SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 293


__ADS_3

"Percuma kau bicara padaku, tapi kau tidak berani berjuang untuk hal itu!" desis sang mafia menatap bengis pada anak buahnya sendiri.


"Apa kau pikir aku akan menyerahkan putriku pada seorang pengecut?: tanya Michael. "Tidak akan!"


"Saya lebih baik mati dari pada sekedar memukul Tuan besar!" jawab Xiaoli.


"Kalau begitu kau masuk saja ke kandang buaya di belakang!" ketus Michael membuang muka sembari menghela nafas kasar. Wajahnya sudah di penuhi emosi sedemikian panas. Sampai ia merasa muak melihat manusia lainnya yang ada di ruangan itu.


Xiaoli kembali mendongak, menatap Michael dengan tatapan tak percaya. "Saya sudah bersumpah untuk tunduk pada perintah Tuan besar... Mana mungkin saya bisa melawan Tuan besar..."


Michael tergelak, tertawa mencibir pada anak buahnya sendiri. Kemudian kembali menoleh pada sang bodyguard dengan gerakan yang sangat cepat.


"Kau bisa mengkhianati aku!" desis Michael. "Kau bisa mengencani putriku... TANPA SEPENGETAHUANKU!" bentak Michael sangat kencang, hingga semua yang ada di ruangan itu memejamkan mata mereka sekilas saking kagetnya.


"Dan sekarang kau bilang tidak bisa melawanku?" tanya Michael dingin meremas jemarinya sendiri dengan sangat kuat.


"Kau mengajak aku bercanda?" tanya Michael tersenyum culas.


"Sama sekali tidak, Tuan!" jawab Xiaoli.


***


Sementara itu, sejak meninggalkan sofa di ruang sebelah, Jia berusaha setengah mati untuk menemukan keberadaan sang Ibu yang entah ada di mana.


Ia mendatangi kamar utama yang pintunya berlapis emas, namun tidak ada tanda-tanda sang Mommy ada di ruang kamar paling mewah di rumah itu.


Jia terus berlari mengitari lantai dua. Bertanya pada pelayan-pelayan yang sedang membersihkan area lantai dua, dan akhirnya salah satu dari mereka melihat Nyonya besar tengah berada di lantai tiga, di ruang spa yang mana seorang therapist datang satu seminggu sekali khusus untuk memijat Nyonya besar di rumah bak istana itu.


"Mommy! Mommy!" panggil Jia membuka pintu ruang spa yang cukup luas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf, Nona Muda... Nyonya tertidur..." ucap seorang therapist ketika sempat kaget karena Jia masuk tanpa permisi.


"Di mana?" tanya Jia.


"Di ruang massage..." jawab perempuan berusia sekitar 30 tahun.


Tanpa menunggu lagi, Jia berlari cepat menuju salah satu pintu yang ia ketahui sebagai ruang massage. Karena sesekali ia pun mengikuti kegiatan sang Ibu, yaitu merawat diri di ruang spa pribadi.


"Mommy?" panggil Jia begitu membuka pintu dengan cepat.


Chania yang tengah terlelap akibat pijatan lembut seorang therapist di punggungnya, sontak terkesiap oleh putrinya yang mencari dirinya dengan tergopoh-gopoh.


"Kamu ini kenapa, Jia?" tanya Chania terheran sembari membuka mata yang sesungguhnya sangat berat untuk ia buka.


"Please! Tolong Jia, Mommy!" ucap Jia berjongkok, menghadap wajah sang Ibu yang meletakkan kepalanya pada bantal di atas dipan kecil.


"Tolong apa? Ada apa?" tanya Chania dengan wajah mulai ikut sedikit panik.


Jia yang masih menyimpan semua rahasia dari sang Ibu tidak bisa bercerita dengan mudahnya. Jari telunjuk menunjuk pintu keluar, seolah memberi tahukan di sanalah satu bahaya sedang terjadi.


"Ada apa, Jia? Jangan buat Mommy bingung!" sentak Chania sedikit kesal dengan sang putri yang terlihat gagap dan tak bisa bicara. Dimana tentu hal itu membuat semua jadi lebih panik.


"Tolong Jia, Mommy!" ucap Jia.


"Iya! Tolong apa?" sembur sang Nyonya besar karena sudah tidak sabar. "Cepat katakan! Atau Mommy tidak akan mau menolong mu!"

__ADS_1


"Kita keluar, please..." mohon Jia. "Jia tidak bisa cerita di sini, Mommy..." ucap Jia setengah merengek. "Ayo, Mommy... please..."


"Memangnya Daddy kemana?" tanya Mommy Chania. "Biasanya kamu selalu meminta tolong pada Daddy, karena kamu anggap selalu bisa menyelesaikan masalah yang berbahaya di banding Mommy..."


"Itu.. karena..." jawab Jia melirik kanan kiri tidak bisa melanjutkan kalimat. "Sudahlah, Mommy! Ayo please!" rengek Jia semakin memelas.


Tanpa di sadari, Chania menghela nafas resah. Sang anak gadis tak pernah bersikap semacam ini. Sebagai seorang Ibu tentu ia khawatir jika sampai ada yang benar-benar tidak beres.


"Ini menyangkut nyawa seseorang, Mommy!" ucap Jia tiba-tiba dengan raut muka yang sudah kacau balau.


"Apa!" pekik Chania.


Sontak sang Mommy bergegas, dan meminta sang therapist berhenti untuk memijat punggungnya yang mulus dan seputih susu. Chania langsung mengenakan baju lengkap dan merapikan rambutnya secara singkat.


"Di mana?"


"Di ruang tengah, Mommy! Di mana Daddy sering membawa bodyguard utama untuk meeting secara khusus dan pribadi."


"Ayo!" ujar sang Ibu setelah semua di rasa aman untuk ia bisa berjalan di luar ruang spa.


Bergegas, melangkah bersama sang anak gadis meninggalkan ruang spa yang di buat khusus oleh Michael untuk sang istri dan anak gadisnya. Supaya tidak perlu meninggalkan rumah hanya untuk pijat dan memanjakan otot tubuh para wanita Xavier.


"Nyawa siapa yang terancam? Dan siapa yang mengancam?" tanya Chania sepanjang keduanya berjalan menuju lift untuk bisa lebih cepat sampai di lantai dasar.


Jia tidak bisa untuk menjawab, namun bibirnya sungguh ingin menyebut nama sang kekasih. Tapi ia pun pasti akan sangat bingung untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.


"Jawab Mommy, atau Mommy akan kembali ke ruang spa!" ancam Chania kesal dengan anak gadisnya yang datang membawa kepanikan, namun tak kunjung bercerita kenyataannya.


"Em... Xiaoli, Mommy. Nyawa Xiaoli yang terancam..." jawab Jia sembari keduanya memasuki lift.


"Tapi, Mom..." lirih Jia kebingungan.


"Apa?"


"Daddy yang sedang mengancam nyawa Xiaoli.." ucap Jia menunduk dalam, tak berani untuk sekedar melihat sang Mommy yang terkenal lemah lembut itu, dan kini justru terlihat tengah emosi.


"HAH!!" pekik Chania membulatkan matanya menatap sang putri yang masih menunduk. "Memangnya apa yang sudah di lakukan oleh Xiaoli, sampai Daddy meminta nyawanya?" tanya sang Mommy yang sudah hafal dengan sikap dan sifat sang suami.


Lagi-lagi Jia tidak bisa menjawab, karena hati dan pikirannya hanya di isi oleh nama Xiaoli yang entah seperti apa nasibnya saat ini. Ia sudah terlalu lama meninggalkan lantai dasar untuk mencari sang Ibu.


Akhirnya Jia hanya menatap sendu sepasang mata Ibunya yang panik dan berkilat kesal. Beliau sudah cukup mengenal baik Xiaoli.


Sedang sang Ibu berpikir, rasanya Michael tidak mungkin sembarangan menghukum bodyguard yang sudah di percaya untuk menjadi bodyguard utama.


Ting!


Lift terbuka di dekat lantai dasar yang meliuk dengan sangat mewah. Keduanya keluar dari sepasang pintu yang terbuka ke kanan dan ke kiri.


Namun sesuatu membuat Jia tercengang ketika ia menarik lengan sang Ibu untuk mendekati ruang tengah yang di gunakan oleh sang Daddy menghakimi kekasihnya.


"Di mana mereka semua?" gumam Jia ketika melihat ruang tengah yang luasnya tidak terkira itu sudah kosong, tanpa satu orang pun yang tertinggal.


"Di mana mereka?" tanya sang Mommy yang juga tak melihat sang suami seperti yang di katakan oleh Jia.


"Kamu tidak halusinasi kan, Jia?" tanya sang Ibu menatap lekat sang putri.

__ADS_1


"Mana mungkin Jia halusinasi, Mommy! Jia benar-benar melihat semua!" jawab Jia terengah. "Jia baru pulang kuliah dengan Xiaoli, mana mungkin Jia halusinasi."


Apa mungkin sang kekasih sudah di hakimi dan dia benar-benar di bunuh oleh sang Ayah?


Atau saat ini sedang di siksa seperti pengkhianat yang lain?


Tapi dimana?


Tiba-tiba sepasang mata Jia terasa panas. Seolah air mata hendak menetes begitu saja. Namun setengah mati di tahannya supaya sang Mommy tidak curiga dan bertanya-tanya. Setidaknya untuk saat ini.


Di tengah kebingungan, Jia melihat beberapa penjaga rumah berlarian ke arah belakang rumah. Dan itu menarik perhatian Jia dan Chania yang sedang menoleh ke arah pintu dan dinding yang terbuat dari kaca yang mengarah ke halaman belakang.


"Ada apa di belakang?" tanya sang Mommy.


Jia menggeleng pelan karena tidak tau. Namun dalam hati ia yakin, jika ini pasti berhubungan dengan sang kekasih yang sedang di hakimi.


"Kita ke sana, Mommy!" ujar Jia menarik panik lengan sang Ibu yang selalu terlihat putih dan mulus.


"Ayo!" jawab Chania.


Keduanya pun keluar dari rumah dengan keadaan panik. Jika Jia bisa berlari cepat dan bergerak cepat, lain halnya dengan sang Mommy yang tidak bisa berlari secepat anak-anaknya.


"Ada apa?" tanya Jia pada seorang penjaga yang tengah berjalan kembali ke arah depan istana, setelah dari gedung latihan.


"Tuan besar sedang memberi hukuman pada seorang bodyguard, Nona!" jawabnya menunduk hormat pada dua wanita Xavier yang teramat sangat ia hormati tentunya.


"Apa!" pekik Jia membulatkan matanya. "Di gedung latihan?"


"Ya, Nona!" jawab penjaga itu.


' Hukuman apa yang di berikan Daddy? ' Gumam sang gadis jelita di dalam hati.


"Siapa yang di hakimi?" tanya Nyonya besar memastikan benarkan Xiaoli yang di adili.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak tau. Kami di larang masuk oleh Tuan Dimitri."


"Ayo, Jia!" ajak Chania untuk segera berlari mendekati gedung latihan. "Kita harus tau apa permasalahannya. Padahal semalam Daddy kamu bilang dia akan di jadikan asisten sekaligus bodyguard pribadi untuk Jio meneruskan Jack yang menjadi bodyguard terbaik Daddy kamu."


"Ayo, Mommy!" sahut Jia tak ingin membahas hal lain, selain misi penyelamatan sang kekasih.


***


Sementara di dalam gedung latihan, seorang bodyguard berdiri di tengah-tengah gedung yang luas. Sedang sang mafia berjalan memutari tubuh gagah sang bodyguard dengan tatapan penuh kilat amarah. Bagai singa lapar yang sedang mengincar buruannya yang tak berkutik.


"Siapa saja di rumah ku yang tau kalau kalian menjalin hubungan?" tanya Michael dengan suara yang menyeramkan. Langkah sang mafia sangat pelan, namun sangat mengintimidasi.


Sedang di dalam ruangan itu hanya ada Xiaoli di tengah-tengah ruangan kosong. Michael Xavier, sang mafia yang tengah menginterogasi Xiaoli. Jack, Jellow dan Jio berdiri di tepian. Menyaksikan apa yang akan terjadi.


Hanya saja ketiga orang itu mendapat ancaman untuk tidak ikut campur.


Lantas, bagaimana dengan nasib Xiaoli?


Dan apakah Xiaoli akan menyebut nama Jio ketika di tanya siapa saja yang tau?


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2