
"Tuan! itu anak buah Nyonya Deborah!"
Jack menunjuk mobil Jeep hitam yang terparkir di pesisir pantai. Dengan orang berpakaian casual dan kaca mata hitam yang duduk di atas kap depan mobil. Seolah mengamati sesuatu.
Jarak Jeep musuh dengan Limousine Michael saat ini berkisar satu kilo meter.
"Kau yakin?" tanya Michael mengikuti arah depan yang di tunjuk Jack. Posisi ia masih mendekap pundak Chania. Namun istrinya itu tampak ikut penasaran, dan mengikuti arah pandang Michael dengan mendongakkan kepalanya.
"Ya, Tuan!" jawab Jack yakin. "Saya melihatnya saat mereka datang ke rumah Tuan bersama Nyonya Deborah empat bulan lalu!"
"Hemm!" jawab Michael mengangguk.
"Dengarkan semua! mobil Jeep hitam di tepi jalan adalah mobil musuh! kalian harus waspada dan jangan menimbulkan kecurigaan!" ucap Jack pada alat komunikasi yang selalu menempel di telinganya.
"Siap Tuan!"
Jawaban para bodyguard dapat juga di dengar oleh Michael yang langsung ikut menggunakan alat komunikasi khusus untuknya.
Mobil Limousine yang membawa Michael berkaca gelap. Orang di luar mobil tak akan bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
Namun bagaimana pun, insting pengintai pasti lebih sensitif di banding mereka yang tak sedang melakukan tugas tersebut.
Mobil Jeep pertama berisi lima bodyguard Michael melintas lebih dulu. Dan itu tak luput dari pantauan dua orang itu. Mereka terlihat tak menaruh curiga, karena para bodyguard tengah bersenda gurau.
Sesungguhnya hal itu di lakukan untuk mengelabui musuh. Seolah - olah mereka tengah tak pengawal orang penting.
Saat Limousine Michael melewati Jeep lawan, dua orang yang di sebut Jack sebagai anak buah Deborah itu beralih mengintai Limousine hitam Michael. Memastikan siapa yang ada di dalam.
Tampaknya dua orang itu tak curiga dengan limousine Michael. Karena hanya di kawal oleh sebuah Jeep. Yang mereka dengar Michael tengah pergi dengan di ikuti tiga Jeep berisi bodyguard.
Jack tersenyum miring, karena rencananya memang cukup bagus. Untuk meminta dua Jeep lainnya berpencar. Agar tak menimbulkan kecurigaan berlebih.
Dan benar saja, dua anak buah Deborah tampak kembali bercakap santai, sambil melihat sekitar.
Michael dan para bodyguard semakin tersenyum. Mengejek kebodohan anak buah lawan yang sangat mudah dikecoh.
"Hah! dasar bodoh!" seru Jack disertai tawa mengejek.
"Sama seperti bosnya!" sahut Michael tersenyum sinis. "Setelah ini kita akan tunjukkan betapa bodohnya seorang Deborah beserta kawanan binatang ternaknya."
"Hahaha! kita menunggu hari itu tiba, Tuan!" sahut Dimitri.
"Tapi sebelum itu, kita harus menemukan saudara kembar mu, Baby." ucap Michael menatap Chania yang seketika menoleh padanya.
"Tapi dimana? aku bahkan tidak pernah mengenalnya." jawab Chania menatap serius suaminya.
Michael tampak berfikir sejenak, "Jack sepertinya kau harus bertindak!" Michael beralih menatap kursi bagian depan.
"Saya sudah mengirim seseorang untuk menelusuri tentang Nyonya Kimberly, Tuan!" jawab Jack.
__ADS_1
"Lalu?"
"Belum ada hasil, Tuan." Kehidupan Tuan Smith di masa lalu sangat tertutup. Di tambah narasumber sudah meninggal semua."
"Hemmhh!" Michael menghela nafas panjang yang terdengar berat. "Kau benar!"
"Tuan, Nyonya besar dalam perjalan ke rumah Tuan besar!" ucap Jack menyambung obrolan.
"Hah!" pekik Michael. "Kenapa aku tidak tau?" tanyanya.
Sedangkan Chania sontak menegakkan tubuhnya. Memberi jarak antar lengan dan dada Michael. Merasa mendapatkan hantaman keras di dalam dada.
' Bagaimana jika aku kembali bertemu dengan Nyonya besar Sebastian? '
Ekspresi wajah Chania berubah dalam hitungan detik. Malang sekali istri Michael itu, tidak tau jika pernikahan mereka sudah direstui.
Michael yang menyadari sikap Chania, segera mengusap rambut lurus Chania dari kepala belakang hingga ujung. Bibirnya tersenyum tipis, ada rencana yang sudah ia siapkan untuk sang istri agar mengetahui semuanya.
"Tuan besar Frederick tidak mau mengganggu tujuan kita di sini, Tuan."
Michael mengangguk, "Kapan Mama sampai Roma?" tanya Michael santai.
"Mungkin dua jam lagi, Tuan!"
"Pastikan perketat keamanan! aku yakin Deborah bisa saja melacak kedatangan Mama!"
"Hemm!" jawab Michael masih menatap istrinya yang terlihat gugup.
***
Mobil Limousine telah sampai di hotel, dimana Michael tinggal di sana selama berada di Venice. Hotel itu akan lebih aman untuk Michael dan Chania tinggali sebelum kembali ke Roma.
Karena tanpa banyak yang tau, Michael memiliki sekian persen saham di hotel itu.
Michael dengan percaya diri menggenggam tangan Chani memasuki lobby hotel untuk kemudian menuju kamar presidential suit yang ia tempati.
Seperti biasa, keberadaan seorang Michael Xavier memang selalu mencuri pencuri perhatian. Kedatangannya di hotel itu, tentu tak luput dari lirikan lawan jenisnya. Entah itu pegawai hotel, atau bahkan sesama pengunjung.
Jika kemarin tampak pria itu di kawal seorang diri, dan membuat mereka curi - curi pandang atau cari perhatian. Maka kini mereka di buat melongo tak percaya.
Pria tampan, maskulin, gagah mempesona dan kaya raya itu menggandeng seorang perempuan muda yang sedang hamil?
Setidaknya itulah yang ada dalam benak mereka semua. Hingga banyak yang terlibat adegan saling lirik dan bertanya dalam bentuk kode kerutan kening dan berakhir dengan saling mengangkat bahu.
Bagi mereka yang mengenal siapa Michael Xavier, akan bertanya siapa wanita hamil itu? Mengingat setahu mereka Michael tidak beristri, atau juga tidak memiliki adik perempuan.
Wanita yang dihamili?🤔
Bisa jadi!😲
__ADS_1
Tapi bajunya?? kenapa?? 🙄
Sederhana dan murahan 😪
Namun tatapan ghibah mereka berakhir, jika Jack dan tiga bodyguard membalas tatapan mereka dengan tatapan membunuh yang mendominasi.
Entahlah kapan manusia - manusia itu mendapatkan jawaban, atas siapa perempuan hamil yang di gandeng seorang Michael Xavier di tempat umum.
Karena tak pernah sekalipun seorang Michael Xavier mau di gandeng wanita yang bahkan sedang menjadi teman kencannya sekalipun. Apalagi di tempat umum seperti saat ini.
Mendapat tatapan yang mengintimidasi dari banyak mata, tak membuat seorang Michael Xavier canggung atau besar kepala. Karena sudah biasa, dan hampir terjadi di manapun ia berada.
Menjadi pria tampan, gagah, dan kaya raya memang sudah biasa menjadi sorotan, bukan?
Berbeda dengan Chania. Istri Michael itu hanya bisa tertunduk malu di samping lengan suaminya.
Jika dulu mungkin ia akan bangga di gandeng seorang Michael Xavier di tempat umum. Dimana secara tidak langsung, ia seolah di perkenalkan pada dunia, bahwa ia adalah wanita spesial yang berhasil merengkuh jemari kokoh Michael.
Tapi untuk saat ini?
Ia seperti gadis kampung murahan yang menjebak seorang Michael Xavier agar memiliki anak darinya.
Karena status pernikahan yang di tutupi dari publik. Juga baju yang kini ia kenakan sama sekali tidak ada harga untuk bisa bersanding dengan baju mahal Michael di hotel semewah itu.
"Kamu kenapa, Baby?" lirih Michael menoleh istrinya yang sedari tadi menunduk hingga kini mereka sudah berada di dalam lift pribadi untuk masuk ke kamarnya.
"Aku hanya merasa malu."
"Malu?"
"Ya!" Chania mengangguk. "Aku seperti sampah permen yang sedang kau remas di tanganmu."
"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu?" hentak Michael, karena merasa risih dengan keluhan Chania yang seolah merendahkan dirinya sendiri.
Menghela nafas, "Kamu dengan segala yang kamu miliki, sedangkan aku di sampingmu dengan apa yang aku miliki." jawab Chania resah. "Baju lusuh, perut buncit! pasti mereka menganggap ku gadis miskin dan murahan yang berhasil menjebak mu."
Chania menghela nafas kasar. Merasa nasib baik tak kunjung berteman dengannya.
"What the F..." Menelan sisa kalimat, karena tak mungkin mengumpat di depan istrinya. Ia hela nafas berat, menggelengkan kepala karena heran. "Jadi kamu menunduk karena tatapan mereka yang menurut kamu seperti itu?" tanya Michael mengintimidasi.
"Ya!" Chania mengangguk lemah.
"Aku akan...."
🪴🪴🪴
Yuk! tunggu episode selanjutnya untuk tau apa yang akan di lakukan Abang Mafia 🤠Hehehe 🥰
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1