
Michael menuruni tangga private jet dengan Jack dan Dimitri yang berjalan di belakang mereka. Sedangkan di bawah sudah banyak pengawal berpakaian hitam yang menyambut kedatangannya.
Beberapa pengawal sempat di buat shock dengan perut Chania yang membuncit. Namun mereka hanya bisa menelan semua rasa penasaran. Tak ada satupun yang berani bertanya atau bahkan sekedar saling lirik.
Tapi di balik itu semua, mereka sangat senang. Karena akan ada Michael Junior yang kelak akan menjadi pewaris tahta yang pemimpin mereka.
"Selamat siang, Tuan Muda!" sapa para pengawal serentak saat Michael menjangkau barisan para pengawal.
"Hmm!" jawab Michael datar.
Tangan Michael dan Chania masih saling menggenggam. Menautkan jari jemari, seolah menyatukan cinta mereka. Michael yang biasanya berjalan secepat kilat, kini ia berjalan lebih lambat. mengimbangi langkah istrinya yang sedang hamil.
Limousine hitam dengan seorang pengawal yang siap membuka pintu sudah menunggu. Di belakangnya ada beberapa tipe mobil lainnya, ada jajaran Hummer dan Jeep untuk para pengawal.
"Jalankan rencana rahasia kita, Jack!" lirih Michael pada Jack yang berjalan sedikit di belakangnya.
"Siap, Tuan!" jawab Jack tak kalah lirih.
Semua masuk ke dalam mobil yang di persiapkan untuk mereka. Satu persatu mobil berjalan beriringan meninggalkan landasan private jet. Melewati lorong khusus dan sempit, yang hanya muat satu mobil saja, hingga semua mobil pasukan Michael berhenti untuk beberapa detik karena antri. Hingga semua mobil kembali berjalan, menjauh dari bandara.
"Semua akan baik - baik saja..." lirih Michael menggenggam tangan Chania yang duduk di sisi kanannya.
"Hemm.." Chania mengangguk. Ia percaya Michael sulit di kalahkan, tapi meski begitu tetap saja ada rasa khawatir. Mengingat dirinya yang tak bisa bergerak bebas.
Mobil berjalan dengan kecepatan standar. Chania memandangi jalanan luar jendela yang diterangi panas matahari. Tangan tak henti mengusap perutnya.
Sedangkan Michael, pria itu terus fokus dengan alat komunikasi khusus yang ia pakai di telinga.
Praakk!
Kaca mobil Jeep pengawal paling belakang retak dengan sebuah titik di bagian tengah. Untung saja peluru yang masuk tak mengenai siapapun.
"Mobil paling belakang di serang, Tuan!" laporan pengawal di mobil Jeep itu.
"Persiapkan diri kalian!"
"Siap!"
Serentak semua pasukan yang berjumlah hampir 40 orang menjawab bersamaan. Terbagi ke dalam 3 Jeep, 1 Limousine, 1 CRV, dan 1 Hummer.
Semua tangan sudah bersiap dengan senjata masing - masing. Mereka yang terlatih dengan satu pistol satu pisau maka memegang keduanya. Mereka yang terlatih dengan senjata laras panjang sudah menyiapkannya di depan dada.
Dan satu pasukan lagi yang seketika melajukan kendaraan besar menuju posisi dimana mereka di serang. Ya! mobil dengan pasukan pembawa rudal segera keluar dari sarangnya.
Satu persatu anak buah Michael di dalam Jeep keluar dan membidik melalui jendela.
"Sial! ada 10 mobil yang mengejar kita!" seru pengawal paling belakang.
"Jangan lengah! jangan sampai ada korban di pasukan kita!" ucap Michael. Ia pun sudah bersiap dengan pistol Glock di lubang pintu mobilnya.
__ADS_1
Michael selalu ikut berduka dan menyimpan sedih setiap ada pasukannya yang harus meregang nyawa di medan perang. Karena mereka adalah pasukan pejuang pelindung nyawanya.
Suara letusan peluru bersahut - sahutan di jalan tol yang entah kemana para pengguna jalan lainnya. Bisa - bisa nya jalanan selalu mendadak sepi di saat ada pertempuran mendadak sekalipun.
Atau semua sudah dalam komando perencaan?
Atau sudah dalam mode booking oleh pihak musuh?
Entahlah, dunia peperangan yang identik dengan dunia hitam sulit untuk di perkirakan orang awam.
Bahkan seorang Chania yang sudah berkelut dengan Bos Mafia pun masih kesulitan untuk mencerna.
Peluru dari klan Black Hold dan klan musuh yang berada di bawah kepemimpinan wanita berusia lewat setengah abad itu masih terus bersahutan.
Seorang pengawal Michael mengarahkan senjata laras panjang ke belakang melalui lubang peluru di kaca belakang. Membidik supir Jeep paling depan.
Sadar ia di incar, sang supir bermanuver menggunakan Jeep andalannya. Membuat pengawal Michael kesulitan mengarahkan sasaran. Namun...
Dorr!
Satu tembakan dari teman satunya berhasil mendarat di kepala supir saat di rasa bidikannya bisa di perkirakan dari posisi ia duduk. Hingga mobil Jeep musuh oleng ke kanan dan ke kiri, kemudian berakhir dengan menabrak pembatas jalan.
"Good job!" seru pembidik pertama.
Tampak beberapa orang kesulitan keluar dari Jeep itu melalui jendela. Sebelum mereka berhasil keluar dan mengejar, pembidik pertama langsung menarik pelatuknya hingga tiga orang yang terlihat benar - benar terkapar.
Namun tanpa di sangka Jeep kedua milik musuh sudah mengarahkan senjatanya kembali ke Jeep paling belakang pengawal Michael.
Peluru mendarat di ban belakang, dan langsung membuat mobil oleng.
"Brengsek!"
Tak mau tinggal diam, Jeep depannya segera membantu dengan menembaki mobil musuh. Hingga untuk kedua kalinya Jeep musuh ada yang menabrak pembatas jalan.
Pertempuran terus berlanjut. Sama - sama memiliki pengawal yang kuat dengan jumlah yang hampir sama membuat situasi berubah dalam hitungan menit.
Dua Jeep pengawal Michael tersungkur menabrak pembatas jalan. Dengan satu supir Jeep tewas akibat peluru yang menembus pelipisnya.
Belajar dari apa yang mereka lakukan sebelumnya, mereka yang selamat memilih bertahan di dalam Jeep dan berpura - pura mati atau pun pingsan. Saat semua mobil musuh lewat, barulah mereka keluar dan memberi kabar pada Tuan mereka.
"Tidak ada lagi Jeep yang mengawal mobil anda, Tuan!" ucap pengawal setelah berhasil membuka pintu.
"Kau dengar itu, Jack!"
"Siap, Tuan!" jawab Jack.
Sedangkan beberapa Jeep pengawal Deborah juga hancur dengan cara yang sama. Bahkan terhitung 7 pengawal Deborah merenggang nyawa.
Kini mobil Hummer yang membawa Deborah sudah berada tepat di belakang limousine milik Michael.
__ADS_1
Deborah sendiri seorang petarung, namun di sampingnya selalu ada Jenderal Royce. Seorang panglima tempur terbaik yang pernah di miliki Deborah. Sejak sang suami meninggal, Jenderal Royce inilah yang menjadi tangan kanan Deborah di dalam medan pertempuran.
Dengan gaji puluhan ribu dolar, tentu kemampuan Royce bukan sekedar pengalaman belaka.
"Brengsek sekali mendapati Madalena ternyata sudah meninggalkan Los Angeles!" gumam Deborah dengan tangan yang mengepal. "Kau harus membayar semuanya, Michael! Kau yang harus mati di tanganku!" lanjutnya.
"Bagaimana jika sampai terjadi salah sasaran dan mengenai putri Kimberly, Nyonya Deborah!" tanya Royce. "Mengingat Michael sebenarnya bukan lawan yang mudah untuk di kalahkan!"
"Maka kau yang harus mati!" desis Deborah kesal dengan pertanyaan Royce yang seolah meragukan kekuatan sendiri.
"Baiklah! bersiap semuanya!" Royce memerintahkan anak buahnya yang berada di dalam Hummer. "Pastikan kalian membidik kepala Michael Xavier!" ucap Royce tak mau larut dalam amarah bosnya.
"Siap!"
Hummer mengejar Limousine?
Tentu sangat mudah untuk Hummer mengejar Limousine yang notabene nya buka mobil balap ataupun mobil perang.
***
"Bagaimana?" tanya Chania khawatir, menatap Michael yang terlihat cukup tenang.
Ia yakin pasukannya pasti akan menang. Mengalahkan pasukan Deborah bukanlah hal sulit. Hanya saja ....
"Semua pasti baik - baik saja!" jawab Michael berjaga dengan pistol Glock kesayangannya.
Chania mengamati sekitar. Segala sesuatu di luar jendela yang membuatnya merasa was - was.
***
Kaca mobil di mana tempat Deborah duduk di turunkan. Dengan cepat wanita itu mengongkang senjata miliknya ke arah kaca mobil Michael.
Posisi mobil sudah sejajar. Kehebatan dua supir tidak perlu di pertanyakan lagi. Sama - sama ahli sama - sama supir utama majikan.
Hanya berselang beberapa detik, kaca mobil yang menjadi sasaran Deborah terbuka. Tangan seorang pria keluar dari sana dengan senjata yang sama. Namun kepala pria itu tak kunjung muncul dari balik kaca mobil yang masih tertutup.
"Kau harus mati di tanganku, Michael!" seru Deborah. "Chania harus jatuh di tanganku apapun caranya!" lanjutnya.
"Apa yang kau dapat dengan membunuhku, Wanita tua!"
Suara pria itu terdengar sampai di telinga Deborah. Bergerak sedikit, hingga dapat melihat siapa pria yang ada di balik kaca.
Dua pasang mata bertemu, Deborah tertegun untuk beberapa saat. Sedangkan pria di dalam mobil Limousine tersenyum sinis.
🪴🪴🪴
Lalu apa yang akan terjadi? Kenapa Deborah membulatkan matanya lebar?
Sedang mereka saling menodongkan senjata. Sekali tarik, tewaslah keduanya.
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹
Boleh dong kak, tinggalkan Like, Hadiah dan Vote nya 🥰