang terbiasa dengan kehidupan gelap dunia mafia itu ikut merasakan jantungnya tidak baik-baik saja. Tubuhnya berdiri dengan kaku dan tegang. Peredam suara di telinga adalah satu-satunya perlindungan dari suara letusan senjata yang memekakkan telinga.


Bagaimana tidak demikian? Di dalam ruangan itu selain sang putra mahkota hanya ada dirinya seorang. Jika sampai ada apa-apa, bisa jadi kepalanya lah yang akan di penggal.

__ADS_1


Nyawa terancam? sudah biasa di rasakan oleh Xiaoli sejak masih muda.


Tapi bagai mana jika sampai mengancam keluarganya yang ada di negeri tirai bambu? Mereka menggantungkan hidup dari pensiunan sang Ayah yang mengabdi pada mendiang Tuan Frederick. Selebihnya dirinya pun harus turut andil demi kesejahteraan keluarganya di usia tua.


Meski pemberian kompensasi dari Sang Mafia untuk sang Ayah juga tidaklah sedikit.


Dilihat saja, sudah bisa di tebak jika sang Tuan Muda ingin melampiaskan amarah yang tidak bisa di tuntaskan begitu saja. Tapi marah karena apa?


' Apa Tuan Muda tau tentang aku dan Nona Jia? '


Gumam Xiaoli Chen dengan mata yang tak berkedip menatap Jio yang mulai menggerakkan senjatanya ke arah manekin-manekin yang di tata dengan sedemikian rupa. Bahkan sebagian sudah di gerakkan secara tidak beraturan.


Jio menggenggam erat desert eagle di tangan kanannya. Kemudian tangan terangkat lurus ke depan. Matanya terpejam, menguarkan segala keresahan dan beban masalah yang sedang ia hadapi akhir-akhir ini. Dan dengan sekian detik, 10 manekin yang berjajar seketika berlubang seluruhnya di bagian tengah dahi.


Selesai menembaki 10 manekin dengan mata terpejam, Jio berputar arah, dan bergerak menjejak sebuah kursi kemudian melompat dari satu kursi ke kursi lainnya, dan melompat ke udara untuk berputar dengan gerakan yang sangat cepat di udara. Bagai baling-balik helikopter yang menciptakan perputaran udara sangat cepat.


Kembali ia menembaki 10 manekin tepat di dadanya dengan sangat cepat dan presisi.


Selanjutnya, bukan hanya manekin yang di tembaki oleh Jio. Guci besar yang menjadi tempat anak panah di simpan pun di berikan satu peluru dengan gerakan yang sangat cepat, bagai kecepatan cahaya di dalam ruang yang gelap gulita. Hingga semua anak panah terlempar keluar dan berjatuhan dengan menimbulkan bunyi yang khas.


Sementara Xiaoli Chen, bodyguard satu ini hanya bisa diam di tempat. Tanpa berani bergerak sedikit pun, meski ada rasa khawatir terkena tembakan dari sang putra mahkota.


Dengan apa yang terjadi di depan matannya, sang bodyguard kini memilih untuk pasrah dengan apa yang akan terjadi seterusnya.


Jika memang ia harus tewas karena peluru nyasar dari Jio, maka setidaknya ia tewas dalam sebuah pengabdian. Karena memang itu adalah janjinya sebagai bodyguard utama di Klan yang sangat ia banggakan.


Jio terus saja menembaki segala sesuatu yang ada di dalam ruangan itu dengan membabi buta. Kursi, manekin yang sudah tidak berbentuk pun masih terus di hajarnya menggunakan desert eagle. Dunia seolah sudah gelap di depan mata sang putra mahkota.

__ADS_1


Berulang kali Jio melakukan isi ulang pada senjata yang ia gunakan dengan gerakan yang sangat kasar dan cepat. Bagai tengah berhadapan dengan musuh yang harus segera di habisi.


Meski tembakannya sangat cepat tanpa perhitungan terlebih dahulu, nyatanya tak satu peluru pun yang nyasar dan mengenai bodyguard yang memang di akui sangat hebat, atau bahkan paling tampan di Klan Black Hold.


Sampai akhirnya gerakan cepat Jio sedikit meleset dari perkiraan sang bodyguard. Sehingga moncong pistol berjenis desert eagle di tangan Jio kini menempel sempurna di dahi sang bodyguard.


Meski Xiaoli sempat kehilangan nafas untuk beberapa detik karena saking shock nya, tapi ia masih bisa berdiri dengan tegak, ketika tiba-tiba merasakan sesuatu menyentuh dahinya, dan sebuah gerakan yang nyaris tak terdeteksi olehnya berhenti tepat di depan tubuhnya.


Jio berdiri tepat di depan sang bodyguard. Tatapannya tajam tanpa berkedip menatap mata Xiaoli Chen, setajam samurai yang sering ia mainkan. Tangannya dengan kokoh mengongkang senjata apinya tepat di tengah dahi Xiaoli Chen.


Ekspresi wajah sang putra mahkota sudah luar biasa di penuhi emosi yang membara. Bagaikan sudah tidak ada lagi ampun untuk siapapun yang saat ini menjadi sasaran senjatanya.


Untuk sesaat suasana di dalam ruangan terasa sangat dingin dan membeku. Dua anak manusia dengan posisi yang tidak biasa bagai dua patung es yang akan sulit mencair sampai beberapa waktu ke depan.


Hanya deru nafas Jio saja yang terdengar. Di tambah dengan dadanya yang bergerak kembang kempis akibat menahan emosi dan juga akibat kelelahan setelah beraksi bagai orang kesetanan di dalam ruang latihan.


Lantas bagaimana dengan nasih Xiaoli Chen? Atau yang biasa di sapa Chen ketika berada di tanah kelahirannya itu?


Dunia sedang menguji dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh Xiaoli dan Jia. Keduanya seolah lupa tentang siapa saudara kembar Jia yang satu ini.


Selain petarung, sang pemuda petarung juga seorang Hacker yang sangat mumpuni dengan IQ 180 nya.


"Berani mengkhianati ku?" desis Jio dengan gigi yang mengerat kuat.


DEG!


Mendelik lah sepasang mata sang bodyguard.

__ADS_1


Jantung yang sudah di hajar dengan rasa khawatir, kini semakin di hantam dengan badai petir yang siap meluluh lantahkan dirinya sampai ke akar-akarnya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2