SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 76


__ADS_3

Rombongan Michael Xavier tengah menyantap makan siang di salah satu restoran di pesisir pantai. Mereka semua berada di ruang VIP dengan dinding kaca yang terlihat gelap dari luar, namun mereka yang di dalam dapat melihat bagian luar dengan terang benderang.


"Selamat siang, Tuan." ucap seorang Waiters yang masuk ke dalam ruangan karena mendapat kode panggilan. "Ada yang bisa kami bantu?"


"Bawakan kopi Cappucino panas untuk Tuan Muda" jawab Jack sembari menatap lekat gadis Waiters itu.


Tanpa di beri tahu pun, semua Waiters yang melayani ruangan itu sudah bisa menebak, mana yang sekiranya dijuluki Tuan Muda.


Dari penampilan, mulai baju, jam tangan, sepatu dan tentu tingkat ketampanannya saja, sudah bisa di tebak mana yang paling di hormati di antara mereka bertiga.


"Baik, Tuan. Segera kami bawakan." ucap Waiters sopan. "Ada ada lagi?" tanyanya.


Sebuah gelengan kecil berayun dari kepala Jack.


"Baiklah, saya permisi, Tuan." pamitnya tersenyum ramah, namun tak ada jawaban dari satu satu pria pun yang ada di sana. Hanya sebuah kedipan dari Jack yang membuatnya berani keluar dari ruang VIP yang terasa cukup mencekam karena tak ada gurat senyum di wajah Michael selaku bos.


"Biasa aja kali!" celetuk Dimitri menyindir Jack yang menatap punggung Waiters hingga menghilang di balik pintu dapur.


"Fvck!" umpat Jack melirik sadis pada Dimitri. Namun hanya menggunakan gerakan bibir tanpa bersuara. Karena di depan mereka ada bos yang hatinya tengah tidak baik - baik saja.


***


Beberapa saat kemudian, Waiters itu kembali dengan nampan beserta satu cangkir cappucino di tangannya.


"Silahkan, Tuan." ucapnya sesopan mungkin meletakkan cangkir di depan Michael.


"Hm." jawab Michael dingin, tanpa menoleh ataupun melirik sang Waiters.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Ada!" celetuk Dimitri tiba - tiba.


Jack yang juga memiliki insting kuat pun melirik Dimitri dengan sadis. Ia tau apa yang akan di ucapkan rekan kerjanya itu.


"Iya, Tuan?"


"Siapa namamu?" tanya Dimitri to the point.


"A?...." ternganga tak mengerti. Seharusnya tanpa tanya pun sudah bisa di baca melalui name tag yang menempel di dada sebelah kiri. "Aa..nama saya Gia, Tuan."


"Nama lengkap?" tanya Dimitri lagi.


"Gia Octarin, Tuan." jawab Gia semakin tidak mengerti. Pasalnya semua karyawan menggunakan name tag yang cukup besar untuk bisa di baca dengan jelas.


"Kau dengar itu, Jack!" ucap Dimitri pada Jack di sampingnya. "Namanya Gia Octarin!" jelas Dimitri menggoda.


"What the f...!" tercekat untuk mengumpat. "Hah! aku tidak peduli!" lirihnya.


Tersenyum miring, Dimitri memberi kode pada Gia untuk pergi meninggalkan ruang VIP yang berisi dua orang bodyguard pribadi dan satu bos yang sedari tampak cuek dengan interaksi tiga orang di sekitarnya.


"Kalau kau mencari gadis baik - baik, kau harus siap untuk mengakhiri kebrutalan liar mu itu!" ucap Dimitri menggoda.


"Kau bisa diam tidak!" sentak Jack lirih tapi penuh penekanan.

__ADS_1


Terkekeh geli, Dimitri mengulum senyum. Ia hafal betul sifat dan sikap rekan kerja sekaligus sahabatnya sejak di perguruan itu.


***


"Carina?" panggil Gia mendekati meja kasir.


"Hemm?" Chania menoleh kedatangan Gia dari arah dapur.


"Kau tau?"


"Mana aku tau!"


"Ya tunggu, aku belum selesai ngomong." seru Gia karena kalimatnya di potong.


"Hihihi!" Chania cekikikan lirih.


"Di ruang VIP ada tamu super spesial!'


"Siapa?"


"Pokoknya super spesial!"


"Spesialnya itu dimana?" tanya Chania ikut penasaran. "Yang jelas setahuku, mereka yang memesan VIP room adalah orang - orang spesial dengan uang berlimpah dan masa depan yang cerah!" seru Chania menggambarkan kehidupan orang kaya.


"Haha! kau benar!" sahut Gia. "Di sana ada satu orang bos yang sangat tampan namun wajahnya cukup seram untuk di lihat." ucap Gia membayangkan wajah Michael yang sejak ia masuk sudah memasang wajah dingin dan lirikan tajam. "Kemudian ada dua laki - laki di depannya, yang tak kalah tampan. Hanya saja, apa yang di kenakan beda harga dengan satu orang itu."


"Oh, jadi di sana ada tiga pria tampan begitu?"


"Oh ya?"


"Ya!" jawab Gia dengan entengnya.


Seketika Chania ingat akan nama seseorang yang terukir di salah satu sisi hatinya, Michael Xavier. Bos kaya raya, tampan, berwajah seram juga bengis.


Dan saat itu juga ia kembali teringat saat Michael memperlakukan dirinya dengan lembut. Menuruti keinginannya. Bahkan pernah terlihat sedikit panik saat ia terkunci di dalam kamar. Juga sempat melihat rasa khawatir akibat dirinya yang mengalami morning sickness di depan Michael.


Tersenyum tipis, mengusap perutnya dimana ada darah pria itu yang sedang membentuk diri menjadi bayi mungil yang menggemaskan.


"Kamu kenapa, Carina?" tanya Gia membuyarkan lamunan. "Kenapa kamu jadi melamun?" Gia menyenggol pelan lengannya.


"Ah!" seru Chania tersadar. "Tidak. Aku hanya..."


"Hanya apa?"


"Hanya teringat tentang suami ku dulu."


"Kenapa memangnya?" tanya Gia penasaran. Sedikit banyak dia memang penasaran akan masa lalu Chania yang tak pernah di ungkapkan secara gamblang. "Dia kejam juga?"


"Emm... bukan begitu. Dia..."


"Apa?"


"Tampan, kaya raya, berwajah bengis. Jika tidak pernah dekat dengannya, pasti mengira dia adalah jelmaan serigala liar. Hahah!" terkekeh lucu.

__ADS_1


"Hahaha!" berbeda dengan Gia yang justru tertawa sumbang. "Untuk apa punya suami tampan dan kaya raya jika tidak setia seperti mantan suamimu itu, Carina. Bahkan mungkin dia tidak tau jika kamu sedang hamil."


Berubah ekspresi, wajah cantik Chania menjadi melas dan sedih. Di sisi lain ia merasa bersalah pada Michael. Karena cerita sebenarnya tidaklah seperti itu.


"Kamu benar, Gia." jawab Chania. "Untuk apa memiliki suami yang sempurna jika pada akhirnya menyiksa lahir dan batin kita."


Tiba - tiba saja air matanya menetes. Ya, emosi ibu hamil memang tidak selalu stabil.


"Carina, maaf, aku salah kata yaa!" Gia tampak bingung, menoleh kanan kiri mencari tissue. Dan mencabutnya saat sudah menemukan. "Jangan nangis Carina.." Gia mengusap pipi Chania dengan tissue.


"Tidak, Gia. Bukan salah kamu. Aku saja yang terlalu cengeng! selalu menangis jika mengingat dia!"


"Kalau begitu jangan di bahas lagi!" ucap Gia.


"Carina! tamu VIP meminta bill!" seru seseorang dari luar meja kasir.


"Oh iya, Pak!" jawab Carina pada pria berpakaian manager.


"Buruan print, biar aku yang antar! lumayan bisa lihat pria - pria tampan. Hahah!"


"Ya..yaa.. dasar jomblo!" celetuk Chania sembari kembali menghadap komputer.


Chania cukup tercengang sesaat, ketika membaca nama pemesan, Jack Black. Ia teringat akan bodyguard pribadi sekaligus asisten pribadi Michael.


' Ah, nama Jack tidak hanya satu! '


Batin Chania meyakinkan diri.


Menyerahkan lembar tagihan pada Gia dengan raut wajah yang berbeda.


"Ok, tunggu!" celetuk Gia membawa tagihan ke VIP room.


Sedangkan Chania memijit pelipisnya yang terasa pening. Kembali mengingat masa - masa saat dirinya berbahagia bersama Michael. Berjalan di atas altar, menghampiri Michael yang sudah menunggu dengan seorang pendeta.


Dan kembali teringat dimana Michael selalu memperlakukan dirinya dengan begitu lembut saat mereka bercinta.


Namun semua bayangan hancur dan menjadi terasa pahit. Manakala ia teringat akan percakapan Michael dan Deborah, yang tak lain adalah ibu tirinya.


' Andai kau tau, kami sangat merindukan dirimu... '


Chania kembali menyadarkan dirinya, saat ada Waiters lain yang meminta bill untuk tiga orang berpakaian bodyguard di kursi bagian luar restauran.


Tersenyum smirk sembari menyerahkan bill. Kembali teringat akan dirinya yang dulu selalu di kawal oleh para pengawal berseragam Black Hold.


🪴🪴🪴


Kira - kira mereka bakalan ketemu gak di restauran itu?


Sudah satu tempat nih... 🥰


Tunggu up selanjutnya ya kakak 🤩


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2