SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 221


__ADS_3

Di waktu yang sama dengan Xiaoli mengantarkan Jia pulang dari Butik, ada pula Jio yang sedang membawa kekasihnya menuju bukit yang berada di luar kota.


Hanya saja tidak sampai ke atas bukit yang meliuk. Mereka masih berada di dataran rendah. Meski begitu, udara sudah terasa sangat dingin. Sampai Jio mengganti pendingin ruangan menjadi penghangat ruangan.


Namun view yang di tampilkan kanan kiri jalanan sudah sangat menakjubkan. Ketika pepohonan hijau yang rindang semakin terlihat cantik di terpa oleh sinar Matahari yang jika menerpa kulit maka panas nya sama sekali tidak terasa panas.


"Kamu pernah kesini?" tanya Jio menoleh sekilas pada sang kekasih.


"Pernah! saat Papa mengajak aku dan Mama menghadiri pesta salah satu rekan kerjanya," jawab Virginia. "Tapi masih jauh di atas sana!" lanjut Virginia sembari menggosok kedua lengannya karena hawa dingin yang yang tak terkalahkan oleh hangatnya penghangat ruangan mobil milik Jio.


Dan apa yang di lakukan Virginia tentu tak luput dari ujung mata Jio yang sangat peka oleh pergerakan kecil sekalipun. Cepat - cepat Jio menekan pedal gas, supaya segera sampai lokasi dimana yang sudah ia janjikan pada sang kekasih.


"JIIOOO!" pekik Virginia saat Jio mulai melesat dengan kecepatan tinggi. Gadis itu memegang erat seat belt yang menyilang di depan dadanya. "Jangan terlalu cepat! ini bukan arena balap!" seru Virginia dengan jantung yang berdebar.


"Kita harus segera sampai, Baby.." jawab Jio dengan lembut menirukan cara sang Daddy memanggil Mommy nya.


Di tengah ketegangan yang di rasakannya, Virginia merasakan keteduhan pula karena di panggil dengan sebutan yang sangat romantis. Namun wajah sang gadis tetap tak bisa membohongi jika ia takut dengan cara sang kekasih mengemudikan mobilnya.


Meski begitu Jio sangat mudah untuk mengendalikan setiap gerakannya dan selalu presisi setiap melewati rentetan kendaraan yang lainnya.


"Jangan takut! percaya padaku..." Jio melirik dengan seulas senyum manis yang hanya pernah ia tunjukkan pada Nia dan sang Mommy.


Dan benar saja apa yang di ucapkan sang lelaki. Tidak sampai 10 menit, mobil sport Jio sudah menepi dan memasuki area parkir sebuah restoran yang terlihat paling mewah di antara yang lain.


"Kita makan siang di sini?" tanya Virginia saat Jio memarkir mobilnya di parkiran khusus tamu VIP.


"Tentu saja tidak, Sayang!" Jio memiringkan tubuhnya, menghadap ke kanan. Kemudian menatap lekat wajah kekasihnya. "Kita makan siang di dalam sana. Untuk apa kita makan siang di sini? selain sempit, juga... tidak romantis!" jawab Jio mengerlingkan matanya nakal dengan seulas senyum jahil.


Dan jawaban Jio benar - benar membuat Virginia hampir meledakkan tawanya. Hanya saja saat ini wajah mereka sangat dekat. Rasanya akan sangat tidak mungkin jika dia tertawa kencang.


"Tidak ku sangka, seorang Tuan Muda yang dingin dan banyak mengalahkan musuh dengan tampang iblisnya... bisa sekonyol ini." Virginia cekikikan tepat di depan wajah Jio yang hanya berjarak satu jengkal saja.


"Hanya kamu yang tau, Sayang..." jawab Jio tersenyum menawan dan berucap dengan nada yang sangat mendebarkan. Di tambah gerakan tangan kanannya yang membelai lembut rambut emas sang kekasih, menambah suasana romantis di dalam sana menjadi sangat syahdu dan memabukkan.


Virginia tak sanggup lagi menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sangat malu dan salah tingkah ketika di tatap oleh sang kekasih sedemikian dekat dan lekat. Apalagi sebutan - sebutan romantis yang semakin sering di gaungkan oleh Jio, membuat tubuhnya serasa melupakan hawa dingin yang sempat menyeruak dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Tangan Jio bergerak untuk melepas seat belt di bagian bawah. Dan itu membuat jarak di wajah keduanya semakin dekat. Tentulah hal itu membuat detak jantung Virginia semakin tak karuan, meskipun sang kekasih sedang menunduk sekalipun.


"Thank you.." ucap Virginia setelah sabuk terlepas, dan ia memegang handle pintu untuk segera keluar.


Namun yang terjadi justru sebaliknya, pintu tak dapat di dorong keluar. Karena ternyata tangan Jio sudah lebih dulu menariknya ke dalam agar tidak sampai terbuka. Sedang tangan kiri Jio suah bersandar di sandaran kepala.


"Jio.." panggil Virginia keheranan.


Dan bersamaan dengan keluarnya suara Virginia memanggil namanya, Jio berhasil mendaratkan bibirnya di kening sang gadis. Begitu dalam dan intim, hingga kepala Virginia terdorong ke belakang.


Virginia pun reflek memejamkan matanya dalam. Membiarkan tubuhnya merasakan hangatnya tubuh Jio yang hampir menutupi tubuh kecilnya.


"Imbalan karena sudah membukakan seat belt!" ucap Jio menarik kepalanya kembali. Dan menyisakan jarak yang hanya 10 cm saja. Seringai di sertai kedipan sebelah mata terbit dari wajah tampan sang pemuda.


Jia tergelak dengan cara bercanda Jio yang sama sekali tak pernah ia lihat sebelum ini. Sebelum ini, yang ia tau tentang sosok Jio adalah tegas dan tidak pernah bercanda.

__ADS_1


"Kalau membukakan pintu, imbalannya apa?" tanya Virginia.


Tersenyum manis, ia tatap lekat dan mesra wajah Virginia. Kemudian tangan kirinya naik dan mentoel hidung mancung dan kecil milik kekasihnya.


Virginia kembali tersenyum, "Kalau menyuapi aku makan?" tanya Virginia dengan senyum malu - malu yang sangat kentara.


"Kalau menyuapi makan imbalannya adalah..." Jio menggantung kalimatnya, tapi matanya bergerak turun dan lekat menatap bibir merah mudah yang siang itu tak bisa menghilangkan senyum kecil sekalipun dari bibirnya. Karena Jio berhasil menggempur dengan perlakuan yang membuat perasaan sang gadis terus membuncah.


Mengetahui kemana arah mata Jio, membuat Virginia semakin kesulitan untuk bernafas. Ia menoleh ke arah luar jendela untuk membuang gugup.


"Kita masuk sekarang.." ucap Jio yang tak ingin momen first kiss nya terjadi di mobil. Tentu ia ingin lokasi yang jauh lebih romantis dari sekedar di dalam mobil.


"Tunggu aku membuka pintu untuk untuk mu... My Lady..." ucap Jio sembari mendaratkan kecupan di hidung Virginia, sesuai dengan apa yang tadi ia isyaratkan.


Lagi - lagi Virginia tersenyum lebar melihat Jio yang kini sudah keluar dan bejalan ke arah belakang mobil. Tak lama kemudian ia sudah di sisi kanan pintu, dan membuka pintu penumpang untuk Virginia.


"Silahkan, Nona..." ucap Jio menirukan gaya para bodyguardnya saat mempersilahkan Daddy dan Mommy nya keluar dari mobil. Bedanya kali ini ia sembari mengulurkan tangan untuk di terima sang gadis.


"Thank you, My Prince!" balas Virginia mengulurkan tangan.


Jio tersenyum sembari memakaikan sebuah long coat berwarna ivory pada Nia yang entah darimana ia dapatkan. Long coat dari brand terbaik dan berbahan kulit binatang asli, yang kehangatannya tidak perlu di ragukan lagi.


"Aku tidak mau kekasihku hipotermia..." canda Jio.


"Thank you, Sayang..." balas Nia untuk pertama kali memanggil Jio dengan sebutan itu.


Berjalanlah sepasang kekasih itu mendekati pintu masuk restauran. Restauran yang terlihat paling megah dan besar di antara yang lain. Dinding kaca yang luas di bagian depan, sudah cukup untuk memperlihatkan betapa indah nuansa yang di hadirkan di dalam sana. Dan berada dalam kocek yang harus di rogoh untuk memasukinya.


Bagi mereka, mungkin betapa bangganya jika bisa menggantikan posisi gadis yang sedang di genggam tangannya oleh sang pemuda. Siapa yang tak bangga, ketika dengan jelas di gandeng oleh lelaki tampan yang di lihat saja sudah jelas jika kantongnya tidak akan habis walau tidak bekerja sampai 10 tahun ke depan.


Bagi seorang Georgio, menjadi pusat perhatian saat di luar rumah adalah hal yang biasa untuknya. Sehingga sama sekali tidak membuatnya gugup, juga tidak besar kepala. Ia tetap terlihat datar, namun senyum saat berada di dalam mobil, lenyap begitu saja.


Sedangkan Virginia sempat merasa sedang menjadi sasaran anak panah ketika pertama memasuki restauran.  Bagaimana tidak, tatapan mereka lembut, teduh dengan di sertai senyuman jika sedang menatap kekasihnya. Tapi kemudian menatapnya dengan tatapan horor, seolah ingin menelannya hidup - hidup, untuk menggantikan posisi kekasih Jio.


Suara pintu terdengar berbunyi, begitu Jio hampir sampai di tengah ruangan. Seorang laki - laki yang berpakaian rapi juga memakai jas hitam, tergopoh - gopoh keluar dari ruang manager untuk mendekati Jio dan Virginia.


"Selamat siang, Tuan Xavier!" sapanya dengan menunduk hormat.


"Ya!" jawab Jio datar.


"Mari saya antar menuju meja anda Tuan..." ucap manager itu dengan sopan. “Silahkan ikuti saya, Tuan. Ruangan yang Tuan pesan ada di lantai 2.” Ucap sang  manager restoran.


“Hm..” jawab Jio singkat, padat dan jelas.


Jio masih terus menggandeng tangan Virginia hingga tiga orang itu masuk ke dalam bilik lift. Sepanjang Jio menggenggam tangannya, Virginia memilih untuk banyak menunduk. Karena tidak sanggup melihat tatapan horor para gadis yang ada di lantai 1.


“Silahkan, Tuan.”


Manager mempersilahkan Jio dan Virginia untuk memasuki private room dengan harga sewa termahal di restoran itu.


“Hm.."

__ADS_1


“Apa Tuan ingin makanan di siapkan sekarang?”


“Ya!” jawab Jio singkat.


“Siap, Tuan. Mohon di tunggu.”


Manager itupun berlalu dari ruangan VIP yang di sewa Jio. Sebuah ruangan yang mana ada dinding kaca yang menghadap penuh ke belakang restaurant. Dimana di kaca itu menampilkan pemandangan yang  luar biasa menakjubkan. Tak akan di dapatkan jika mereka berada di kota.


Nuansa romantis di bentuk dari hiasan bunga – bunga yang bewarna putih, dan beberapa aksen yang membentuk tanda hati. Meja persegi panjang berada di depan sebuah sofa panjang yang empuk, dan menghadap ke arah


jendela kaca yang penuh seperti dinding.


Bukit hijau yang sangat tertata rapi secara alami menjadi background tebaik. Di sebrang sana sebuah wisata bunga yang mana susunan bunganya dapat di lihat secara nyata dari lokasi mereka berada. Dan tak akan terlihat di ruang VIP yang lain.


Melihat apa yang di sajikan si luar sana, Virginia berjalan setengah berlari mendekati pintu ke arah balkon. Gadis itu berdiri di tepi pagar dan menatap hamparan pemandangan alam.


"Ini benar - benar menakjubkan!" seru Virginia mengangkat kedua tangan ke atas sembari menikmati udara dingin yang sebenarnya tak boleh ia rasakan terlalu lama.


Namun ia masih tetap ingin berdiri di pagar balkon dengan senyum yang terus mengembang. Seolah tak peduli dengan tangan yang kembali turun dan masuk ke dalam saku long coat karena dingin yang luar biasa.


Sementara Jio yang masih berdiri tegak di dalam ruangan berukuran 8x8 meter itu segera keluar begitu melihat Nia kembali merasakan dingin. Langkah Jio kali ini sangat di penuhi makna yang luar biasa.


Sampailah ia tepat di belakang tubuh mungil sang gadis. Dengan lengan kekarnya, ia dekap tubuh kedinginan itu dari belakang. Meski tanpa permisi, tentu saja sang pemilik tubuh sama sekali tidak keberatan. Apa yang di lakukan Jio tentu semakin menambah debaran di dalam dada.


"Dingin?" tanya Jio dengan lirih tepat di dekat telinga sang gadis.


"Hem..." Virginia hanya mengangguk lemah. Tubuh sudah terlalu lemah untuk menerima perlakuan manis seperti itu.


Jio semakin mengeratkan pelukan pada tubuh mungil sang gadis. Puas memeluknya dari belakang, ia putar tubuh Virginia dan kini keduanya saling berhadapan. Dan Jio segera menarik tubuh sintal ke dalam pelukan. Ia dekap semakin erat tubuh itu. Dan Nia langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasih. Ia tempelkan pipinya tepat di dada Jio. Kehangatan menempel sempurna di pipinya.


"Nia?" panggil Jio dengan sangat sendu.


"Ya?" Virginia mendongak ke atas. Menatap lekat wajah tampan yang terlihat sangat menyejukkan mata dan hati.


"Aku mencintaimu..." ucap Jio lirih, namun maknanya sangat dalam.


"Aku juga sangat mencintaimu..." balas Virginia tak kalah syahdu.


Dua sorot mata saling beradu, hingga tatapan Jio turun ke bawah sedikit. Dan berhenti tepat di bibir ranum sang kekasih. Virginia paham akan arti dari tatapan mata Jio. Dan saat Jio mendekatkan wajahnya, Virginia reflek memejamkan matanya dalam. Menunggu apa yang selanjutkan akan di lakukan oleh sang kekasih.


Mencium bibirnya kah?


Atau lagi - lagi hanya mencium keningnya?


***


🍄 Di istana Michael ...


✉️ Dear, Nona Cantik ...


Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chatting milik Nona Muda Xavier yang sedang belajar menggambar sebuah desain cartoon.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2